
Takdir tidak lagi mempertemukan mereka berdua. Gupta sudah lama tiada, saking terkejutnya ia jatuh bertekuk lutut tak berdaya dengan menangis tersedu-sedu. Yongchun hanya diam setelah mengatakan sejujurnya, sambil menahan rasa pahit di lidah. Karena kesalahannya lah membuat Gupta, teman mereka harus tiada.
Rahmana, ialah rekan Gupta yang terlahir di Laut Hindia. Karena peperangan yang selalu terjadi yang berhubungan dengan Pemberontak Pengguna Seni Iblis, kini ia menjadi seorang petani dan selama beberapa tahun terakhir ia selalu berada di wilayah timur laut. Dengan kemampuannya, ia dapat mudah menghindar serangan dari mereka termasuk bersembunyi dalam aman.
Suatu ketika bertemu dengan Asyura, Gupta seringkali membicarakan tentang dirinya pada Rahmana karena itulah ia tahu. Tetapi, dengan benih yang selalu disimpan oleh Gupta ternyata sudah berpindah tangan pada Asyura.
Tentu saja Rahmana terkejut mendengarnya sekaligus mendengar apa yang telah terjadi pada Gupta. Sungguh amat disayangkan mereka tak pernah bertemu lagi.
“Sudah kuduga akan tiba saatnya kau mati. Bukankah sudah kubilang untuk jangan pergi? Dasar bodoh!” Rahmana berteriak seolah ada Gupta di hadapannya. Mengatakan bahwa keputusan Gupta yang pergi adalah tindakan ceroboh dan inilah hasilnya.
“Bagaimana dengan nasib kekasihmu, hah!? Aku harus bilang apa nanti kalau pulang?” celoteh Rahmana tak henti-hentinya ia meninju tanah sampai membuat orang di sekeliling mereka menatapnya dengan cemas.
“Maafkan aku, ya. Aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata dia tidak hanya sendirian,” ucap Yongchun tiba-tiba mengagetkan Rahmana.
Lantas bangkit dan menatapnya tajam. Berkata dengan ketus, “Ini semua karena dirimu, 'kan?” tuding Rahmana tanpa ampun.
“Ya,” jawab Yongchun dengan ragu.
“Tapi bukankah kau itu buta?” tanya Rahmana dengan curiga.
Yongchun membuang muka dan berbalik badan menunjukkan punggungnya. Tak bisa ia mengatakan hal ini pada orang begitu saja. Namun di satu sisi ia juga merasakan pedih saat tahu Gupta sedang ditunggu oleh rekan serta kekasihnya.
Tetapi ini semua telah terjadi tiba-tiba. Sudah begitu lewat dari 5 tahun, Gupta telah tiada meninggalkan mereka. Rahmana menatap Yongchun dengan culas dan berpikir bahwa ini semua karena ulahnya lalu kemudian menyinggung kedua mata Yongchun.
“Hei, katakan!” teriak Rahmana dengan jengkel.
“Aku memang buta tapi aku masih bisa mendengar semua ucapanmu. Jadi itu tidak ada hubungannya,” sangkal Yongchun.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan Gupta? Apa yang telah kau lakukan padanya sampai dia mati?” tanya Rahmana mengancam.
“Tidak ada. Selain dia memasang badan untuk seorang anak kecil,” jawab Yongchun.
Itu adalah fakta namun Yongchun merasa gelisah karena meskipun apa yang ia katakan itu adalah kebenaran, nyatanya ia tidak bisa menyangkal kalau dari awal adalah kesalahan Yongchun sendiri.
Dengan membawa Gupta yang bahkan bersedia memberikan nyawanya sendiri untuk Yongchun. Meski setia, tapi bagi rekannya itu adalah sebuah pengkhianatan.
“Sekali lagi maafkan aku. Karena aku ...dia jadi mengorbankan nyawanya sendiri. Maafkan aku, maaf,” ucap Yongchun dengan penuh penyesalan terdalam sampai keningnya pun berkerut.
“Ah, terserahlah. Aku muak dengan ini semua, tapi aku tahu betul orang sepertimu itu seperti apa. Membuang yang lemah setelah tujuanmu tercapai, ya! Aku tahu kalau kau adalah orang seperti itu,” ocehnya mengamuk.
Drap! Derap langkah kaki Rahmana terdengar sangat berat. Ia melangkah pergi meninggalkan Yongchun yang tengah mengalihkan pandangan saat berbicara. Sebenarnya Rahmana cukup tahu bahwa Gupta memanglah orang yang seperti itu.
Jika sekali saja ia menemukan seseorang yang cocok dengannya, maka pasti akan terus setia padanya sampai akhir riwayat.
“Hei, tunggu sebentar aku ingin bertanya sesuatu padamu!” panggil Yongchun sambil berlari menghampiri Rahmana. “Sebenarnya apa tujuan Gupta sampai dia berkeliling ke satu tempat ke tempat yang lain?” tanya Yongchun, ia kemudian menepuk pundah Rahmana.
“Bukannya dia sudah memberitahumu?”
“Eh, itu ...mungkin, iya?” Nampak Yongchun ragu menjawab sebab ia tak mengingat apa saja yang pernah dikatakan oleh Gupta padanya.
Rahmana mendegus kesal, lantas membuang muka dan sedikit menyeret langkahnya tuk menjauh beberapa langkah dari Yongchun.
Ia berkata, “Gupta memiliki keinginan untuk menjelajah seluruh dunia yang ada. Tapi bukannya terus melakukan hal itu, ia tiba-tiba saja tertarik dengan ilmu pedang. Sehingga aku tak bisa mengontrolnya.”
“Untuk apa mengontrol?” tanya Yongchun merasa heran.
__ADS_1
“Tentu saja harus begitu. Karena jika tidak, dia pasti akan berlatih keras sambil pergi tempat-tempat lain mencari musuh. Dia itu tipikal pria yang mudah sekali mencari dan menghindar musuh, jadi aku kesulitan mengejarnya saat dia pergi begitu saja,” jelas Rahmana.
“Oh, begitu rupanya. Pantas saja Gupta selalu cari masalah meskipun tidak kelihatan,” kata Yongchun kegirangan.
Buagh! Rahmana yang masih jengkel, ia lantas mengayunkan tangannya dan memukul tubuh Yongchun hingga limbung.
“Seenaknya kau bicara begitu pada rekanku. Memang benar kalau dia itu suka cari masalah tapi itu lebih baik daripada dirimu yang suka mempermainkan orang lain!” cela Rahmana sambil menunjuk diri Yongchun yang tengah duduk berjongkok menahan sakit.
“Gupta bicara apa saja tentangku padanya? Bisa-bisanya aib-ku kesebar di mulut orang ini. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi ah, sudahlah ...” batin Yongchun tiba-tiba merasa kesal sendiri.
“Kuperingatkan satu hal, jangan sampai aku melihatmu lagi kalau tidak—”
Brak! Hentakan kaki Yongchun membuat Rahmana tersentak kaget. Sesaat ia melirik ke bawah dan mendapati kaki Yongchun dapat mudah menghancurkan jalanan itu.
Yongchun lantas bangkit lalu melihat ke sekelilingnya. Ia tengah merasakan sesuatu yang tak lazim berasal dari luar wilayah ini. Namun terlalu jauh sehingga ia berdecak kesal.
“Kenapa kau tiba-tiba begitu?” tanya Rahmana bingung.
Raut wajah kesalnya pun dalam sekejap berubah menjadi periang. Ia tersenyum menampakkan gigi geraham yang sedikit tajam lalu berkata, “Aku merasa tidak enak badan, maaf.”
“Hei, apa kau sudah memakamkan Gupta dengan benar? Jika sudah, aku akan ke wilayahmu untuk mengunjunginya,” kata Rahmana mengalihkan pembicaraan.
“Sudah. Jika ingin mengunjunginya maka datanglah kapan saja, atau perlu sekarang pun tak apa. Temui orang yang bernama Crow atau Bing He di dekat perbatasan, maka dia akan menuntunmu ke sana,” tutur Yongchun menjelaskan seraya ia berjalan pergi.
“Kau mau ke mana? Tidakkah kau saja yang menunjukkannya?”
“Maaf, tidak bisa. Aku hendak pergi ke suatu wilayah lain. Sebelumnya maafkan aku yang tak bisa menjaga temanmu dengan baik,” tutur Yongchun.
__ADS_1
Menoleh ke belakang dengan senyum tipis namun keningnya berkerut. Kemudian ia melambaikan tangan tanda perpisahan dengan Rahmana.
“Untuk sesaat aku dapat merasakan hawa keberadaan pengguna seni iblis, atau hanya mirip saja? Tapi itu terlalu besar sampai-sampai aku tak bisa mengendalikan emosiku tadi. Ah, kacau ...aku harus segera ke tempat itu,” batin Yongchun dengan pikiran kacau.