Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
070. Zhao Yun Vs Bon


__ADS_3

Laut Merah, ialah laut yang berair warna merah. Warnanya seperti darah yang kental, pekat namun tak sedikit pun berbau anyir. Air itu mungkin terlihat bersih, tapi sebetulnya tidak.


Di dasar laut terdapat ratusan makam yang tercampur. Banyak tengkorak kepala manusia, serta tulang-tulang yang berserakan di atas pasir. Bahkan pedang-pedang yang konon katanya adalah milik para pejuang juga ada di sana.


5 tahun lalu, peperangan saudara berakhir. Setelah sekian lamanya menunggu akan hal itu, dan menyisakan bekas perang. Tatkala gelombang laut merah menjadi berubah mengganas, hal itu takkan membuat ratusan makam hancur atau hilang sekalipun.


Benar-benar tempat yang cocok untuk dijadikan makam para pendekar yang gugur. Entah kawan atau lawan, semuanya tercampur jadi satu. Seolah mereka kembali akur namun tidak bagi mereka yang masih hidup.


Mereka yang saat ini masih hidup, dan sebagai saksi atas perang tersebut berpikir bahwa keberadaan laut merah itu membuat wilayah mereka dikutuk. Sandang pangan yang kurang, atau hal lainnya yang bisa dijadikan alasan.


Tapi jika dipikir secara logika, tidaklah mungkin hanya karena hal itu. Fenomena aneh ini sungguh hanya kebetulan. Dan kemiskinan yang melanda juga tidak terlalu mempengaruhi keadaan sekitar.


Sejak saat itulah, Yongchun sebagai penguasa di sana mulai berkelian mencari bantuan hingga dirinya sampai ke wilayah timur laut. Menyatukan wilayah dan menjadikannya sebuah negri besar.


Nyatanya tidak semudah yang dibicarakan. Yongchun bekerja keras, demi mendapatkan kedamaian sesama, peperangan pun sebisa mungkin ia cegah. Tapi apa daya baginya, perang memang dominan menjadi pilihan pertama dan terakhir bagi mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.


Hukum dunia yang tidak terhitung. Dunia kuno yang belum teratur. Akankah Yongchun bisa mencapai hal itu bersama dengan yang lainnya? Itu hal yang belum pasti.


Karena masih banyak wilayah yang belum ia kunjungi di bagian timur ini.


Setelah Bing He menjelaskan asal-usul mengapa Laut Merah ada pada Li Bai. Sebuah ledakan tiba-tiba terdengar dari dekat mereka. Membuat Bing He dan Li Bai terdorong menjauh.


“Apa yang kau lakukan, Bon?!” teriak Bing He, segera ia mendekat setelah ledakan berhenti dan kepulan asap menghadang.


Bing He tergesa-gesa menghampiri mereka. Namun kemudian terdengar suara jeritan Zhao Yun yang menggema. Seolah mereka berada di dalam goa yang terdalam.


“Bing He, menjauhlah dari sana!” pekik Li Bai memperingatinya.


Zhao Yun tak mudah tumbang. Ledakan dari Bon, itulah mengapa Yongchun selalu memperingatkan mereka untuk menghindar darinya.


Meski Zhao Yun mampu mengatasi, namun itu takkan hanya meninggalkan luka seringan sayatan pedang. Karena ledakan, Zhao Yun terluka cukup parah. Mulai dari luka bakar atau luka yang nyaris memotong lengannya.


Srakkk!

__ADS_1


Zhao Yun menyeret langkah, menghempas kepulan asap dengan ayunan pedangnya yang besar. Tatapan menukik tajam itu tersorot ke arah Bon seorang.


Pria itu pun melangkah mundur seraya menggenggam kedua kotak di tangan kanan. Menyeringai dengan wajah sombong, sok bisa mengalahkan Zhao. Bon kembali melempar kotak-kotak itu padanya.


“Jadi karena ini, dia menyuruhku untuk menjauhinya?” pikir Li Bai masih meragu.


“Bon memang ahlinya membuat bahan peledak. Tak kusangka, dia masih saja membawa benda-benda berbahaya seperti itu.”


Bing He segera membawa Li Bai pergi. Li Bai pun setuju karena dua dari mereka saja tak cukup untuk menghentikan. Jangankan mereka, bahkan penguasa di sini saja enggan berurusan dengan pria itu.


Yah, meskipun saat ini penguasa itu entah ke mana sekarang.


“Kau yakin membiarkan mereka?” tanya Li Bai yang sebenarnya ia menghentikan mereka.


Tapi di satu sisi, ia merasa ini adalah kesempatan. Sebab pertarungan mereka mungkin akan menghambat perjalanan lewat laut bagi Kaisar Ming.


“Tidak. Aku akan memanggil Diola. Tak usah kau pikirkan. Kau sendiri tahu betapa kuatnya Zhao, bahkan luka yang seharusnya membuat dia sekarat justru seperti gigitan serangga baginya,” lantur Bing He.


“Hm, ya. Kau benar. Tapi yang kukhawatirkan adalah anak itu,” ucap Li Bai.


Segera mereka berdua pergi. Pertarungan antar Zhao Yun dengan Bon tak terelakkan lagi. Mereka bukan sedang beradu pedang melainkan, adu ketahanan pada tubuh mereka masing-masing.


Dan karena Bon terus saja menghindar ke belakang demi menghindari setiap pukulannya, Zhao Yun pun berdecak kesal dan memanggil Bon sebagai pengecut.


Sebutan Zhao Yun pada Bon mungkin memang tidak salah lagi. Bahkan Bon tak berniat membalas sepatah kata pun darinya.


Lagi-lagi, Bon melempar salah satu yang lebih kecil dari sebelumnya dengan bentuk bulat. Melemparnya pelan dan menggelinding ke depan Zhao Yun.


Sesaat mereka berdua berhenti bergerak.


“Hah! Mainan sampah!” pekik Zhao Yun, ia menusuk benda itu lalu melemparnya ke laut merah.


Segera ia melesat lebih cepat menuju ke arah Bon, Bon kemudian menangkis pukulan dengan sesuatu yang ada di balik lengan bajunya yang panjang.

__ADS_1


Tampak itu seperti besi yang melilit kedua lengan Bon. Namun, Zhao Yun tak henti-hentinya menyerang. Tinju kuat tanpa tenaga dalam yang ia alirkan membuat Bon bergidik sesaat.


Seolah kedua besi saling berbenturan, Bon pun kembali tersenyum lalu menghindar dan melempar kotak itu lagi.


DUAR!!!


Ledakan sekali lagi membuat lahan di sekitar berguncang. Bahkan orang-orang yang berada jauh di sana ikut merasakan getarannya.


Mereka bergeming, pandangan tertuju ke laut merah.


“Ada apa di sana?”


“Kurang tahu, ya. Tapi mungkin itu karena Bon si peledak! Tahu sendiri, dia suka berbuat ulah. Dari dulu memang tidak berubah.” Pria berjenggot berbicara.


“Maksudmu dia sedang menguji bahan peledaknya? Dia bisa mati kalau tak tahu jarak yang dicapai oleh ledakan itu sendiri.”


“Biar saja. Dia sudah dewasa. Kalau mati ya kita kuburkan saja bersama gurunya,” tutur si pria berjenggot yang kemudian melahap habis makanannya.


Beberapa orang dewasa yang sudah lepas tangan dengan senjata pun awalnya juga gundah namun tak lama kemudian mereka saling sepakat kalau hal itu hanyalah kejadian yang biasa.


Tidak ada yang mengira bahwa Bon sedang benar-benar bertarung saat ini.


Kedua di antaranya pun tak ada yang mau mengalah. Barangkali sedikit saja pun tidak. Baik Zhao Yun atau Bon, mereka masih saja saling bertarung.


Hingga pada akhirnya, Zhao Yun mengeluarkan tenaga dalam yang mengalir ke dalam kepalan tangan. Dengan sudut menukik, cekungan yang ia hasilkan membuat pukulan bertenaga besar itu mendorong tubuh Bon ke laut.


Dengan keringat dan darah yang bercucuran satu sama lain. Setelah Zhao Yun akhirnya dapat menyentuh si bocah sombong itu, dan kemudian benda merepotkan itu lagi-lagi menggelinding.


Tepat saat Zhao Yun melangkah, tak sengaja ia menginjak. Lalu terpeleset dengan tubuh yang condong ke depan.


“Benda ini?!” teriak Zhao Yun, ia marah sekali.


“Heh, kakek kekar bisa terpeleset juga rupanya. Semangat,” ucap Bon mengejek.

__ADS_1


DUAR!!


Sekali lagi, ledakan itu mendorong tubuh mereka berdua terjatuh ke laut merah. Hamparan angin dan pasir menyatu, kepulan asap seolah menghilang jejak mereka dengan laut merah.


__ADS_2