Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
150. Era Baru Pendekar


__ADS_3

Timur tengah, bagian dekat dengan laut merah.


Segerombolan yang hampir memenuhi padang pasir berkumpul menghampirinya lalu duduk bertekuk lutut sebagaimana mereka menghormati sosok tersebut.


Sosok yang baru saja kembali. Pakaiannya yang selalu saja robek itu tidak pernah berubah, mata tertutup oleh kain putih karena dirinya buta. Pergi membawa dua pedang, pulang ia tidak membawa apa-apa kecuali kabar bahagia untuk mereka semua. Terkecuali dirinya sendiri.


“RAJA PENDEKAR! SELAMAT DATANG KEMBALI!”


Sorakan mereka terhadap sang raja di sana membuatnya terharu namun ia tidak menunjukkan ekpresi apa-apa. Hanya datar, sedatar angin yang lewat.


Meskipun sang raja tidak memiliki mata, para pendekar serta rakyat di sana mengerti bahwa raut wajah sang raja pendekar tersebut tengah bersedih hati. Mereka semua bertanya-tanya dalam benak mereka, tak ada yang berani berbicara sebelum ia membalas sapaan mereka.


“Tuanku, Asyura. Mereka menunggumu berkata bahwa kita telah kembali.” Crow berbisik lirih di belakangnya.


Ialah raja pendekar, nama yang seringkali terdengar adalah Asyura sebagai penjahat keji namun dengan nama lainnya Yongchun, ia terkenal dermawan dan rendah hati. Mungkin takkan ada orang yang tahu siapa dirinya sebenarnya kecuali orang-orangnya sendiri saat itu.


“Baik. Aku senang kalian baik-baik saja. Mulai sekarang tidak akan ada lagi orang yang harus mengais di daratan lain. Angkatlah kepala kalian!” titah Asyura.


Selangkah demi selangkah ia maju ke depan, seketika mereka membukakan jalan untuknya pulang. Semua orang menyambutnya ramah dan seolah kesedihan itu sirna dari hawa keberadaannya.


Semuanya tidak ada yang sempurna, itulah yang Asyura pikirkan. Tentu saja tidak ada yang sempurna bahkan langit pun tidak seutuhnya sempurna. Setiap yang ada pasti akan kembali ke sang pencipta.


“Hari ini kita dibanjiri biji-bijian oleh orang-orang yang tunduk pada raja kita.”


“Benar, sultan kita memang yang terbaik.”


Banyak penduduk tak habis menceritakan keunggulan Asyura satu demi satu. Crow turut senang namun tidak dengan Asyura dan Nia. Mereka berdiam diri di makam Relia.


”Aku tahu kau masih merasa sedih, tapi kesedihan yang terus berlanjut itu tidak baik untukmu. Ingat, bahwa Gupta memintaku untuk selalu menjagamu.”


“Crow, aku sudah bukan anak kecil lagi. Kalau kau tahu aku sedih lalu kenapa tidak kau mengatakan sepatah kata untuk orang yang sudah mati?”


“Jangan bodoh, memangnya perkataan itu akan sampai ke langit.”


“Tidak sih.”


Mentari pagi bersinar lebih terang hari ini. Tidak ada kabar lain yang baik selain kabar kepulangan Asyura. Kabar menyebar begitu cepat bagai sambaran petir yang akan selalu membekas dalam ingatan mereka.

__ADS_1


Tak terkecuali dengan Diola, ia mendatangi Asyura dengan penuh amarah walau amarah itu adalah sebagai tanda ia sangat merindukannya.


Diola berteriak, “Akhirnya kau kembali juga, dasar bodoh! Kenapa melimpahkan tugas itu padaku!” Sembari dirinya mengayunkan bilah pedang ke arahnya.


“Paman, maaf atas itu. Lalu terima kasih. Dan harusnya kalau menyerang tidak usah berteriak, nanti posisimu ketahuan.”


Sementara bilah pedang itu tertahan, tanpa melihat pun Asyura dapat melakukan itu. Kekuatannya sudah berbeda dari yang dulu.


“Huh, terserah lah.”


Orang yang dulu sempat bertarung karena berbeda pihak, Guard Diola. Pria tulen dan penyuka alat musik piano asal barat, ia dulu terkenal dingin dan pendiam namun tidak untuk sekarang. Ia berubah jauh setelah akrab dengan Asyura.


“Ke mana perginya nama Wang Yongchun?”


“Aku sudah kembali. Itu sudah tidak diperlukan.”


“Begitu. Dan aku turut berduka atas istri pertamamu. Maaf tidak bisa membantu secara langsung.”


“Bantuan yang aku butuhkan padamu hanyalah untuk membersihkan jejak Asyura yang kejam. Itu saja cukup, aku berterima kasih padamu, Paman.”


***


Malamnya, langit gelap bertabur bintang dengan rembulan penuh. Malam itu sangat dingin berbeda dengan pagi atau siangnya di sana yang menyeruak panas. Paling rawan ditemukan adanya hewan bersungut panjang keluar dari dalam padang pasir.


“Mau ke mana? Apa aku boleh ikut?” tanya Nia sembari menggendong anaknya.


“Aku tidak akan ke mana-mana. Tidurlah, kamu belum istirahat sejak kemarin,” ucap Asyura seraya mengelus ujung rambut Nia dan putra kecilnya.


“Kamu juga beristirahatlah. Tidak baik keluar malam, kecuali ada yang kamu butuhkan.”


“Tidak ada kok. Tidak ada yang aku butuhkan, hanya saja rumah terlalu sepi tanpa adanya dia.”


Sejujurnya Nia cemburu mendengar hal itu, namun begitulah Asyura. Ia sangat mencintai istri pertamanya sejak peperangan saudara terjadi.


“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada kak Relia? Aku masih ingat dia melawan sosok dewa hitam yang merasuki tubuh pria itu tapi setelahnya aku tidak tahu. Atau aku tidak ingat?” pikirnya.


“Kamu memang tidak tahu karena kamu tenggelam di saat Relia diserang olehnya. Sama sepertiku, kamu tenggelam.”

__ADS_1


Betapa terkejutnya Nia ketika mendengar hal itu.


”Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Itu sudah cukup lama. Jangan dipikir kembali.”


Asyura menggelengkan kepala, membuat Nia tidak bisa bicara. Entah mengapa mereka jadi sangat canggung karena beberapa kejadian yang telah dialami oleh mereka.


“Masuklah,” kata Asyura.


***


Malam cukup panjang, waktu seolah berlalu begitu lama. Raja Pendekar adalah era yang paling menyakiti seluruh perasaan para pendekar, suka maupun duka yang saling berdampingan justru membuat mereka lebih terpuruk dengan keadaan krisis setelah perang.


Akan tetapi semua itu lenyap saat Asyura mendapatkan pertolongan yang tentunya itu tidak secara gratis. Mau bagaimana lagi, era di setiap tempat tetaplah memikirkan berbagai keuntungan atau timbal balik.


***


Kesempatan sekali seumur hidup tidak akan mudah didapat meski pertumpahan darah, keringat dicurahkan demi sesuatu.


Seiring berkembangnya suatu negri, maka semakin besarlah nama tempat itu sendiri, hingga membumbung ke langit. Para pendekar hidup dalam keadaan aman, sisanya hanya tinggal menyelesaikan sisa dari masalah yang setiap kali muncul tiba-tiba.


Seorang pria berambut panjang dengan kipas khasnya, perawakannya sudah tua. Ia datang berkunjung ke negri timur tengah dari timur laut tempat kelahirannya.


“Bagaimana dengan Wang Yongchun?” Pria itu bertanya seraya meletakkan cangkir.


Seorang pria muda di hadapannya menjawab, “Dia sudah mati. Untuk apa membahasnya?”


“Tidak aku sangka kau begitu mirip dengan Ayahmu yang kurang ajar itu. Awas saja kalau kau sampai mengangkat pedang pada anak itu.”


Pria itu kemudian pergi setelah perbincangan singkat darinya. Sementara seorang anak yang baru saja dibicarakan, ia tengah menghadap laut dengan memegang pedang yang tertancap ke padang pasir.


Ia kemudian membuka kedua matanya yang sehitam jurang kegelapan. Pandangannya tertuju pada laut yang membentang.


Seorang wanita datang tak lama setelah itu.


“Jangan melantur di pagi hari, dan jangan pernah mengatakan bahwa kamu pernah bertemu ruh Ayahmu. Cepat kembali ke rumah dan makan makananmu, Ali.”

__ADS_1


__ADS_2