
Nia dan Relia kembali bertemu dengan God Hand Romusha. Romusha pada saat itu terlihat sangat lesu, dan ternyata itu karena sosok Dewa Hitam yang diyakini takkan bangkit apabila mereka semua tidak berkumpul, justru telah bangkit sekarang.
Tandanya sudah dimulai dari musim yang tak beraturan. Kadang hujan, kadang panas dan kadang juga sempat meneteskan keping salju.
Dan kini, Yongchun belum diketahui keberadaannya. Sedang dalam pencarian.
“Relia akan mencarinya,” ucap Relia seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Apa? Tidak kak! Jangan! Itu berbahaya. Biar aku saja,” ujar Nia.
“Tapi Nia, bukankah terlalu sulit untuk menemukan Asyura. Bahkan untukku pun itu terlalu sulit, jadi setidaknya ada Nia yang menunggu kami.”
“Maksudnya, aku ini tidak akan bertahan begitu? Tapi, kak! Pentingkan keselamatan kakak sendiri. Aku sendiri pun bisa melakukannya,” ucap Nia yang kukuh.
“Itu benar! Biarkan dia bersamaku untuk mencarinya. Sekali lagi,” sahut Romusha menatap serius ke arah Relia.
“Atas dasar apa kau ikut campur. Aku cukup yakin ini pasti karena ulah seseorang juga,” ketus Relia menatapnya tajam.
“Tapi dia juga salah satu bagian dari kami!” sahut Romusha menegas.
“Hah, aku juga tahu itu. Tapi kau yang berwajah lesu dan lemas begitu, bisa apa?” sindir Relia semakin ketus.
Tatapannya yang tajam itu tertuju pada Romusha seorang. Sementara Romusha kini pun terdiam, tak lagi mampu mengeluarkan sepatah dua kata. Romusha juga kecewa pada dirinya sendiri, karena sudah semalaman ia mencari tapi tiada hasil seolah Yongchun berada di dunia lain itu sendiri.
“Kalau begitu, aku akan memberitahumu satu hal,” ucap Romusha.
Semula ia terdiam namun ia baru teringat akan sesuatu yang cukup penting di benaknya. Yakni, Shira sebagai saksi melihat Yongchun dengan sosok Dewa Hitam itu.
“Kenapa lagi?” ketus Nia.
“Shira, maksudku pria yang tinggal di kuil bukit itu telah melaporkan situasinya kepadaku. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, melihat pertarungan Mata Dewa dengan Dewa Hitam itu,” ungkap Romusha.
“Lalu, kenapa kau tidak kunjung menemukannya?”
“Aku sudah mencarinya bahkan sampai ke goa yang telah aku katakan, tapi hasilnya nihil. Karena itulah aku jadi seperti ini, sudah semalaman bahkan aku sampai tidak tidur,” ucap Romusha.
__ADS_1
“Sepertinya di sini memang ada jarang perang, ya? Makanya hanya sehari tidak tidur saja sudah membuatmu begitu lelah,” singgung Relia kembali.
“Hei, apakah terjadi sesuatu ketika pertarungan itu terjadi?” tanya Nia.
“Selain Tori aku tidak tahu. Gerbang yang berwarna merah itu hancur karena serangan Dewa Hitam. Dan juga beberapa anak tangga, jadi sulit untuk naik atau turun dari sana.”
***
Sementara itu, Yongchun tengah menyandarkan diri ke dinding goa bagian luar. Sebelumnya ia berada ambang kematian, tapi tiba-tiba berada di tempat semula tentu membuatnya kaget setengah mati.
Karena keberadaan God Soul masih belum ditemukan, Yongchun akhirnya bangkit tak lama setelah mengistirahatkan tubuhnya. Tak lupa ia untuk berwaspada dengan menggenggam pedang dengan tangan kanannya.
Setelah Yongchun mengelilingi goa, meski tidak seluruhnya ia akhirnya bertemu dengan God Soul. God Soul sedang tak sadarkan diri dan nampaknya nadi masih berdenyut dengan normal.
“Apa dia tidak bisa bangkit ketika pagi hari? Ataukah Dewa sepertinya juga butuh istirahat seperti ini?”
Perlahan mata God Soul terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan kemudian membelalakkan begitu menatap Yongchun di depannya.
“Pagi, God Soul!” Yongchun menyapanya, guna mengetes apakah sosok itu masih ada atau tidak.
“Hah? Kau sedang apa kemari? Dan kenapa juga aku berada di sini?” tanya God Soul kebingungan.
“Aku juga tidak begitu tahu. Karena aku tiba-tiba ada di sini,” ucap Yongchun setengah berbohong dan setengah jujur.
Ada hal yang ingin dibicarakan dengan God Soul namun waktunya tidak pas. Dan ada kemungkinan suatu masalah menjadi besar jika ia memberitahukan apa yang telah terjadi malam ini pada tubuh God Soul.
“Hei, katakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya God Soul seraya menarik pakaian Yongchun.
“Mana aku tahu. Aku 'kan sudah bilang sebelumnya, bahwa aku pun tiba-tiba berada di sini ketika terbangun. Memang sih sebelumnya aku sempat datang kemari karena kau kabur dari penginapan, kau tahu itu juga 'kan?”
“Kabur?”
God Soul kemudian memijat keningnya, ia berusaha mengingat sesuatu sebelum semus ini terjadi. Terlintaslah sebuah ingatan di mana dirinya mengalami sesak napas, di saat dirinya berpikir akan mati ia pula mengingat sebuah janji.
Janji pada dirinya sendiri untuk menyembuhkan adiknya di negeri seberang sana. Akan tetapi, God Soul masih tidak yakin apakah ia kabur ke tempat goa ini berada?
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain pula, Yongchun sepertinya mewaspadai sesuatu. Jelas saja, kemarin ia hampir mati di tangannya. Percaya atau tidak, Yongchun telah mengalami hal yang lebih mengerikan dari perang-perang sebelumnya.
Ingatan itu juga cukup membekas sampai alisnya berkedut sebelah. Seraya mengigit bibir bagian bawahnya, ia kemudian berjalan meninggalkan God Soul di sana.
“Tunggu, kau mau ke mana?” panggil God Soul. Peluhnya bercucuran deras, sesaat Yongchun melihat hati yang ragu pada diri God Soul sendiri.
Deg!
Debaran jantung yang keras dirasakan oleh God Soul sesaat setelah memanggil Yongchun. Yongchun pula melihatnya, bagaimana jantung itu berdebar terlalu kencang.
God Soul sampai mengerang kesakitan seraya menggenggam kuat kepalan tangannya ke depan dada. Lalu ia bertekuk lutut, jatuh ke tanah dengan tak berdaya.
“Ugh! Apa-apaan ini?”
Angin berembus kembali ke seluruh penjuru daerah ini. Langit terang berganti dengan langit malam yang cukup gelap terlihatnya.
“Jangan-jangan ...”
Enggan untuk memikirkan kemungkinan hal terburuk begitu pagi digantikan dengan malamnya secara tiba-tiba dan tidak masuk akal, Yongchun segera pergi meninggalkan God Soul seorang diri.
“Mustahil aku dapat melakukan sesuatu sekarang! Kekuatanku belum cukup kuat dan, pedangku hanya tersisa satu saja!”
Swushh!!
Sekali lagi angin berembus cukup kuat, dan ini karena pengaruh sosok Dewa Hitam. Dewa Hitam mengeluarkan aura yang begitu pekat, seraya ia melomparkan tombak ke arah Yongchun.
Klang!
Yongchun berhasil menangkisnya tepat waktu. Akan tetapi Dewa Hitam telah berada di dekatnya, terlalu dekat sehingga ia mustahil untuk bergerak dalam waktu singkat.
“Argh!” Tubuh Yongchun terjatuh ke tanah setelah pundaknya ditekan oleh Dewa Hitam itu.
Ketika itu terjadi, pedang Yongchun kembali patah. Kemudian Dewa Hitam mencekik lehernya seraya mengambil patahan pedang itu.
“Sudah lama tidak berjumpa. Ah, padahal hanya selang beberapa jam saja ya. Dan itulah yang aku butuhkan untuk memulihkan tubuh yang rapuh ini,” ucap Dewa Hitam.
__ADS_1
“Ergh! Kau! Bisa-bisanya mengganti pagi dengan malam. Ini pasti ulahmu, 'kan? Ataukah kau melakukan ini karena kau tidak bisa bergerak leluasa saat di pagi hari?” sahut Yongchun.
“Diam!” pekik Dewa Hitam seraya mengarahkan patahan pedang itu ke mata Yongchun.