
Sepekan setelah Yongchun menjadi bagian dari 7 Surgawi. Wang Xian terbangun dari masa kritisnya. Tak banyak ia ingat kejadian apa saja yang telah menimpanya. Rasa sakit bercampur lelah masih dapat ia rasakan dengan jelas.
Begitu terbangun, Wang Xian terburu-buru untuk pergi ke istana. Di tengah perjalanan, berpas-pasan dengan Yongchun, sesaat ia melihat adanya benih kesedihan dari dalam hatinya.
“Apa yang terjadi padanya?”
Baru-baru ini ia melihat benih kesedihan yang terlampau besar daripada kesombongan atau kejahatannya. Melihat hal itu, Yang Jian menjelaskan beberapa hal. Bahwa Wang Xian dulu tak pernah seperti ini.
Karena dulu ia adalah pahlawan yang banyak dikagumi. Tapi untuk 10 tahun yang lalu.
Saat itu Istana Wulan baru-baru saja terbentuk dan mendapatkan perhatian para penduduk. Yang dipimpin oleh Kaisar Ming terdahulu sebelum Kaisar Ming yang sekarang.
Kaisar Ming Fu.
Kekuasaannya sungguh besar, banyak pendekar tahap nirwana mengikuti beliau. Rasa segan, hormat dan hal baik lainnya yang ada itu terlampau besar. Tak seorang pun dapat mengalahkannya.
Tetapi posisinya sudah tidak dapat bertahan karena faktor usia. Ia meninggal dan posisi Kaisar itu digantikan oleh putranya yang sudah memiliki keluarga. Ming Guo.
Wang Xian mempunyai seorang adik perempuan yang 1 tahun lebih muda darinya. Ialah Wang Chán. Mereka bersahabat dengan pendekar yang masih amatiran, Yang Jian.
Di pertarungan Arena Batu Kuasa, kekuatan mereka akan ditentukan dari tempat itu. Lalu Wang Xian dan Yang Jian pun pernah melakukannya sekali di sana, saat umurnya masih remaja.
Daripada Yang Jian, Wang Xian justru lebih unggul. Kekuatan tenaga dalam, fisik ataupun mental yang tak dapat dipatahkan semua itu. Apalagi ia juga tak mudah dijatuhkan dengan sebuah trik. Keputusan yang selalu ia buat pun tidak diganggu gugat oleh lainnya, seolah mutlak.
Sampai ketika, hari terburuk itu datang. Mengira kehidupan damai akan selalu mereka jalani setiap hari, perlahan sirna dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Kakak! Mau dengar aku bercerita sedikit tidak?”
Adiknya menghampiri dengan raut wajah bahagia. Wang Xian yang pada saat itu sedang berlatih sendiri di halaman belakang pun lantas tersenyum.
“Cerita apa?” tanya Wang Xian.
Chán berbisik padanya, “Aku sudah lama menjalin sebuah hubungan dengan putra kaisar, kak. Dan sekarang, aku akan menikah dengannya.”
Untuk sesaat Wang Xian tersentak mendengar berita itu. Lalu, berpikir kalau ini adalah kebahagiaan yang telah didapat oleh adiknya, Wang Xian pun melepas ego itu sedikit.
“Aku turut bahagia mendengarnya,” kata Wang Xian sambil mengelus kepala Chán.
__ADS_1
Namun, sebaris kalimat yang ia utarakan tak sama dengan kondisi di hatinya. Ia meragu akan semua perkataan adiknya itu. Seolah, ada yang salah. Entah apa, tapi firasat Wang Xian semakin dirasa semakin buruk.
Wang Chán masih sangat muda untuk menikah. Apakah tak apa? Apa yang akan terjadi jika pernikahannya terhambat? Atau sesuatu buruk akan menimpanya begitu menikah?
Berbagai pertanyaan-pertanyaan itu terus membuat Wang Xian kepikiran. Takut jika suatu hal buruk akan terjadi pada adiknya.
“Chán'er! Tunggu! Aku belum selesai berbicara.” Wang Xian berteriak memanggilnya lalu mengejar sampai ke halaman utama.
“Duh, ada apa sih kak?” tanyanya dengan merasa heran.
“Tidak. Aku hanya saja ...bagaimana, ya. Apa tidak terlalu terburu-buru?”
Wang Xian memutuskan untuk bertanya apakah keputusan ini tidak terlalu buru-buru. Rasa cemas itu jelas nampak di wajahnya. Sehingga Chán tertawa lalu berkata bahwa kakaknya itu konyol sekali.
“Maaf, kak. Membuatmu cemas. Lalu, maaf juga karena baru memberitahumu hal ini. Aku hanya tidak mau kakak akan cemas hanya karena aku menjalin dengan putra kaisar. Apalagi saingannya banyak sekali.”
Seorang anak muda yang memiliki tubuh kurus itu datang, mendengar yang barusan diceritakan dan melihat wajah bahagia dari Chán. Seketika hati yang terpendam ini dirobek begitu mudahnya.
“Yang Jian! Kau kemari?” panggil Wang Xian.
Dan ada hal yang membuat Wang Xian semakin resah. Selama mereka bertiga bersahabat, terdapat sebuah hubungan antara adiknya dengan Yang Jian.
“Hahaha! Maaf menguping. Aku tidak sengaja mendengar hal itu. Dan, selamat ya!” ucap Yang Jian dengan nada meninggi. Memberi selamat pada adik Wang Xian.
Wang Xian melirik ke arah adiknya, dan mendapati tatapan sendu hingga akhirnya berlinang air mata. Saat itu, Wang Xian masih belum menyadarinya.
Bahwa Wang Chán akan menikah dengan bahagia itu adalah kebohongan.
Lalu, hari pernikahan itu tepat di depan mata kepala mereka sendiri.
“Kudengar putra Yang Mulia itu gila. Apakah itu benar?”
“Hush! Jangan sembarangan bicara. Bisa-bisa kau mati terpenggal hanya karena beberapa patah kata yang kau ucapkan!”
“Aku mengerti, tapi ...kasihan sekali. Gadis itu akan menikahi pria seperti itu.”
PLAK!
__ADS_1
“Jangan sentuh aku! Pergi!” amuk Chán serta menangis dan berusaha untuk pergi.
Pernikahan akan terlaksana. Gadis itu menangis dan membuat riasan wajah yang cantik itu luntur. Tangisannya dapat didengar oleh mereka yang menjadi saksi.
Termasuk Wang Xian, ia diam-diam masuk ke aula istana. Melihat apa yang telah terjadi.
Setelah beberapa tradisi pernikahan selesai. Putra Kaisar Ming membawanya ke salah satu ruangan.
Yuze, putra Ming Guo mendorongnya dengan kasar ke atas ranjang. Mencekik lehernya dengan sekuat tenaga, Wang Chán pun meronta-ronta dengan mulut berbusa.
“Chán'er!”
Wang Xian secara tak sadar telah menyusup ke dalam istana, melihat dari balik jendela, apa yang dilakukan oleh suami adiknya sendiri.
Begitu kejam, Wang Xian memanggil nama adiknya dengan suara keras. Ketika ia hendak memaksa masuk ke dalam ruangan, beberapa pengawal datang dan menangkapnya.
“Tunggu! Adikku di dalam! Dia disiksa! Apa tidak ada salah satu dari kalian yang melihatnya!?” amuk Wang Xian.
“Kau sudah menyusup ke dalam istana. Lebih baik cepat keluar atau masuk ke dalam jeruji besi!” Salah satu pengawal mengusirnya keluar.
“Tetapi! Adikku!”
Beberapa pengawal itu hanya menatap sinis. Termasuk Kaisar Ming, ia melihat anak muda ini merengek, menangis, dan marah. Hendak menyelamatkan adiknya namun tak bisa ia lakukan.
Kaisar Ming duduk di singgasana, sembari menyunggingkan senyum tipis menatap ke arah anak muda itu dari jendela.
Samar-samar, ikatan batin antar saudara itu membuat Wang Xian mendengar suara adiknya yang malang.
“Kakak ...”
Akan tetapi sudah terlambat. Nyawa Chán sudah tak tertolong karena putra Kaisar yang gila.
****
Di balik pegunungan, diri Wang Xian setelah 10 tahun berlalu. Beranjak dewasa dan kini ia memiliki sebuah dendam kesumat hanya kepada keluarga kekaisaran.
Sampai rela ia menjual setengah jiwanya pada iblis. Mempelajari sebagian Seni Iblis.
__ADS_1
“Ada apa memanggilku, Pemimpin Wang?” Yang Jian datang dan bertanya padanya.