
Sisa sekitar 2 bulan dari 3 bulan yang telah ditentukan. Yongchun berencana memanfaatkan para pemberontak hanya untuk mengacaukan festival yang akan datang. Tentu semua orang akan terkejut, tugasnya hanyalah hal seremeh itu namun sebenarnya ini adalah peran yang cukup besar.
Menentukan bagaimana reaksi dari seorang kaisar tirani itu. Membunuh dalam diam sama seperti yang dilakukan Kaisar Ming itu jelas takkan cukup membuatnya jera. Segala kejahatan yang disembunyikan dengan baik, walau terdengar sepele tapi akal sang kaisar tidaklah bisa diremehkan.
“Bagaimana?”
“Bukannya tidak mau. Lalu bagaimana dengan pendekar lainnya yang akan datang ke festival?”
“Para pendekar di sana rata-rata hampir tahap menengah. Aku cukup yakin kalian bisa mengatasinya, silahkan lakukan apa saja pada para pendekar nanti. Tapi kalau pengawal istana yang pasti akan datang ke festival bersama Kaisar Ming, itu cukup menjadi urusanku dan seseorang,” jelasnya.
“Kau ingin membuat kami umpan atau bagaimana?”
“Tidak. Kalian berperan cukup besar, aku akan diposisikan sebagai ketua pemberontak yang akan mengacaukan festival, aku sendiri yang akan datang menghadap Kaisar Ming. Jadi kalian cukup ada di bawah agar semua para pendekar sibuk.”
“Kau pikir semudah itu membunuh pengawal istana? Mereka juga sama kuatnya dengan para pemimpin kultus. Lalu, apa yang akan terjadi jika pemimpin kultus mendesak mundur kami?” tanya pria kurus ini, mengerutkan kening.
“Jangan khawatirkan hal itu. Ada beberapa pemimpin kultus yang bersedia mengikutiku untuk saat ini. Takkan kalian ragu, kalau hanya segelintir saja yang akan datang, bukan? Lagipula mereka juga akan membantu di bawah sana, agar tak banyak nyawa yang harus dikorbankan,” celetuk Yongchun.
“Kenapa kau ingin meminimalisir korban? Kenapa juga para pemimpin kultus itu juga ikut denganmu?”
“Banyak sekali yang kau tanyakan. Yah, pokoknya mereka satu kelompok denganku. Tinggal kalian saja yang ingin memanfaatkan hal ini atau tidak.” Yongchun mengecam mereka dengan sedikit intimidasi.
“Kalau boleh tahu siapa yang akan ikut denganmu itu?”
“Baiklah. Mereka adalah Xie, Li lalu Zhao. Festival yang akan datang sekitar 2 bulan lagi, yang tersisa hanyalah Pemimpin Wang dan Yang. Yang Jian sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkannya untuk bangun lalu untuk Wang Xian, aku berencana memanfaatkannya sebagai pahlawan.”
Ini benar-benar di luar dugaan mereka. Yongchun mengajak kerja sama ditambah dirinya memiliki beberapa pengikut yang kuat. Sudah begitu, ia merencanakan Pemimpin Wang untuk dijadikan pahlawan kelak menjadi kaisar setelah rencana itu terlaksana.
__ADS_1
Yongchun berpikir bahwa ini adalah posisi yang terbaik. Anggap si pendatang baru Wang ternyata adalah komplotan para pemberontak. Lalu para pendekar dan beberapa pemimpin kultus akan membantu Wang Xian sebagai puncak kemenangan yang akan didapat setelah membunuh Yongchun yang telah menjatuhkan Kaisar Ming.
Yongchun bersedia untuk dibunuh? Tidak, Yongchun tidak bisa dibunuh. Setidaknya untuk saat ini.
“Apa kau gila? Kau bisa-bisa menjadi liar lalu mati kalau menggunakan Seni Iblis-mu lagi!” Rou berteriak dan memberinya peringatan.
“Tak perlu kau khawatirkan. Berkat Pemimpin Wang dan Yang, racun mereka membuat beberapa titik meridian-ku jadi kacau balau. Kekuatanku memang tidak terlalu kuat, jadi aku sudah mengantisipasi hal ini.” Terdengar bahwa Yongchun enggan mengatakan bahwa dirinya ini tidak kuat.
“Festival itu kapan tepatnya? Aku jadi tak sabar menanti,” ujar pria kurus itu, ia mulai tertarik dengan rencana yang ia pikir itu tidak akan menimbulkan resiko besar.
“Nanti akan aku beritahu lagi. Terima kasih, ya.” Suaranya lirih, wajah Yongchun memelas sedikit dan terlihat senyum tipis itu tersungging di wajahnya.
Saat mereka hendak pergi meninggalkan tempat itu, Rou kembali bertanya, “Bagaimana dengan Pemimpin Yin?”
“Aku tidak mau ikut campur.” Boneka putih miliknya yang menjawab.
Matahari sudah tenggelam, malam dengan butiran salju membuat hawa ini semakin terasa dingin. Dalam perjalanan kembali menuju kediaman Wang, saat itu Yin bertanya padanya mengenai apa yang barusan Yongchun katakan.
“Bukankah di festival nanti tidak akan ada orang yang membawa pedang?”
Jika ditanya begitu, sudah pasti jawabannya tidak akan ada. Selama festival berlangsung, takkan ada orang yang membawa senjata.
Lalu bagaimana dengan semua orang ketika para pemberontak datang dengan mengangkat pedang? Pasti banyak kekacauan nantinya, semua orang akan terinjak-injak.
Meski tidak ada orang yang akan mati, tapi pasti akan ada orang yang terluka.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” Sekali lagi boneka yang menggantikan Pemimpin Yin bertanya.
__ADS_1
“Terkadang para penduduk harus mengalami penderitaan yang sama seperti orang-orang yang telah melindungi mereka. Sebagaimana beban yang dipikul pendekar tidaklah seringan ucapan mereka yang kasar,” tutur Yongchun.
“Jadi maksudmu ...kau ingin membuat kekacauan yang setimpal terhadap Kaisar Ming? Karena mereka yang percaya padanya, maka kau harus melakukan hal ini?”
“Tentu saja,” ucap Yongchun. Ia tersenyum lebar dengan taring kecil yang mencuat.
Yang Yongchun rencanakan benar-benar sangat sadis. Membuat para penduduk itu merasakan penderitaan dan membuat mereka memahami apa yang dipikul oleh orang-orang yang telah melindungi mereka sampai detik itu terjadi.
Sekaligus menjatuhkan sang kaisar yang pada akhirnya kedamaian di wilayah ini akan terwujud dengan sempurna.
Tapi menggunakan diri Yongchun sendiri itu terdengar sangat gegabah. Meski Yongchun saat ini bisa dikatakan tak dapat mati namun bukan berarti dia tak bisa dilukai.
Terdengar gegabah namun di sisi lain, jika rencana ini betulan terjadi dengan sangat lancar maka semua pengorbanannya tidak sia-sia.
“Apa kau pikir Pemimpin Wang bisa melakukan perannya?”
Setelah sampai di kediaman Wang, Sekte Teratai Biru. Melihat banyak orang yang sedang memperbaiki bangunan itu lagi, ia merasa sepi.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran Wang Xian di sini. Lalu semua pengikut Wang yang ada, harusnya saat ini Yongchun akan mendengar caci makian dari mereka sambil berusaha membunuhnya dengan pedang mereka masing-masing. Tetapi saat ini mereka justru mengabaikan kehadirannya.
“Tidak biasanya begini. Mereka juga pasti sudah tahu kalau aku ini bukan sekadar pendatang baru untuk keluarga mereka. Melainkan aku ini 'kan Asyura,” gumam Yongchun.
Ia kemudian masuk ke dalam dan benar saja, tak seorang pun yang memperhatikan keberadaannya atau bisa jadi mereka mengabaikan dengan sengaja. Entah apa maksud mereka, namun jelas ini membuat Yongchun resah.
“Di sini aku juga tidak lihat Nia ataupun Relia. Sebenarnya mereka berdua ke mana saja? Atau mungkin mereka ada di Istana Wulan?” pikir Yongchun.
Begitu masuk ke dalam seraya memperhatikan sekeliling, tiba-tiba saja sekelompok orang berbaju hitam dengan caping datang dan menyerbu kediaman Wang.
__ADS_1
“Siapa pula kalian?!” teriak Yongchun, terkejut.