Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
099. God Soul Bagian I


__ADS_3

Perhatian Yongchun teralihkan menuju seorang pria yang sesaat membuatnya penasaran. Yongchun lantas memutuskan untuk membuntuti selagi sosok itu belum pergi jauh.


“Hei, kau mau ke mana?”


Datang seorang yang kenal dengannya. Telinga Dewa, pria berbahasa Rusia namun kini ia memadankan bahasanya dengan orang-orang di wilayah ini.


“Apa itu orang yang kau maksud?” pikir Yongchun seraya menunjuk ke arah pria itu.


“Hm, sejujurnya aku tidak yakin tapi mungkin saja. Dan berhati-hatilah karena kita tidak tahu apakah dia datang dengan damai ataupun tidak.”


“Aku tahu.”


“Kedatangannya hampir bersamaan denganmu. Aku jadi merasakan firasat buruk tentang ini.”


“Salahmu yang mengundangnya dengan hawa membunuh,” ketus Yongchun.


Ia lantas mempercepat langkahnya dengan natural. Sesekali ia melirik ke arah lain namun ia tetap berfokus pada targetnya.


Pria asing dengan syal yang terbelit di lehernya. Pakaiannya sedikit ketat, entah berasal dari mana orang itu. Tapi yang pasti, pria itu sama sekali tidak mencurigai kalau ada seseorang yang tengah membuntuti.


Padahal keberadaan Yongchun cukup jelas khususnya saat ini. Namun tidak dengan Telinga Dewa, ia menyembunyikan hawa keberadaannya.


Langit gelap menurunkan pandangannya. Genangan air yang terinjak membuat kakinya basah terciprat air. Kala itu, situasi cukup tenang. Sosok pria yang sedang diikuti telah berhenti melangkah saat berhadapan dengan dinding.


Berada di jalan buntu. Ternyata firasat buruk Telinga Dewa benar. Sosok pria itu lantas menoleh ke belakang dengan tatapan sinis.


“Sudah kuduga ada sesuatu.”


Yongchun tak menggubris perkataan Telinga Dewa, ia hanya bersikap waspada sembari menggenggam salah satu pedangnya.


“Kalian mencari sesuatu?” tanya pria tersebut.


“Hanya sekadar bertanya. Siapa dirimu?” Yongchun membalas dengan pertanyaan.


“Aku hanya pelancong yang kebetulan lewat. Tapi, di sini banyak sekali orang yang memegang pedang. Syukurlah ada yang mengerti bahasaku.”


Benar, bahasa itu cukup asing. Yang sering digunakan oleh orang-orang barat, maka dari itu Yongchun pun mengerti sedikit. Berbeda dengan Telinga Dewa, pria ini berbahasa Rusia, bahasa yang unik namun tidak dapat dimengerti karena terlalu sulit dieja.


“Pelancong? Tujuanmu hanya untuk pergi berlibur?”


Sekali lagi Yongchun bertanya, ia hendak memastikan sesuatu namun tampaknya pria itu tak lagi berniat untuk bicara.


Tap, tap!


Genangan air yang semula tenang mulai mengalir ke arah di mana pria itu berjalan. Perlahan-lahan genangan air terlihat seperti diangkat.

__ADS_1


“Ini ilusi?”


Diangkat ke atas dan kemudian membentuk sebuah tombak yang panjang. Semilir angin berembus ke arah barat, menunjukkan sosok pria yang tak lagi sama.


Ctarr!


Petir menggelegar. Langit mulai menggelap dan semakin gelap. Hingga di sekitar nyaris tidak terlihat.


“God Soul bangkit,” gumam Telinga Dewa.


Tampaknya ia mulai menyadari sesuatu. Lalu Yongchun menarik pedangnya, bersiap akan serangan.


“Aku tadi bilang, aku hanyalah pelancong. Sepertinya kalian tidak berniat membiarkan aku pergi.”


Sosok yang lebih besar, entah itu arwah atau semacanya. Kini Yongchun dapat melihatnya secara langsung, warna kehitaman pekat menjadi sebuah tanda akan kepemilikan tubuh dewa.


“Tu—”


Ctang!


Sebelum Yongchun menjelaskannya, justru tombak itu menyerang Yongchun dengan ganas. Tombak itu sama sekali tidak bisa disentuh, seperti air yang akan jatuh.


Ceplas!


Satu demi satu langkah, menginjak genangan air yang semakin meninggi. Senjata mereka saling beradu dengan gerakan yang kaku. Sebab jalan yang basah dan juga sempit membuat mereka kesulitan bergerak.


Pak!


Telinga Dewa mengatupkan kedua tangannya ke depan. Dengungan suara terdengar lirih dan setelah beberapa saat suaranya semakin kencang dan mengarah pada pria dan senjata itu.


Sosok pria yang disebut sebagai God Soul atau Jiwa Dewa yang terperangkap telah berhadapan dengan mereka, ia mulai memusatkan serangan pada Telinga Dewa.


Langkahnya cepat seolah melayang, menyerangnya dengan ujung tombak yang runcing.


“Kau! Aku tidak ada niatan untuk melawanmu. Tapi bisakah kita berbicara sebentar?” sahut Yongchun.


Namun perkataannya sama sekali tidak digubris, lantas Jiwa Dewa kembali menyerangnya.


Sayatan yang dihasilkan tidak seberapa namun sulit bagi mereka untuk menghindar. Suara yang dihasilkan melalui pendengarannya pun meruntuhkan sedikit demi sedikit senjata tombak tersebut.


Kobaran api hitam menyala-nyala ke seluruh bilah pedang Yongchun.


“Padahal aku meminjam ini dari orang-orang yang lewat tadi.”


Yongchun sendiri mengakui bahwa dirinya telah mengambil dua pedang milik seseorang di antara kerumunan sebelum ini. Tapi, apakah mampu digunakan untuk menyerangnya?

__ADS_1


Syat!


Yongchun menggunakan kedua pedang yang berkobar api hitam, menyayat punggung yang terbuka lebar dan darahnya pun mengalir dengan deras.


“Kalian berniat membunuhku rupanya? Padahal aku hanya pelancong!”


Datang dari arah belakang, air yang tergenang membentuk beberapa senjata tajam dan menghujam punggung Yongchun tepat sasaran.


“Tunggu! Tidak! Hentikan! Aku tidak berniat membunuhmu! Yang tadi itu—!”


Usaha Yongchun untuk berbincang sebentar dengannya menjadi sia-sia saja. Tatkala Jiwa Dewa sudah gelap mata, segelapnya langit di atas saat ini.


Darah Jiwa Dewa membuat genangan air sepenuhnya menjadi berwarna merah. Pekat dan sedikit kental.


Tap! Tap!


Yongchun melompat mundur ke belakang, posisinya justru berbalik dengan Jiwa Dewa. Dan kedua pedang yang ia pinjam pun menjadi hancur berkeping-keping.


Telinga Dewa melesat ke arah pria bersenjata itu, ia mendekat dengan telapak tangan yang menyentuh dada atas.


“Detak jantung yang cepat. Sepertinya kau sangat panik. Dan kau ingin segera pergi setelah mencari celah dari kami, ya?”


Kekuatan tenaga dalam mengalir ke telapak tangan, sesaat menyempit lantas meluas ke sekujur tubuh pria tersebut.


Dash!


Sontak terkejut. Senjata tombak itu hancur dan ia terdorong mundur menghantam dinding sekaligus Yongchun di sana. Sampai-sampai terjadi guncangan yang membuat sekitar orang menyadari hal tersebut.


“Hei, aku tidak tahu kenapa kau kemari selain hawa membunuh yang pernah kau rasakan. Kita senasib, atau lebih tepatnya satu jenis yang berbeda dari pendekar biasa,” bisik Yongchun seraya mengunci pergerakannya.


“Ukh, kau! Kenapa aku harus percaya padamu! Yang ingin membunuhku adalah musuh!” pekiknya.


Genangan air yang berubah warna menjadi merah terangkat dan membentuk belati yang kemudian digenggamnya.


Crak!


Jiwa Dewa menusuk Yongchun dengan itu tepat di bagian pinggang atas. Namun Yongchun tetap mengeratkan kedua tangannya yang mengunci gerakan pria itu.


“Sepertinya itu tidak mempan padamu, ya.”


Ia lantas menengadah ke langit. Menatapnya dan bergumam, “Hujan! Deras!”


Tepat setelah ia mengatakan itu, hujan deras turun begitu saja. Jiwa yang bersemayam kembali muncul dan seketika banyak duri yang siap menghujam.


“Dasar!” teriak Yongchun lantas menendang punggungnya. Ia pergi dan menjauh dari sosok jiwa yang bersemayam dalam tubuh Jiwa Dewa.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan kalian membunuhku!”


Angin berembus lebih kencang, mengubah turunnya hujan ke arah lain. Dalam kegelapan dalam suatu jalan, tubuhnya menghilang bagai tabir asap.


__ADS_2