
Yongchun melesat, Bon bersiap dengan pedang yang kini sudah patah itu. Ia tetap menggunakannya meskipun terlihat tidak berguna, Bon masih menggunakannya dan itu pun dapat melukai Yongchun tepat di titik vital.
Walau semua serangan itu sia-sia saja. Bon semakin lama semakin ragu namun tekad tuk menyerangnya masihlah sangat kuat dan kokoh bak dinding baja yang besar.
“Khaleed!”
Yongchun menyebut namanya, nama asli dari Bon. Nama asli dari pemilik tubuh dewa hitam, yakni bagian mulut. Tutur kata yang cukup berguna tuk mengalahkannya.
Pedang muncul di tangan Yongchun yang kemudian ia menggoreskan jarinya ke bilah pedang itu. Bukan darah yang menetes melainkan tetesan api bagai lava mengalir dari perut bumi.
Bon merasa bergidik. Untuk sesaat, sesuatu yang bergelojak dalam tubuhnya tak henti-hentinya membuat Bon kesakitan sepanjang waktu. Setelah beberapa waktu, sesuatu yang hitam mengalir keluar dari tubuhnya.
Bagai asap hitam mengepul, mengitari tubuhnya. Muka asap ditujukan langsung pada Yongchun.
“Dewa Hitam! Aku tidak akan sungkan meski itu tubuhku sendiri!” teriak Yongchun seraya menebas asap itu bersamaan dengan tubuh Bon.
Slash!
Mereka terbagi menjadi dua. Mereka juga terlilit oleh api kebiruan dengan garis merah. Melilit seakan mereka dalam proses penghancuran.
“Uagh! Kh ...gah ...si- ...” Terlihat Bon ingin membicarakan sesuatu Namum tidak bisa ia katakan.
Klek!
Jari jemarinya menjatuhkan pedang itu ke tanah tanpa rumput hijau yang sebagian terbakar. Perlahan pedang menghilang begitu pun dengan luka Bon.
“Saat itu aku merasakannya. Saat aku menusuk tubuhku sendiri dengan pedang yang aku rasakan bukanlah pedang itu melainkan kekuatan yang mengalir. Rasanya sakit, tapi itu tak berlaku saat pemilik kekuatan aslinya ada di dalam tubuhku.”
Blugh!
Bon terjatuh dengan tubuh terkulai lemas. Sisa-sisa dari asap hitam lenyap. Kenyataannya adalah Bon yang terluka, Bon yang diserang namun semua hasil serangan Yongchun lenyap.
Seolah Yongchun berkorban, kini Yongchun memuntahkan darah segar. Buru-buru ia menyeka darah yang keluar sari mulutnya.
__ADS_1
“Kau pasti terluka sangat parah. Rasakan kekuatanmu sendiri!” cerca Yongchun, ia merasa puas karena bisa menebas Dewa Hitam melalui tubuh Bon.
“Apa yang terjadi?” tanya Arashiyama, tiba-tiba mendekat.
“Darah dari pemilik tubuh dewa hitam itu cukup sakral dan terhubung dengan tubuh dewa hitam itu sendiri. Dan karena aku tidak bisa membunuhku (dewa hitam di dalam tubuhnya) karena dewa hitam itu sendiri, maka aku menggunakan tubuh Bon.”
“Kau ingin mengatakan bahwa pria ini hendak dikendalikan?” sahut Romusha berada di sampingnya.
“Aku lah yang sengaja membuat Dewa Hitam mengendalikan tubuh Bon, hal itu aku lakukan ketika menyebut nama aslinya.” Yongchun menunjuk dengan tegas pada Bon yang dalam kondisi tak sadarkan diri.
“Ho ...jadi kau sengaja memancing Dewa Hitam dengan memanggil nama pria ini? Lalu kau bisa melukainya?”
Sigar menghampiri mereka lalu mengirim telepati pada Yongchun. Isi perkataan Sigar langsung masuk ke dalam kepala Yongchun. Katanya, “Kau tidak waras? Bisa-bisa dia dikendalikan lagi.”
“Tidak. Dia tidak akan bisa dikendalikan. Selama Dewa Hitam terluka,” jawab Yongchun secara langsung tanpa membatin.
Tak hanya Sigar bahkan Arashiyama dan Romusha yang tidak mendengar telepati Sigar lantas terkejut. Tampaknya itu menjadi berita heboh bagi mereka lantaran Yongchun berhasil melukai.
Antara bangga atau sedikit kecewa. Karena tidak sepenuhnya melenyapkan keberadaan Dewa Hitam.
“Tenang saja. Kita semua lengkap, yah ...asalkan God Soul kembali ke sisi kita.” Yongchun berkata dengan serius.
“Hei, apa yang sebenarnya kau rencanakan?”
Yongchun membopong tubuh Bon yang penuh dengan debu hitam itu ke pundaknya. Lalu bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya. Arashiyama, Romusha dan Sigar pun mengikuti dan bertanya apa maksud serta apa yang direncanakan oleh Yongchun.
***
Kamar Yongchun.
“Hei, apa yang sebenarnya kau rencanakan?” tanya Romusha sekali lagi. Ia terus merengek seolah Romusha takkan ikut dalam perencaannya.
“Membunuh Dewa Hitam, apa lagi?” jawab Yongchun santai seraya ia memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Hei itu bukan rencana melainkan tujuan!” ucap Sigar dan Romusha serentak bersamaan.
“Hanya memikirkan kembali bagaimana cara membuat Dewa Hitam keluar dari tubuhku saja sudah membuatku pusing. Apalagi melenyapkannya.”
“Lalu? Dewa Hitam tidak mau keluar sendiri ya?”
“Kalaupun bisa, pastinya dia sudah keluar dari tadi. Buktinya, dia bisa keluar saat aku menyebut nama asli pemilik tubuh dewa yang lain tapi setelah beberapa saat dia kembali padaku.”
“Lalu, karena aku menyerangnya. Dia pun kembali ke tubuhku dengan keadaan setengah sadar. Atau lebih tepatnya terluka karena kekuatan mata ini,” imbuh Yongchun.
“Betapa ironisnya. Dia terjebak dalam tubuh God Eye dan juga bisa terluka dengan mudah karena kekuatannya sendiri,” celetuk Arashiyama.
“Dewa Hitam itu ...apakah cacat?” pikir Sigar tiba-tiba.
Isi pikiran Sigar memang seringkali di luar nalar. Hal itu membuat mereka sudah terbiasa dengan pikirannya, mengingat apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki oleh Sigar, Pikiran Dewa.
Tak terkecuali dengan Yongchun, bahkan semenjak pertama kali bertemu dengan Sigar, Sigar langsung berpendapat bahwa Yongchun berbahaya. Dan itu sekarang terbukti di depan mata mereka. Walau akhirnya mereka memilih untuk bekerja sama karena hasutan Yongchun secara tak langsung.
“Permisi. Saya menyiapkan hidangan untuk kalian. Silahkan dinikmati di ruang makan," ucap Kuraki mendatangi ruangan Yongchun dengan senyum ramah pada mereka semua yang ada di sana.
“Aku jadi berpikir ...bagaimana jika Dewa Hitam bisa merasuki orang lain selain pemilik tubuh dewa hitam?” celetuk Sigar tanpa sadar seraya menatap Kuraki.
Tatapan mereka pun tertuju pada apa yang dilihat oleh Sigar. Sejenak berpikir bahwa yang dikatakan Sigar mungkin akan terjadi, tapi kemudian beralih pandang pada Yongchun.
“Aku tidak tahu,” jawab Yongchun pada pandangan mereka yang menatap sinis dirinya.
“Anu ...permisi?” Kuraki seperti diabaikan semenjak memunculkan batang hidungnya. Ia hanta tersenyum masam serta bingung pada ekspresi mereka yang sama kebingungannya.
Yongchun kemudian berjalan menghampiri Kuraki lalu berkata, “Kuraki, kau sudah terbiasa dengan hal-hal aneh seperti sebelumnya ya?”
“Jika yang Tuan God Eye maksudkan adalah pertarunganmu dengan Tuan God Mouth, saya tidak bisa bilang bahwa saya terbiasa. Karena leluhur saya pun kerap kali membantu kalian. Namun rasa takut pun tetap ada.”
Kuraki sebagai manusia biasa. Bukan pendekar apalagi pendeta melainkan hanya sekadar pemilik rumah penginapan ini. Tentu akan sangat aneh apabila Kuraki merasa hal itu sudah biasa walau dirinya memang sering kali menjumpai hal-hal aneh.
__ADS_1
Karena hal yang ditakutkan Sigar adalah, bagaimana jika Kuraki akan dirasuki oleh Dewa Hitam? Jawabannya masih samar-samar.
“Pastinya tidak akan terjadi. Kita semua menyebut namanya tapi tidak ada reaksi. Artinya Kuraki tidak bisa dirasuki,” tukas Yongchun.