
Kaisar Ming menggerutu kesal. Namun di satu sisi ia merasa senang. Dengan tersenyum lebar seraya ia bergumam sesuatu, “Tetapi, aku pun telah mengirimkan pendekar tahap nirwana. Pasti mereka sudah sampai dan menyerbu wilayah timur tengah yang damai.”
***
“Serang mereka! Jangan sampai kita terpukul mundur!!”
Berbagai teriakan bercampur aduk, lentera yang sudah diterbangkan kini menjadi tanpa arti. Kehampaan dengan bercak darah yang tercecer ke mana-mana. Tak seorang pun yang menikmati festival ini lagi.
Begitu juga dengan dua putri Kaisar Ming, sungguh beruntung mereka selamat dari kekacauan dengan berlari dan sampai ke tempat Kaisar Ming berada. Mereka juga sempat merengek untuk masuk ke dalam namun Kaisar Ming sama sekali tak menggubrisnya.
Lalu, Yu Jie, ia terdiam dengan wajah pucat pasi. Tidak mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh Yongchun namun melihat pemandangan mengerikan di depan matanya pun langsung membuat ia bergidik. Kedua kakinya lemas tak bertenaga, ia jatuh ke lantai sembari menggenggam erat pakaian Kaisar Ming.
“Pemimpin Xie! Anda harus menghentikan ini!”
“Kau juga Lin! Awasi pergerakan di sekitar kita. Dan mulai pisahkan antara penduduk dengan pendekar!”
“Tapi Pemimpin Xie, semua orang terlihat sama!”
Benar sekali. Seperti yang dikatakan oleh Lin Lin. Tak bisa mereka bedakan mana penduduk dan mana pendekar. Apalagi para pemberontak yang sangat brutal dalam mengayunkan pedang mereka.
Sebagian dari pendekar juga terdapat pengguna Seni Iblis, namun tak seorang pun yang menggunakannya sebab mereka akan mudah menjadi target para pendekar.
“Ah, benar-benar kacau. Apa ini yang menjadi rencana busuk si Yongchun? Heh,” ketus Wang Xian dan tetap menggenggam pedang yang masih disarungkan.
Ia lantas menyingkir dan mencari lahan kosong, berada di luar istana itu cukup untuk mencari celah di antara mereka yang tengah bertarung.
Mengambil posisi dengan kuda-kuda biasa, mengeratkan pergelangan tangan lalu kemudian menarik pedang lantas diayunkan secara vertikal. Dengan angin menerpa mereka semua, seketika tumbang dan berhenti saling melawan.
“Pemimpin Wang!” teriak salah satu bawahan yang terkena serangannya.
__ADS_1
“Para penduduk menyimpan senjata sedangkan pendekar tidak, 'kan? Jangan sampai kalian menyerang orang yang salah. Target kalian adalah orang yang menggenggam pedang!” pekiknya membuat telinga mereka berdenging.
Sesaat situasi tak bergeming, para bawahannya dan penduduk pun saling bertatap muka satu sama lain. Memastikan apa yang sedang mereka genggam dan ternyata tidak ada seorang pun kini menggenggam pedang atau dengan kata lain, tidak ada pemberontak di sekitar mereka.
“EHHH!!??”
Seketika, sebagian dari mereka pun sadar akan hal janggal tersebut.
“Ck, dasar kalian bodoh. Jangan sampai kalian terjebak di perangkap si Yongchun itu!” amuknya dengan wajah kusut. Wang Xian benar-benar sangat marah dengan rencana yang berhasil dijalankan oleh Yongchun.
Tapi, Wang Xian sudah mengikuti alur ini. Sebab, kalau dengan cara lain pasti Kaisar Ming akan selalu berwaspada. Bahkan saat ini pun ia masih terus berwaspada.
“Kaisar Ming, aku ingin sekali memenggal kepalamu tapi dia ...!” Membatin dengan amarah melunjak seraya mengepalkan tangan sekuat-kuatnya hingga tenaga dalamnya pun kian membesar.
Tujuan Wang Xian hidup adalah tidak lain membunuh Kaisar Ming itu sendiri namun Yongchun berkata peran Wang Xian adalah sebagai pahlawan. Dimana saat dirinya akan menyerang Yongchun setelah jatuhnya sang Kaisar.
“Karena kau tidak membiarkanku untuk merenggut nyawa Kaisar Ming, maka akulah yang akan membunuhmu sebagai gantinya!”
Para pemberontak terus menyerang dan telah menembus masuk ke Istana Wulan. Sorak-sorai dari mereka demi meningkatkan semangat pun membuat langkah mereka terus bergerak dan menyerang seisi halaman.
Bruk! Tubuh pendekar itu ambruk, tak kuasa ia kembali bangkit. Para pengawal lainnya yang ada di sana pun terkejut dan segera salah satu dari mereka berusaha untuk membantu.
“Kau akan menjadi penghambat. Lebih baik menjauh dari sini.”
Kemudian ia terbatuk-batuk namun enggan menerima uluran tangan darinya. Lantas tersenyum, sontak membuat orang itu terkejut dan berwajah pucat.
Lalu tertawa, kembali bangkit dengan sendirinya. Berjalan menuju sisi Kaisar Ming dengan langkah tegap.
“Kaisar Ming, apa kau pikir setelah ini aku akan datang?” ucapnya dengan suara normal.
__ADS_1
Seketika di sekitar Kaisar Ming pun menjadi hening. Begitu pula dengan putri-putrinya yang mendadak jadi ketakutan dengan tubuh bergemetaran.
Yu Jie yang saat itu masih berada di samping Ayahnya, ia pun menoleh dan mendapati pria tersebut berjalan menghampiri. Tertegun akan wajah yang barusan Yu Jie lihat.
“Tuan Yong ...”
Tertekan karena keberadaan seseorang, Kaisar Ming lantas menoleh ke belakang. Bangkit dari tempat duduknya dan menatap kedua mata yang mengeluarkan api hitam.
“Yin! Yin Ao Ran! Kau di mana!?” teriak Kaisar Ming yang mencari keberadaan Pemimpin Yin saat ini. Padahal sudah jelas ia telah pergi.
“Bukankah kau menyuruhnya pergi untuk ke belakang gunung dan bertemu seseorang?” sahutnya seraya menarik pedang.
Aura hitam itu perlahan keluar dari tubuhnya. Semula ia berdarah-darah dan kini hilang dengan menguap panas. Sosok pendekar, Yongchun. Atau sebut saja sang penguasa wilayah timur tengah, telah berhadapan dengan penguasa timur laut di malam rembulan ini.
“Kenapa begitu terkejut? Apa kau takut?” sindirnya dengan nada merendahkan.
“Sejak kapan kau keluar dari neraka? Hebat juga, ya. Tak kusangka kau bisa keluar dari sana hidup-hidup!” celotehnya dengan keringat deras bercucuran.
Dengan pedang di tangan kanan, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk kiri ia kemudian berkata, “Kau bisa mengirimkan aku kembali neraka. Kenapa tidak kau lakukan lagi?”
Kembali melanjutkan langkah, Kaisar Ming tersentak. Hendak melangkah mundur tuk menghindar namun sudah tak bisa. Ia terkepung karena di depan dan belakang. Para pemberontak dan juga Yongchun.
“Pada akhirnya bentengmu tidak dapat mengalahkan para pionku!” pekik Yongchun.
Slash!! Tebasan lembut ia ayunkan secara vertikal lurus, darah terciprat ke mana-mana. Tercecer hingga membasahi tubuh serta wajah Yongchun yang terlihat sangat marah.
Kepala Kaisar Ming kini melayang ke udara, menatap rembulan dengan tatapan membelalak.
Satu persatu dari para pendekar serta putri-putrinya pun bertekuk lutut. Seolah gravitasi menarik mereka ke bawah secara paksa. Suara yang terkesan menggeram bagai hewan buas, serta aura yang menggelegar keluar layaknya kobaran api seketika mengejutkan mereka semua yang tengah bertarung.
__ADS_1
Intimidasi darinya membuat resonansi pada malam hari menjadikan Yongchun sebagai pusat perhatian. Inilah musuh terakhir mereka, sang penguasa wilayah timur tengah.