
“Jangankan kau, aku pun sebetulnya tidak peduli dengan dunia yang aku tempati,” ucap Yongchun dengan melepaskan semua tenaga dalamnya dalam waktu singkat.
“Ternyata ada manusia yang muak juga.”
“Tidak hanya aku. Bahkan semua orang yang memiliki bagian dari tubuhmu.”
Tombak muncul dari udara yang kemudian membelah diri menjadi beberapa bagian. Sekali ia mengayunkan lengan ke depan, semua tombak itu melesat ke arah mereka berdua.
Dengan cepat Yongchun menggerakkan lengan dan memotong semua tombak itu. Di satu sisi God Ear juga melakukan hal sama disertai dengan elakan.
Lalu, keduanya mengeluarkan serangan yang sama. Yakni berupa banyaknya pedang bayangan. Menyerupai serangan Dewa Hitam sebelumnya.
“Oh, ternyata kita memiliki teknik yang sama.” God Ear meringis dan menatap Yongchun.
God Ear sama sekali tidak bisa menggunakan pendengarannya. Lantaran ia sama sekali tidak bisa mendengar isi hati Dewa Hitam sekalipun. Yang ada hanyalah suara tulang-tulang patah ketika Yongchun menyerangnya.
“Tidak seperti biasanya. Ternyata dia benar-benar Dewa Hitam.”
Yongchun menggunakan tenaga dalam hingga meluas, menyebar seluruh penjuru hutan dan daerah goa. Bagai menebas dengan pedangnya secara langsung, Yongchun melibas semua kekuatan Dewa Hitam.
Beberapa pedang bayangan muncul dari belakang punggung Dewa Hitam. Namun akan tetapi arah dari serangan Yongchun justru berbalik ke arahnya, dengan cepat Yongchun menyebarkannya kembali agar tidak terserang oleh kekuatannya sendiri.
Dewa Hitam mengudara, seolah berdiri di atas udara dan angin berembus. Dirinya kemudian memutar tombak secepat roda bergerak dalam kecepatan tinggi. Setelah beberapa saat dalam gerakannya itu, muncul mata tombak yang tipis dan runcing melesat cepat ke arah Yongchun.
Trang! Trang!
God Ear menghalau segala serangan itu dengan sebilah pedang panjang. Memposisikan diri tuk memasang badan tanpa ragu, ia membuat mata pedang berada di bawah.
Lalu mengayunkan pedang dengan sangat lambat. Tetapi di akhir ujung mata pedangnya ketika menyentuh tanah kembali, angin berembus dengan kuat. Sabit hitam besar menebas tubuhnya.
“Itu bagus sekali! Kau telingaku benar?”
“Ya begitulah. Aku mengincar bagian tulang rawan yang tidak bisa kau pulihkan dengan benar. Apakah ada seseorang yang telah melukaimu?”
“Ya, benar! Itu dia!” pekik Dewa Hitam yang tiba-tiba berada dekat dengan God Ear.
Mereka saling bertukar tatap, God Ear lantas menerima tekanan yang sungguh luar biasa tidak bisa dibandingkan. God Ear mengambil langkah mundur usai Yongchun menghindar dari sana.
Setelah menyiapkan serangan tenaga dalam, Yongchun melesat ke arah Dewa Hitam lagi.
Pak!
__ADS_1
Hendak ia menggunakan kekuatan pukulan tetapi Dewa Hitam mudah menahan kepalan tangannya itu. Yongchun meronta kuat ketika cengkeraman Dewa Hitam pada kepalan tangannya semakin lama semakin kuat.
“Ukh!”
Dak!
Dengan kuat dan cepat Yongchun mengayunkan kepalan tangan yang ditahan itu ke samping. Lantas, Dewa Hitam melepasnya. Begitu terjadi, Yongchun sudah mendaratkan pukulan dari tangan kiri.
Tak hanya wajah milik God Soul saja yang berubah bentuk bahkan permukaan tanah di bawah hingga menjalar lurus ke belakangnya pun sama. Seakan-akan membelah tanah.
Dewa Hitam yang tengah terluka itu kini masih sempat melirik ke arah God Ear.
“Tak peduli aku masih punya mata itu atau tidak, tapi yang penting aku harus mendapatkan telinga itu dulu!”
Tangan kanan Dewa Hitam menjulur lebih panjang dari panjang tangan itu sendiri. Panjang tangannya tidak wajar, dan warna kulitnya pun menghitam seperti dibungkus oleh sesuatu.
Gerak cepat, usai hindari tangan yang memanjang, God Ear mengayunkan pedang dan memotong tangan itu. Darah menyembur keluar dengan derasnya hingga menggenangi kaki mereka bertiga.
“Ha, hanya segini saja?” ucapnya meremehkan. Ia bahkan sama sekali tidak menganggap itu luka fatal.
Srak!
Wuut!
Ia kemudian mengayunkan lengan dari bawah ke atas. Dalam sekejap dua lengan God Ear yang menggenggam pedang pun terpotong.
“Arghh!!!”
God Ear menjerit kesakitan. Lantas Yongchun memasang badan untuknya seraya ia menutup pendarahan hebat itu dengan kekuatannya. Secara perlahan luka menutup dengan sempurna.
“Ukh! Uh ...sakit sekali. S*al!”
“Hei, kau bisa bergerak lagi? Jangan jadi bebanku, kau cepatlah pergi atau nanti dia akan mengambil telinga berharganya,” ucap Yongchun.
“Apa? Kau g*la? Kau bahkan nyaris mati karenanya. Sudah begitu, kau masih bisa belagu.”
“Aku bukannya bersikap tidak sopan. Tapi mataku kembali lagi, bahkan setelah dia mengambilnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tidak mungkin jika hal yang terjadi padaku pun akan terjadi juga denganmu, benar?”
“Tidak, tidak ...tidak.” God Ear menggelengkan kepala. Sikapnya keras kepala sekali.
“Apa? Kenapa kau ngotot sekali ingin bertarung?” ketus Yongchun.
__ADS_1
“Karena aku juga tidak akan membiarkan dirimu terbunuh, Mata Dewa! Apalagi matamu juga sama berharganya dengan telingaku,” sahut God Ear.
“Terserah!”
Tap, tap!
Ia kembali berlari ke arah Dewa Hitam. Sesaat ia mendekat lalu melesat ke arah lain. Tiba di samping kepala Dewa Hitam, Yongchun memusatkan tenaga dalam ke ujung kaki.
Jdak!
Menggunakannya tuk menendang bagian kepala. Tapi Dewa Hitam hanya terseret sedikit saja. Tak lama putaran tombak itu kembali terjadi, serangan tajam tertuju padanya seorang diri.
Yongchun menghindari dengan setiap langkah mundur. Sesaat serangan serta putaran tombak berhenti, Yongchun melangkah jauh dengan mencodongkan tubuhnya ke depan. Lalu memusatkan tenaga dalam di jari jemari.
Tak!
Tombak melesat ke wajah, sedikit menggores wajah Yongchun yang tetap berhasil menusuk tubuhnya dari samping. Kemudian disusul oleh serangan God Ear, ia menggunakan mulut pengganti tangan untuk menggenggam pedangnya.
Gigi geraham itu menggigit pegangan pedang dengan kuat. Lantas mengayunkannya dengan susah payah, hingga menyentuh titik vital.
Klantang!
Dewa Hitam terhenti, bola matanya yang semula hitam berubah menjadi putih seutuhnya. Pedang God Ear terlepas dari gigitannya, ia pun kembali mengatur napas.
BLAR!
Secara serentak api membakar dari luka tusuk dari Yongchun serta tebasan dari God Ear. Api kehitaman membakar sisi lain dari tubuh God Soul. Yakni ke sesuatu yang disebut Dewa Hitam.
“Dewa Hitam ini tidak sempurna. Incar titik vital kedua secara bersamaan adalah tindak yang tepat untuk mengalahkannya.”
Bruk!
Tubuh God Soul terbaring di tanah dengan tanpa sisa pembakaran. God Soul masih hidup.
“Kalau begitu seranganku saat sebelum bertemu denganmu, tidak sia-sia?” tanya Yongchun.
“Oh, kalau begitu luka parah yang lurus dari ujung kepala hingga ujung kaki adalah ulahmu ternyata. Dan, yah, itu berkatmu. Aku hanya menyentuh luka itu lagi sehingga dia tidak bisa bergerak.”
Malam itu pun kembali menjadi pagi hari dengan langit kebiruan. Awalnya God Ear berpikir kebangkitan Dewa Hitam akan tertunda selama berpuluh-puluh tahun.
Namun raut wajah yang mendongak ke langit itu seakan berkata, "Ternyata belum berakhir."
__ADS_1