
Dinginnya salju membuat tubuh ini semakin dingin membeku. Tetapi dengan berlindung di suatu tempat dan terdapat perapian hangat, akan membuatnya kembali pulih.
Kediaman Pemimpin Xie yang berada dekat dengan pegunungan sudah pasti dinginnya melebihi dari pemukiman penduduk yang berada jauh dari sana.
Pada siang ini, Yongchun bertemu dengan Pemimpin serta pengikut Xie Xie. Ia adalah wanita yang terlihat seperti pria kekar, wajah sangarnya itu tidak dapat membuat Yongchun berpikir bahwa Xie Xie adalah wanita. Apalagi, hanya dengan tendangan kaki, tubuh Yongchun mudah terpelanting begitu saja.
Kedatangan istri pertama Yongchun, ternyata ia sudah kenal dengan Xie Xie dan para pengikutnya. Wanita bernama Relia Tan.
Namun Pemimpin Xie Xie kerap kali memanggil Relia dengan sebutan, "Shang'er" atau "Sashuang", yang berarti pemberani. Panggilan yang dibuat itu ia dapatkan karena Relia pernah berenang ke laut lalu mendaki gunung tanpa istirahat sama sekali.
Xie Xie tahu hal itu, tapi sengaja membiarkannya karena ia berpikir bahwa wanita itu akan mati tak lama lagi. Setelah satu pekan berlalu, Xie Xie mendaki gunung dan hendak mencari mayatnya namun ternyata ia masih bertemu dengan wanita itu dalam kondisi masih hidup.
Relia masih hidup dan pernah berkata bahwa dirinya saat itu sedang tersesat. Bertahan hidup di gunung sungguh tak masuk akal, apalagi dengan keberadaan seseorang yang tinggal di gunung itu cukup berbahaya bagi wanita.
Selama satu pekan itu, Relia mampu bertahan hidup. Xie Xie jadi memaklumi dan akhirnya menampungnya meski Relia berasal dari wilayah timur tengah.
Dan sekarang akhirnya Relia bertemu dengan Yongchun. Alasan mengapa ia melakukan semua itu, hanyalah demi suami tercinta.
“Apa sebelum kau kemari, dia tak pernah memberitahumu sesuatu?” tanya Pemimpin Xie pada Relia.
“Dia sudah memberitahukan diriku. Hanya saja Relia tidak dapat menahan diri untuk menyusul meskipun dia bilang akan segera kembali,” jawab Relia, sudut matanya turun.
“Relia, aku bilang padamu untuk jangan pergi. Begitu juga dengan Nia. Tapi kenapa kalian masih nekat?”
Yongchun sepenuhnya sadar dan mendengar semua yang mereka perbincangkan. Terasa keruh walau sesaat, perapian di dalam ruangan itu membuat dingin ini mencair semestinya.
“Suamiku, sudah bangun. Apa ada yang sakit?” tanya Relia penuh kecemasan.
“Tak salah kau berbuat begini karena diriku. Tapi setidaknya katakan apa yang menjadi alasanmu, apakah terjadi sesuatu di wilayah kita?” Yongchun berusaha untuk tegas.
__ADS_1
Relia menggelengkan kepala dan berkata tidak ada yang perlu dicemaskan mengenai wilayah yang Yongchun maksud.
Tetapi ...
“Relia cemas dengan apa yang pernah terjadi saat masa perang saudara dahulu. Apakah ingat?”
Apa yang dimaksud Relia tak lain adalah kedua mata Yongchun. Yang seharusnya tidak ada namun ada untuk saat ini, Yongchun bisa melihat karena ada sesuatu di balik kelopak mata yang kosong itu.
Pemimpin Xie Xie menghisap lalu menghembuskan asap dari pipa cerutu. Duduk dengan menyangga dagu dengan tangannya, ia mulai mengerti apa yang sedang mereka permasalahkan.
“Kudengar, kau datang kemari untuk bertemu denganku.” Pemimpin Xie berjalan ke arahnya lalu merebut kain yang menutupi penglihatan Yongchun.
Kini tak hanya Yongchun seorang, Relia dan semua pengikut Xie Xie terkejut saat melihat kelopak tanpa bola mata namun masih berkedip seolah mata itu benar-benar ada.
“Kenapa kau melakukan tindakan kurang ajar ini? Dan siapa pula yang berniat mengunjungi dirimu yang bahkan tak aku kenali?” ujar Yongchun, dengan marah ia merebut kain itu lalu mengenakannya kembali.
Sekali lagi Pemimpin Xie menghembuskan asap dari pipa cerutu ke mulutnya. Kepulan asap itu menutupi pandangan Yongchun yang kemudian mengerutkan kening.
“Relia mengenal wanita ini. Dialah yang menyelamatkan Relia dari gunung, dia juga tahu siapa Relia dan darimana asal Relia saat ini,” tutur Relia, berharap suaminya tidak marah kepadanya.
“Wang Yongchun. Kau dikenal nama ini, tak satupun orang mengenal siapa dirimu yang sebenarnya. Begitu pula aku ...sebelum bertemu Shang'er saat itu,” imbuh Xie yang menatap Yongchun dengan sedikit kesal.
“Apa maksudmu? Bisakah kau menjelaskannya hanya dengan sebaris kalimat? Aku enggan membuang waktuku untuk berdiam diri di sini. Lagipula ada banyak hal yang harus aku lakukan.”
Kerutan di dahinya terus ia tunjukkan. Yongchun bangkit dari sana dan hendak pergi sembari menggandeng tangan Relia.
“Hei! Aku sedang bicara, Wang Yongchun! Aku dengan kau kemari karena Zhao Yun yang mengatakannya. Dia bilang kau kemari karena ada hal yang ingin kau tanyakan. Termasuk keberadaan Yin Ao Ran. Apa aku salah?” sahut Xie. Membuat Yongchun terdiam sejenak.
Tak lama setelah itu, ia kembali duduk.
__ADS_1
“Baiklah maaf. Aku memang berniat untuk menanyakan hal ini. Khususnya setelah berani merebut kain penutup mataku, aku rasa kau tahu maksudku ...Pemimpin Xie,” ucap Yongchun.
Xie Xie menyeringai, ia kemudian menaruh pipa cerutu itu ke meja. Berbicara dengan sepantasnya pada pria buta, mengerti akan suatu hal lain.
“Mata Dewa yang terkutuk. Itulah cara kami menyebutnya. Harusnya tak seorang pun dapat terlahir dengan mata itu. Semua orang tak mau menginginkannya tapi di sisi lain mereka membutuhkan Mata Dewa untuk kepentingan pribadi. Kurasa ...” Pemimpin Xie berkedip seraya ia menatap ke arah luar.
“Mata Dewa yang turun karena sebuah ritual. Umur yang panjang, keberkahan yang melimpah berserta harta mereka. Semua! Semua yang mereka inginkan pasti terkabul! Namun hal yang harus dibayar dalam ritual adalah membunuh ribuan nyawa orang,” imbuh Xie.
“Jadi, apa kau tahu siapa diriku?” tanya Yongchun bersikap waspada.
“Tidak. Sudah kubilang bukan, aku tak mengenalmu begitu juga dengan pemimpin lainnya. Yah, kecuali Kaisar Ming ...mungkin?” Xie tersenyum kecut.
“Harusnya kau bilang tahu siapa diriku. Dengan begitu semua akan jadi lebih mudah. Lagipula, karena sekarang aku tahu siapa kau jadi setidaknya aku harus mengatakan hal ini ...” Yongchun ikut tersenyum.
Saat itu badai salju datang, angin kencang menerbangkan serbuk putih yang padat. Membuat semua yang ada di luar tertutupi oleh salju yang putih seputih langit di atas sana.
Melihat itu, Yongchun jadi yakin akan suatu hal dengan mengatakan hal ini pada Pemimpin Xie yang mempunyai hati nurani dengan menyelamatkan Relia dari pegunungan. Bahkan sudah tahu darimana dan siapa Relia.
“Aku datang pada Kaisar Ming untuk menyatukan negeri timur. Syaratnya cukup mudah, aku hanya perlu menikahi putri bungsunya. Namun ada suatu hal yang membuatku penasaran, kenapa berita tentang kematian seorang pemimpin di bawah Kaisar sepertinya tidak dianggap dengan serius? Bahkan sampai ditutupi seperti itu.”
Kalimat Yongchun terpaku pada apa yang telah terjadi pada wilayah timur laut ini.
“Aku hendak membuat para pemimpin kultus berada di pihakku lalu membuat penguasa wilayah timur laut itu turun dari singgasananya sendiri!”
Semua orang tentu tahu, tak seorang pun berniat melakukan hal konyol seperti itu. Tetapi Pemimpin Xie justru tertawa, ia lalu berjalan cepat dan menendang tubuh Yongchun hingga dinding kayu itu rusak olehnya.
“Aku tak peduli jika kau ingin menggulingkan dia bagaimana. Tapi bagaimana perasaan para penduduk dan pendekar lainnya saat tahu kau berencana begitu?” tukas Xie.
“Aku ini penguasa wilayah timur tengah. Namaku Asyura. Siapa lagi selain aku yang akan menjadi patokan para penduduk setelah menjatuhkan dia?” sahut Yongchun dengan berani.
__ADS_1
Semua orang tersentak mendengarnya.