Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
056. Bertemu Sosok Siluman


__ADS_3

Kala itu, Yongchun pertama kalinya merasakan alam neraka.


Beberapa mahluk terbang mengejarnya, Yongchun terus berlari dengan kaki yang terus terbakar seiring waktu. Tak ada yang bisa ia lakukan kalau lawannya menggunakan sayap untuk terbang, merasa tak bisa melawan, ia tetap berlari seraya menghindari berbagai serangan dari mereka.


“Bisa, ya?! Terbang saja terus begitu!”


Dalam situasi tidak menguntungkan, Yongchun yang biasa tenang pun mengumpat. Caci makian terhadap Kaisar Ming seorang, ia lontarkan dengan mulut kasar. Tak akan ada yang mendengarkannya, jadi Yongchun bebas melakukan hal itu semua.


Krak ...


Begitu berlari semakin cepat dan semakin jauh dari posisi awalnya, ia merasa kalau tanah yang ia rasakan sedikit berguncang sekali lagi. Setelah beberapa saat guncangan itu berhenti, tiba-tiba saja tanah itu retak dan terbelah menjadi beberapa bagian.


Membuka lebar lautan api di balik tanah itu. Yongchun merasa tertekan, sesaat langkahnya terhenti lalu mulai mencari jalan lain. Ia melompat ke tanah yang masih utuh, dari satu ke satu yang lain. Namun, usahanya sia-sia saja.


Begitu tanah yang sekarang ia pijaki terbelah sekali lagi, Yongchun pun terjatuh di lautan api.


Umpatan kata-kata itu masih ia lontarkan. Perlahan tubuhnya tenggelam masuk dan merasakan sakit yang luar biasa. Tulang yang meleleh, bara api yang membakar sekujur tubuhnya pun tak bisa ia hentikan. Regenerasi dari kekuatan mata itu membuatnya terus hidup namun di satu sisi ia merasakan kematian yang mengerikan.


Tak terhitung berapa jumlahnya, tubuhnya terus memulihkan diri. Tapi di saat yang sama, lautan api terus melelehkan tubuhnya.


Para mahluk terbang itu pun pergi menjauh. Meninggalkan Yongchun dalam kondisi mati dan hidup.


Untuk sesaat ia berpikir, apakah dirinya benar-benar akan mati?


Bahkan rencana itu takkan berjalan jika Yongchun terus berada di sini. Rasakan mati berulang kali pun takkan cukup kertas untuk melukiskan seberapa mengerikannya alam ini.


Ingin berjuang, namun tubuhnya di ambang batas.


Ketika akhir riwayat sudah ditentukan, sebuah daun dengan nama di atasnya mulai gugur. Berbagai pencapaian, dosa atau hal lain pun mulai berguguran satu-persatu. Demi detik, hari dan tahun.


Tetapi, riwayat hidup Yongchun belum saatnya untuk gugur di alam neraka.

__ADS_1


“Jika ini surga, maka aku rela menyerahkan nyawaku.” Terbesit dalam benak Yongchun, ia berharap.


Seseorang membantu menarik tangannya dari atas. Ibarat dewa membantunya keluar.


Detak jantung dan napasnya berangsur-angsur pulih sedemikian waktu. Nampak seberkas cahaya di depan mata, serta siluet seorang pria dengan rambut hitam dan panjang.


“Siapa kau?”


Di sekeliling ini, ia rupanya bersandar ke suatu dinding. Langit neraka yang gelap itu juga tertutupi oleh tanah yang memadat. Sebuah goa.


“Aku menyelamatkanmu dari lautan api. Kupikir kau siapa, karena pancaran aura yang kau miliki sungguh kuat, ternyata hanya manusia dengan tubuh dewa rupanya.”


Pria itu memiliki suara berat seperti Zhao Yun. Tetapi perawakannya mirip sekali dengan Luo atau Li Bai. Rambutnya yang hitam panjang mengingatkan dirinya akan Yang Jian dan sikap sombong itu sekilas mirip dengan Yin Ao Ran.


“Aku di surga?” tanya Yongchun setengah sadar. Melirik ke seseorang yang tengah berada di sampingnya.


“Matamu itu yang surga, kau masih berada di alam neraka.” Pria itu kemudian melirik ke arah Yongchun. “Hei, jangan pura-pura buta karena aku tahu kau bisa melihat!” ujarnya menegas.


Ia merasa tertohok saat pria ini bilang begitu. Tetapi, pria ini juga bukanlah seorang manusia sama seperti dirinya.


“Siapa pula kau?”


“Aku bisa mendengarmu berbicara dalam hati,” sahut pria itu.


Yongchun terdiam begitu ia tahu apa yang sedang dikatakan dalam benak. Namun, masih ragu, Yongchun pun mencobanya sekali lagi.


“Yang benar?”


“Jangan anggap aku bodoh. Di sini, hukum itu tak berlaku. Apa pun yang kau katakan dan pikirkan di dalam hatimu, aku tahu semuanya.”


“Baiklah. Ngomong-ngomong kau ini sebenarnya apa? Dan apakah tempat ini ada jalan keluar?” tanya Yongchun, sambil menjaga jarak dan bersikap waspada.

__ADS_1


Sebelum mengatakannya, siluman dengan sayap ini mendesah lelah. Pandangannya menurun, menatap kerikil di bawah.


Kemudian berbicara dengan menoleh ke arah Yongchun, “Dibilang ada, juga pasti kau takkan bisa keluar. Ini adalah alam neraka yang paling dasar. Semua mahluk di sini itu hidup dan juga mati termasuk diriku yang siluman ini. Tetapi aku tak pernah tahu bahwa akan ada manusia hidup yang jatuh kemari. Sudah begitu, tubuhnya adalah milik salah satu dewa di atas sana.”


“Aku jatuh kemari? Jadi aku benar-benar masih hidup, tidak mati?”


“Iya, itu benar.”


“Tapi maksudmu ada jalan keluar tapi aku tak bisa melewati, itu apa? Kalau ada, kau harusnya mengatakan itu sejak tadi. Karena aku harus secepatnya keluar dari sini!” tukas Yongchun, kembali mendekat dan memohon padanya.


“Jangan terburu-buru. Di sini, waktunya jauh lebih cepat tapi lambat di dunia. Tapi baiklah kalau kau mau keluar, itu akan butuh waktu dengan perjalanan yang cukup panjang. Apa kau sanggup?”


Siluman itu berdiri seraya menunjuk ke arah depan. Terdapat sebuah jalan yang membentang luas di balik goa. Mengingat apa yang pernah terjadi pada Yongchun, ia harus menanyakan apakah dirinya masih ada kesanggupan serta keberanian.


Yongchun pun bangkit, semula yang terasa biasa saja, hawa panas menyeruak keluar dari tubuhnya. Aura hitam nan pekat sama membaranya seperti api yang berkobar besar.


“Takkan aku hanya menerima nasib buruk seperti ini. Jika aku masih hidup, maka aku harus keluar secepat mungkin dan membunuh Kaisar Ming sialan itu,” umpat Yongchun mengepalkan kedua tangan.


Siluman itu tersenyum mendengarnya, lalu berbalik dan mulai berjalan.


“Namaku Niao, aku sudah ribuan tahun di sini. Apa yang sebenarnya terjadi padamu sehingga kau dijatuhkan kemari? Apa kau melakukan kesalahan pada dewa?” pikirnya mengajak berbincang.


“Aku Asyura, tapi saat ini aku bernama Wang Yongchun. Hidupku cukup rumit untuk diceritakan. Yah, pokoknya aku mengalami cedera parah di bagian kepala dan mengakibatkan sebagian ingatanku hilang. Itu terjadi karena peperangan saudara 5 tahun yang lalu di wilayahku.”


Yongchun mengikuti langkah Niao, berjalan di sampingnya terlihat ia sangat pendek dan kecil dibanding siluman tersebut.


“Setelah itu, karena musim kemarau mengacaukan wilayah dan mengakibatkan tanah tandus. Wilayahku dilanda kemiskinan, karena itulah aku datang ke timur bagian lain dan meminta untuk diberi bantuan dengan menyatukan negri. Tetapi, inilah yang terjadi,” imbuh Yongchun berwajah muram.


“Apakah karena kaisar sialan itu?” tanya Niao.


“Ya. Karena dia. Dia yang menjatuhkanku kemari setelah aku mengetahui hal busuk tentangnya.”

__ADS_1


Takkan ada yang abadi. Tak selamanya yang baik adalah baik. Pada kenyataannya pun, Yongchun sudah tak sudi lagi untuk mempererat hubungan antar kedua wilayah.


Sehingga memutuskan untuk memenggal puncak wilayah, Kaisar Ming Guo, dan beberapa cerita yang terselip pada rencana yang sudah lama ia buat.


__ADS_2