
Malam hari di penginapan Kuraki.
Sudah lebih dari 2 minggu, setelah keluar dari goa bersejarah Dewa Hitam. God Soul, mengerang kesakitan sepanjang hari. Awalnya God Soul baik-baik saja namun entah mengapa sesaat setelah berjalan keluar beberapa langkah, ia menjadi seperti itu.
“Tuan Mata Dewa, saya yakin ini karena kekuatan yang dimiliki terlalu kuat untuk ditampungnya.” Kuraki berpendapat.
“Aku juga memikirkan hal sama sepertimu. Tapi tidak ada satu pun cara untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Oh, ya. Kudengar tubuhnya sekarang menjadi hitam. Apakah ini pertanda?” pikir Yongchun seraya memegang tengkuk lehernya.
“Saya tidak tahu. Tetapi mungkin saja, God Mouth ada di sekitar sini. Maksud saya antara berada dekat dengan pulau ini atau justru di pulau ini sendiri. Anda pun tahu apa yang akan terjadi bila Anda semua berkumpul pada satu tempat.”
Kuraki kemudian berjalan ke arah kamar God Soul. Saat ini pun ia tengah mengerang kesakitan di bagian lehernya. Terdapat garis-garis bekas cakaran dari kukunya sendiri.
Yongchun diperlihatkan seberapa histerinya God Soul saat ini. Yongchun pula hanya duduk menunggu sembari menunggu God Soul perlahan lelah lalu.
“Lihatlah dia, Tuan. Ini sudah di luar batas kemampuan God Soul.”
“Andai aku dapat membawa jiwa itu sendiri. Maka mungkin aku bisa menampung keberadaan dewa? Hm, ini cukup menarik.” Yongchun membatin.
“Apa yang akan terjadi apabila dia sudah tidak sanggup?” tanya Yongchun.
Kuraki sedikit meragu untuk menjawab. Namun tetap ia katakan karena akan tidak sopan jika tidak menjawab sepatah kata pun.
“Saya berpikir, God Soul akan terlahir kembali,” ucap Kuraki sembari menundukkan kepala.
“Kalau begitu apa yang akan terjadi pada God Soul?” Sekali lagi Yongchun bertanya. Dan tentu itu membuat Kuraki semakin enggan dan meragu untuk menjawab.
Dengan mata sepat Kuraki menjawabnya dengan suara yang semakin rendah, “Akan mati.”
Jawaban singkat itu tentu membuat situasi yang cukup tegang. Keduanya tidak lagi berbicara apa-apa. Sementara God Soul semakin lelah dan kemudian pada akhirnya tak sadarkan diri di tempat.
“Aku sungguh tidak mau melihat banyak orang mati. Bahkan satu orang pun,” ucap Yongchun. Mengerutkan kening lantas kesal.
“Saya mengerti perasaan Anda.”
Yongchun teringat suatu kejadian menakutkan dalam ingatannya. Yang di mana semua para penduduk sudah habis dilalap api. Banyak dari mereka sudah mati dengan darah menggenang dan jatuh ke dasar laut.
Yongchun menggelengkan kepala beberapa kali, dan memastikan ingatan itu tak lagi terngiang-ngiang. Ia kemudian bangkit dan membuka tirai jendela. Merasakan embusan angin yang keluar-masuk dari luar.
“Menghirup udara segar saat di malam hari pun akan membuat Anda rileks.”
“Kamu benar. Tapi saya juga memiliki kecemasan yang sulit diembuskan oleh angin,” kata Yongchun seraya memijat kening dan tersenyum masam.
__ADS_1
Ya, benar. Yongchun juga teringat suatu hal penting. Tentang larangan yang sebelumnya telah diceritakan oleh God Ear.
“Apakah Tuan Mata Dewa mempunyai keluarga? Maaf saya lancang,” ucap Kuraki yang juga memikirkan bahwa Yongchun telah mempertanyakan larangan.
“Wah, apa ini? Kamu punya mata batin, ya? Bisa tahu apa yang barusan aku pikirkan,” ucap Yongchun lantas tertawa kecil sambil menoleh ke belakang.
“Ah, maaf!” Kuraki tersentak. Ia menundukkan kepala sekali lagi dengan perasaan amat bersalah.
“Sudah tidak apa-apa. Tapi sepertinya, daripada mata batin, dirimu terlihat seperti Pikiran Dewa. Benar?” ujar Yongchun mencandainya.
“Eh?!” Lagi-lagi Kuraki tersentak. Ia bahkan tak bisa mengatakan apa-apa lagi sekarang.
“Baiklah, aku akan pergi sebentar ya.” Yongchun berjalan keluar dari ruangan.
“Tunggu sebentar, Tuan Mata Dewa!” Kuraki menghentikan langkahnya. Ketika Yongchun berhenti, Kuraki pun segera menghampirinya.
“Ada yang kamu perlukan?” tanya Yongchun seraya melirik ke belakang. Mata buatan yang berwarna merah terang itu menatap Kuraki dengan tatapan sendu.
Seketika Kuraki terdiam. Tampaknya Kuraki mengerti akan sesuatu. Tidak lain adalah kekhawatiran yang berlebih.
“Tidak jadi. Maafkan saya.”
“Hm, dia aneh sekali.”
Yongchun tidak begitu memperdulikan kenapa Kuraki berwajah seperti itu. Ia lantas melangkah keluar dari penginapan ini.
Merasakan embusan angin malam serta menatap ke langit yang membentang luas. Ratusan bintang tak terhitung, satu bulan yang memudar.
“Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Tetapi masalah di sini masihlah belum selesai. Aku cemas, aku takut jika mereka tiba-tiba berada di sini.”
Tap!
Yongchun melangkahkan kaki keluar dari pintu gerbang penginapan.
“Beruntung aku menyuruh mereka untuk tidak mengikuti diriku,” imbuh Yongchun seraya menundukkan kepalanya.
Kali ini angin berembus ke arah timur. Seseorang datang dan sekarang berada di belakang. Begitu Yongchun menoleh ke belakang, ia segera masuk kembali ke dalam penginapan.
Di halaman, lebih tepatnya bagian atap rumah.
“Sia ...pa?”
__ADS_1
Sayangnya tidak ada seorang pun begitu Yongchun masuk ke halaman. Padahal sebelumnya ia merasakan kehadiran seseorang. Entah hanya khayalan atau mungkin seseorang itu sudah pergi.
“Apa itu God Ear?” pikir Yongchun seraya berdeham.
Seseorang itu berpakaian serba hitam dengan jubah hampir menutupi seluruh tubuhnya. Perawakan seorang wanita bertubuh langsing dan tinggi. Kulit putih dan helai rambut coklat yang diterpa oleh angin.
Relia Tan. Istri pertama Yongchun lah yang mengintai sekitar penginapan Kuraki. Serta bertemu meski tidak secara langsung dengan Yongchun.
“Ah, firasatku buruk tentang ini.”
Srak, srak!
Yongchun menggosok-gosokkan rambutnya yang tergerai. Ia salah mengira bahwa seseorang itu adalah God Ear.
“Kalaupun itu bukan God Ear, apakah itu God Hand?” pikirnya sekali lagi. Lalu masuk ke dalam penginapan.
***
Tok, tok!
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, pintu rumah terbuka. Relia masuk sembari melepas jubahnya. Kemudian duduk dengan raut wajah pucat.
“Apa yang terjadi kak?” tanya Nia gelisah.
“Tidak. Hanya tegang saja,” jawab Relia dengan lemas.
Rasanya seperti ia dikejar hantu, sampai Relia terduduk lemas seperti itu. Nia yang melihatnya pun sangat cemas, sehingga ia pun memberikan segelas air putih untuk Relia.
Sembari menyodorkannya, Nia berkata, “Ceritakan pelan-pelan saja, kak.”
“Baiklah,” kata Relia lalu menenggak segelas air itu.
Beberapa saat kemudian, seraya mengatur napas lebih dalam. Wajah Relia kembali seperti semula. Ia sudah lebih tenang dari sebelumnya.
“Relia bertemu dengan Asyura. Akhirnya Relia bertemu dengannya. Dia benar-benar ada di tempat yang diceritakan oleh pria itu,” tutur Relia lantas tersenyum bahagia.
“Jarang sekali melihatmu senang begitu, kak. Tapi apakah tidak apa jika melakukan itu? Membuat Mulut Dewa atau apalah itu untuk menjauh dari pulau ini. Atau hanya sekadar menjauhkannya saja.” Nia masih meragukan hal yang sudah diceritakan.
“Untuk saat ini, ikuti saja permintaannya.”
Dan sepertinya Relia enggan membahas hal yang sama berulang kali.
__ADS_1