
Yang Jian datang setelah Wang Xian memanggilnya ke daerah pegunungan.
“Aku kemari karena ingin bertemu dengan Pemimpin Yin. Apakah kau tahu dia ada di mana saat ini? Yang Mulia juga menanyakan hal ini padaku.”
“Kau 'kan bisa datang ke tempatku. Kenapa harus ke sini? Di balik gunung ada laut, ini masih musim dingin. Takkan kau melompat ke dasar laut untuk menangkap ikan untuk para penduduk, 'kan?” celetuk Yang Jian.
Wang Xian menoleh. “Tidak. Maksudku, aku terlalu malas untuk ke tempatmu tahu. Aku juga ingin bertanya sesuatu padamu. Ini tentang Chán'er.”
Mata Yang Jian terbelalak. Terkejut dengan apa yang hendak Wang Xian bicarakan padanya.
“Dia sudah lama mati. Untuk apa masih dibahas?”
“Yang Mulia mengatakan bahwa adikku mati karena suatu kecelakaan di balik gunung ini. Tempat di mana Yin Ao Ran berada. Tetapi, kau tahu kalau dia mati ditangan putranya itu, bukan?”
“Ya. Kekaisaran sudah berubah total. Aku masih menginginkan keberadaan Kaisar Ming terdahulu, di mana kita masih berusia 5 tahun. Lalu kau dapat penghargaan karena mengalahkan banyak bandit yang masih berkeliaran waktu itu.”
“Apa saat ini kau masih ada di pihak Kaisar Ming?” tanya Wang Xian, geramannya sedikit terdengar dengan ia menggenggam pedang dengan tangan kirinya.
Menyadari apa yang hendak Wang Xian lakukan, Yang Jian pun berkata, “Jangan bertindak bodoh dengan melawanku, Pemimpin Wang. Kau baru saja sadar setelah satu pekan kau berbaring di atas ranjang tidurmu.”
Wang Xian sedikit tertawa lalu menoleh ke arahnya. Saling bertukar tatap pada sahabatnya itu.
“Aku bertanya, apakah kau masih berada di pihak Kaisar Ming?” Sekali lagi ia bertanya.
“Aku berada di tengah-tengah kalian. Aku tak mau sampai negri ini kacau lagi. Setidaknya aku punya ren–”
Kalimat Yang Jian terpotong, lantaran Wang Xian mendorongnya mundur dengan sekali ayunan pedang. Wang Xian benar-benar mengayunkan pedang, niatnya tuk menebas sahabat sejak kecilnya itu.
“Kau! Apa yang kau lakukan?!” pekik Yang Jian.
“Itu curang. Tak seharusnya kau berada di tengah-tengah. Apa kau bilang, kau punya rencana? Omong kosong! Kau pasti berencana untuk membunuhku agar keluarga kalian selamat, ya?”
__ADS_1
Yang Jian melangkah mundur lagi setelah Wang Xian mengayunkan pedangnya. Tubuhnya itu benar-benar kuat, stamina yang ia punya seolah tak terbatas. Padahal baru saja ia terbangun setelah selama sepekan ini ia berbaring pulas.
Tak semua luka bisa disembuhkan dalam waktu sesingkat itu. Wang Xian terlalu memaksa dirinya untuk melawan Yang Jian hanya dengan satu tangan.
“Kau ini?! Dengar dulu!”
Yang Jian enggan untuk menarik pedang. Ia pun berlari mendaki ke atas gunung. Dengan cepat ia menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Wang Xian.
Tebasan yang ia gunakan bukan hanya dengan pedang kosong, ia menggunakan tenaga dalamnya tuk melawan Yang Jian seorang. Kilatan dari ayunan pedang itu terlihat berwarna kebiruan. Lembut namun mengerikan.
“Kenapa kau seperti ini, Pemimpin Wang!?”
“Lupakan gelar kita saat bertarung dengan serius. Hei, Yang Jian! Tidakkah kau mengerti kenapa aku memberitahumu tentang dia yang adalah seorang penguasa di balik lautan ini? Aku ingin kau membunuhnya!”
“Memangnya kenapa kau harus bunuh dia? Dia datang karena ingin menyatukan negri timur agar wilayahnya tak dilanda kemiskinan. Dan kau harusnya tahu, bahwa tanah di sana itu sebagian sudah tandus karena peperangan saudara, tidak! Bahkan jauh sebelum perang mereka terjadi, tanah itu sudah tandus! Bukankah akan lebih baik kita bekerja sama?” pikir Yang Jian, melompat secara zig-zag dengan bantuan tenaga dalam. Semakin cepat ia melesat ke atas.
“Karena dia datang, seluruh rencanaku hancur! Harusnya dengan menikahi putri itu, aku akan bisa membunuhnya tanpa susah payah! Berada dekat di posisinya akan jauh lebih mudah! Dasar kau payah!” jerit Wang Xian melancarkan serangan memutar, membuat angin menghempas Yang Jian.
Bruk!
“Tak tahu apakah yang membuatku menderita?! Ini karena kau yang selalu bertindak gegabah!” pekik Yang Jian.
Kekesalannya pada Wang Xian sudah tak dapat ia kendalikan. Yang Jian menarik pedang dari sarungnya. Bersiap tuk melawan.
“Heh, kau sudah tak tahan denganku? Kau lah yang mengacaukan semuanya. Termasuk pria buta itu!”
Srang! Trang!
Percikan api muncul saat setelah dua serangan itu berpadu. Kekuatannya membuat pedang mereka bergetar. Yang Jian sekali lagi menarik dirinya, semakin ke atas, mendaki gunung hingga napasnya mulai berat.
Lika-liku masalah yang telah terjadi memang sudah tak bisa dihindari. Takdir itu sudah terikat dengan setiap nyawa manusia, termasuk adik Wang Xian yang malang.
__ADS_1
Dirinya dinikahkan paksa oleh putra Kaisar Ming Guo, sebab Chán sudah tak suci lagi. Tubuhnya yang polos itu sudah ternodai olehnya sejak sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Karena itulah, Chán mau tak mau ia harus menanggungnya.
Karena itu juga, Chán harus menyembunyikan fakta bahwa dirinya juga mencintai Yang Jian. Tak bisa ia mengatakan bahwa tubuhnya ini sudah tak lagi sama. Takut akan dipandang menjijikan dan hal buruk lainnya sehingga membuatnya tutup mulut sampai mati.
Tapi, semua sudah terlambat. Bagi si kakak dan Yang Jian untuk mengetahui hal ini. Meski sekarang mereka tidak tahu alasan itu, namun satu hal yang pasti. Bahwa keduanya memilih jalan yang sama namun dengan cara yang berbeda.
Menggulingkan kekaisaran.
Semenjak kedatangan Asyura (Yongchun), Yang Jian merubah pandangannya dan membuat pria buta itu juga ada di pihak yang sama. Memilih untuk memanfaatkan seseorang dan rela jika dirinya dimanfaatkan kembali.
Berbeda dengan Wang Xian. Semenjak hari itu, ia tak lagi percaya dengan siapa pun termasuk keluarga sendiri. Takut jika mereka akan berbohong lagi, takut jika hal buruk itu kembali terjadi karena sebuah kebohongan.
Hingga pada akhirnya, ia merencanakan sesuatu sendirian. Tapi itu takkan mudah untuknya. Niatnya ia akan membunuh Kaisar itu dari dalam dengan sebuah pernikahan.
Tetapi hilangnya sebuah kesempatan membuat Wang Xian jadi gila. Semenjak peperangan antar pemberontak di malam bersalju saat itu, tanpa sadar sosok Iblis menghantui dan merayu dirinya hingga ia memanfaatkan Seni Iblis tuk membalas segala perbuatan keluarga kekaisaran.
“Pikirkan jika kau membunuh Kaisar Ming atau lainnya! Bagaimana dengan penduduk! Kau bisa dikecam dan dibunuh oleh pendudukmu sendiri!”
“Kalau keluarga kekaisaran tidak ada. Maka akulah yang seharusnya ada di takhta itu!”
Begitu mudahnya ia berpikir seperti itu.
“Memangnya akan ada orang yang mau menganggapmu Kaisar, hah?! Keluarga mereka saja bukan! Terikat suatu hubungan juga tidak! Pikirkan baik-baik! Dan dengarkan apa yang akan aku katakan!”
Trang!
Langkah Yang Jian semakin terdesak mundur, kedua pedang itu kembali beradu di udara.
“Wang Xian!!” Suara Yang Jian menggaung ke seluruh pegunungan.
Sekilas terlihat, sebelah mata Wang Xian berubah menjadi semburat kehitaman legam. Yang Jian sudah ragu sejak awal tuk melawan Wang Xian, karena itulah pedangnya terlepas dari genggaman.
__ADS_1
Crash!
Hingga mata pedang milik Wang Xian menggores lehernya lebih dalam.