Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
110. Kendali Dewa Hitam Merasuk Ke Tubuh God Soul?


__ADS_3

“Tuan sudah pulang.”


Yongchun membuka pintu lalu masuk ke dalam penginapan. Seperti biasa, Kuraki selalu menyambutnya. Padahal Yongchun hanya pergi keluar sebentar. Dan masih tersisa rasa kejanggalan yang ada dalam hati kecilnya.


“Ya, Kuraki. Lalu apakah God Soul kembali terbangun?” Hal yang ia tanyakan pertama kali, langsung berhubungan dengan masalah yang agaknya membingungkan bagi para Pemilik Tubuh Dewa.


“Tuan God Soul masih terbaring pulas. Perlukah saya membangunkannya?” tanya Kuraki.


“Tidak perlu. Yang ada kamu malah menganggunya nanti.” Yongchun kemudian berjalan menuju ruangan God Soul.


Sembari menundukkan kepala ia berkata, “Baik. Saya mengerti.”


Selepas Kuraki pergi. Yongchun berhenti melangkah, lantaran ada God Hand yang menghampirinya dan sepertinya ia juga akan bicara pada Yongchun.


Di saat yang sama pula, God Soul saat ini telah terbangun. Dengan keringat dingin yang mengalir ke sekujur tubuhnya, God Soul merangkak dan meraih jendela.


“Uh, rasanya sakit dan panas. Apakah kedatanganku di sini justru sia-sia? Padahal aku berniat untuk menyembuhkan adikku yang sedang sekarat. Tapi justru aku lah yang sekarat sekarang.”


Tampak God Soul amat kecewa. Datang kemari bukan suatu jalan yang benar sehingga mengakibatkan beban di tubuhnya semakin berat saja.


Ia kemudian membuka tirai jendela. Akan tetapi jendela seperti itu tak muat untuknya agar dapat keluar dari ruangan diam-diam.


“Sepertinya mau tak mau aku harus menggunakan kekuatan sesat itu,” ucap God Soul.


PRANG! DUAR!


Suara gemuruh, kaca yang pecah serta ledakan yang tidak terlalu besar itu membuat perhatian Yongchun dan Romusha teralihkan.


“Suaranya di dalam ruangan dia!”


Segera Yongchun membuka pintu dengan terburu-buru. Dan hanya menemukan lubang di dinding tanpa adanya God Soul di dalam.


“Hm, mengingat nyawa yang sudah tidak tertolong lagi. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh dia?” God Hand Romusha bertanya-tanya.


“Apa maksudmu? Kau membiarkan dia mati?”


Sementara God Soul bersusah payah melarikan diri dari penginapan itu. Dengan langkah yang tertatih-tatih, God Soul menuju ke sebuah goa yang berada di daerah sana.

__ADS_1


“Sudah kuduga, aku terlalu memaksakan diriku sendiri. Terutama menggunakan kekuatan ini, entah berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup,” gumam God Soul seraya menatap telapak tangannya yang gemetaran.


Di malam rembulan terang. Yongchun sendirian mengejar jejak God Soul. Mengarah ke jalan di mana goa bersejarah dewa hitam berada. Firasat Yongchun mulai tak enak ketika mulai mendekat ke sana.


Namun langkahnya terhenti begitu ia mendapati seseorang lainnya menotok di bagian leher God Soul yang kemudian tidak sadarkan diri.


“Kau, God Ear? Pria dengan bahasa aneh itu,” panggil Yongchun seraya mendekat perlahan ke sana.


Mereka berdua sudah berada di mulut goa. Tambah merindinglah Yongchun terutama suara-suara bising dari serangga terdengar dari semak belukar.


“Kau sungguh tidak sopan, ya. Padahal aku datang menolong temanmu ini,” kata God Ear seraya membopong God Soul ke pundak.


“Apakah itu tidak masalah? Maksudku God Soul sedang tidak wajar saat ini. Kupikir kalau dibiarkan akan membuatnya jauh lebih tenang daripada dibuat pingsan begitu. Dan lagi aku bukan temannya,” jawab Yongchun seraya menggosok tengkuk lehernya yang menggigil.


“Hei, jangan ambil kesimpulan sebelum kau benar-benar mengerti akan situasi yang telah terjadi.”


“Apa maksudmu?” tanya Yongchun tak mengerti.


“Tentu saja maksudku adalah, kau pasti berpikir bahwa nyawa God Soul tak lama lagi. Benar?” pikir God Ear seraya mengerutkan kening tanda kesal.


Bruk!


Tetapi kalau diingat kembali, maka apa yang dikatakan oleh God Ear kepadanya adalah benar. Lantaran Yongchun berpikir bahwa hidup God Soul tak lama lagi.


“Tapi, aku berpikir begitu pun karena aku melihatnya dengan mata ini,” kata Yongchun seraya meraba matanya.


Dan yang barusan dikatakan oleh Yongchun, ia benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri. Lebih tepatnya melihat dengan Mata Dewa, mata tembus pandang dan dapat mengerti sisa hidup manusia melalui aura yang dimiliki serta sesuatu di dalam tubuh mereka.


Setelah kepergian God Ear dan membiarkan Yongchun dengan God Soul di dekat goa. Angin yang berembus kuat dari arah timur sekali lagi ia rasakan, dan tubuh God Soul terlihat bergeliat.


Walau dalam kegelapan sekalipun, Yongchun masih dapat melihatnya. God Soul kembali terbangun namun ada suatu hal yang aneh darinya.


“Hm, apa ini? God Soul sedang tidak sadarkan diri tapi tubuhnya bergerak?” Yongchun bertanya-tanya, seraya ia melangkah mundur dan menjauhinya sedikit.


Klak!


Yongchun menggenggam kuat gagang pedang dan bersiap akan menariknya apabila terjadi sesuatu nanti.

__ADS_1


“Hei, kau! God Soul! Apa kau sudah sadarkan diri?”


Percuma Yongchun memanggilnya beberapa kali pun God Soul tidak menjawab. God Soul hanya bangkit dan menatapnya dengan pandangan kosong.


“Jangan bilang ka—”


Kreeett!


God Soul mencekik leher Yongchun dan mengangkat tubuhnya ke atas dengan kuat. Yongchun meronta seraya ia berusaha menarik pedang dari sarungnya.


“Dia benar-benar tidak sadarkan diri, apa yang sebenarnya terjadi?!” batin Yongchun.


Slash!


Tanpa ragu lagi, Yongchun mengayunkan pedang dan berhasil menggores tangan God Soul sehingga melepaskan cekikannya pada leher Yongchun.


Setelah cengkramannya melemah diiringi darah terus mengucur deras, Yongchun melompat mundur seraya mengibaskan badan pedang tuk membersihkan darahnya.


“Hei kau! Siapa kau yang mengendalikan tubuh God Soul?!” pekik Yongchun.


God Soul lantas menyeringai tipis. Lalu tertawa bahak-bahak, dan terdengar sedikit menggaung ketika ia tertawa keras seperti itu.


“Eh, jadi tubuh ini yang akan menjadi wadahku ketika aku bangkit nanti?” ujarnya seraya menatap sekujur tubuh God Soul yang unik.


“Apa itu kau, Dewa Hitam?” Kemudian Yongchun memanggilnya, dan berpikir bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah Dewa Hitam.


Terlebih lagi aura yang terpancar di tubuh God Soul sungguh mengerikan. Melebar luas hingga menyentuh langit di atas. Kemungkinan besar para Pemilik Tubuh Dewa juga sudah merasakannya.


Dan juga banyak orang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang berlimpah serta kepekaan yang cukup tinggi.


Hadirnya sosok Dewa Hitam. Tak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Semula Yongchun berpikir bahwa Dewa Hitam adalah sosok dewa yang melakukan sebuah tindakan yang tidak boleh dilakukan olehnya.


Namun sekarang, Dewa Hitam ini menunggu kebangkitan seolah hendak melakukan suatu hal yang lebih dari sebelumnya. Semacam balas dendam.


Trang!


Gerakan yang luar biasa cepat. Bahkan mungkin lebih cepat dari cahaya. Beruntung Yongchun sudah siap siaga dengan pedang di depan tubuhnya. Karena kekuatan Dewa Hitam secara tak langsung membentuk pedang tajam, sehingga sulit untuk dilihat.

__ADS_1


“Hekh! Kau, ya! Dewa Hitam itu?” ucap Yongchun dengan tubuh gemetar.


“Ya, benar sekali. Mata-ku!”


__ADS_2