
Bertemu dengan Kuraki si pembuat tubuh buatan, ternyata tidak sia-sia ia datang kemari. Yongchun mendapatkan pelayanan yang sungguh luar biasa ketimbang saat ia berada di timur laut yang berbanding terbalik.
Kuraki membantu mengenakannya pakaian lalu menyisiri rambut bahkan Kuraki juga memberinya hadiah sepasang bola mata buatan.
“Tuan, ini bukan sembarang bola mata biasa melainkan ini digunakan untuk dapat menyembunyikan kekuatan Tuan.”
“Dia bisa melakukan hal itu?”
“Tentu saja Tuan. Nah, berhubung Anda sudah cukup indah dipandang banyak wanita. Saya akan mengantar Tuan ke tempat yang dituju,” ucap Kuraki menundukkan tubuh 90 derajat.
Kuraki, wanita ini bahkan melayani Yongchun yang adalah orang asing. Tak sungkan ia membantu namun, Yongchun merasa aneh saja karena tiba-tiba diperlakukan baik seperti ini.
Klak!
Yongchun membawa kedua pedang itu. Dengan pakaian yang disebut yukata ini, Yongchun merasa ringan di tubuh. Lalu rambut yang digerai, entah kenapa terlihat seperti bukan Yongchun.
“Tuan bisa menemukan penempa besi di sekitar sini. Tapi sebelum itu Tuan harus bertemu dengan Pemilik Tubuh Dewa yang lain.”
Yongchun menganggukkan kepala. Lantas pergi bersama Kuraki. Ia melewati jalan setapak kemudian setelah menuju pemukiman yang lebih banyak, ia berjalan ke arah kiri dan kemudian menemukan jalan buntu.
Yang di mana saat itu, jalannya seperti tertutup dinding.
“Silahkan Tuan,” ucap Kuraki.
Kuraki menunjuk dinding, lantas Yongchun mengerutkan keningnya.
“Tidak apa-apa Tuan. Ini jalan.”
Tap, tap!
Yongchun melangkah dan tiba-tiba saja tubuhnya menembus dinding. Ia berada di halaman rumah seseorang. Ketika menoleh ke belakang, dinding itu berwujud pintu gerbang.
“Kuraki sepertinya tidak akan masuk,” gumam Yongchun seraya berdeham.
Bola mata buatan Yongchun berwarna kemerahan. Meski tidak ada perbedaan, Yongchun hanya merasa tidak nyaman ketika memakai itu. Karena sudah terbiasa tidak punya mata, bahkan sorot matahari sungguh menyilaukan untuknya.
Hari itu, Yongchun yang tengah berdiam diri. Tiba-tiba merasakan aura tak nyaman dari segala arah. Ia pun bersiap pada posisi dengan menggenggam salah satu pedangnya.
Slash! Serangan tak terduga dari segala arah. Sesaat sebelum bilah pedang menyentuhnya, Yongchun sedikit menundukkan badan dan kemudian mengayunkan senjata secara melingkar dari sisi kiri ke kanan sampai berputar ke belakang.
__ADS_1
Mereka semua tersentak, terkena hempasan angin yang cukup kuat. Tak ada satu pun dari mereka yang berusaha bangkit atau lebih tepatnya mustahil.
“Siapa kalian?”
Ketika Yongchun bertanya, tak satu pun dari mereka menjawab.
“Mereka tak sadarkan diri?” pikirnya dan tetap menggenggam pedang.
Dalam pandangan Yongchun, mereka sama sekali tak bergerak. Mereka seutuhnya tak sadarkan diri. Akan tetapi, ia merasa sedikit aneh.
Tengkuknya merinding dan kemudian sosok berbalut kehitaman datang dari arah belakang dengan cepat. Sama sekali Yongchun tak merasakan hawa keberadaannya.
Srak!
Pasir berwarna pucat terseret oleh langkah Yongchun. Yang kemudian menundukkan tubuh seraya mengayunkan pedang dalam jarak pendek.
Namun, sosok berbalut kehitaman itu mampu menangkis pedang Yongchun. Sosok itu lantas melompat mundur, menjaga jarak selama beberapa saat.
“Orang di sini, kenapa? Apa aku tidak boleh masuk kemari?” pikirnya dengan kesal.
Yongchun takkan menunggu waktu dan sosok itu kembali bergerak menyerangnya. Ia justru melesat dengan sedikit kekuatan tenaga dalamnya, lalu mengayunkan dua pedang dalam waktu singkat.
“Uhuk! Uhuk!”
Pakaian serba hitam dari atas sampai ke bawah, sosok pria tulen dengan kunai di tangannya. Ia kini jatuh tersungkur dengan mengeluarkan banyak darah baik dari luka ataupun mulutnya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya pria itu.
“Aku Yongchun. Dan kau?”
“Enyahlah dari sini! Tidak ada tempat untuk pendekar biasa sepertimu! Cepat sana pergi!” teriak pria tersebut.
“Tidak mau. Kehadiranku di sini bukan sekadar hanya untuk jalan-jalan. Melainkan ada tamu yang mengundangku. Aku 'kan sudah repot-repot jauh datang kemari.”
Pria itu tak lagi bicara. Ia menggerutu dengan badan menggigil kesakitan. Lantas, beberapa orang yang sebelumnya tak sadarkan diri kini telah kembali. Menyerang Yongchun secara serentak.
Namun, Yongchun dengan sengaja membiarkan mereka. Ia tetap menatap pria yang kini tersungkur di hadapannya.
“Hajar dia!”
__ADS_1
“Dia hanya pendekar biasa!”
Sorak-sorai mereka yang jelas memberitahukan posisi mereka, bodoh sekali.
“Hei kalian, berhenti! (Bahasa rusia).”
Namun pergerakan mereka seutuhnya berhenti ketika teriakan dari dalam rumah terdengar begitu keras. Mereka menjatuhkan senjata begitu mendengar perintah.
Datang seorang pria berambut putih panjang dengan satu matanya tertutup. Ia berpakaian rapi dengan seragam asing. Berteriak pada orang-orang di sekitar Yongchun, mungkin ia sedang memarahinya atau apa.
“Dia adalah Pemilik Tubuh Dewa sama sepertiku. Lantas kenapa kalian semena-mena melakukan hal seperti itu? Mana sopan santun kalian?”
“Maaf!” ucap mereka dengan serentak sembari menundukkan tubuh mereka sedalam-dalamnya.
Puas mengomel seperti itu, lantas pria tersebut kemudian beralih pada Yongchun. Ia menatap sinis, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandangannya pun tak luput dari kedua pedang yang masih digenggam oleh Yongchun.
“Maafkan anak buahku yang sangat tidak sopan pada Mata Dewa,” kata pria tersebut dengan penuh hormat serta kesopanan ramah.
“Aku tidak tahu kau bicara apa. Namun apakah kau salah satu dari Pemilik Tubuh Dewa?” tanya Yongchun seraya menggaruk wajahnya yang tidak gatal.
“Ah, sebelumnya maafkan aku. Perkenalkan aku God Ear. Mari masuk.”
Pria yang menyebut julukannya sebagai God Ear pun menyambut kedatangan Yongchun. Ia mempersilahkannya masuk.
“Sepertinya kau tersesat?”
Ketika pria yang berbahasa asing itu bertanya, Yongchun yang tidak mengerti pun hanya diam. Sekilas Yongchun mengintip apa yang ada di dalam isi hati God Ear, ia sama sekali tak berbeda dengan manusia biasa. Normal dan tenang.
Tidak ada tanda-tanda yang terlihat dari dalam. Dan kemudian Yongchun sepintas melihat dua telinganya yang merasakan ada setitik aura. Warna kehitaman, terlihat seperti kunang-kunang tanpa cahaya.
“Apa kau barusan mengintipku?” tanya God Ear seraya menoleh ke belakang dan berhenti berjalan.
God Ear kemudian menunjuk ke arah mata. Isyarat bertanya secara tak langsung.
“Mata? Mengintip? Ya, benar. Aku hanya memastikan saja.” Yongchun kemudian menggangguk.
God Ear lantas tersenyum. Kemudian kembali berjalan dan menunjukkan ruang pertemuan.
Rumah ini sama sekali terlihat tak ada bedanya dengan rumah bekas penginapan milik Kuraki. Namun, hawa yang ia rasakan jelas berbeda dengan hawa yang berada di luar dinding tersebut.
__ADS_1