
Sosok Dewa Hitam terlihat jelas di belakang punggung Bon. Wajahnya tidak begitu jelas terlihat tapi Yongchun yang melihatnya pun tahu bahwa itu adalah sosok Dewa Hitam. Persis seperti yang terakhir kali yang ia temui saat itu. Dewa Hitam menyeringai, terlihat jelas raut wajah bahagia dengan sosok yang sedikit berbeda.
Terdapat mata ketiga berada di keningnya. Sorban putih itu terlepas, semula warna rambut yang sedikit memutih itu berubah menjadi warna yang sangat gelap gulita. Gelapnya malam pun tidak ada bandingannya sama sekali. Hitam.
“Evolusi terakhir dari sosok dewa hitam. Yang lain akan merasa senang jika sosok ini lenyap dari muka bumi.” Yongchun menyeringai, tak seperti biasanya. Ia sangat berdebar hingga sulit mengendalikan kesenangannya sendiri, emosi yang tak terbendung lagi.
Puluhan hingga ratusan pedang menghujam ke tubuh Yongchun bagai bayangan, mereka langsung lenyap setelah mengenai targetnya. Yongchun meneteskan banyak darah dari semua luka. Luka yang sebelumnya tertutup rapat pun entah mengapa jadi kembali terbuka. Sosok yang mengintimidasi benar-benar membuatnya bersemangat.
Tak ragu lagi, ia bahkan tak peduli dengan kondisi tubuh yang rapuh seolah dikuliti oleh api. Yang sebentar lagi menjadi abu, namun langkah Yongchun tak pernah berhenti. Sebilah pedang memunculkan perasaan menggebu-gebu.
Resonansi terhadap langit pun gentar, seolah akan pecah itu langit. Rembulan malam sama sekali tak nampak dari posisi mereka. Sayatan pedang yang berbentuk seperti rebulan terlihat begitu cahaya. Menggores berkali-kali, melukai tubuh Bon yang terus memulihkan diri kembali.
Syak! Syak! Syak!
“Khaleed, tak aku sangka kau menjadi seperti ini juga. Benar?”
Yongchun menggila di sana. Di tempat yang seolah terdapat lapisan dinding agar semua orang tak dapat mendengar, mereka terus melayangkan dan membalas setiap serangan. Bertubi-tubi hingga genangan darah pun semakin meluas ke tanah hingga basah.
Kepulan asap mengitari keduanya, sontak Yongchun mempercepat langkahnya dengan adrenalin semakin terpacu. Meski tahu hal yang dilakukan Yongchun itu mustahil, ia tetap melakukannya.
Jrashh!
Pedang berbalur api menusuk tubuh Bon yang juga menembus tulang putihnya. Daging terkoyak dari dalam, darah mengucur deras dari luka dan mulutnya.
Yongchun kembali mengambil posisi, tapi Bon menangkap kedua pundaknya hingga tak bisa bergerak sedikitpun. Rasanya seperti berhadapan dengan orang yang berkali-kali lipat besar dari tubuhnya.
“Kau! Aku tidak akan melepaskanmu lagi!”
Bon mengangkat tubuh Yongchun, ia hendak melemparnya dan Yongchun tahu itu akan terjadi. Ia pun segera memusatkan tenaga dalamnya ke ujung kaki, memutar tubuhnya dari depan ke belakang.
__ADS_1
Jdakk!
Kaki Yongchun menendang bagian dagu Bon dengan keras. Mata ketiganya memancarkan sekilat cahaya. Langkah Bon dengan tangan enam lebih cepat dari biasanya, semua tangan itu menyerang Yongchun tanpa ampun.
Telinganya seperti terbakar, tangannya seperti terputus dan mati rasa, mulutnya dibungkam serta kedua matanya mengeluarkan darah seolah menangis. Hal yang dirasakan oleh Yongchun ketika semua tangan itu menghampirinya, seolah semua kekuatan Dewa Hitam merasuk ke tubuh dan menggerogotinya habis.
“Sungguh sangat kuat. Tapi, aku tidak akan menyerah, Khaleed.” Yongchun bergumam.
Pedang di tangan kirinya sekali terbakar oleh api. Api kebiruan pekat yang memancarkan aura memikat. Fokusnya ketika buta, saling terarah lurus dengan benar. Sabetan pedang yang berputar dari tangannya memotong semua tangan Dewa Hitam.
“Khu khu ...tak kusangka tubuh yang diberkati akan jadi sekuat itu. Tapi berkatmu sendiri, aku bisa keluar dari tubuh itu. Dan sebagai gantinya memiliki tubuh temanmu.”
Dewa Hitam lah yang saat ini mengajaknya bicara, hari itu langit tampak menggelap tak segelap dari biasanya. Entah masih tersisa atau tidak kesadaran Bon saat ini, tapi Yongchun takkan mengulur waktu lagi.
Ia pun mulai mengayunkan senjatanya yang berlumur api. Deru angin terbuat dari salah satu tangan dewa hitam yang kemudian menerbangkan Yongchun dan pedangnya.
“Gawat!”
Grep!
Yongchun menggenggam pakaiannya dengan kuat, berharap detak jantungnya kembali normal namun tetap tidak bisa dilakukan. Yongchun pun bangkit lalu berlari menuju dewa hitam yang sibuk melakukan sesuatu dengan atmosfer saat itu.
Tak!
Yongchun mengambil kembali pedang berbalut api yang tertancap ke tanah. Bergegas dirinya mengayunkan senjata secara berputar, seketika terbentuk lingkaran api kebiruan yang menyatu pada lengannya.
Sosok Dewa Hitam telah mengubah wujudnya seperti asli. Melupakan tubuh asli milik Bon. Dua tandung, taring tajam dan panjang, 3 tangan kanan dan 3 tangan kirinya. Lalu mata ketiga yang dapat meramal masa depan.
“Kau akan mati, Asyura.”
__ADS_1
SRAAT!
Langkah Yongchun terseret ke depan, sebilah pedang menyayat tajam leher dewa hitam yang bahkan tak bergeming sekalipun.
“Percuma saja kau melakukan itu, manusia.”
“Heh, terserah bagaimana kau akan berpikir.” Yongchun menyeringai tipis namun tetap dalam posisinya. “Hei Khaleed! Kau tidak mau dikendalikan oleh sosok seperti ini 'kan!” teriak Yongchun pada Bon yang saat ini terlelap.
Dewa Hitam mengerutkan kening, ia merasakan guncangan kuat pada tubuh yang ia kendalikan. Ia kemudian melirik ke pinggang, mendapati beberapa senjata ada di dalamnya.
“Hm, ternyata dia menyimpan banyak senjata di sini. Tapi mengapa tidak digunakan untuk menyerang pria ini? Apa karena mereka teman ya?” gumannya.
Tangan asli dari pemilik tubuh itu pun bergerak dengan sendiri, bukan Dewa Hitam melainkan sosok Bon di dalamnya. Ia sepertinya merespon terhadap perkataan Yongchun yang adalah musuhnya.
“Kau tak perlu banyak bicara. Aku lah yang akan membunuhmu!”
Jrashhh!
Kesadaran Bon tiba-tiba pulih kembali. Ia kemudian menusuk dirinya sendiri dengan senjata yang ia sembunyikan dengan baik. Darah mengucur deras dari sana, terlihat beberapa tangan milik Dewa Hitam hendak mengangkat senjata yang ditusuknya.
“Gakh! Dasar, kenapa senjata murahan seperti itu bisa menyerangku!?”
“Kau tidak tahu? Senjata milik Bon ditempa dengan baik dari dalam piramida,” ucap Yongchun yang mendekat padanya.
Sosok Dewa Hitam merasa bergidik ketika mendapatkan ancaman secara tak langsung melalui intimidasi dari kedua orang itu. Ryo yang mengumpat dari balik dinding rumah seseorang pun seketika merasa terpukau.
Syaak!
Terutama ketika Yongchun mengayunkan pedang secara diagonal silang. Seolah kilat cahaya rembulan datang memeriahkan suasana, warna yang tampak bercahaya itu menyayat sesuatu yang tidak dapat dilihatnya.
__ADS_1
Telinga Yongchun tiba-tiba berdenging kuat yang kemudian ada sesuatu yang tampak keluar dari kepala Dewa Hitam dari balik kabut. Kabut pun tersapu jauh hingga menuju ke sisi dan sisi lain pada lautan.
Tubuh Bon kembali seperti semula. Namun tubuhnya merasakan getaran yang begitu hebat, ia memiliki luka di mana-mana sampai tidak mampu mengangkat senjata lagi.