
Yongchun menoleh, menatap Wang Xian yang memiliki emosi tertinggi dari sekian banyaknya orang. Ia menghela napas panjang lalu menggosokkan wajahnya berkeringat.
“Apa karena aku baru saja keluar dari neraka, ya? Aku merasa dingin tapi keringatku terus mengalir.”
***
Pertarungan antar dua pendekar terkuat kini menjadi bahan pertontonan bagi mereka. Tak sedikitpun bergerak, hening dalam situasi yang tidak jelas.
Kapan Pemimpin Yongchun datang?
Sejak tadi ia berada di sana?
Beberapa pertanyaan terlintas dalam benak para pendekar, pemberontak serta para penduduk. Tak banyak yang mereka pikirkan selain jalannya pertarungan akan menentukan takdir dari kekaisaran.
Benarkah begitu?
TRANG!! Kedua pedang kembali beradu dalam udara dingin. Menerjang lurus ke depan dengan mata pedang yang lebih panjang, Yongchun menusuk tubuh Wang Xian namun masih dapat ditahan dengan tenaga dalam yang meliputi tubuhnya.
Menarik langkahnya mundur, Yongchun bersiap dengan serangan yang akan datang dari arah depan. Kobaran api hitam yang keluar dari kedua matanya pun semakin membara dan lebih panjang hingga angin pun tak dapat memadamkannya.
Sekilas, sinar rembulan yang semula tertutup karena kabut pun mulai menunjukkan dan menyorot wajah Yongchun penuh bekas luka. Pijakan kaki Yongchun tak dapat dilihat, langkahnya terlalu cepat sehingga tak dapat diprediksi oleh sekitar.
Namun, Wang Xian takkan menyerahkan kepalanya begitu saja. Ia tahu kalau saat ini ia sedang memerankan, tapi tentu saja niatnya untuk membunuh pendekar asing ini tak bisa ia lupakan.
Karena sulit untuk menghindar, lagi-lagi Wang Xian berhasil dilukai. Lehernya tergores lebih dalam, nyaris saja terpisah dari tubuhnya itu. Segera ia melompat mundur dan menutup lukanya dengan seberkas kekuatan yang ia miliki. Walau hanya bisa menahannya sebentar, setidaknya sisa dari kekuatan yang Wang Xian masih terbilang cukup besar.
Sesaat, Yongchun sedikit aneh. Tak banyak kata yang ia lontarkan selain aura yang begitu mencekam. Terasa mencekik baginya, apalagi saat ia mendekat dan menorehkan luka pada kedua kaki Yongchun.
Bruk! Kedua kaki Yongchun tak lagi mampu berdiri. Ia bertekuk lutut dengan tanpa reaksi apa pun.
__ADS_1
“Apakah pertunjukkan sudah selesai?” Wang Xian bertanya seraya mengangkat pedang tinggi-tinggi.
Mungkin saat ini Yongchun tengah berada di ambang batas kekuatan itu sendiri. Setelah beberapa saat, Yongchun menyeringai lebar.
“Harusnya kau menyerangku saat ini juga, dasar bodoh!” pekik Yongchun dengan tawa menggelikan.
Cras! Bukan pedangnya yang bergerak melainkan bayangan berwujud pedang itulah yang menyayat punggung Wang Xian.
“Wah, begitu. Aku sampai lupa dengan seranganmu yang bisa dari mana saja,” ucapnya terkekeh dengan tubuh tak seimbang.
Melangkah mundur dengan darah mengalir, sedikit demi sedikit lukanya tertutup berkat tenaga dalam yang ia miliki.
Wang Xian jadi menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan tadi. Ia pun mulai mengayunkan pedang dengan kuat, hembusan angin terasa begitu besar bahkan rambut Yongchun yang terikat pun menjadi tergerai berantakan.
Tap! Yongchun kembali bangkit, luka yang ada pada kedua kakinya menghilang tanpa bekas. Kemudian bergerak saat Wang Xian juga melangkah serta mengayunkan pedang sekali lagi.
Sayatan-sayatan dari wajah ke tubuh bagian depannya mulai nampak. Goresan yang dalam sampai membuat darahnya mengucur tanpa henti. Sesaat Yongchun terdiam sambil merasakan rasa sakit yang menjalar.
“Yang kau lakukan sama persis dengan Kaisar Ming. Apakah kau juga bagian dari neraka itu sendiri?”
“Yang hitam adalah bagian dari seni iblis. Takkan aku membiarkan kekuatan hina itu mengalir dalam darahku terus-menerus. Bukankah itu lebih cocok jika mengikat tubuhmu?” sindir Wang Xian dengan langkah kaki yang berat. Jejak itu terukir di jalan dan mulai memposisikan diri dengan memegang satu-satunya pedang.
“Menurutku tidak cocok,” sangkal Yongchun dengan kesal.
Guratan itu bergerak dan menjalar hampir menutupi seluruh tubuhnya, namun sebelum itu terjadi karena akan berakibat buruk, Yongchun pun menyerang Wang Xian yang mengendalikan ini.
Tebasan yang sangat cepat namun lambat saat setelah menggores wajah, Wang Xian bergidik seketika. Reflek ia mengayunkan pedang langsung ke tubuh bagian tengah Yongchun.
Berharap bahwa itu dapat membuatnya terluka namun sayang sekali, Yongchun melompat dan menaiki tubuh pedang tersebut. Lantas tersenyum mengejek.
__ADS_1
“Heh, apa benar kau melawanku dengan baik?” Begitu katanya. Membuat Wang Xian marah, emosi benci itu pun semakin menambah dan membludak keluar melalui tenaga dalamnya.
Angin yang ia keluarkan cukup besar sehingga debu dan sembarang barang pun terlempar begitu jauh. Kemudian membalik bagian dari tubuh pedang itu, Yongchun turun dan mendapat hantaman besar, terdorong menyamping sehingga ia masuk di antara banyaknya keramaian di halaman.
Banyak pendekar, penduduk atau pemberontak terkena imbasnya hanya karena Yongchun menubruk tubuh mereka.
“ARGHH!!”
Jerit dan tangis mereka terdengar ketika segelintir jari itu terinjak hingga patah. Yongchun terus tersenyum sepanjang waktu, memperhatikan gerak-gerik Wang Xian yang sudah sepenuhnya terkontrol amarah.
“Dia bilang pada orang lain untuk tidak terhasut oleh iblis tapi lihat sekarang? Wang Xian, kau tidaklah sempurna seperti yang kubayangkan.”
Menceloteh akan keberadaan Wang Xian dengan amarah tersulut, akibatnya membuat ia terus menyerang membabi buta bahkan sudah tidak sadar kalau serangan bertenaga kuat itu hampir menyapu bersih para rekannya.
Itu membuat Yongchun terus terkikik dengan geli melihatnya yang sudah gila. Yongchun hanya perlu menghindar dari serangannya sedangkan serangan itu justru merugikan pihaknya sendiri.
“Berhenti!! Pemimpin Wang Xian!!!” teriak Pemimpin Xie dengan tubuh gemetar. Ia berada di sisi kiri dan kemudian disusul oleh teriakan dari para bawahan Wang Xian.
Sebagian dari Sekte Teratai Biru bergerak dengan memaksa kedua kaki mereka. Hendak meraih pemimpin mereka agar tidak lagi menyerang dengan gegabah seperti ini.
Begitu juga dengan bagian Sekte Kabut Malam. Mulai bergerak dengan mengincar pendekar buta itu.
Tetapi, para pemberontak takkan tinggal diam. Sesaat, aura yang dimiliki Yongchun menyusut seiring berjalannya waktu, karena itulah satu persatu mereka dapat bergerak kembali tanpa dipengaruhi kekuatannya.
Para pemberontak bergerak dan menyerang sisi kiri dengan ganas. Mengayunkan senjata tanpa peduli trik, membabi buta layaknya perang besar-besaran. Yang tidak mengangkat senjata adalah orang yang pertama kali akan mati.
Tiada seorang pun luput dalam pandangan pemberontak, berkat kekuatannya sebagai pengguna seni iblis, mereka enggan menyisakan satu pun dari para pendekar yang mereka dendami selama ini.
“TANPA KAISAR MING, KALIAN BISA APA?!”
__ADS_1
Teriakan yang menggema seolah mereka berada di goa yang cukup besar. Suara yang menggaung membuat mereka tak berhenti mengayunkan senjata pada lawan. Bercak-bercak darah tercecer ke mana-mana. Menumpuk dan terinjak membuatnya terlihat seperti lautan darah.