Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
148. Duel Pendekar Timur Tengah!


__ADS_3

“Kau tidak apa-apa?” Yongchun mengulurkan tangan padanya namun ditepis seraya Bon menatap tajam.


“Tidak usah pura-pura baik. Kau pikir aku tidak akan tahu soal pembunuhanmu di sini.”


Bon bergegas bangkit dengan usahanya sendiri. Meskipun tahu bahwa tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama, bahkan terkadang dirinya terjatuh lalu kembali bangkit dengan limbung.


“Aku tidak akan menyerah. Termasuk untuk membunuhmu, Asyura!”


Suara teriakan Bon terdengar begitu pekak. Sesaat Yongchun menutup telinganya rapat-rapat lalu melihat ke telapak tangannya yang sedikit gemetar.


“Yang membunuh dewa hitam bukan aku ataupun Bon. Lalu apakah itu dia?” gumam Yongchun seraya menengadah ke langit.


Dirinya berpikir bahwa Dewa Hitam bukan karena serangan Yongchun yang bervariasi ataupun usaha bunuh diri Bon tuk melenyapkan Dewa Hitam melainkan sosok yang berada di atas langit, penjaga neraka.


“Yang bersayap itu ya—!”


“Hei! Dengarkan aku! Ambil pedangmu dan lawanlah aku sampai mati!”


Bon menarik pakaian Yongchun dengan kuat lalu berteriak dan memintanya untuk bertarung. Saat ini emosi Bon masih menggebu-gebu tak karuan. Tampaknya ia takkan berhenti meski tubuhnya babak belur. Ia akan terus bergerak sampai ia mati nantinya.


“Baiklah, jangan salahkan aku jika kau mati.”


“Heh! Kau pikir kau bisa melakukannya?! Kau butuh usaha yang lebih keras.”


“GURU!!!” Perbincangan mereka yang kurang ramah terpotong oleh suara jeritan keras dari seorang anak laki-laki. Ialah Ryo.


“Ryo?”


Yongchun amat penasaran, mengapa Ryo datang kemari dan ia tetap membawa pedang itu. Ia sendiri tak menyangka bahwa bocah itu akan datang usai dewa hitam lenyap, bahkan sebelum dewa hitam lenyap saja Ryo masih ada di sekitar mereka.


“Aku jadi teringat satu atau dua hal. Penjaga neraka seolah memberkatiku. Tapi mengapa dia tidak turun sendiri, terlebih membiarkan anak kecil menembus perlindungan yang sebelumnya ada.”


“Kau ngoceh apa lahi?!” amuk Bon, ia sangat kesal karena perhatian Yongchun teralihkan ke Ryo.


Sedangkan saat itu Ryo terlihat sangat tergesa-gesa. Ia membawa pedang itu lalu kemudian melemparnya ke arah Yongchun.


Tap!


“Terima kasih Ryo. Nanti aku akan kembalikan padamu,” ucap Yongchun yang telah menangkap pedang itu ke tangannya.


Seolah benda mati itu hidup, garis merah yang redup berubah menjadi lebih terang. Seperti pedang hasil dari darah pemilik tubuh dewa yang ditempa itu merespon.


“Pedang ini sebelumnya patah karena kekuatan dewa hitam dari dewa hitam yang asli. Tapi bisa terhubung kembali asalkan aku mengalirkan kekuatannya lagi seperti saat itu,” ucap Yongchun.

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Coba pikirkan, bagaimana jika pedang ini patah? Yang tersisa hanyalah pangkal pedang milik Gupta. Tentu saja aku akan kalah begitu pedang ini patah.”


Bon menyeringai, ia sangat puas. Mengingat betapa sulitnya ia menyerang Yongchun dan kini dirinya mendapatkan kesempatan secara tak langsung.


“Menarik. Aku jadi ingin mencobanya, apakah kau mampu menahan seranganku?”


“Itu ...aku sedikit ragu. Karena kau semakin hari membuatku takut. Takut akan kematian lalu bertemu di neraka.” Yongchun membalas seringainya lebih dingin.


Hawa di sekitar mereka pun berubah. Meskipun tidak sebanding dan keduanya sudah terluka cukup parah akibat serangan Dewa Hitam, mereka tetap berdiri di atas tanah dan mengangkat pedang serta menatap lurus ke arah lawan.


Malam itu sebentar lagi akan bilang, rembulan malam yang muncul akan digantikan dengan matahari terbit dari arah timur.


“Kali ini kau boleh membunuhku.”


“Apa?”


Terdengar seperti mengejek, Yongchun pun kembali berkata, “Ya, itupun kalau kau bisa.”


Serangan dimulai dari keduanya. Secara serentak mereka melayangkan serangan satu demi satu, berbagai teknik dikerahkan secara struktur. Tingkat kekuatan ataupun ketangkasan.


“Kali ini kau boleh membunuhku, katanya. Dasar sombong sekali!”


“Kau yakin ingin membunuhku sekarang? Takutnya malah kau yang terbunuh,” sindir Yongchun.


“Lihat tubuhmu sendiri, bodoh!”


Benar, tak hanya Bon, rupanya Yongchun juga terluka amat serius. Goresan pada tubuhnya kembali terbuka seiring ia terus menggerakkan setiap sendi dan tubuh utamanya dalam menyerang.


Trang! Trang!


Kilat-kilat di antara ujung mata pedang nampak berkilau bak permata sesaat, Yongchun mengayunkannya secara vertikal yang kemudian ditangkis oleh Bon hanya dengan menggunakan pedang pendeknya.


Pedang pendek itu tidak seperti biasanya yang sedikit melengkung, lantaran pedang pendek ini jugalah yang melemahkan Dewa Hitam. Pedang itu berasal dari gundukan pasir, terkubur selama ribuan tahun. Anubis.


CRASHH!


Bon menebas pergelangan tangan Yongchun, lalu menjaga jarak agar aman dari jangkauan pedang panjangnya.


Tap! Tap!


Tapi Yongchun tak gentar sekalipun. Ia tahu betapa sakitnya itu namun tak pernah ia berteriak. Ia justru menahannya selagi bisa dan melangkah cepat menghampiri Bon.

__ADS_1


Tebasan dari tebasan lainnya datang bagai angin. Kekuatan Yongchun yang sepenuhnya lenyap kini hanya tersisa ilmu pedang kosong. Bela diri yang terbentuk dari perguruan semasa kecil.


Bon masih mampu untuk menangkis. Yongchun kembali melangkah dengan cepat menghampiri Bon yang terus-menerus berlarian.


“Kenapa kau berlari?”


“Karena aku ingin menjatuhkanmu.”


Bon menangkap dua pundak Yongchun, ia mencengkram dengan kuat lalu membantingnya sesuai kata-katanya sebelum ini.


Punggung Yongchun menyentuh tanah hingga debu mengepul. Yongchun tersentak, ia sendiri pun tak tahu harus apa ketika dirinya sudah jatuh ke tanah.


“Ini lebih dari menghantam dinding atau batang pohon,” gumam Yongchun dengan suara lirihnya.


“Hanya bermodalkan pedang, tentu tidak akan membuatku merasa senang.”


Bon tampak sangat puas hanya karena berhasil menahan pergerakan Yongchun. Namun itu hanya sementara, Yongchun kembali bangkit seraya menyayat leher Bon dari jarak dekat.


“Ugh!”


Terkejut, Bon bangkit dari sana. Ia kemudian melangkah mundur dengan raut wajah memucat pasi. Serangan tak berhenti sampai sana saja, keduanya sudah menyiapkan rencana serangan tuk menumbangkan lawan mereka.


SYUUUT!


Bagai angin kecil yang kencang datang tiba-tiba. Seolah menikmati angin lalu, kedua mata pedang sudah berada di depan mata mereka masing-masing.


***


Segalanya sudah berakhir begitu tanah yang dipijaki kian memanas dan basah karena darah. Fajar telah menyingsing saat pedang panjang menembus tubuh seorang pria berambut kecoklatan dengan kulitnya yang matang.


Bon, atau dengan nama asli Khaleed. Dirinya pendendam Yongchun, ia berpikir bahwa kematian gurunya adalah karena Yongchun. Meski secara tak langsung itu benar, tapi sesungguhnya guru mereka Guru Lacro, orang barat itu mati karena kutukan keluarga.


Kejadian itu bermula cukup lama. Memakan puluhan tahun untuk murid pertama Khaleed (Bon) mengejar jejak murid kedua, Asyura (Yongchun).


“Ini salahmu sendiri yang tidak memperhitungkan kondisi karena Dewa Hitam membelenggu dirimu.”


Yongchun berdiri sementara kawan sekaligus musuhnya jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap tak berdaya.


“Aku puas karena kekuatan itu. Meski sesaat aku puas. Lalu, aku pun lega karena bisa melukaimu lebih dalam karena itu.”


Bon memuntahkan darah segar. Ia pikir ini saatnya berhenti bicara namun tidak.


“Kau sungguh musuh yang paling aku benci. Musuh terburuk sepanjang sejarah,” imbuh Bon.

__ADS_1


__ADS_2