
Perbincangan di antara dua penguasa menjadi semakin lebih ke dalam. Bahkan dengan membuka kembali cerita masa lalu yang ia dengar dari orang lain, mungkin memang tidak membuatnya nyaman.
Namun, akan tetapi, di dalam dirinya yang mempunyai suatu keinginan tuk menyatukan negri timur, ia berharap bahwa Kaisar Ming tak seperti yang dibicarakan.
Ming Guo yang buruk dalam memimpin, bahkan menyembunyikan beberapa fakta dari pada penduduk yang saat ini masih mempercayai dirinya. Menutup mata akan hal ini, tetap tak bisa dan akan berpengaruh buruk ke depannya saat penyatuan negri.
Berharap sekali saja ...
Kaisar Ming berubah?
“Itu tidak mungkin. Orang ini, ingin sekali aku menghabisinya saat ini juga ...”
Tidak ada jalan lain.
Beberapa saat kemudian, Kaisar Ming menurunkan pandangannya. Ia menatap secangkir yang kosong. Yongchun membantu menuangkan arak itu pada cangkirnya.
Lalu bertanya, “Apakah kau benar-benar ingin penyatuan negri terjadi?”
Cangkir itu kembali terisi penuh dengan arak. Kaisar Ming sesaat melirik ke kirinya dan kemudian menenggak minuman itu.
“Aku pernah melakukan suatu dosa. Dosa yang mungkin tidak dapat diperkirakan seberapa besarnya. Akankah aku dimaafkan atau tidaknya itu tergantung apa tindakanku selama aku masih hidup.”
Kaisar Ming mulai bercerita lagi.
“Dulu sekali, aku membuat wanita itu hamil dan melahirkan anak yang tak berguna. Padahal aku belum menikah, tapi tetap saja aku melakukan hal itu semua dengan kesadaran penuh. Dan aku menyesal,” katanya sembari menatap wajah Yongchun.
“Apa yang terjadi pada Ayah Yang Mulia?” tanya Yongchun. Ia sepertinya tidak ada komentar terhadap perbuatannya itu.
“Ayahku saat itu masih ada. Tetapi, tanpa dia, aku bisa apa? Mengalami hal seperti ini sendirian, karena itu setidaknya aku ingin keinginan Ayahku bisa terkabulkan.”
__ADS_1
“Untuk apa mengabulkan keinginan dari orang yang telah lama mati? Apa melakukan sebuah dosa membuatmu jera dan mulai memikirkan masa depan wilayahmu sendiri?” Sekali lagi Yongchun mengajukan pertanyaan, seolah memojokkan Kaisar Ming.
“Kau menyepelekan kematian Ayahku?” Kaisar Ming kembali menegas. Kerutan di dahinya semakin menambah.
Yongchun menenggak secangkir arak miliknya sebelum berbicara, “Tentu semua orang pasti mempunyai dosa. Sekali, dua kali atau bahkan beberapa kali hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Sudah banyak orang yang seperti dirimu, Kaisar Ming.”
Kembali menatap wajahnya, emosi itu kian bergelojak semenjak Kaisar Ming menceritakan kehidupan pribadi. Di sekitar, hawa yang mencekam itu dapat dirasakan oleh semua pengawal pendekar di sana. Mereka berkeringat dingin, namun hanya bisa diam mematung seraya berjaga-jaga jika ada sesuatu.
Beberapa dari mereka juga sempat mengumpat pada Yongchun, dan beberapa dari mereka juga ada yang berbisik-bisik mengenai Kaisar Ming yang tiba-tiba menceritakan kehidupan pribadinya itu.
Melihat dari reaksi seperti itu sudah wajar. Terutama Kaisar Ming, ia sepertinya enggan untuk menceritakan hal-hal seperti itu. Tapi apa yang membuatnya sampai mau bercerita tentangnya yang buruk? Ini sama saja seperti memperlihatkan kelemahan.
Setelah menenggak secangkir arak, Yongchun menaruhnya kembali di atas meja. Ia menghela napas sedikit dengan wajah yang masih memelas tentunya.
“Aku tak tahu ternyata Kaisar Ming yang agung punya cerita buruk seperti itu. Aku menyesal mendengar hal ini.”
“Benarkah? Yah, aku tidak bisa mengatakan hal lain lagi, Yongchun. Kau tahu apa penderitaanku dan aku sendiri juga mengetahui masa lalumu. Tak semua orang bisa menyembunyikan sisi terburuk lebih lama,” tutur Kaisar Ming.
“Seperti kau membunuh Ayahmu sendiri?”
Dengan tenangnya Yongchun mengungkap hal tentangnya. Ibarat langit mendung datang, dan petir menggelegar di dalam ruang singgasana. Semua orang terkejut, untuk pertama kalinya bagi mereka yang ada di dalam mengetahui hal seperti ini.
Kaisar Ming pernah membunuh Ayahnya demi takhta?
Hanya itu yang bisa mereka pikirkan setelah Yongchun mengungkap bahwa Kaisar Ming pernah membunuh Ayahnya sendiri.
Tetapi, itu tidak benar. Sebab Yongchun sendiri pun tak tahu apakah itu benar atau tidaknya. Ia hanya berpikir setelah melihat keadaan Yuze, putra Ming Guo yang gila. Bahkan Kaisar Ming sendiri mengakui bahwa putranya memang sudah gila.
“Tak kusangka aku mengatakan hal ini. Tujuan utamaku juga jadi agak melenceng.”
__ADS_1
“Yongchun, kau barusan bilang apa? Aku tak pernah melakukan hal sekeji itu.”
Mungkin, saat ini Kaisar Ming berpikir seberapa dalamnya pengkhianatan para pemimpin kultus padanya? Sampai berita itu tersampaikan oleh musuh. Memang itu takkan ada gunanya untuk Yongchun, akan tetapi jika Yongchun mengungkap hal ini pada para penduduk maka pasti akan terjadi kecacauan.
Menghancurkan hidup orang lain memang mudah, tapi bagaimana cara ia mengatasi masalah berantai seperti ini hanya dengan beberapa kata dari Yongchun yang sebenarnya adalah provokasi.
“Maafkan aku. Aku hanya berandai-andai jika kau melakukan hal itu. Tapi mana mungkin? Kau ini seorang kaisar yang dihormati banyak orang. Meski apa pun yang kukatakan tadi adalah keluhan dari sebagian penduduk namun tetap kau sangkal,” ujar Yongchun.
Selama 1½ bulan ini, ke mana saja Yongchun hari itu? Mulai lagi, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ke mana saja pria buta ini menghilang. Tapi yang pasti, tidak jauh-jauh dari wilayahnya sendiri, mendengar bahwa segala hal buruk yang sebelumnya dikatakan ternyata adalah keluhan dari penduduk.
“Jadi ...kau berpikir itu benar adanya? Apa aku terlihat seperti anak yang akan membunuh Ayahnya sendiri demi tahkta?”
“Sejujurnya iya. Tapi aku berpikir ada hal lain yang menjanggal di sini. Apakah benar kau juga yang membunuh Pemimpin Luo?”
Pertanyaan yang sensitif lagi diajukan oleh Yongchun kepadanya. Kaisar Ming tersentak, lagi-lagi ia berpikir bahwa berita seperti itu Yongchun dapatkan dari pemimpin kultus yang berkhianat.
Padahal sama sekali tidak. Yongchun sendiri yang berpikir bahwa kematian Luo disebabkan oleh Kaisar Ming. Perihal Seni Iblis yang menyangkut tentang Luo, mungkin benar ada keterkaitannya tapi setahu Yongchun, sebelum benar-benar mati pada hari itu, ia mengerti satu hal.
Luo bukan tipe orang yang menyerahkan segalanya demi mendapatkan sesuatu. Tak seperti Wang Xian. Luo adalah orang yang bisa bersikap lebih tenang, bahkan mungkin melebihi Li Bai.
Segala tindakan dan ucapan pun selalu diperhitungkan. Tahu bagaimana caranya mengatur kata untuk menyindir seseorang, itu jelas ia ketahui dari saat-saat sebelumnya.
Walau Yongchun hanya berbincang dengannya sebentar, ia tetap bisa memperkirakan bagaimana sifat seseorang.
Jadi wajar saja kalau Yongchun berpikir bahwa Kaisar Ming lah yang membunuhnya.
Brak!
Dan sepertinya Kaisar Ming sudah tak tertahankan lagi. Yongchun pun akan melihat sebuah pemandangan, neraka.
__ADS_1