Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
126. Takdir yang Tidak Bisa Dihindari


__ADS_3

Pertarungan Relia dan Dewa Hitam jelas takkan berakhir seimbang. Berat sebelah, dengan kekalahan Relia. Dewa Hitam menggunakan kekuatannya untuk membuatnya tuli, tapi tidak hanya sekadar tuli.


***


ZRASSSH!


Yongchun keluar dari lautan seraya menggendong Nia yang tidak sadarkan diri. Yongchun bergegas kembali ke daratan dengan tubuh yang berat karena air lautan itu.


Sekujur tubuhnya basah, luka yang Yongchun dapat pun seolah tertutup namun nyatanya luka itu hanya bersih karena air laut. Ia merasakan nyeri yang luar biasa sakit, tapi ia sama sekali tidak mengeluh seakan-akan sudah terbiasa terluka.


“Nia, kau bisa mendengarku?” Beberapa kali Yongchun memanggilnya seraya menampar wajahnya dengan sedikit keras agar Nia terbangun tapi tetap tidak ada respon sama sekali.


“Aku sangat khawatir.”


Yongchun menyeka air yang membasahi wajahnya, menunjukkan sebelah mata yang kini masih berkobar api hitam, menyala dengan kecil bahkan nyaris terhapus karena angin sepoi-sepoi.


“Bagaimana ini?” gumam Yongchun sangat cemas. Ia sedikit menekan dada Nia agar air keluar dari dalam tubuhnya.


Karena tetap berakhir sama saja. Yongchun memutuskan untuk membawanya ke penginapan Kuraki. Ia pun kembali menggendong Nia. Di saat ia hendak berjalan, matanya tertuju pada rumah yang terbagi menjadi dua.


Yongchun tidak begitu mengerti apa yang terjadi sebenarnya saat dirinya masih berada di laut lepas. Tak menutup kemungkinan, berpikir bahwa ini ada hubungannya dengan Dewa Hitam.


Tap! Tap!


Dengan bertelanjang kaki, Yongchun berlari menuju ke penginapan Kuraki. Napasnya tersengal, tubuhnya masih berat karena terendam air. Terkadang ia menginjak kerikil kecil, tapi ia tetap berlari walau rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh.


Di samping itu, semula tubuhnya yang bersih akan darah justru darah dari setiap lukanya kembali mengalir dengan deras. Dan itu membuat jejak hingga Yongchun sampai menuju ke penginapan Kuraki.


“Tuan God Eye!” Histeris, Kuraki bergegas menghampiri Yongchun yang masih berada di luar gerbang.


“Kuraki, tolong Nia. Nia tidak bernapas.”


“Tuan, Anda—”


“Cepatlah! Tolong Nia!” teriak Yongchun dengan keras, napasnya masih tersengal dan tetap berada di sana selagi ia mengontrol pernafasannya.


Perlahan-lahan Yongchun melangkah. Kemudian duduk dan bersandar pada dinding luar penginapan. Darahnya terus mengucur deras, kala ia berusaha untuk menghentikan pendarahan dengan telapak tangannya.


***

__ADS_1


Kuraki mengambil tindakan secepat mungkin, usai mengurus tubuh Nia agar kembali hangat, jantungnya kembali berdetak meski sangat lambat. Kuraki, pun bergegas membersihkan serta membalut dengan perban pada semua luka yang diderita Yongchun.


“Ceritakan apa saja yang terjadi, Kuraki.” Yongchun meminta penjelasan.


Kuraki dengan berat hati mengatakan, “Maafkan saya. Karena setelah apa yang terjadi pada Tuan God Soul, sekarang Tuan God Ear kena getahnya.”


“Maksudmu?” tanya Yongchun tidak mengerti apa yang Kuraki katakan.


“Tuan God Ear, tubuhnya dirasuki oleh Dewa Hitam.”


“Itu tidak mungkin,” sangkal Yongchun. Lantas Yongchun merasakan bahwa kehadiran Dewa Hitam mendekam dalam tubuhnya sekarang.


“Apa maksud Tuan? Tidak mungkin, apabila Tuan God Ear—”


“Iya.” Yongchun memotong kalimatnya. “Dewa Hitam berada dalam tubuhku. Mungkin kau tidak bisa merasakannya, tapi aku bisa.”


Sesaat ia menghela napas pendek dan kembali mengatakannya. “Sedangkan yang ada dalam tubuh God Ear hanyalah secercah kepingan jiwa Dewa Hitam,” imbuhnya.


Kuraki amat terkejut begitu mendengarnya. Namun tampak ia masih sangat gelisah. Sebab, kedua istri Yongchun menghadapi keberadaan yang bahkan tidak bisa disebut utuh dari Dewa Hitam.


“Tapi, Dewa Hitam itu terlampau kuat. Tidak mungkin hanya sedikit dari kepingan jiwanya saja,” pikir Kuraki, tidak percaya dengan yang barusan Yongchun katakan.


“Tentu saja. Dewa Hitam ada pada tubuhku. Sedangkan God Ear hanyalah kepingannya saja,” ungkap Yongchun serius.


Yongchun melirik ke sekeliling. Ia tampak mencari-cari keberadaan seseorang.


“Kuraki,” panggil Yongchun.


“Ya, Tuan? Kalau mencari istri Tuan, dia berada dalam kamarnya.” Kuraki menjawab.


“Bukan Nia. Tapi Relia. Di mana dia? Wanita berambut coklat. Aku tahu dia juga ikut kemari!”


Seketika Kuraki bungkam. Sementara God Hand tidak tahu-menahu apa yang telah terjadi. Kuraki mendadak berkeringat dingin, ia tak mampu menatap pandangan Yongchun.


“Angkatlah kepalamu, Kuraki. Aku sedang bertanya, di mana Relia? Apakah ini berkaitan dengan God Ear, dan Dewa Hitam yang telah kau bicarakan sebelumnya?”


Perkataan Yongchun tepat sasaran. Kuraki semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, hidungnya bahkan menyentuh lantai, ia amat ketakutan ketika akan menjelaskan situasi.


“Kuraki!” panggil Yongchun sekali lagi, dengan meninggikan suaranya.

__ADS_1


Banyak hal yang telah terjadi. Semua diutarakan oleh Kuraki langsung yang melihatnya. Termasuk apa yang terjadi ketika God Ear diambil alih oleh sekeping jiwa Dewa Hitam yang tidak seberapa kuatnya itu.


“Mereka bertarung?”


Usai istirahat sejenak seraya mendengarkan semua yang Kuraki katakan, Yongchun lantas bergegas keluar dari penginapan untuk mencari keberadaan Relia sekarang juga.


Dirinya sangat cemas mengenai yang barusan Kuraki ceritakan bahwa Relia sempat bertarung dengan Dewa Hitam bersama Nia. Kurang lebih itulah yang Yongchun ketahui.


“Tapi, kenapa? Kenapa mereka mengejarku? Padahal aku sudah bilang, jangan sampai kalian mengikuti langkahku. Apalagi tempat ini berbahaya.”


Yongchun mempercepat langkahnya, seraya menahan sakit di sekujur tubuhnya. Setelah berapa lama mencari dengan emosi, Yongchun berhenti selama beberapa waktu untuk mendinginkan pikirannya.


“Relia, kau di mana?” gumam Yongchun dengan merasakan pedih di hati. Sudah ada rasa ketika mendapat kabar mereka datang ke pulau Nihonkoku, rasa atau sebuah firasat yang buruk.


“Kau, jangan mencarinya sendirian saja. God Eye.” God Hand datang menghampiri Yongchun.


“Kau itu tidak membantu. Akan lebih baik kau berdiam di tempat saja,” ketus Yongchun seraya memalingkan wajah.


Tap, tap!


Yongchun melangkahkan kaki, ia kembali berjalan seraya menoleh ke kanan dan kirinya. Namun hanya orang berlalu-lalang, tak ada satu pun dari mereka yang adalah Relia.


“Hei, jangan pergi sendiri. Bagaimana jika suatu waktu Dewa Hitam kembali muncul?” ujarnya seraya mengulurkan tangan.


Plak!


Yongchun menepis tangan Romusha yang hendak menyentuh pundaknya. Lalu berkata dengan meninggikan suara, “Justru karena itu.”


“Bagaimana jika kau merelakannya saja?”


“Merelakan? Maksudmu dia mati? Itu tidak akan terjadi.”


Setelah berlama-lama Yongchun pergi ke sisi timur hingga ke sisi manapun. Satu tempat yang belum ia telusuri adalah perbatasan itu.


Dan benar saja,


Yongchun menemukannya di dekat perbatasan. Di sana, Relia tengah terduduk dengan dua kaki ditekuk ke belakang. Ia sendirian, tampak ia sedang memandang lautan.


“Relia?”

__ADS_1


__ADS_2