Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
027. Seni Iblis Bagian I


__ADS_3

Di malam itu, para pemimpin kultus berkumpul di halaman kediaman Wang.


Salah satu pemberontak berhasil ditangkap, kini ia diikat. Apa pun yang mereka tanyakan padanya tak pernah ia jawab, meski mereka menggunakan kekerasan. Hingga memukul, menyayat daging dan mencabut kukunya pun tak membuat ia jera.


Darahnya terciprat ke mana-mana. Membuat halaman itu kotor. Para pemimpin kultus 7 Surgawi terdiam melihat pria itu disiksa habis-habisan oleh Wang Xian.


“Katakan di mana tempat kalian? Dan apa rencana kalian? Katakan!” Nada suara Wang Xian meninggi dan tak ada hentinya ia melayangkan pukulan.


“Heh, tak akan aku beritahu,” ucapnya dengan lirih. Ia mengertakkan gigi kemudian meludahi wajah Wang Xian.


“Sudah cukup, Wang Xian. Ini seperti saat itu. Masa-masa pemberontakan juga tak ada habisnya. Mereka terus melakukan hal ini dalam jangka waktu pendek.” Xie Xie berbicara.


“Apa yang kau katakan? Kita harus menyudahi ini segera mungkin. Takkan kita membuat Yang Mulia menunggu, bukan?” sahut Zhao Yun.


“Benar sekali. Sudah berapa kali ini terjadi. Meski kalian tidak membunuh atau melukai penduduk biasa, tapi mereka tetap mengincar Yang Mulia,” ujar Li Bai seraya berjalan menghampirinya.


Pemberontak itu kini terdiam, sinar matanya tak pernah padam. Tekad itu jelas nampak dan takkan mudah hilang begitu saja hanya karena disiksa seperti ini. Diam-diam ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu di dalam mulutnya.


“Minggir!” Zhao Yun menggeser tubuh Li Bai, ia menyadari sesuatu. “Kau menyimpan sesuatu yang buruk, hei. Tolong jangan perlambat masa-masa pemberontakan kalian yang seperti anak kecil,” tutur Zhao Yun, ia membuka rahang pria itu lalu mengambil sesuatu di sela-sela giginya.


“Ini racun,” ungkap Zhao.


Rupanya pria ini berusaha untuk bunuh diri dengan sebuah racun yang terselip di antara gigi gerahamnya. Yah, itu sudah sering kali terjadi. Mereka juga tak bereaksi berlebihan karena tahu orang ini akan melakukannya sama seperti di masa sebelumnya.


“Aku beruntung punya teman yang peka. Mari kita selesaikan hal ini secepat mungkin. Bukankah begitu, Yongchun?” Wang Xian memanggilnya.


Yongchun mengangguk dan berjalan ke arah mereka. Melihat apa yang terjadi pada pria ini, setidaknya ia mampu menahan diri. Hanya saja ia sedikit merasa takut saat tahu ada sesuatu di dalam pria ini.


“Kenapa? Kau berulang kali menatapnya dengan gelisah. Apakah ada sesuatu dengannya?”


Dasar pria kurang ajar, Wang Xian dengan mudah menebak apa yang dipikirkan oleh Yongchun. Padahal Yongchun tidak memperlihatkan ekspresinya.


Yonghun pun tertawa kecil, ia menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya. Seolah segala emosi mampu ia luapkan, dan pandangan Yongchun mengarah ke selatan.


“Aku merasakan banyak kebencian di daerah sana. Apakah ada orang yang ingin menemaniku ke sana? Karena kupikir, banyak pemberontak berkumpul di daerah yang kutunjuk,” kata Yongchun.

__ADS_1


“Sebelum itu ...”


Aura menggelengar sekali lagi. Pria pemberontak itu mendengus kesal, wajah yang ia tunjukkan tak sama seperti sebelumnya. Bukan kemarahan atau kebencian yang biasa. Ini sudah berbeda, seolah ada yang merasuk ke dalam tubuh pria itu.


“Seni Iblis!” seru Zhao Yun, terkejut. Ia melangkah mundur dengan bersiap untuk melayangkan pukulan besinya.


Sosok dari pria itu telah bangkit. Kedua mata Yongchun merasakan resonansi pada auranya yang menghitam legam.


Seolah dunia telah kiamat, kediaman Wang diselimuti kehitaman, semua lenyap di hadapannya. Para pemimpin kultus bersiap pada posisi, hendak menyerang dari berbagai sisi tuk menghentikan, "Seni Iblis", ini.


“Kalian tak perlu maju untuk hal sepele ini. Serahkan padaku, dan kalian ikuti apa yang diinginkan Wang Yongchun sekarang. Benarkah apa yang aku katakan, Wang Xian?!” pekik Zhao dengan suara yang keras.


“Ya! Yongchun tahu di mana para pemberontak yang lainnya! Mari kita pergi sebelum semuanya hancur berkeping-keping!”


Tanpa basa-basi lagi, mereka selain Zhao Yun pergi meninggalkan kediaman Wang.


Zhao Yun tinggal sendiri, ia menghadapi tubuh pria yang rapuh dan didiami oleh iblis. Atau lebih tepatnya, pria yang menggunakan seni iblis, akan mati setelah menghancurkan semuanya.


Seringai Zhao Yun ia tunjukkan lebar-lebar sambil berkata, “Lihat ini!” yang kemudian melayangkan tinju hingga hempasan angin membuat tubuh pria itu terbang menjulang ke atas.


Bruak!


Dentuman keras terdengar setelah Zhao Yun meninju tanahnya. Kekuatan milik iblis itu pun menjauh seolah enggan mendekat.


“Hah, pada dasarnya seni iblis itu seperti manusia. Dia juga benci dilawan tiba-tiba!”


Kembali berteriak menyemangati dirinya sendiri. Senyum lebar dan melayangkan tinju sekali lagi setelah inangnya ambruk ke bawah.


Terlihat beberapa tulang itu patah, tangan, kaki dan bahkan organ dalamnya pasti hancur. Ditambah dengan pukulan Zhao Yun yang membuat kepala inang itu pecah sampai tidak berbentuk.


Darah yang keluar bukanlah berwarna merah segar lagi melainkan darah hitam yang sama seperti seni iblis. Dari segala sisi, darah yang banyak tumpah pun menjadi senjata dan menusuk Zhao Yun yang tak segera menjauh.


Crak! Crak!


“Aku sangat menghargai perjuanganmu. Tapi dengan seni iblis, apa yang bisa kau capai? Hei, pengikut termudaku.”

__ADS_1


Zhao sudah gila, masih saja tersenyum di situasi seperti ini. Bahkan berbincang seakan-akan ia mendengarnya.


Sungguh, tak masuk akal!


Kenapa kepala yang sudah tidak ada justru membuatnya semakin kuat? Ya, inilah seni iblis. Meski kuat ini sudah keterlaluan, tak layak menyandang gelar sebagai pendekar sejati.


Pria payah.


“Ugh, dasar! Masih saja keras kepala seperti inangnya, ya!”


Zhao Yun menggenggam kedua lengan pria itu selagi darah hitam terus menutupi tubuhnya. Membuat ia terluka cukup parah, rembesan darah sudah menjadi lautan di antara mereka.


“Sudah cukup!” jerit Zhao Yun. Merobek kedua lengan serta menendang tubuh itu secara bersamaan.


Kekuatan hitam menyeruak keluar dari tubuhnya dan membuat setengah kediaman Wang hancur berantakan.


Beruntung tak seorang pun ada di sana. Selain yang ada di kediaman utama.


Drap! Drap!


“Apa? Mereka berbuat ulah lagi?”


Kedua sepupu Wang keluar dari kediaman utama, terkejut akan apa yang telah terjadi tepat di kedua mata mereka. Setengah bangunan itu hancur dalam sekejap.


“Ada orang di sana!”


“Jangan kemari! Cepat keluar lewat jalan belakang! Ini berbahaya!” pekik Zhao Yun tak membiarkan kedua sepupu Wang mendekat lagi.


Pertarungan ini belumlah berakhir. Nyatanya seni iblis tak mudah dihancurkan meski Zhao Yun menyerangnya sekuat tenaga.


“Rasanya aku sedang makan daging yang alot. Susah dimakan dan juga tak layak dimakan. Tapi yang membuat aku kesal sekarang adalah, iblis ini menyerupai inang yang ditumpanginya! Sungguh tidak sopan!”


Tubuh yang hancur dengan tanpa kedua tangan dan kepala yang utuh. Genangan darah pemilik tubuh itu pun dibuatnya memadat menjadi senjata.


Zhao menyunggingkan senyum yang tak senada dengan ekspresi marahnya. Luka itu cukup parah meski kini kekuatan hitam itu tak lagi menutupi tubuh kekarnya.

__ADS_1


Sanggupkah Zhao Yun menerima dan membalas serangan seni iblis lagi?


__ADS_2