
Fajar telah menyingsing. Yongchun yang tengah tertidur pulas di tengah halaman istana, tanpa ada seorang pun yang menghampirinya. Banyak dari mereka yang enggan mendekat, memastikan ia masih hidup atau tidak.
Begitu juga dengan para pemimpin kultus tersisa, mereka juga hari ini sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya.
Sampai ketika sekujur tubuhnya diguyur air. Terasa tak seperti air yang biasanya, namun entah apa.
“Uhuk! Ukh ...siapa? Mataku bisa kelilipan nanti!”
Yongchun terbangun dengan terkejut. Tak mengira ia dibangunkan dengan cara seperti ini. Sudah begitu, tubuhnya jadi basah kuyup dan terasa lengket.
“Sejak kapan kau punya mata?” sahut Bon dengan setengah niat menyindir seraya membawa tong kosong di pundak kirinya.
“Huh ...ternyata kau.”
“Kalau iya kenapa? Sudahlah, jasadmu yang tiba-tiba berdiri itu tidak lucu. Mari kita pergi sebelum orang melihatmu,” kata Bon kemudian berbalik badan dan meninggalkannya pergi.
Dengan tertatih-tatih Yongchun melangkah. Tubuhnya sempoyongan dan terkadang hampir tersandung kakinya sendiri. Padahal semua luka yang ia derita sudah pulih.
“Hei, kau! Jalanmu lambat sekali!” pekik Bon.
“Ugh, pandanganku buram. Memang sih aku tidak punya mata, tapi ..duh, tubuhku terasa panas sekarang ...” keluhnya membatin.
Mereka berjalan beberapa langkah dan kemudian Bon terhenti di suatu jalan. Bau laut dan gunung bercampur jadi satu namun masih jauh untuk sampai ke sana.
“Di mana, ini Bon? Kapal?” pikir Yongchun sembari menoleh ke kanan dan kirinya.
Bruk! Yongchun didorong ke depan dan menubruk tubuh seseorang yang kemudian dipapah olehnya.
“Ah, maaf. Siapa?” tanya Yongchun yang agak linglung.
“Ma-maaf Tuan. Ini aku, Yu Jie. Sebelumnya aku berterima kasih padamu. Tapi ...”
Yu Jie juga tampak linglung dengan apa yang dimaksud oleh pria asing selain Yongchun di depannya. Sesaat meliriknya namun kemudian merasa sungkan lalu menundukkan kepala.
“Kau itu putri kaisar, 'kan?” tanya Bon sambil menunjuk Yu Jie.
“I-Iya,” jawab Yu Jie dengan canggung.
__ADS_1
“Bagus. Aku titip dia, ya.” Kemudian Bon mendekat lalu berbisik, “Terserah kau ingin melakukan apa dengannya. Intinya beri dia pelajaran,” ucapnya dengan yakin.
Namun tampak Yu Jie tidak bisa berkata apa-apa. Ia bingung apa yang dimaksud Bon. Tetapi daripada memikirkan apa yang dikatakan, ia justru mengalihkan pandangan pada punggung Bon yang gemetar.
“Anu ...apa kau sakit?” tanya Yu Jie.
“Huh, tidak. Hanya punggungku saja yang sakit, tapi ini sudah beberapa hari yang lalu,” kata Bon dengan tatapan tak peduli.
Yu Jie hanya bisa diam seraya memapah tubuh Yongchun yang ringan. Sesaat, ia mencium sesuatu dari tubuh Yongchun. Bau yang tidak mengenakkan, bau arak.
“Kalau begitu aku pergi,” ucap Bon lantas meninggalkan mereka berdua.
“Ah ...padahal aku ingin tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan ini? Kalau malam kemarin 'kan, dia bertarung dengan Pemimpin Wang. Masa' iya sudah menenggak minuman arak sebanyak ini?”
Yu Jie pun menghela napas panjang. Perlahan ia membawa tubuh Yongchun ke suatu tempat. Di salah satu rumah yang sudah tak layak huni. Terletak di sudut daerah, rumah dengan bangunan yang hampir seutuhnya hancur.
“Tuan, maafkan aku. Sepertinya ada pria yang tidak bertanggung jawab dengan membuatmu bermandikan arak. Aku harap, Tuan segera sadarkan diri,” ujarnya seraya membaringkan tubuh Yongchun secara perlahan.
“Tapi kenapa Tuan seringan itu, ya?” gumam Yu Jie yang tak mengerti.
Festival di malam hari itu sudah lama berakhir. Menggantikan rembulan dengan matahari bersinar terang. Menikmatinya mentari pagi tanpa ada persaingan lagi, sungguh membuat Yu Jie terasa bebas. Terutama Kaisar Ming sudah tiada.
Yu Jie menoleh ke belakang dan melihat Yongchun yang masih terbaring lalu kemudian duduk tiba-tiba.
“Tuan?”
“Putri Yu Jie, tunggu ...apa aku barusan tidur lagi?” tanya Yongchun seraya memegang kepala.
“Daripada itu. Tubuhmu sangat ringan sekali, lalu juga panas?” pikirnya dengan cemas.
Yongchun menghela napas panjang. Saat Yu Jie mendekat dan memastikan keadaannya, tiba-tiba Yongchun merangkulnya lalu mereka terbaring di alas.
“Tunggu sebentar, Tuan? Anda sungguh tidak apa?” tanya Yu Jie dengan wajah terkejut. Bingung dan gugup sampai ia berkeringat dingin.
“Maaf, Putri ...” lirih Yongchun yang agaknya melindur.
“Jangan sebut aku sebagai putri lagi, Tuan. Lalu ini, apakah posisi ini membuatmu nyaman?” tanya Yu Jie.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Yongchun sadar apa yang saat ini ia lakukan. Terutama saat melihat tangannya tengah memeluk pinggul Yu Jie dalam keadaan terbaring.
“Eh!?”
Sontak terkejut, ia pun secara reflek bangkit dan menjauhinya sampai ke bagian sudut dalam rumah.
Yu Jie juga secara sadar ia menghampiri Yongchun. Perlahan mendekat sembari berkata, “Tuan, maaf mengejutkanmu. Tapi akan lebih baik jika kau membersihkan tubuhmu dulu?” pikir Yu Jie sembari melirik ke arah lain dan menutup setengah wajahnya.
“Oh, benar. Aku baru ingat sesuatu,” kata Yongchun kemudian ia berdiri namun sayangnya tubuh itu tak merespon sehingga ia kembali jatuh terduduk.
“Sepertinya karena pengaruh arak. Teman Tuan Asyura sungguh sangat tidak sopan,“ gerutu Yu Jie yang sudah mendekat padanya.
“Ngomong-ngomong kenapa aku ada di sini?” tanya Yongchun.
“Iya, teman Tuan Asyura. Entah siapa dia. Dia membuatku harus memapah Tuan,” jelas Yu Jie.
Hal yang terakhir kali ini ia ingat adalah sosok pria bersorban yang tidak lain adalah Bon. Seketika wajahnya memucat. Ia merasa mual karena bau arak di sekujur tubuh.
Memalingkan wajah sambil menutup mulut, tuk menahan mualnya. Yu Jie jadi tidak tega, maka ia pun berniat untuk mencarikan sesuatu untuk Yongchun.
“Tu-Tunggu!” pekik Yongchun seraya menarik lengan Yu Jie sampai tersandung dan menubruk tubuhnya.
“Maaf, aku mengacau,” ucap Yu Jie dengan wajah memerah.
Untuk sesaat keduanya terdiam dalam keheningan. Mereka berdekatan satu sama lain, bahkan detak jantung pun dapat didengar. Menghentikannya pun tidak bisa, bahkan Yongchun terpaku dalam keadaan ini dan memastikan semua terkendali dengan aman.
“Aku memang suka mengintip wanita tapi bukan begini juga ...ingat, aku sudah punya istri. Tidak boleh melakukan yang tidak-tidak ...” batin Yongchun seraya menggelengkan kepala.
Dan perkataannya barusan pun dapat mudah dipatahkan setelah Yu Jie berbalik dan memandang Yongchun dengan wajah sedih. Wajah seorang wanita yang mempunyai pesona tersendiri, memang cukup imut apalagi Yongchun seumur-umur hanya dapat melihat wajah dua istrinya yang berbanding terbalik.
Yang satu datar, yang satu suka marah-marah.
“Tuan tidak apa-apa? Ma—”
Kalimat Yu Jie terpotong karena Yongchun mendorong tubuhnya ke samping. Kemudian bergerak menjauh, menggeser tempat duduknya. Sekilas Yu Jie melihat wajah Yongchun yang tersipu malu, merah semerah tomat.
Ia tersenyum licik lalu kembali mendekati Yongchun dengan niat iseng.
__ADS_1
Sambil memeluk dan mengelus tubuh Yongchun, Yu Jie berkata, “Kalau mau lakukan ya lakukan saja.”