Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
084. Jatuh Ke Jurang Trik


__ADS_3

BRAK!! Hantaman keras berasal dari belakang mereka. Dinding berupa kayu itu seketika bergetar sesaat, membuat Yongchun dan Yu Jie tersentak kaget.


Kemudian disusul oleh suara derap langkah kaki, ia muncul seolah memergoki mereka berdua.


“Seperti biasa, Asyura suka main tangan. Benar begitu kan?” sindir Bon yang menunjukkan batang hidungnya.


“Apa-apaan kau?! Kau yang menyiramiku dengan arak, 'kan!” amuk Yongchun yang terengah-engah sambil berdiri dan menunjuk Bon.


“Jangan marah begitu. Pertarungan yang kau lalui juga sudah selesai, akan lebih baik jika kau menikmati hari ini,” ucap Bon santai seraya ia melempar sehelai kain padanya.


“Kau itu datang untuk menyerangku lagi. Buat apa kau menolongku di tengah-tengah mereka sedangkan itu kesempatanmu untuk membunuhku,” kata Yongchun sedikit ketus seraya ia mengusap wajahnya dengan kain yang diberikan.


“Kau lupa kalau kau itu monster? Membunuhmu sama saja cari mati untukku. Lalu, aku harap kau segera pergi dari sini. Banyak orang yang menduga kalau kau masih hidup.”


“Aku tahu itu. Tapi sepertinya aku masih belum bisa pergi. Ada hal yang harus kukerjakan selagi bisa dilakukan hari ini.”


Yongchun kemudian melangkah keluar, terik matahari membuatnya sedikit sensitif. Dan entah kenapa kulitnya terasa terbakar hingga muncul uap panas.


“Ck, lagi-lagi. Aku benar-benar tidak biasa menggunakannya.” Yongchun menggerutu kesal lantas kembali masuk ke dalam tuk berlindung dari sinar matahari.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Bon.


“Aku tahu! Kaisar Ming, maksudku Ayahku adalah bagian dari neraka. Lalu guratan-guratan yang sebelumnya muncul di tubuh Tuan Yongchun ...” Yu Jie berjalan menghampiri lantas membuka pakaian Yongchun tanpa ragu.


“Hei, Yu Jie!?” Yongchun tercengang.


“Maaf, Tuan. Ini guratan hitam yang sama seperti Pemimpin Wang. Merekonstruksi tubuh secara paksa, mengubahnya menjadi bukan manusia seutuhnya,” jelas Yu Jie dengan wajah serius.

__ADS_1


Guratan hitam itu kini masihlah ada dan terus bergerak hidup. Namun tidak seberapa banyak seperti yang sebelumnya. Itu hanya melilit bagian tubuh atas Yongchun.


“Apa ini bisa dihilangkan?” tanya Yongchun sambil menutup kembali pakaiannya yang terbuka.


“Hm, aku tak begitu mengerti. Tapi orang ini monster jadi kurasa tidak akan jadi masalah.” Dengan mudahnya Bon berkata seperti itu.


“Seolah-olah kau pernah merasakannya. Aku ini sangat menderita karena mataku yang tidak buta lalu tubuhku yang terasa aneh juga. Kalau kau merasakan hal yang sama, mungkin kau akan mati kesakitan,” celetuk Yongchun yang kesal.


“Kalau bisa pun, sudah pasti Yu Jie lakukan. Namun aku tidak seperti Ayahku. Aku hanyalah orang biasa tanpa kemampuan. Tidak berbakat,” ujar Yu Jie.


Yu Jie adalah salah seorang putri yang benar-benar tidak bisa menggunakan tenaga dalam miliknya sendiri. Bukan karena sulit melainkan memang tidak ada bakat untuk itu. Karena itulah ia tidak bisa membantunya menghilangkan jejak kekuatan Kaisar Ming.


Bagian dari neraka, merekonstruksi tubuh Yongchun menjadi bukan manusia seutuhnya. Yang artinya Kaisar Ming dan Wang Xian berniat mengubah Yongchun menjadi iblis layaknya seperti yang sudah dirumorkan.


Tapi sedikit demi sedikit, Yongchun merasa guratan itu kian memudar seiring berjalannya waktu. Seraya mengepalkan tangan kuat-kuat, darah itu kembali mengalir dari telapak tangan. Menetes perlahan hingga mengalir ke permukaan tanah hingga meresap ke dalam.


“Apa aku perlu membuatmu terluka agar hitam-hitam itu tak lagi nampak?” pikir Bon seraya menarik pedangnya.


“Meski aku tidak bisa mati semudah itu. Tapi kalau kau mengincar kepalaku sampai terpisah dengan tubuhku ...sudah pasti aku tidak akan selamat,” imbuh Yongchun berwaspada sembari bersiap menarik pedang.


Klak! Merasa sia-sia, keduanya menyarungkan pedang kembali. Lantas menghela napas panjang bersamaan.


“Tidak ada gunanya untuk saat ini. Di mana orang yang kau kalahkan, Bon?” tanya Yongchun.


“Ada di sekitar sini, lihat saja.” Bon menjawab.


Yongchun melangkah pergi dan rasa sakit serta uap panas itu tidak lagi muncul setelah sinar mentari kembali menyorot dirinya. Kedua mata Yu Jie terbelalak kaget melihat Yongchun yang berjalan dengan santai.

__ADS_1


“Dia tidak apa-apa? Bagaimana bisa?” tanya Yu Jie tak percaya.


“Sudah kubilang dia itu monster. Manusia yang tidak bisa disebut sebagai manusia normal,” ketus Bon.


Ke manakah Yongchun pergi dengan pakaian yang masih basah seperti itu? Tentu saja, tidak lain adalah menemui Pemimpin Yin yang sudah diperkirakan akan bertarung dengan Bon di malam yang sama kemarin.


Alangkah terkejutnya ia setelah menemukan jejak darah yang diseret ke suatu tempat. Yongchun mengikuti ke mana jejak darah itu akan membawanya pergi. Setelah itu, ia menemukan Yin tepat di bawah pohon rindang.


Ditemukan dalam kondisi sekarat. Darah yang tidak berhenti mengalir walau pelan. Lalu setengah tubuhnya yang tersisa. Hawa keberadaannya sangat lemah, kemungkinan besar ia menahan luka besar ini agar tidak membuatnya mati terlalu cepat.


“Pemimpin Yin, kau mendengarku?”


Mata Yin berkedip, sesaat ia menghela napas pendek. Lalu perlahan mendongakkan kepala ke atas, melihat siapa yang berdiri di depannya saat ini.


“Oh, ternyata ...ka-kau, ya. Penguasa wilayah timur tengah, hah ...” ucap Yin terbata-bata dengan napas yang cukup berat.


“Itu benar. Kau rupanya masih ada semangat untuk hidup. Tapi ...” Yongchun menunjuk dada Yin, memperhatikan jiwanya yang sudah membusuk. “Kau ditakdirkan untuk mati,” tutut Yongchun seraya duduk berjongkok lantas tersenyum.


“Ini semua gara-gara dirimu—ugh!” pekik Yin yang kemudian terbatuk mengeluarkan darah segar.


“Jangan paksakan dirimu begitu. Manusia ...meski sehebat apa pun dia, pasti di akhir mereka akan mati,” celetuk Yongchun.


“Aku bisa-bisanya ...ka-kalah dari pria itu! Tetapi yang paling mengesalkan ...adalah sa-saat kau yang merencanakan ...ini semua!”


Yin benar-benar memaksa tubuhnya untuk bergerak. Meski ia kehilangan bagian bawah tubuhnya namun keinginannya untuk hidup masihlah ada.


Berbagai cacian dari Yin kepada Yongchun pun dilontarkan. Satu persatu, Yongchun mendengarkannya tanpa protes. Memang benar ialah yang memulai ini semua tetapi, kalau saja Kaisar Ming tidak pernah berbuat hal bodoh seperti itu maka mungkin festival lentera diadakan begitu meriah tanpa adanya darah yang menggenang.

__ADS_1


“Akulah yang secara tidak langsung membunuhmu. Tapi apa kau tahu, apa kesalahanmu? Kau terlalu mempercayai Kaisar Ming. Apa kau tahu dia adalah bagian dari neraka itu sendiri? Dialah yang akan mengirimmu ke dalam neraka nanti, cepat atau lambat,” tegas Yongchun membuat Yin tersentak.


“Sekali lagi kuperingatkan. Meskipun kau mengetahui rencanaku di hari itu, apakah aku pernah menergurmu barang sekali? Tidak, 'kan? Jelas saja, itu karena aku berharap kau bisa mempertimbangkan dirimu untuk berada di pihak yang mana,” imbuh Yongchun.


__ADS_2