
Kegelapan yang dalam. Situasi saat mengalami kematian itu kembali terjadi. Pikirannya bercampur aduk tak karuan. Mulai dari kalimat Gupta, Nia ataupun Relia. Bahkan Crow (Bing He) juga.
Ilusi yang menyesatkan. Yongchun terduduk lemas, ia meringis kesakitan. Sesuatu menggerayanginya dan terus menjalar ke tubuhnya. Guratan yang sama persis oleh Kaisar Ming punya.
“Aku tak akan mengira ilusi remeh itu dapat menyesatkanmu begitu mudah. Karena manusia lemah terhadap hal seperti itu. Apalagi kau bilang kau hampir tak ingat tentang kejadian itu sebelumnya. Semua samar-samar untukmu sendiri ketika kau melewati hidup dan matimu dengan mudah.”
Niao lantas terkekeh. Tertawa heboh melihat reaksi Yongchun yang sedemikian lucu baginya. Tak disangka ia akan melihat hal seperti ini. Hanya karena ilusi, bahkan itu hanya temannya saja. Bukan keluarga, entah bagaimana reaksinya nanti.
Niao lantas berbisik, “Hei, pendekar pedang. Namamu adalah Yongchun, tidak ...Asyura, benar?”
Tentu saja Yongchun tak menjawab apa pun. Ia masih terdiam meringkuk merasa bersalah atas ilusi yang telah menimpanya.
“Kali ini, biarkan aku sendiri.” Yongchun bergumam.
“Tidak akan! Katamu, kau ingin keluar, 'kan? Ruangan gelap ini adalah milikku. Mungkin kau pernah melihat hal serupa, tapi ini tak sama. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjawab pertanyaanku,” ucap Niao.
Bukan keterpurukan yang ia alami. Niao salah mengira. Sebab Yongchun sekarang menatapnya lurus dengan tajam.
Niao yang melihatnya pun lantas terkejut. Ada apa ini? Ia mulai bertanya. Namun berujung buntu.
“Kau bilang setelah ini kita akan keluar?” tanya Yongchun.
Pada saat itu ruangannya gelap namun kedua pria tersebut dapat saling melihat satu sama lain. Seolah diselimuti cahaya putih.
“Iya. Ini lapisan terkahir. Itu yang ingin kukatakan. Tapi apa kau sanggup? Bukankah kau dihantui oleh masa lalu?”
Niao terdengar menyindir. Seringai yang ditunjukkan secara langsung pun mengungkap sifat sejatinya sebagai mahkluk neraka.
“Terlepas dari ingatan. Kau mengatakannya bahwa itu hanyalah ilusi semata,” ucap Yongchun seraya bangkit.
“Lalu kalau itu benar-benar ingatanmu?”
“Banyak yang bilang kalau pria itu, Gupta memang mengorbankan nyawanya demi diriku. Dan akulah yang secara sepihak tak mau menerimanya.”
“Bukankah kau harus mencari jawaban itu dahulu?”
__ADS_1
“Kau pikir aku bodoh?” Yongchun melirik sinis dengan semburat aura hitam keluar dari kedua matanya.
“Gupta yang itu menyuruhku untuk bunuh diri dengan pedang miliknya.” Yongchun sedikit menarik pedang yang dimaksud. “Tetapi, orang-orang yang kupercayai tak akan membohongiku tentang itu.”
“Kalau mereka tidak bisa dipercaya?”
Lagi-lagi ia dibuat kesal oleh Niao. Ia menggigit bibir bagian bawahnya lalu berkata, “Kalau benar begitu. Sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri sebagai tebusan dosa, maka aku harus keluar dari sini hidup-hidup!”
Kukuh terhadap pendiriannya. Memang inilah sifat alami Yongchun. Sebab, sudah sejak awal ia dengan mudah menaruh rasa percaya dan mudah juga menaruh rasa curiga yang patut ia curigai.
Tak akan ia tidak berpikir panjang. Tak seperti Gupta, ia mampu menerima pertemanan darinya karena sudah luluh. Yongchun atau pria yang dikenal sebagai Asyura, adalah orang yang akan memanfaatkan segala hal meski harus dengan memanipulasi semua orang.
Tapi terkadang di berpikir begini.
“Meski kadang aku suka curang terhadap mereka. Tapi bukan berarti aku ini orang jahat.”
Benar. Itulah yang membuatnya terus berpikir positif. Karena itu juga, Mata Dewa tak mudah merenggut tubuhnya begitu saja. Berkali-kali diganggu, dihantui masa lalu atau dengan cara lain seperti tangannya sendiri membunuh seseorang yang ia sayangi pun, ia tak mungkin mudah diperdaya.
“Atas dasar apa kau mempercayai mereka?” Kening Niao berkerut. Ia merasa kecewa.
Ruangan gelap menjadi agak berguncang. Tanda Niao, yang menjadi pemilik tempat tersebut merasa marah dan kecewa terhadap Yongchun yang tak mudah dihasut.
“Manusia keras kepala!” ketus Niao, mengalihkan pandangan.
“Hei, Niao! Kau ingin ke mana?”
Langkah Niao terhenti begitu Yongchun memanggilnya dari belakang. Ia pun menoleh dengan wajah kusut.
“Sebelum kau keluar dari sini. Apa kau berniat membebankan dirimu dengan semua urusan yang ada di dunia?” Niao bertanya.
“Tidak juga. Meskipun terdengar aku naif dengan membebankan diriku dengan semua masalah itu. Ataupun terdengar licik dengan memanfaatkan orang-orang di sekitarku. Itu semua tidak benar,” tutur Yongchun.
Ia berjalan menghampirinya dengan aura yang mengelilingi, sosok Mata Dewa itu tampak terhubung dengan kekuatan Niao di kedua sayapnya.
“Karena, hanya dengan beberapa patah kata kau bisa melakukan apa saja. Aku memimpin di atas mereka juga karena mereka yang telah mendukungku sampai sekarang. Itulah prinsipku,” imbuhnya dengan tegas.
__ADS_1
Niao terdiam selama beberapa waktu. Lalu mendorong tubuh Yongchun menjauh darinya.
“Harusnya kau curiga dengan keberadaanku seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku ini penjaga neraka!”
Setelah mengungkapkan siapa diri Niao sebenarnya. Yongchun tiba-tiba saja terjatuh. Awan putih menembusnya, langit cerah kebiruan itu memenuhi sekitarnya.
“Eh?! Aku jatuh!”
Karena tiba-tiba, Yongchun tak bisa mengendalikannya. Menunggu waktu sampai ia membentur ke tanah, tak dapat ia lakukan untuk hal ini.
“Dasar, Siluman itu! Tidak pernah menyebut namaku bahkan kau mendorongku untuk mati lebih awal?! Jangan bercanda!”
Lama-kelamaan, jatuhnya menurun cepat.
***
Sehari sebelum Yongchun keluar dari alam neraka.
Sementara itu di tempat lain, wilayah timur tengah. Perguruan Tinggi, bagian di balik laut merah.
Suasana asri hanya dengan padang pasir memenuhi jalan. Berdiri sebuah bangunan yang menjulang tinggi dengan beberapa lantai.
Dua orang pria yang bertekuk lutut di hadapan seorang pria tua. Terdiam menundukkan kepala, sosok yang berdiri membelakangi meja lalu berjalan menuju ke jendela.
Dengan kesal, ia menyibak tirai yang menganggu. Membiarkan cahaya masuk dan menyilaukan mata mereka. Sesaat hening, kemudian pria tua ini kembali menggerakkan gigi setelah yang ke-10 kalinya.
Sehelai rambut putih itu jatuh ke lantai, angin sepoi-sepoi masuk setelah ia membuka jendela dan membuat sehelai rambut itu terbang entah ke mana.
Menangkap pandangan di bawah terdapat beberapa orang yang giat bekerja. Sekali-kali ia melihat adanya wanita yang ikut bekerja, bermain atau melakukan kegiatan lainnya.
“Dia itu! Apa sih yang dia lakukan?! Membiarkan orang tua bekerja seharian di sini!! Kurang ajar!”
Pria itu menjerit seraya meremas selembar kertas yang digenggamnya. Lalu meraih pedang lusuh yang ada di atas meja, sebentar-sebentar ia menarik untuk melihat bilah pedangnya lalu membantingnya ke lantai dengan keras.
“Tuan Diola! Itu benda pusaka! Tolong berhati-hatilah!” Semua orang meneriakinya dengan cemas serta panik.
__ADS_1