
“Relia!”
Yongchun berlari ke arahnya, dengan wajah panik ia berkali-kali memanggil nama istrinya. Namun tidak kunjung sadarkan diri meski kedua matanya terbuka. Seperti Relia berada di ambang kematiannya.
“Relia, bangunlah. Apa kau mendengarku, hei?”
Jari jemari Relia bergerak, ia lantas mengelus wajah Yongchun perlahan. Senyum tersinggung tipis, lalu mengedipkan kedua mata beberapa kali.
“Relia, kau tidak apa-apa? Aku antarkan ke suatu tempat agar kau aman. Ayo,” ujar Yongchun masih panik, ia hendak menggendong tubuh Relia.
Namun Relia menahan tubuh Yongchun sembari menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak mau pergi dari tempatnya sekarang.
“Kenapa kau tidak ingin pergi? Relia?”
“Tidak apa-apa. Relia hanya ingin berada di tempat ini saja. Asyura.” Terakhir Relia menyebut namanya, pelan, lembut dan terdengar merindukan.
Pandangan matanya kosong seolah buta. Raganya hancur seakan terbagi, pecah berkeping-keping. Cahaya di sekitarnya memadam, redup ibarat jiwanya akan musnah.
“Relia, katakan sesuatu padaku. Apa yang terjadi? Apa yang kau butuhkan sekarang? Beritahukan sesuatu padaku. Relia?”
Tak peduli beberapa kali Yongchun mengajaknya berbicara, Relia tetap tidak menjawab. Sesekali hanya berbicara seperlunya, berupa sepatah atau dua kata yang terkadang tidak nyambung dengan pertanyaan Yongchun.
“Relia, aku katakan satu hal padamu lagi. Apa yang terjadi? Jawablah, Relia. Tenang, aku tidak akan memarahimu karena tiba-tiba menyusulku kemari, jadi jangan khawatir.”
“Maafkan Asyura. Sampai saat ini Relia menjadi istri yang tidak berguna bagimu. Bahkan Relia tidak bisa menjaga diri sendiri, lalu bagaimana dengan keluargaku kalau sewaktu-waktu mereka terluka? Aku takut.”
”Kau bicara apa, jangan bicara hal mengerikan seperti itu. Dan kau sama sekali tidak seperti yang kau bayangkan. Kau berguna bagiku, bagi keluargaku, semuanya pun,” ucap Yongchun sembari mendekap lembut tubuh istrinya.
“Oh, ya. Bagaimana dengan Nia? Dia baik-baik saja?” tanya Relia tanpa bergerak sedikit pun.
“Tenang. Dia baik-baik saja. Aku menemukannya, dia nyaris tersapu ombak dalam. Setidaknya aku melihatnya dan menyelamatkan dia. Jadi, tenanglah. Dia baik-baik saja. Sekarang tinggal dirimu, Relia. Mari kita pergi untuk mengobati lukamu.”
Yongchun melepas dekapannya, ia menatap wajah Relia yang masih dalam kondisi yang sama. Pandangannya tetap mati seakan Relia benar-benar mati.
Saat itu, Relia menarik napasnya secara perlahan. Kemudian ia berkata dengan lirih, “Relia sudah tidak bisa mendengar apa pun lagi. Maaf, Asyura. Karena telah mengabaikan semua ucapan yang telah kau katakan padaku.”
__ADS_1
Sraaaaa!
Dewa Hitam muncul dalam kabut yang datang lalu hilang. Sebagai seorang pria dengan tanduk di kepala. Tubuhnya adalah tubuh milik God Ear, rambut putih God Ear pun berubah menjadi warna hitam legam beserta sebelah mata yang berkobar api hitam.
“Itu benar. Wanita itu tuli. Dia tidak bisa mendengar lagi. Kalau kau tidak segera membunuhnya maka dia akan menjadi arwah tak terkendali,” ungkap Dewa Hitam sembari menunjuk Relia.
“Apa katamu?” Yongchun berdiri dan menghadap Dewa Hitam itu.
“Jangan kau bicara seolah-olah Relia akan mati. Dan bukankah kau berada dalam tubuhku. Kenapa? Kau tak sanggup mengendalikan tubuh ini ya? Sehingga kau membuat kepingan jiwa lalu merasuki tubuh yang lain,” tukas Yongchun mengerutkan kening.
Srang!
Yongchun kemudian mengambil pedang yang tergeletak di sekitar. Mengeratkan genggaman dan menatap tajam Dewa Hitam.
“Aku tidak berbohong, Pendekar Buta. Aku ini Dewa Kematian. Aku tahu kapan dia akan mati, begitu juga dengan riwayat penyakitnya.”
Blaar!
Muncul sebuah pedang hitam dengan api berkobar-kobar. Mereka seolah menari dalam udara, tubuh pedang pun kian memanjang dan membesar.
Semula warna hitam yang begitu pekat itu berubah menjadi warna jingga bercampur kebiruan. Bagai langit senja dan pagi bersatu dalam satu kali gerakan, serangan itu pun membuat Dewa Hitam tak berkutik.
Dengan sekeping jiwa yang bersemayam dalam tubuh God Ear, Dewa Hitam hanya mampu menahannya sebentar dengan pedang besar itu. Kedua kakinya sampai terseret-seret mundur, ia merapatkan gigi dan keningnya berkerut. Tak kuasa menahannya, lantas Dewa Hitam melompat ke samping.
Ctang!
Namun serangan itu menghilang sekejap, Yongchun muncul dalam satu kali kedipan mata. Badannya condong ke depan seraya mengayunkan pedang yang serasa berat itu.
Tertangkis, satu kali ayunan lagi pun berhasil tertangkis oleh Dewa Hitam. Berkali-kali senjata tajam itu diayunkan tanpa irama.
Melainkan secara membabi buta. Tekanan berat di antara keduanya yang saling mengertakkan gigi mereka, mengencangkan rahang dan terus mengayunkan senjata.
Semilir angin pun mengikut arus di antara mereka. Kalah saing sehingga debu pun mengepul.
Buum!
__ADS_1
Dewa Hitam dengan sengaja menghentakkan kaki ke tanah, lalu menyeret langkah kecil dari kaki kanan ke belakang dan kembali mengayunkan pedang secara mendatar.
Yongchun terlambat bereaksi lantaran ia terserang di titik butanya, titik lemahnya. Tubuh Yongchun terdorong menjauh ke kiri dari posisi Dewa Hitam. Hingga Yongchun menabrak sebatang pohon kecil hingga tumbang.
Slash!
Yongchun kembali bangkit seraya memotong bilah pohon yang hendak menjatuhi dirinya. Meski saat ini ia mengeluarkan begitu banyak darah, ia tetaplah bangkit dengan membuat pedang itu makin kuat dengan tenaga dalam tersisa dalam dirinya.
“Sudah cukup kau membuat Nia nyaris mati. Kau takkan pernah menyentuh Relia lagi!”
Gelombang api jingga dan kebiruan muncul kembali. Seiring waktu bersamaan dengan jeritannya yang menggaung, Yongchun berdiri dengan membiarkan serangan itu menyerang diri Dewa Hitam.
Pedang besar milik Dewa Hitam itu kini berubah menjadi perisai. Seakan membentuk dinding pertahanan yang cukup besar, ia berniat bertahan hanya dengan itu.
Krak!
Namun, sekali tersentuh oleh api yang kian memanas tersebut justru membuat perisai retak begitu mudah lalu hancur berkeping-keping menyisakan puing-puingnya saja.
“Kalau begitu, aku juga takkan sungkan!”
BLAAAR!
Api menyembur tubuh milik God Ear yang tengah dirasuki. Setelah beberapa saat, Dewa Hitam itu tetap berada di posisinya sama seperti sebelumnya.
Yongchun seketika terkejut, ia lantas menerjangnya dengan pedang bayangan yang berada di balik punggung Yongchun.
Srat! Srat! Srat!
Pedang bayangan menyerang secara beruntun pada titik yang sama. Dan begitu Yongchun mendekat seraya mengarahkan mata pedang ke titik yang sama, tiba-tiba Yongchun berhenti.
Tubuhnya gemetar. Sesaat setelah Dewa Hitam mengepalkan tangan kanan ke depan. Ia menyeringai lebar seolah ia mengengggam kemenangan kali ini.
Sebagai Dewa Hitam, sudah pasti dialah yang akan menang apalagi kalau lawannya hanyalah manusia. Namun baru kali ini rasanya Dewa Hitam merasakan getaran dalam hati.
“Tak aku sangka, aku harus menggunakan kekuatan kuasa-ku,” tuturnya.
__ADS_1