
Reuni hangat oleh mereka bertiga, Bing He, Li Bai dan Zhao Yun. Sejak dulu mereka saling akrab satu sama lain namun terakhir kali bertemu saat mereka masih kecil. Dari wajah, sifat atau hal lainnya pun tak berubah. Maka dari itu tak sulit untuk menebak siapa pria tua itu, Bing He.
“Apa yang kalian lakukan kemari?” tanya Bing He.
“Kami berdua menyampaikan pesan dari Pemimpin Yongchun, ah, maksudku Asyura. Lalu, apa yang kau lakukan?”
“Sudah kubilang, aku ke sini karena mencari keberadaan dia. Karena kupikir dia melarikan diri kemari tapi ternyata tidak,” ujar Bing He agaknya sedikit bingung.
“Tidak ada waktu untuk itu. Entah di manapun dia berada, kita harus secepatnya kembali karena jika tidak segera pulang maka Kaisar Ming akan bertindak bodoh,” tutur Li Bai.
“Tapi kuda kita tampaknya kelelahan. Tidak bisa dipaksa untuk berlari lagi, bukan?” sahut Zhao Yun.
“Ah, benar juga.”
Terasa berjalan di jalan yang buntu. Kalau mau pun, mereka hanya tinggal melaut dengan kapal bersama beberapa orang yang akan ikut namun, tidak bisa. Meninggalkan kuda apalagi menaruh kuda mereka yang sensitif.
“Aku juga tidak bisa menunggangi kuda lain dan meninggalkan kudaku itu. Mungkin kita harus menunggu beberapa hari lagi?”
“Kau yakin? Kaisar Ming hendak memaksa masuk ke wilayah ini cepat atau lambat. Kalau ternyata dia akan bergerak hari ini bagaimana?” tanya Bing He.
“Tidak. Dia tidak akan tergesa-gesa. Aku yakin, saat ini beliau masih belum bergerak,” jawab Zhao Yun.
“Lagipula apakah di sana sudah ada tanda-tanda?” tanya Li Bai pada Bing He.
“Tidak, sama sekali. Selama ini aku tidak pernah mengerti apa rencananya, apa rencana kalian. Akan tetapi, kalau kalian berkata dia takkan tergesa-gesa, maka kalian harus beristirahat secukupnya.”
“Kau memintaku untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk beristirahat? Tidak. Aku harap kau mau membawa kami ke luar dari sini. Karena aku sedikit khawatir saja,” sahut Li Bai.
Wajah cemas Li Bai menandakan bahwa pergerakan Kaisar Ming tidak dapat sepenuhnya dibaca. Karena itu ia sedikit kesusahan, dan setidaknya ia harus mengetahui setiap jalan yang menuju ke tempat ini, baik dari laut merah atau di jalan yang sebelumnya.
Bukan bermaksud mencari celah, Li Bai sebisa mungkin akan menutup jalan yang kemungkinan besar akan digunakan oleh Kaisar Ming.
“Tapi kalau itu hanya gertakan?” tanya Zhao Yun tiba-tiba.
“Daripada itu. Festival yang dimaksud Pemimpin Yongchun bagaimana? Ini adalah tahun baru di musim semi, juga terdapat festivalnya,” sahut Li Bai menegas.
“Jangan terlalu memikirkan hal itu. Biarlah Yongchun yang akan mengurusnya,” tutur Bing He berniat meredam kecemasan mereka.
__ADS_1
“Kau gila? Saat ini dia tidak ada di manapun, 'kan? Lantas bagaimana cara kita mempercayakan hal itu pada orang yang entah ke mana? Rencana yang dibuat saja kami tidak tahu. Yang tahu juga hanya para pemberontak saja!” Li Bai kembali menegaskan.
“Lantas bagaimana kalian tahu kalau dia merencanakan penggulingan Kekaisaran saat festival?”
“Kalau itu, semua orang yang berkaitan juga sudah tahu. Tapi rencana itulah yang kami tak tahu, apa yang harus kami lakukan?”
“Kalian ini terlalu cemas. Aku percaya padanya, dia akan melakukan apa pun itu sesuai dengan rencananya meski rencana itu diketahui langsung oleh Kaisar Ming sendiri,” ujar Bing He seraya tersenyum tipis.
Bing He benar-benar mempercayakan hal itu pada Yongchun sepenuhnya dan merasa yakin kalau Yongchun yang hilang akan segera kembali.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Setelah apa yang barusan mereka rundingkan, maka mereka akan melakukan apa yang mungkin mereka lakukan demi mencegah datangnya Kaisar Ming kemari.
“Tuan Crow! Kami tak bisa membiarkan mereka keluar, ini—”
“Aku yang akan menjaga mereka. Lagipula mereka bukan musuh, mereka tamu.”
“Ah, tidak. Tetapi—”
Sekali lagi kalimat itu terpotong begitu saja.
Awalnya mungkin akan terjadi sesuatu tapi Diola takkan bangun lebih cepat karena Bing He membuatnya tak sadarkan diri dengan totokan leher.
***
Sejauh mata memandang, hanya terdapat pasir disertai beberapa bangunan rumah dan kedai di sana. Namun itu hanya sebagian saja, sebab masih ada banyak daerah yang belum mereka kunjungi. Lebih tepatnya di area belakang.
“Kapan Asyura akan pulang? Sang Raja sombong itu ...benar-benar bikin cemas.”
“Haha, jangan terlalu berharap dia akan pulang cepat. Lagipula membawakan banyak makanan untuk kita itu berat.”
“Ya, aku tahu. Tapi entah kenapa, setiap kali ada dia, pasti tempat ini akan terlihat lebih berwarna.”
Beberapa orang yang tengah berbincang mengenai sosok Asyura (Yongchun), Li Bai jadi mengerti kenapa mereka menaruh rasa percaya itu. Meskipun terkadang mereka membicarakan pemimpinnya sendiri dengan beberapa ejekan.
Disegani namun juga berkawan. Itulah yang terbesit dalam benak Li Bai saat ini.
Zhao Yun pun juga. Ia merasa tak salah mengikutinya sampai saat ini. Walau masih terhitung beberapa hari.
__ADS_1
“Apa kalian terkejut?” tanya Bing He.
“Iya, kurasa.” Seperti biasa Li Bai menutup mulutnya dengan kipas kertas saat ia bicara di luar.
“Dia benar-benar berbeda dengan pemimpin lain, ya? Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut. Karena dari awal, dia yang penyamarannya sudah diketahui oleh kita bahkan terang-terangan menunjukkannya lebih jelas,” tutur Zhao Yun panjang lebar.
“Apakah dia pernah bicara sesuatu padamu?” tanya Li Bai.
“Tidak. Hanya saja dia meminta kerja samanya. Itu saja. Lagipula kita juga berada di situasi yang krisis dengan Kaisar seperti itu,” keluh Li Bai.
“Pasti kalian sedang dicari-cari olehnya,” lirih Bing He.
Setelah melihat reaksi mereka terhadap apa yang terjadi di wilayah ini, nampak mereka terlihat santai daripada saat-saat sebelumnya. Bahkan mereka tidak peduli jika Kaisar Ming mencari-cari mereka.
Bing He jadi tertawa kecil.
“Kaisar Ming Fu, aku turut berduka. Maafkan aku yang tak dapat pulang saat itu,” ucap Bing He dengan wajah sedih.
“Jangan kau risaukan hal itu lagi, Bing He. Itu sudah berlalu cukup lama.”
Entah kenapa suasananya menjadi canggung. Dan hanya memperhatikan lalu-lalang yang mengingatkan mereka akan masa lalu.
Seorang bocah lelaki yang giat mengayunkan pedang kayu, keringat bercucuran deras dan tak henti-hentinya ia melakukan hal yang sama sambil berteriak. Kadangkala orang lain yang memperhatikan pun jadi ikut merasakan getaran itu.
Terutama para orang tua, menggurui mereka dan berhasil mendidiknya dengan menjadi lebih kuat di masa muda.
Kemudian datanglah seorang anak gadis, menghampiri mereka dengan memberikan sekeranjang buah berwarna coklat.
“Apa ini?” Li Bai bertanya.
“Ini buah kurma. Dari pohon ajaib!” seru gadis itu dengan penuh semangat.
“Ajaib? Apa maksudnya pohon itu hebat?” tanya Zhao Yun dengan mengunyah buah itu satu.
Gadis menganggukkan kepala lalu berkata, “Itu benar! Dapat membuat orang tua tambah semangat!”
Li Bai, Zhao Yun lalu Bing He pun tertawa bahak-bahak. Mereka terhibur dengan adanya anak kecil yang membantu meringankan suasana.
__ADS_1