Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
103. Sosok Dewa Hitam


__ADS_3

God Ear menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan para Pemilik Tubuh Dewa. Mereka menuju ke tempat itu tepat setelah hari berganti. Mereka pergi pada pagi-pagi buta.


“Sepertinya aku mulai merasakan aura pekat yang sama,” tutur God Soul seraya meraba dinding di sekitar.


Goa yang cukup dalam untuk dijelajahi. Jalan setapak dan banyak anak tangga yang harus mereka lewati. Gelap tanpa adanya penerang sekalipun.


God Soul, sebagai pendekar yang memiliki jiwa yang bersemayam dalam tubuhnya, ia cukup peka dalam keadaan sekitar. Ia meraba-raba dinding dan merasakan setiap ukiran yang digambarkan dan terus mengatakan apa yang ia sentuh saat itu.


“Seperti gambar dewa dan manusia. Di sini ada beberapa garis yang menyatu ke sisi kanan dan kiri. Lainnya tidak ada lagi.”


Mereka kembali berjalan, dan semakin dalam mereka masuk maka semakin sempit pula jalannya serta udara yang kian menipis seiring waktu.


“Berhenti! Kakiku tersandung sesuatu,” ucap God Ear sambil menendang-nendang kakinya ke dinding samping.


Setelah God Ear mencoba untuk meraba-raba ke sesuatu benda yang membuatnya tersandung, ia menemukan suatu jalan yang tampaknya sedikit unik.


Graakkk!


Ia mendorong dinding yang memiliki celah ke arah kanan, dan membuka sebuah jalan baru. Mereka membagi tim dan akan berjalan di kedua jalan tersebut.


God Ear bersama Yongchun dan God Soul pergi ke jalan baru sedangkan sisanya berada tetap di jalan sebelumnya yang menuruni ratusan anak tangga.


Hitungan jam tak terhingga mereka menghabiskan waktu hanya untuk menelusuri tempat itu. Yang kemudian mereka menemukan sebuah jalan baru dan kembali mempertemukan mereka.


“Kita bertemu! Hei, God Ear! Kau bilang kau sudah masuk ke sini, 'kan?” tanya Romusha.


“Ya. Tapi jalannya berubah.” God Ear menjawab dengan sedikit lesu.


Ruangan yang masih berbentuk gua. Pijakan mereka membentuk lingkaran, dan ruangan itu cukup luas untuk disebut sebagai lapangan jika berada di luar.


Juga terdapat beberapa api yang menyala pada sebatang kayu yang menancap pada dinding goa. Hal itulah yang membuat mereka mengenali saat bertemu saat ini.


“Hei, tempat ini memiliki energi yang lebih besar dari awal pertama kita masuk,” ucap God Soul sembari menghentakkan kaki secara perlahan.


Tak ada perubahan sedikitpun kecuali aura pekat, energi yang dirasakan serasa berlimpah ruah mengelilingi sekitar mereka. Satu hal menarik bagi mereka, yakni sebuah ukiran di dinding goa yang terlihat sama.


“Dewa Hitam. Tubuhnya terkoyak dan menjadi beberapa bagian. Tangan, mata, tubuh bagian tubuh, ruh atau jiwa, akal atau pikiran serta bagian telinga dan mulut atau lidah?”


God Hand, Romusha bertanya-tanya apa maksud gambar yang barusan ia ungkapkan pada mereka. God Soul dan lainnya juga tampak kebingungan.


“Aku melihat hal yang cukup menyenangkan di sini.”

__ADS_1


Hanya saja saat itu, Yongchun dengan kedua mata dengan kobaran api hitam itu tampak mengerti akan sesuatu dan juga melihatnya.


“Apa yang kau lihat?” tanya God Ear.


“Aku melihat wujud jiwa itu tersambung denganmu, God Soul.” Yongchun menunjuk ke arah gambar dinding lalu beralih pada God Soul.


“Eh? Yang benar? Pantas saja aku merasa kekuatanku terasa berkali-kali lipat dari biasanya. Aku pikir karena penyembuhanku yang berkembang namun ternyata karena tempat ini?” God Soul tersentak.


“Tentu saja kau akan begitu, God Soul. Dewa Hitam, jiwanya ada padamu. Dan mungkin goa ini adalah tempat tinggal sementara dirinya diusir dari kahyangan.” God Ear menjelaskan.


“Yang kau katakan itu benar. Tapi kenapa tidak terjadi hal lebih dari ini?” Pikiran Dewa merasa tidak puas.


Namun suasana tiba-tiba menjadi hening dalam sekejap setelah perkataan darinya. Mereka yang semula memandangi dinding di depan justru beralih pandangan ke bawah. Tempat mereka berpijak.


Lantai yang terbuat dari bebatuan dan tanah itu memiliki sebuah gambar juga. Gambarnya tidak begitu jelas, dan terlalu tipis untuk dilihat.


Lantas mereka merasakan angin berembus. Entah dari mana asalnya namun ini terlalu aneh karena mereka berada dalam goa yang tak tersentuh dengan situasi di luar.


“Kalian merasakannya?” tanya God Ear.


Semua menganggukkan kepala lantas saling bertukar tatap satu sama lain. Angin itu kemudian menjadi sangat kencang dan menerpa pakaian mereka semua tanpa terkecuali.


Ia tidak muncul. Hanya sekadar ada namun tak kasat mata. Kerap kali ini disebut sebagai ruh, hantu atau jiwa.


Kekuatan hitam mereka muncul. Yang di mana mereka menggunakannya sebagai senjata. Tangan, mata, jiwa, telinga, dan pikiran itu terlihat menyatu dan kemudian menampakkan sekilas wujud dari sang dewa.


“Telah datang!”


Bruk!


Serentak mereka bertekuk lutut tanpa sadar. Menghadap sang dewa tak terbentuk dengan nyata namun kepekatan auranya bukan main. Serta bagian tubuh yang tak lengkap itu seolah lengkap karena penyatuan tenaga dalam serta kekuatan hitam mereka.


God Soul semakin tertegun, tak kuasa ia bangkit kembali lantaran tubuhnya terus bergemetar. Merinding sekaligus merasa ngeri terhadap-Nya.


Begitu pula dengan God Ear, Romusha, pikiran dewa serta Yongchun yang tidak pernah bertekuk lutut kini terjadi padanya secara paksa.


“Apa-apaan ini? Kekuatan absoult. Tingkat dewa tak teratur. Benarkah dia dewa yang dikutuk sehingga bagian tubuhnya terpencar-pencar hingga tertanam dalam tubuh kami?” Yongchun membatin.


Sruaaakkkk!!!


Gesekan angin membuat suara semakin keras dan menggaung tanpa henti. Goa itu bergetar seakan-akan runtuh tak lama lagi.

__ADS_1


“Lakukan sesuatu!”


“Kau g*la!”


Tak!


Kerikil berjatuhan ke lantai. Suara berisik, gaungan serta goa yang bergetar itu tak lagi terjadi.


“Sudah hilang?”


“Sepertinya begitu. Tapi lihat diri kita sendiri sekarang. Apa yang terjadi sekarang maka orang yang tidak ada di sini akan merasakannya.”


“Maksudmu Mulut Dewa?”


“Ya.” God Ear mengangguk.


Hal yang terjadi setelahnya pada mereka, telah sepenuhnya berubah dari yang sebelumnya.


“Aku merasakan tubuhku seperti pecah berkeping-keping. Ada apa ini sebenarnya?” Yongchun bertanya.


Sedangkan mereka tak lagi mengatakan sepatah kata pun. Lantas, angin mengelilingi mereka. Kekuatan yang mereka miliki kini bertambah usai kehadiran sang dewa hitam.


Tatkala di cuaca yang gelap, mendukung suasana yang berada di dalam. Hawa yang pekat namun suram, hitam itu identik dengan Dewa Hitam.


Dan mereka ber-5 merekonstruksi tubuh seiring berjalannya waktu. Di mana kekuatan mereka dilipat gandakan, tanda dewa hitam pun akan seutuhnya bangkit.


***


Setelah berlama-lama berada di sana.


“Ini rekontruksi tubuh? Mudah sekali,” ucap God Soul meremehkan.


“Jiwa dewa yang bersemayam dalam tubuhmu lah yang memudahkannya.”


“Haha itu benar! God Soul itu telur emasnya Dewa Hitam!” teriak Romusha seraya bangkit dari duduknya. Seketika tangannya diliputi api hitam.


“Aku benci kekuatan ini. Tapi aku tidak mau mati karena penyatuan tubuh-nya gagal!” teriak Pikiran Dewa dengan rambutnya yang seolah terbakar api hitam.


Mereka mungkin memiliki kekuatan yang sama. Namun yang terkuat adalah God Soul. Namun jika, ada yang membuat Dewa Hitam itu tertarik pada salah satu mereka. Maka posisinya akan berubah.


“Ya, benar.” Yongchun tersenyum tipis. Rasa penasaran akan kehadiran sang dewa semakin bertambah. Obsesinya terhadap kekuatan pun juga.

__ADS_1


__ADS_2