Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
087. Bertemu Dengan Rekan Gupta


__ADS_3

Kepergian Yongchun belum bisa dikatakan namun ini berkaitan dengan kekuatan Mata Dewa. Yang sebelumnya ia dapat mengerti, kenapa dirinya yang buta masih dapat melihat. Kini, Yongchun bisa melihatnya sempurna seperti saat sebelum ia kehilangan kedua mata.


Dan sebelum kepergiannya itu, Yongchun menemui Wang Xian sang Kaisar di Dinasti baru. Duduk layaknya seorang Kaisar serta penguasa wilayah, mungkin ia tengah menunggu kedatangan Yongchun hari ini.


“Wang Xian, kesepakatan kita akan berakhir jika kau sudah membalas budiku dengan mengirimkan apa yang dibutuhkan oleh para pendudukku di wilayah timur tengah.”


Wang Xian mengangguk lalu berkata, “Aku akan menepati janjiku. Terima kasih atas bantuanmu Mata Dewa yang terkutuk.”


“Kau menghinaku, ya?” pikir Yongchun merasa bahwa sebutannya itu terdengar mengejek.


“Asyura, aku ingin mengatakan satu hal padamu. Tentang tujuan Ming Guo, Kaisar kedua yang telah kau kalahkan. Dia memiliki niat untuk membunuhmu karena tahu kau adalah ancaman. Kau lah musuh bebuyutan Ming Guo yang sebagai Panglima Neraka,” tutur Wang Xian tanpa memperdulikan protes Yongchun.


“Hm, ya. Aku tahu. Tapi kenapa dia selemah itu?” tanya Yongchun dengan wajah tak peduli.


“Memang dia adalah Panglima Neraka. Mungkin kau telah bertemu dengan Niao, jadi kau tahu siapa Ming Guo sebenarnya. Kekuatan hitam yang tak jelas ini pun berasal dari neraka itu sendiri.”


“Jadi ...maksudmu kalau Ming Guo datang ke dunia manusia, dia akan melemah tak seperti di neraka tempatnya itu?” pikir Yongchun dengan logis. Karena Ming Guo dapat mudah dikalahkan olehnya.


“Ya, begitulah. Cukup bodoh untuk menguasai dunia ini sedangkan kekuatannya sendiri tidak efektif daripada saat dia ada di neraka,” ucap Wang Xian merendahkan Ming Guo.


“Pantas saja dia mencari antek-anteknya. Ternyata dia tidak bisa melawanku secara langsung. Itu menarik, tapi kenapa kau memberitahukan tujuan Ming Guo? Sedangkan aku sendiri pun bisa menebaknya,” sahut Yongchun.


“Di wilayah lain, ada beberapa orang yang seperti dirimu. Tidak hanya mempunyai tenaga dalam, beberapa orang ini juga memiliki bagian dari tubuh dewa yang terkutuk,” jelasnya mengenai kekuatan tersebut.


“Eh? Serius? Kupikir hanya aku saja ...” Yongchun tidak akan semudah itu percaya. Namun kalau melihat garis pantai, dunia itu cukup luas. Jadi hal yang aneh pun pasti ada juga di suatu tempat.


“Aku tidak bercanda. Itulah mengapa Ming Guo berniat menyingkirkanmu. Alih-alih, kau akan menguasai dunia sebelum dirinya.”


“Aku tidak punya ambisi semacam itu. Tapi tentang tubuh dewa yang terkutuk itu, aku mulai percaya karena aku merasakan kekuatan yang besar lainnya di wilayah lain,” tutur Yongchun seraya beralih pandangan ke arah luar.

__ADS_1


Wang Xian pun melirik ke arah yang sama namun tak dapat ia rasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Yongchun.


“Hei, apa hanya itu yang kau katakan padaku?” tanya Yongchun.


“Iya.”


Yongchun lantas tersenyum, seraya menoleh ke arahnya ia melempar sebuah kantung kecil berisi biji-bijian di dalamnya. Wang Xian agaknya terkejut saat melihat isi dari kantung.


“Kenapa kau memberikan ini?” Wang Xian bertanya dengan sedikit curiga.


“Itu benih. Akan tumbuh kalau kau menanamnya ke dalam tanah lalu menyiraminya dengan air. Dengan begitu benih akan tumbuh menjadi suatu tanaman yang akan kau mengerti nanti,” jelas Yongchun.


“Lalu—”


Wush! Terpaan angin membelakangi tubuh Wang Xian ketika Yongchun sedikit menarik bilah pedangnya selama beberapa waktu yang terhitung detik.


“Kalau begitu, jangan lupakan perjanjiannya. Lalu, wabah yang pernah terjadi di sini akan dibantu obati oleh Istri pertamaku, Relia. Misalkan dia berhasil membuat mereka pulih ke sedia kala, jangan lupakan imbalannya yang pantas,” ucap Yongchun sekali lagi menegaskan.


Dari perkataannya itu justru terdengar seperti ia adalah seorang pedagang. Wang Xian hanya terdiam dengan mengingat semua yang dikatakan olehnya setelah berbalik badan dan pergi begitu saja.


Benih tumbuhan itu telah sampai ke tangan orang yang membutuhkan. Karena bekas-bekas kerusakan dari segala tempat, meski memang tidak sepenuhnya salah Yongchun, ia masih berpikir bagaimana penduduk timur laut akan hidup nanti kalau semua ladangnya rusak.


Karena itulah, Yongchun memberikan benih-benih itu dalam satu kantung kecil. Dan kemudian Wang Xian memberikannya kepada para penduduk yang bercocok tanam. Hingga salah seorang petani itu teringat sesuatu pada benih tersebut.


Tampak ia menduga-duga bahwa benih ini berasal dari seseorang yang ia kenali. Ia pun menemui Wang Xian dengan tergesa-gesa dan berharap dapat ditemukan oleh si pemberi benih itu. Tapi Wang Xian hanya menggelengkan kepala tanda bahwa orang itu berkemungkinan besar sudah lama pergi.


Karena kecewa, ia pun hanya bisa menghela napas panjang seraya melangkahkan kaki tuk keluar dari Istana Wulan. Jika saja ia bertemu dengan pemberi benih itu, maka ia sudah cukup senang.


Hingga suatu ketika, dirinya bertemu dengan seorang pria dengan pakaian lusuh sembari menutup penglihatannya dengan telapak tangan. Tampak ia sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


“Kau sedang cari apa?” tanya petani itu.


“Oh, tidak. Aku hanya berusaha untuk menemukan sehelai kain untuk menutup mataku,” jawabnya.


Petani tersebut pun memberikan sehelai kain yang ia punya dari yang sebelumnya diikat di pinggang. Memberikan kain itu padanya dan berharap tidak akan masalah.


“Terima kasih.”


Segera pria itu mengikatnya dan petani tersebut pun mulai teringat suatu hal lagi. Yakni pria ini adalah Asyura. Ia pun mengalihkan pandangan ke sisi pinggang dan melihat adanya dua pedang, menambah kepastian bahwa orang ini adalah Asyura.


“Asyura, Raja Pendekar?”


Sontak terkejut. Yongchun sesaat terdiam sebelum akhirnya pergi. Ia lantas menoleh ke samping dan bertanya siapa dirinya.


“Maaf sebelum itu apa kau tahu di mana orang yang memberi benih ini pada wilayah timur laut?”


“Benih itu aku yang memberinya. Ada apa?” Yongchun berbalik tanya.


“Kalau begitu di mana Gupta? Apakah dia baik-baik saja? Sudah bertahun-tahun aku mencarinya tapi karena aku mudah tersesat jadi aku terjebak di sini,” tuturnya dengan wajah sedih.


Seketika Yongchun tak bisa membuka mulutnya untuk bicara. Diam membisu dan berpikir apa yang harusnya ia katakan pada orang yang ada di hadapannya ini.


“Hei, katakan!” Petani itu terus memintanya agar menjawab.


“Maafkan aku. Gupta sudah tiada 5 tahun yang lalu. Dia meninggalkan kami semua saat peperangan saudara berakhir.”


Petani ini adalah rekan Gupta yang juga berada di wilayah yang sama. Laut Hindia, itulah tempat yang menjadi tanah air mereka sebelum memutuskan pergi wilayah lain.


Namun, takdir tidak lagi mempertemukan mereka berdua. Gupta sudah lama tiada, saking terkejutnya ia jatuh bertekuk lutut tak berdaya dengan menangis tersedu-sedu. Yongchun hanya diam setelah mengatakan sejujurnya, sambil menahan rasa pahit di lidah. Karena kesalahannya lah membuat Gupta, teman mereka harus tiada.

__ADS_1


__ADS_2