
Kedatangan Yang Jian dengan Yin Ao Ran yang tiba-tiba muncul di hadapan Yongchun ternyata bukanlah suatu kebetulan. Mereka ada karena suatu perintah dari pemimpin kultus teratas, Wang Xian.
“Wang menyuruh kami untuk memburu musuh yang berasal dari wilayah lain. Harusnya kau tahu kedatangan kami berkat Mata Dewa yang terkutuk itu,” ucap Yang Jian. Tak sekalipun ia melepas tatapan yang sinis itu kepadanya.
“Aku tak menyangka kalau Pemimpin Wang akan mengatakan hal ini pada mereka. Apakah dia sendiri yang mengatakannya atau karena Kaisar Ming? Tapi kenapa tiba-tiba sekali.”
“Kau tak berniat mengatakan sepatah kata pun, Asyura?”
Diam menggertakkan gigi geraham, Yongchun terduduk seraya menekan luka yang ia derita.
“Kalau kalian sudah tahu aku siapa. Lantas sebelum ini, apa yang dikatakan Pemimpin Wang tentangku pada kalian?” tanya Yongchun.
“Aku tahu. Pemimpin Wang menyebutmu sebagai kerabat jauhnya. Tapi mendadak sekali dia mengatakan bahwa kau ini sebenarnya penguasa wilayah timur tengah. Tak mungkin dia beralasan diancam olehmu yang hanya berstatus di wilayah luar. Namun aku punya alasan lain,” ungkap Yang Jian seraya ia menunjuk ke arah kedua mata Yongchun.
Yang berisyarat bahwa Yang Jian mengincar Mata Dewa itu. Sama seperti Yin Ao Ran, ia mengincarnya agar bisa dilenyapkan dari muka bumi ini.
“Aku mengerti. Tapi bukankah ini ...uhh.”
Kalimat Yongchun terpotong, darahnya mengalir kian deras membanjiri salju. Napasnya semakin berat, ia mulai terkulai lemas.
“Ah, aku yakin kau pernah diracuni oleh seseorang. Tapi tenang saja, berkat Mata Dewa pasti kau akan pulih nanti.”
Yang Jian terang-terangan mengatakan telah meracuni Yongchun lewat sebilah pedang miliknya.
“Apa maksudmu dengan Mata Dewa? Aku masih tidak mengerti. Pemimpin Xie bilang bahwa ini ada karena aku telah membunuh banyak orang. Hasil dari itu, harusnya aku mendapatkan berkah, kedamaian atau apalah itu. Tapi itu tak terjadi ...” ucap Yongchun semakin lirih.
“Ya. Mata Dewa adalah berkah sekaligus kutukan. Jika ingin mendapatkannya maka harus membunuh banyak orang, tak peduli itu siapa. Dengan begitu hidupmu aman, harta berlimpah dan hal lainnya.”
“Dan aku tak pernah mendapatkan hal semacam itu, Pemimpin Yang! Apakah kau berniat membunuhku, jika iya maka lakukan lah! Aku tak keberatan! Jadi cepat lakukan!” jerit Yongchun, membuka lebar celahnya dan bersiap akan dibunuh oleh mereka.
__ADS_1
Tetapi mereka tak bergerak dari posisi saat ini. Mereka hanya terdiam memandangi Yongchun seolah ia hanyalah seongok kotoran belaka.
“Apa yang kau rencanakan di wilayah kami?”
Aura yang memancar dari tubuh Yongchun keluar begitu pekat. Warna hitam legam itu mengelilingi tubuh layaknya melindungi sebagai perisai hidup. Tatkala butiran salju turun kembali pun dihanguskan seolah kepekatan auranya adalah sumber terpanas.
Melihat serta merasakan hal tersebut. Pemimpin Yin dan Yang terdiam sejenak dalam perasaan bergidik. Ketakutan mereka terlihat begitu jelas. Inilah yang akan terjadi saat mereka mengusik diri Yongchun.
“Kau menunjukkan wajah aslimu, ya. Berani-beraninya kau datang kemari. Tapi selain kau, ada yang harus aku urus. Jauh lebih besar ancamannya daripada kedatanganmu,” tukas Yang Jian.
“Hei, aku tak mengira akan mengatakan hal ini pada orang yang belum tentu kupercayai. Aku datang kemari karena wilayahku dilanda kemiskinan dan hendak menyatukan negri timur dengan syarat dari Kaisar Ming sendiri. Aku melakukannya jika itu tanpa perang, aku melakukannya demi wilayahku. Puas?”
Yongchun dengan jelas mengatakan apa tujuan ia kemari. Yang Jian mendesah lelah, keningnya kembali berkerut dengan tubuh yang sedikit gemetaran karena aura yang terpancar dari tubuh Yongchun.
Sesaat ia mengalihkan pandangan ke arah Pemimpin Yin lalu menoleh ke arah Yongchun.
“Aku tahu. Aku tahu apa tujuanmu. Semua yang mengatakan ini adalah Wang Xian. Dan kau pasti berpikir telah dikhianati olehnya setelah aku dan lainnya tahu siapa dirimu.”
“Ya, jika kau benar-benar menjadi ancaman. Asyura, selama ini kau berada di kediaman Wang yang sudah tahu siapa dirimu sebenarnya. Bahkan dia juga memperlihatkan kekuatanmu pada kami, seolah mencoba tantangan baru,” ucap Yang Jian berjalan menghampirinya.
Crak!
Perlahan kepekatan aura di tubuh Yongchun melemah, ia berdiri dengan menjatuhkan sebilah pedang berdarah. Luka yang ia dapat sebelumnya pun telah menghilang.
“Apa maksudmu?” Masih ia menahan amarah, Yongchun menarik kerah pakaian Yang Jian.
“Kau itu termasuk orang yang berbahaya semenjak perang saudara yang ada di wilayah timur tengah telah berakhir. Namun di sini, selain Kaisar Ming yang mengaitkan umpan dengan harta, Wang Xian yang mengincar takhta itu juga tak dapat dipercaya,” ucapnya tanpa memberontak dengan apa yang Yongchun lakukan padanya saat ini.
Di bawah cahaya rembulan, mereka sudah dihujani oleh salju. Kedinginan yang didapat membuat tubuhnya menggigil. Hembusan napas pun terasa sangat dingin, seolah akan beku saat ini juga.
__ADS_1
Perlahan emosi Yongchun mereda. Ia pun melihat aura kebajikan mengelilingi diri Yang Jian. Berbeda sekali dengan aura milik Yin Ao Ran yang senada dengannya.
Orang ini tidak berbohong. Tidak seperti Kaisar Ming yang saat itu menatap dan mengatakan bahwa ide menyatukan negri timur itu cukup menarik.
Meski ekspresi yang Yang Jian perlihatkan pada Yongchun itu adalah kebencian namun semua perkataan yang dilontarkan bukanlah suatu kebohongan.
Secara tak langsung Yang Jian mengatakan bahwa dirinya tak percaya dengan Pemimpin Wang. Tapi bukan berarti akan melepaskan Mata Dewa begitu saja.
Konon, cerita dari Mata Dewa yang terkutuk itu berasal dari aliran iblis yang sesat. Semua orang membenci akan hal itu.
“Kita sama-sama memiliki musuh yang sama,” tutur Yang Jian.
Helaan napas, detakan jantung tak beraturan, lalu kehampaan yang ia rasa kini mulai sirna.
Bahwa jika mempercayai seseorang maka belum tentu berhak bisa dipercaya seutuhnya. Akan tetapi, lain hal sebaliknya, kalau sejak awal seseorang menunjukkan sikap baik dan buruk secara langsung itulah yang mungkin dapat dipercaya. Meski orang itu adalah lawannya.
Datang pengikut Yin dari atas gunung. Mereka melaporkan sesuatu hal buruk telah terjadi di bawah sana. Suara kebisingan itu tak jelas tapi Yongchun merasakan aura kebencian yang luar biasa itu berkumpul menjadi satu.
“Kau ingin menyatukan negri timur agar wilayahmu tak dilanda kemiskinan dengan bantuan timur laut, bukan?” Pandangan Yang Jian mengarah ke hal yang sama seperti Yongchun. “Apa kau rela menyatukan wilayahmu dengan timur laut sedangkan saat ini ada banyak peperangan yang tak bisa dihindari oleh kekaisaran sendiri?” ujar Yang Jian.
Rupanya aura kebencian dan kebisingan itu ada karena para pemberontak kekaisaran mulai bergerak malam ini.
“Suatu saat nanti aku akan membunuhmu. Setidaknya setelah semua masalah di sini selesai. Kau ingin bekerja sama denganku?” tanya Yang Jian seraya mengulurkan tangan.
“Itu hanya ada beberapa pemberontak saja,” ucap Yongchun.
“Mereka sebenarnya ada ribuan. Hanya belum muncul saja.”
Sedikit tersentak ia mendengar bahwa para pemberontak ternyata tidak hanya beberapa atau hanya sekadar puluhan melainkan ribuan.
__ADS_1
Yongchun pun menerima jabat tangan tanda kerja sama telah terbentuk.