
Festival yang akhirnya ditunggu-tunggu pun akan tiba sesaat lagi. Senja dengan matahari yang sebentar lagi terbenam, banyak orang yang sudah sibuk ke sana kemari untuk mempersiapkan festival hari ini.
Begitu juga dengan para pemberontak yang siap siaga menunggu festival itu dimulai. Nia, Relia, Bing He dan para pemimpin kultus 7 surgawi yang tersisa juga tengah menunggu hari ini.
Hari kebebasan?
“Aku ingin tahu ...kenapa festival tetap diadakan di saat penguasa bengis itu masih berkeliaran di sekitar kita?” tanya salah seorang pendekar dengan mendengus kesal.
“Yang Mulia sudah bilang, para pendekar tahap nirwana selain Kultus 7 Surgawi sudah pergi ke wilayah timur tengah. Lihat saja nanti, mereka akan mati mengenaskan lalu merengek, "Kenapa aku memiliki pemimpin tidak bertanggung jawab?", lalu menangis tersedu-sedu haha ...” Salah satu temannya pun tertawa setelah mengoceh panjang lebar.
“Haha sungguh menghibur perkataanmu itu. Tapi bagaimana dengan para pemberontak?”
“Para pemberontak hm ...aku tak bisa bilang kalau kita akan aman setelah Yang Mulia Kaisar berhasil meluluh-lantahkan timur tengah. Tapi masa' iya kalau mereka akan bergerak lagi? Di malam ini?” pikir pria berkumis tipis dengan wajah serius.
“Sudahlah, lama-lama aku ingin keluar dari sini. Cepat pasang lampion itu di sana!”
Beberapa lanturan berupa singgungan sejenis pun mulai menyebar ke mana-mana. Banyak orang yang sudah keluar alih-alih membantu.
Juga, sudah ada beberapa pemberontak yang sudah menyusup ke sana seraya membantu mereka. Dalam diam dan menunjukkan senyum ramah, seolah-olah bagian dari penduduk itu.
Bagi mereka itu sangatlah mudah. Tak terkecuali dengan Yongchun, ia kini pun tengah menyamar dan berkeliling ke sekitar pemukiman penduduk.
“Hei, apa festivalnya akan dilakukan di malam hari?” Yongchun bertanya pada salah satu penduduk biasa di sana.
“Iya, tentu saja. Oh, ya. Ngomong-ngomong kau berhati-hatilah saat festival sudah dimulai. Karena kita tidak ada yang tahu kapan orang-orang itu akan muncul.”
Yongchun berdeham sementara ia berpikir apa maksud dari perkataannya.
“Bisa kau jelaskan lagi?” Kemudian ia kembali bertanya.
Sontak pria itu pun semakin jengkel menanggapi Yongchun. Menghela napas panjang lalu menjawab, “Siapkan senjata apa pun asal tidak kelihatan banyak orang. Yang Mulia Kaisar juga sudah bilang, kalau festival nanti mungkin akan terjadi kegaduhan. Kau ini bagaimana sih!” ketus orang itu.
__ADS_1
“Apakah yang akan menyerang para pemberontak?”
“Mana aku tahu!”
“Di luar dugaan, Kaisar Ming hanya menyuruh mereka untuk waspada. Tapi tidak bilang langsung kalau yang datang nanti adalah para pemberontak? Yah ...mereka juga pasti akan sadar sendiri karena satu-satunya musuh yang perlu diwaspadai adalah mereka,” batin Yongchun.
Malam pun tiba. Lampion-lampion berwarna merah terpasang di setiap jalanan hingga malam pun terlihat sangat berwarna. Malam dengan rembulan penuh, tahun baru yang dinantikan telah tiba. Nampak banyak orang telah keluar dari rumah mereka. Bersenang-senang dengan bebas tanpa hambatan.
Alunan suara dari alat musik petik, kecapi yang dimainkan pun terdengar sangat indah. Berbagai orang datang dengan wajah bahagia.
Termasuk halaman istana yang dipenuhi kalangan pendekar kelas mencapai tahap nirwana. Kaisar beserta keluarganya pun ikut keluar. Sosok dari para penduduknya pun hadir berbondong-bondong. Menyapa Kaisar mereka yang agung.
Halaman Istana begitu megah hingga rasanya banyak penduduk datang kemari pun masih terlihat sangat sepi.
Tak hanya mereka, bahkan Wang Xian, Xie Xie dengan Lin Lin lalu Yin Ao Ran telah datang ke halaman istana. Tak lama kemudian disusul oleh Nia dan Relia.
Malam itu, dipenuhi oleh kegembiraan dengan makan dan minum yang telah disediakan. Tapi tidak dengan Yongchun, kini ia sedang menyelinap masuk ke istana.
Tap! Langkah kaki yang pelan namun masih dapat didengar. Siluet dengan rambut hitam diterpa angin juga dapat dilihat. Oleh seseorang.
Sosok tersebut ialah Yongchun, pria ini mengetahui keberadaannya dengan jelas. Padahal aura yang ada di dalam tubuhnya sudah ditekan dengan kuat persis yang sudah ia pelajari saat berada dalam neraka.
Kemudian melangkah pelan menghampiri. Lantas duduk berjongkok seraya melihat wajah dari pendekar tersebut.
“Ampuni aku, Pemimpin Yongchun!” pintanya sekali lagi.
“Apa kau adalah bagian dari Sekte Tinju Besi milik Pemimpin Zhao?” tanya Yongchun.
“Ya! Benar!”
“Kenapa kau ketakutan begitu? Aku tidak akan membunuhmu. Hanya saja ...” Yongchun kembali berdiri tanpa melepas tatapan sinis kepadanya.
__ADS_1
“Tunduklah padaku,” sambung Yongchun. Seketika tubuh pendekar tersebut bergidik merinding.
Bukan karena angin malam yang bertiup melainkan sepatah kata Yongchun yang berisi sebuah perintah mutlak. Tak mampu ia mengangkat kepala apalagi mengatakan sepatah kata pun lagi.
“Maksudku ...kenapa kau menundukkan kepalamu begitu? Apakah aku sebegitu menyeramkannya?”
“Ti ...tidak. Pemimpin Yongchun, kami, ah tidak. Mungkin saja hanya aku yang merasa begini tapi tolong ampunilah aku dan bunuhlah Kaisar Ming!” Suaranya bergetar, tampak ia masih ketakutan karena sosok pria tersebut.
Yongchun pun mendesah lelah, segala perkataan yang keluar dari mulut si pendekar ini adalah sebuah tanda bahwa ia sedang meminta pertolongan.
Namun, sebaris kalimat yang terakhir sedikit mengejutkan bagi Yongchun. Tak ia sangka bahwa ada seseorang yang kian membenci Kaisar Ming selain pemimpin kultus dan para pemberontak.
“Kau takut dengan Kaisar Ming?”
“Y-Ya. Tetapi ...”
“Tetapi kau tak mampu membunuhnya, ya. Ah, sayang sekali. Hanya instingmu saja yang liar tapi kemampuanmu tidak sebanding dengan bawahan Zhao yang lain. Apa kau bertugas untuk mengawal Kaisar Ming?”
“Be-benar. Tetapi saya terlambat bersiap jadi harus segera ...”
“Aku pinjam pakaianmu,” ucap Yongchun memotong kalimatnya. Sedikit membungkukkan badan selama beberapa waktu singkat dan kemudian berbalik badan lantas pergi.
Bruk! Tubuh pendekar tersebut pun ambruk seketika. Tubuhnya bergemetar kuat dan setelah beberapa saat ia menutup mata lalu tak sadarkan diri.
Tap ...tap ...
“Kupikir semua yang seringkali mengawal Kaisar Ming bersungguh-sungguh terhadapnya. Tapi ternyata tidak, ya.”
Saat itu Yongchun tidak tahu. Sesaat setelah ia dijatuhkan neraka, para pendekar istana yang sebelumnya ada di dalam ruangan pun mati terbunuh. Dan kejadian tersebut pun dilihat oleh salah seorang. Menjadi saksi atas kejadian tersebut secara kebetulan, ia pun berniat akan pergi namun sudah tak bisa.
Kehidupan keluarganya terancam oleh Kaisar Ming, apalagi dengan tidak adanya keberadaan Zhao Yun di Sekte Tinju Besi menjadikan mereka sebagai sasaran empuk.
__ADS_1
Berbeda dengan Li Bai, Sekte Rumah Bambu. Dari awal mereka memang tidak pernah ketergantungan dengan pemimpin mereka. Kalaupun mereka akan diperintah Kaisar Ming, menolak atau tidak adalah hal yang sama bagi mereka.
Kini, Festival Lentera dimulai. Dimeriahkan suasana periang dengan warna serba merah di mana-mana.