Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
091. God Hand Imitation


__ADS_3

Banyaknya gerbang berwarna merah mengarah ke atas bukit, suatu tempat yang membuat Yongchun menjadi tertarik. Tidak terfokus dengan sekitarnya, ia justru melangkah dan berniat akan pergi ke gerbang merah itu.


Aura yang unik dengan selaput kebiruan itu pun menjulur keluar di antara para gerbang dan puncak bukit. Tertarik akan hal tersebut, Yongchun pun secara tak sadar sudah menginjak tanah di sana. Tanah yang keras namun lembut ini, memang mengarah secara langsung ke atas.


Mendaki bukit tak membuat kedua kakinya melemah bahkan setelah berkeliling hingga menyasar ke satu tempat ke tempat lainnya. Terus melangkah seraya ia menengadah dan mengeratkan genggamannya pada kedua pedang yang terselip di pinggang.


Angin yang dirasakan mulai terasa sedikit, sesaat ia merasa sesak karena tekanan udara. Atau mungkin karena aura kebiruan inilah yang membuatnya tertekan sedikit demi sedikit seolah mengikis jiwanya.


“Sebenarnya ada apa di atas?” gumam Yongchun yang tetap berjalan dan perlahan ia mempercepatnya dengan berlari sampai napasnya semakin berat.


Drap! Drap! Kedua kaki Yongchun terlihat gemetar, tapi hanya segini takkan membuat ia rubuh. Aura ini tidak sebanding dengan neraka yang pernah ia lewati.


Ketika sampai di gerbang terakhir, ia mendapati sebuah tempat. Disebut sebagai Kuil karena tempat yang seperti rumah itu adalah milik dewa, katanya begitu.


Tetapi, perhatiannya kembali terfokus ke satu titik. Di mana aura kebiruan ini tertuju pada salah seorang yang tengah mengatupkan kedua tangan dan berdoa di depan kuil.


“Permisi, apa kau pemilik tempat ini?” Yongchun bertanya namun pertanyaannya itu tidak dijawab olehnya.


Pria itu mempunyai tubuh yang sangat besar hingga melebihi Zhao Yun. Tampak setelah ia berdoa, ia kemudian berjalan dan masuk ke dalam kuil dengan menundukkan tubuhnya.


“Apa kau bisa mendengarku?” tanya Yongchun sekali lagi. Ia berupaya menyapanya dengan berbagai cara namun tak sekalipun direspon.


Tetapi, tak berselang lama saat setelah Yongchun berbalik badan, pria itu kemudian memanggilnya.


“Kau yang di sana!”


Karena terkejut, reflek Yongchun menoleh ke belakang dan mendapati pria itu meresponnya. Terlalu lambat ia merespon sehingga membuat Yongchun jengkel. Terbesit dalam benaknya, ia hendak mengabaikan pria tersebut.


“Huh, orang ini tuli atau memang tidak sadar aku kemari ya?” pikir Yongchun membatin dengan kening berkerut.

__ADS_1


“Hei, tunggu sebentar!” Pria itu menepuk pundak Yongchun. “Kau kemari sepertinya ada urusan denganku,” pikirnya dengan wajah berseri-seri.


Yongchun berbalik badan dan menghadap pria yang sebesar raksasa ini. Melihat dari atas ke bawah dan merasakan auranya kian melemah.


Semula bersemangat, lantas pria ini mendadak jadi sangat terkejut saat melihat perawakan Yongchun. Melihat ia buta tapi tidak bisa dikatakan sepenuhnya buta.


“Kau ...God Eye?”


God Eye atau Mata Dewa itulah yang barusan disebutkan. Entah kenapa terasa ada sesuatu yang lebih, keduanya mulai merasakan permusuhan. Mereka pun menjaga jarak beberapa langkah.


“Siapa kau?” tanya Yongchun.


“God Eye, kah. Tak kusangka ide ini bisa memancingmu. Ternyata masih sangat polos rupanya.” Pria itu bergumam diselingi tawa menggelitik.


“Hei!”


“Ah, maaf. Sebelumnya perkenalkan aku adalah God Hand, Shira. Sepertinya kau telah sampai kemari, apa kau mencoba ingin melawanku? Kita sama-sama pemilik tubuh dewa, harusnya kita dapat saling mengimbangi kalau soal kekuatan bukan?” pikirnya dengan mudah. Pria yang menyebut dirinya sebagai God Hand atau Tangan Dewa bernama Shira itu kembali bersemangat.


Sembari berwaspada, Yongchun menarik kedua pedangnya. Mengangkat dan ditujukan pada Shira seorang. Takkan ada kesalahan dari sepatah dua kata yang terucap, kalau sudah ditantang Yongchun takkan ragu.


Terutama pada orang-orang yang menganggap dirinya sebanding dengannya.


“Karena kau sudah memperkenalkan dirimu dengan baik. Maka aku akan memperkenalkan diriku. Yongchun si manusia dengan Mata Dewa yang Terkutuk,” ucap Yongchun dengan seringai tipis.


“Itu bagus.”


Shira juga takkan main-main. Dari tangan kanannya mulai berubah menjadi warna keemasan. Tangan yang besar dengan jari jemari yang panjang dengan kuku tajam itu diperoleh dari kekuatannya.


Sama seperti nama God Hand. Ia memiliki kekuatan dari Tangan Dewa. Sebagai sesama pemilik tubuh dewa, pertarungan ini jelas akan membekas sampai melukai jiwa.

__ADS_1


Syatt! Yongchun melesat begitu cepat, dengan jarak sedekat itu mana mungkin ia rela membiarkan celah besar diluapakan begitu saja. Kedua pedang itu ia ayunkan secara melingkar mendatar. Menyayat perut Shira dengan dua luka. Darahnya pun mengalir dengan deras.


Sesaat setelah menyerangnya, ia melompat mundur dan menjaga jarak. Tepat saat Shira hendak membalas serangan.


“Sekuat apa pun, taktik juga masih dibutuhkan. Benar?” sindir Yongchun.


Ketika Shira membuat langkah ke depan, Yongchun merebutnya dan membuat ia terdiam mematung. Gerakan itu terlalu cepat untuk diikuti Shira.


“Dia sangat cepat. Apa dia mempercepat seluruh tubuhnya dengan kekuatan itu?”


Yongchun melancarkan serangan, tebasan melingkar dari bawah ke atas dan kemudian melakukan hal sebaliknya. Tanpa jeda dan tidak memperlihatkan sedikitpun celah, Shira dibuat tak berkutik.


Jejak pedang terbuat dari tanah. Tak hanya itu, Yongchun menggunakan tenaga dalam untuk memperkuat bagian bawah tubuh. Salah satu kakinya mendorong tubuh Shira hingga masuk ke dalam kuil yang terbuka lebar.


Shira mendapat pukulan keras sekali lagi. Bahkan sama sekali ia tidak bisa membalas serangannya. Namun Yongchun kali ini berdiam diri dengan aura pekat yang kian membesar dan membara dengan kedua pedangnya yang diselimuti oleh api hitam.


Seolah-olah memberikan celah kecil untuk Shira. Shira kembali bangkit dan merasa diremehkan ia pun melesat ke arahnya. Memakan umpan yang dipancing.


Segera Shira mengulurkan tangan besar bercahaya keemasan, tepat ke wajah Yongchun. Ia mencengkram kuat hingga kepala Yongchun membentur tanah menimbulkan jejak.


Tapi Yongchun sama sekali tak terluka. Ia justru tersenyum melihat Shira yang benar-benar polos. Tak disangka Yongchun akan bertemu amatiran dalam pertarungan tanpa aturan.


Salah satu pedang miliknya dengan cepat ia gerakkan. Bilah pedang itu mudah menggores leher Shira yang kini masih mencengkram wajah Yongchun.


Darah mengalir dengan derasnya hingga membanjiri tubuh mereka berdua. Terlihat tangan Shira kian bercahaya, segera ia bangkit meninggalkan Yongchun dengan cakaran pada tubuhnya.


Sangat sakit ia rasa, cakaran dari tangan besar Shira benar-benar menimbulkan dampak. Terutama bagian wajahnya yang sempat dicengkeram, wajah Yongchun sempat membiru.


Api hitam masih membaluri dua pedangnya, beberapa kali mengayunkan tuk menyerang Shira tapi Shira kali ini dapat bertahan dengan menangkis setiap serangan.

__ADS_1


Hingga ketika, kedua serangan mereka sama-sama dihentikan. Saling mendorong dan berusaha menyerangnya lagi. Tapi, api hitam itu mulai berkumpul dan meninggalkan pedangnya.


Menjadi beberapa bagian yang kemudian mengudara tepat di atas kepala Yongchun. Perlahan api hitam merubah wujudnya menjadi pedang bayangan, kemudian menyerang Shira secara bersamaan. Pedang-pedang bayangan tersebut pun menusuk setiap bagian tubuh Shira.


__ADS_2