
“Kak Relia!!”
Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama Relia di tengah-tengah keramaian. Gadis itu Nia, istri kedua Yongchun (Asyura). Napasnya terengah-engah hingga akhirnya sampai juga ke sisi Relia si istri pertama.
Nia mengenakan hanfu karena itulah ia sulit tuk menerobos keramaian tersebut. Relia menghela napas lalu menoleh ke arahnya.
“Dari mana saja Nia?” tanya Relia.
“Aku dipaksa memakai pakaian panjang begini. Sangat tidak cocok untukku,” keluh Nia dengan napas berat.
“Itu cocok untuk Nia.” Relia memuji. “Lalu, bagaimana dengan suami kita? Nia sudah menemukan keberadaannya?” tanya Relia dengan wajah cemas namun masih terlihat datar.
Sebelum menjawab Nia menghirup lalu membuang napas dalam-dalam. Kemudian membenarkan posisi berdiri tegapnya seraya merapikan hanfu yang ia kenakan.
“Nihil, kak. Aura yang biasa dia keluarkan benar-benar lenyap. Apakah terjadi sesuatu yang buruk padanya?” pikir Nia yang sedih.
Relia menepuk ujung kepala Nia dengan lembut. Tersenyum tipis memandangnya lalu berkata, “Dia adalah pendekar yang kuat. Percayalah, hari ini adalah ...hari terakhir kita datang kemari.”
“Kehancuran Kaisar Ming,” gumam Nia berwajah serius.
Hari yang telah dinantikan bagi orang-orang luar. Terutama untuk beberapa orang yang sudah muak dengan Kaisar Ming. Festival Lentera adalah hari terakhir bagi Yongchun dan lainnya menginjakkan kaki ke tanah mereka.
Penentuan terberat.
“Hei, kak Relia!” panggil Nia sekali lagi. Ia kemudian mendekat dan berbisik, “Apa aku boleh bergerak duluan?” tanya Nia sekaligus berharap.
Merasa tidak aman, Relia pun menggandeng tangan Nia dan mengajaknya ke suatu jalan yang sepi akan keramaian.
“Jangan bicara keras-keras. Relia tahu, Nia menantikannya. Namun suami kita menyuruh kita bergerak saat dia datang, bukan?” ujarnya menjelaskan.
“Hm, begitu? Tapi kalau menunggu itu membosankan sekali. Kalau bisa aku ingin menghabisi para pendekar yang ada di sisi Kaisar itu,” ucap Nia sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1
“Kalaupun kita mendapat bagian,” kata Relia mengalihkan pandangan dan sedikit menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Hah, benar juga. Kalau begitu kita harus berwaspada saja, ya?” sahutnya menghela napas.
Langit malam dengan kabut muncul. Walau hanya sebentar saja, kabut di langit itu pun bergeser dan menampakkan cahaya dari sinar rembulan penuh. Semua orang menengadah ketika lentera mengudara di langit.
Di sisi Kaisar Ming, terdapat tiga putrinya yang ikut. Kecuali Yuze, putra tertuanya sedang dikurung di bawah tanah karena kejadian sebelumnya.
“Mari kita ikut menerbangkan lentera?”
“Benar juga. Kita jarang keluar, mari kita manfaatkan hal ini,” ucapnya lantas pergi bersama.
Dua kakak perempuan Yu Jie memang sejak kecil sangatlah akrab. Berbeda dengan Yu Jie, ia tetap sendirian dan hanya berdiri membelakangi Ayahnya.
“Yu Jie, apa ada sesuatu yang kau khawatirkan?” tanya Kaisar Ming berbisik serta memanggilnya untuk mendekat.
Langkah Yu Jie mendekat padanya pun masih terasa ragu. Ada rasa cemas namun tidak bisa diungkapkan secara langsung.
“Jangan kaku begitu. Panggilah aku sebagai Ayah karena sebentar lagi kau akan meninggalkanku, bukan?” tuturnya membuat Yu Jie bingung.
“Apa maksudnya?”
“Kau akan menikah dengan penguasa wilayah timur tengah,” ucapnya meringis. “Kalau dia selamat,” sambung Kaisar Ming dengan lirih.
“Ayah ...apa benar begitu?” Suara Yu Jie terdengar sangat lirih hingga Ayahnya tidak mendengar. Ia gemetar tanda tak berdaya, dan menahan emosi dengan menyatukan kepalan tangannya di bawah.
Salah seorang pengawal pendekar yang terakhir akhirnya datang. Bersuara serak memanggil Pemimpin Yin dari belakang.
Yin Ao Ran sontak terkejut dengan tubuh pendekar itu yang berlumur darah. Lalu mendekat padanya.
“Apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Pemimpin Yin, ada seseorang yang memanggil Anda. Dia menunggu di belakang gunung,” jelasnya dengan napas lemah.
Kaisar Ming yang mendengarnya pun sesaat menoleh ke belakang. Dengan wajah kusut ia memberi perintah. “Pemimpin Yin, itu pasti dia. Jangan biarkan dia lolos.”
“Tapi, Yang Mulia Kaisar Ming ...Anda ...” Tutur Yin meragu akan perintah Kaisar Ming. Hendak menolak namun tatapan sengitnya membuat ia enggan mengatakan sepatah kata pun lagi.
Pemimpin Yin menunduk hormat lalu pergi sesuai perintahnya. Dalam benak, Yin mungkin sedikit khawatir kalau Kaisar Ming ditinggal tanpa ia di sisinya. Sebab, Yin tahu kalau hanya penjagaan dari pengawal pendekar tidak akan cukup tuk mengantisipasi serangan dari Yongchun.
Apalagi rencana yang sudah dirancang olehnya tak ada sedikitpun yang berubah. Hal itulah mengapa Pemimpin Yin merasa janggal dan sedikit aneh. Tapi karena Kaisar Ming memberi perintah untuk menemui seseorang itu, mau tak mau ia pergi dan diam-diam melepaskan bayangan di sekitar Kaisar Ming.
Tak berselang lama Pemimpin Yin pergi dan menjauh dari Istana Wulan. Sorak-sorai dari arah kejauhan terdengar begitu keras, samar-samar para pengawal pendekar serta Kaisar Ming merasakan kehadiran para pengguna Seni Iblis.
“Yang Mulia Kaisar! Dari arah barat, para pemberontak kembali datang menyerbu para penduduk dan sedang menuju kemari!” Salah seorang pendekar melaporkan.
Kaisar Ming geram, wajahnya menandakan ia kini kesal karena ulah para pemberontak.
Suara jeritan juga tidak ada habisnya. Sebagian dari para pemberontak juga ada dan berbaur di antara penduduk sehingga sulit untuk dikontrol. Pendekar yang berada di pihak Kaisar Ming secara lugas mengerahkan kekuatan, seperti yang diduga pendekar tidak sedang menggenggam pedang. Namun para penduduk lah yang menyelipkan senjata dari balik baju mereka. Seolah-olah pendekar dan penduduk saling bertukar peran.
Suara jeritan yang lantang. Pertarungan tak terhindarkan ini sungguh membuat semangat para pemberontak menggelora. Menyerang para penduduk yang dikira adalah para pendekar.
Di samping itu, pendekar yang tidak menggenggam pedang pun ikut andil dan mengawasi sebagian penduduk yang akan diserang oleh pemberontak. Menggunakan tenaga dalam tuk menyerang target yang salah.
Pemberontak menyerang penduduk yang membawa senjata lalu juga menyerang pendekar dengan benar. Lalu para pendekar pun melakukan hal yang sama, terkadang melawan para pemberontak namun juga melawan penduduk yang dipikir adalah pemberontak.
Sungguh kasihan sekali. Secara tak sadar mereka melawan sesama pihak bahkan juga kadang teman sendiri pun menjadi target.
Sosok pengawal pendekar yang berlumur darah itu lantas menyeringai. Puas dengan situasi buruk yang dilaporkan secara beruntun pada Kaisar Ming.
“Argh!! Situasinya jadi kacau begini. Tapi bagaimana bisa mereka melakukan strategi perang seperti ini? Bukankah mereka selalu menyerbu begitu saja? Sejak kapan mereka mulai memikirkan rencana licik ini!”
Kaisar Ming menggerutu kesal. Namun di satu sisi ia merasa senang. Dengan tersenyum lebar seraya ia bergumam sesuatu, “Tetapi, aku pun telah mengirimkan pendekar tahap nirwana. Pasti mereka sudah sampai dan menyerbu wilayah timur tengah yang damai.”
__ADS_1