Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
092. Musim Hujan


__ADS_3

Shira tak dapat lagi bergerak. Seluruh pergerakannya terhenti dan hanya terduduk penuh luka. Bagian tangan kanannya pun perlahan kembali semula.


Cakaran yang dihasilkan Shira pula tidak berpengaruh sama sekali pada tubuh Yongchun. Bekasnya saja sudah tidak ada. Tak disangka Shira selemah ini, tersirat jelas dari gelagat dan wajah Yongchun yang kecewa.


Klak! Menyarungkan kembali kedua pedangnya, lantas mengambil posisi duduk berjongkok menghadap Shira.


“Apakah ini yang disebut i-mi-ta-si?”


Terdengar mengejek, Yongchun melukai harga diri Shira secara tak langsung. Lantas Shira hanya mengepalkan kedua tangan dan menahan rasa malu serta menanggung kekalahannya sendiri. Dalam batin, Shira mungkin kecewa berat karena mudah dikalahkan oleh Yongchun.


“Kau lebih lemah dari 7 Surgawi. Apa kau yakin bahwa kau itu adalah God Hand, orang yang memiliki tubuh dewa? Yakni sebuah tangan?” tanya Yongchun dengan senyum tersungging.


“Kau ...kenapa hanya menggunakan separuh dari kekuatanmu itu?” Shira bertanya dengan kening berkerut.


“Tidak ada separuhnya. Bahkan seperempatnya saja tidak kugunakan,” jawab Yongchun dengan santai.


“Apa? Jika begitu, selama ini kau sekuat apa? Aku sungguh tak percaya bahwa God Eye tak menggunakan kekuatan penuhnya untuk mengalahkan diriku. Tapi tidak ada seperempatnya saja sudah membuatku tumbang,” gerutu Shira masih tidak percaya.


“Kau bertanya aku sekuat apa? Aku saja tidak bisa mengukur kekuatanku sendiri. Dan melihatmu lemah begini, itu sudah pasti kau bukanlah pemilik tubuh dewa,” sahut Yongchun sambil menunjuk dada kiri Shira, melihat serpihan jiwa yang murni tanpa sedikitpun benih-benih jiwa yang lain.


“Jika kau benar-benar kuat, apakah ada musuh yang membuatmu mengeluarkan semua kekuatanmu? Kau pasti pernah marah setidaknya sekali. Atau mungkin ada orang yang bisa melampaui dirimu?”


Yongchun berdeham seraya ia berpikir sejenak. Lalu menjawab, “Aku tidak pernah menganggap orang yang melawanku adalah musuh selagi bisa kuandalkan untuk ke depannya. Tapi ada satu-satunya musuh yang tidak dapat kulupakan untuk saat ini, dan dia adalah penguasa wilayah timur laut beda pulau.”


“Dia melakukan perlawanan?”


“Sayangnya tidak. Kalau saat itu dia ada di neraka maka saat ini aku tidak ada di sini. Dia kuat tapi tidak tahu tempat yang paling tepat untuknya,” ujar Yongchun.


Shira mendengus kesal saat mendengar omongan Yongchun. Entah kenapa pria buta yang ada di hadapannya ini masih belum dapat diukur seberapa kuat atau besarnya kekuatan yang dimiliki olehnya.

__ADS_1


“Lalu kenapa kau tidak membunuhku? Aku 'kan musuhmu. Aku menganggapmu musuh dan aku sedang bertaruh nyawa!”


Shira tak ingin harga dirinya terinjak lebih dari ini. Berbagai pertanyaan yang sebelum ini ia lontarkan pada Yongchun pun hanya ingin mengetahui seluk-beluk dari Yongchun akan tetapi tak satupun informasi yang bisa dapatkan. Seolah Yongchun adalah orang dengan nilai yang tinggi namun bersifat transparan.


“Kau tahu? Aku tidak pernah menganggap musuhku hanya karena dia melawanku. Tapi bukan berarti aku membiarkannya begitu saja.”


Sesaat nada bicara Yongchun terasa seperti ancaman, rendah tapi sangat berat. Rasanya seperti ada benda yang lebih besar puluhan kali lipat dari Shira menindih tubuhnya.


Yongchun berbisik dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya. Berkata, “Kau tidaklah cocok kubunuh dengan pedang kebanggaanku.”


Tubuh Shira seketika bergidik merinding. Matanya membulat dan tak mampu untuk menatap Yongchun, ia hanya menatap lurus ke depan dan melihat cahaya di luar sana.


Terbesit suatu pikiran yang tak mampu Shira mengelak darinya. Respon tubuhnya yang masih gemetaran itu seolah berkata, "Ah, aku harusnya bersyukur karena dia tidak membunuhku."


Hari ini awan terlihat gelap. Ketika Yongchun menengadah, hujan pun turun. Rintik-rintik air dari atas langit membuatnya terkejut, sontak ia berwaspada dengan menarik langkahnya mundur. Berteduh di dalam kuil dan meninggalkan Shira dibasahi oleh hujan.


“Apa ini? Apakah airnya beracun? Kenapa bisa turun?”


Suara hujan yang sangat berisik, membuat Yongchun harus menutup kedua telinganya rapat-rapat.


“Benar-benar bikin cemas,” gerutu Yongchun berwajah kesal.


Kemudian ia memberanikan dirinya untuk melangkah maju. Menarik salah satu pedangnya dan sarung pedang itu ia jadikan sebagai wadah tuk mengambil air hujan.


“Akan aku coba minum, kalau berbahaya ...”


Derasnya hujan membuat tubuh Yongchun basah kuyup. Bahkan kain yang mengikat kedua matanya menjadi transparan dan menunjukkan mata yang kosong itu.


Setelah ia mencicip air hujan tersebut, ia tak merasakan apa-apa selain rasa dari air hujan itu sendiri. Rasanya sedikit asin, asam atau mungkin pahit? Ia benar-benar tak tahu harus berkata apa saat menelannya.

__ADS_1


Yang ia tahu hanyalah bahwa air hujan ini tidaklah berbahaya. Setidaknya untuknya.


“Aku akan mencobanya ke orang lain,” kata Yongchun sambil melirik Shira. “Tapi jangan dia,” sambungnya lantas pergi meninggalkan kuil.


Berlari di bawah hujan yang deras. Turun dari bukit dan sekali lagi melewati puluhan Tori (gerbang). Setelahnya ia menoleh ke kanan dan kirinya kemudian pergi ke arah pemukiman.


“Ada orang!”


Wajahnya menjadi sangat berseri-seri ketika menemukan salah satu orang yang sedang melakukan suatu hal di dalam kedai kecilnya. Terlihat seorang pria tua renta dengan tampang garang, namun dengan penampilan begitu takkan membuat Yongchun ragu.


“Hei, pak! Maaf menganggu! Tolong minum air dari langit ini!” pinta Yongchun tanpa menunggu persetujuan ia langsung mencekokinya dari sarung pedang itu.


Sampai air itu tumpah-ruah. Pria itu terkejut bukan main, sontak ia melepaskan diri. Menepisnya lantas menatap Yongchun dengan heran sekaligus kesal.


“Apa yang kau lakukan?!” teriaknya.


“Sepertinya tidak beracun, ya,” pikir Yongchun mengabaikan kemarahan pria tersebut.


Gebrak! Pria itu marah dan menggebrak mejanya agar dapat perhatian dari Yongchun. Yongchun pun menoleh dan menatapnya dengan wajah kebingungan.


“Kau! Kau tidak tahu sopan santun!” pekiknya marah.


“Memang tidak,” ucapnya santai sambil membuang air hujan dari sarung pedangnya.


“Hgh! Kau ini! Kau harus punya sopan santun terutama pada orang yang lebih tua! Memangnya orang tuamu tidak mengajari apa pun?! Hah!”


Sekali lagi Yongchun menjawab, “Memang tidak. Karena aku tak ingat bagaimana rupa kedua orang tuaku karena mereka sudah lama meninggalkanku.”


Seketika pria itu terdiam hening. Amarahnya mereda dalam sekejap saat mendengar pernyataan Yongchun yang begitu pedih di hati.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucap pria itu dengan perasaan bersalah bertubi-tubi. Ia tak lagi mampu menatap wajah Yongchun, apalagi dalam kondisi buta seperti itu. Sejujurnya ia tak menyangka.


__ADS_2