
Mengingat kembali apa yang terjadi. Yongchun dihadapkan dengan memori yang belum lama ini terbentuk. Yang dimana ia menyamar agar tidak diketahui oleh Kaisar Ming dan lainnya. Namun, hal yang aneh justru adalah itu.
Harusnya ia tak bisa menekan auranya yang besar. Tetapi tak ia sangka, yang menekannya adalah sosok tersebut.
Lalu, mereka kembali ke neraka yang dingin.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Niao sembari menepuk pundak.
“Ah, tidak.”
Niao pun mengabaikan kalau memang Yongchun tak mau membahasnya. Ia pun menyuruhnya untuk segera menuju ke lapisan terakhir, ia menemukan lokasi yang tepat untuk membuka gerbang itu.
“Hei, Niao. Katamu ini akan berbahaya. Apa maksudmu?”
“Sudah kubilang sebelumnya, ilusi. Sebentar lagi kau akan menghadapi ilusi, entah itu tentangmu atau orang yang kau kenal.”
Berawal dari hawa panas, dingin lalu bertemunya dengan sosok yang disebut "Mata Dewa", Yongchun benar-benar dihadapkan dengan sebuah ilusi.
Namun ilusi itu tidak hanya sekadar ilusi saja. Melainkan memori namun tak bisa ia lakukan apa-apa di sana. Hanya berdiam diri mematung dan melihat kegiatan yang ada di sana.
“Ingat, jangan sampai kau terpengaruh apa pun.” Niao kembali memperingatinya.
“Cuman ini? Aku rasa aku tak masalah dengan ini.”
Kegiatan para penduduk di wilayah timur tengah. Bekerja, bekerja dan bekerja. Namun di tempat lain hanyalah bertarung setiap harinya. Bahkan mereka juga melakukan banyak hal seperti judi atau sejenisnya.
“Ini masa sebelum revolusi.”
Tepat, itu terjadi sebelum wilayah timur tengah berperang satu sama lain.
Terpaan angin lembut nan panas, rambut hitamnya terurai dan kedua mata itu mulai melihat yang terjadi selanjutnya. Berperang saat dua orang itu saling bertukar tatap satu sama lain.
Yang menjadikannya dua kubu. Sayang sekali, salah satu dari mereka hanya memiliki sebuah kelompok kecil. Mereka yang melihat ini jelas berpikir kalau yang menang sudah pasti adalah orang itu.
__ADS_1
Pria yang sudah berumur namun tubuhnya sehat bugar. Tak ada kecacatan daripada pemuda yang di sampingnya.
“Ingatan ini, aku tak mengingatnya? Kenapa?” Yongchun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Pendekar pedang! Apa yang sedang kau bicarakan? Kau tidak mengingatnya?” tanya Niao yang masih berada di samping.
“Ya. Aku tidak ingat akan hal ini. Hanya samar-samar bagiku, seolah itu semua masih asing. Tapi aku tahu siapa pria itu.”
Pemuda di sana adalah Asyura (Yongchun) dan pria itu adalah musuh bebuyutannya semenjak keluarganya dibunuh oleh dia. Secara tak langsung dengan menggunakan kutukan turun temurun orang barat.
Hal yang tak dapat dimaafkan. Pria bernama Viona, adalah dalang di balik pembunuhan kedua orang tuanya. Lalu Lacro, orang barat yang menjadi gurunya saat kecil. Ialah yang memiliki kutukan. Membunuh dengan sebilah pedang berkarat, membabi buta hingga menjadi gila.
“Apa kau sekarang mengingatnya?” tanya Niao.
“Tidak. Aku tidak ingat punya orang tua. Aku bahkan tidak mengingat wajah itu. Wajah yang terpampang di sana benar-benar asing.”
Berbagai ekspresi yang ia lihat dari banyaknya orang yang berinteraksi, tak dapat ia mengerti. Hanya terdiam dengan kening yang berkerut, seraya berpikir apa saja yang ia lewati saat peperangan terjadi.
Dan yang paling mengejutkan adalah saat ia bertemu dengan Gupta. Ia mungkin juga tak mengingat wajah itu namun ia mengingat suara yang dimiliki pemuda tersebut.
Akan tetapi, begitu Yongchun terus membuatnya jengkel karena diikuti terus menerus, maka ia mencoba menerima pertemanannya.
Meski dalam keadaan canggung.
Padahal saat pertama kali mereka bertemu adalah saat Gupta membawanya ke suatu tempat yang sepi lalu mengajaknya berduel. Sementara Gupta kalah namun Yongchun menganggapnya sepele.
Dulu pernah mengatakan hal ini, “Yang lalu biarlah berlalu. Duel atau apa pun tak akan membuatmu untung.”
“Tunggu aku pernah berkata begitu?”
“Itu ingatanmu sendiri. Kau betulan tidak ingat, ya? Jangan bilang ingatanmu terdistorsi karena tubuh dewa,” sahut Niao.
“Tadi ...apa? Jangan mengucapkan kata-kata yang susah, Niao. Aku masih perlu belajar.”
__ADS_1
“Maksudku yah ...tidak stabil, hancur, atau mungkin sedang ...hm, ini sulit dijelaskan.”
“Kau benar-benar payah dalam menggurui, Niao.”
Ilusi apanya? Ini hanya memori yang hanya sekadar melintas saja. Melihatnya ia lega akan hal itu. Terutama saat bertemu dengan orang-orang yang terasa familiar baginya.
Berlanjut pada peperangan saudara yang pada awalnya hanya dilakukan oleh dua orang. Dan berubah menjadi dua kubu yang saling melawan.
Gupta adalah orang yang setia mendampingi Yongchun sejak saat itu. Ia akan melakukan apa pun demi mencapai yang diinginkan oleh Yongchun. Sebuah Perdamaian Dunia.
Namun itu hal yang sulit dicapai. Karena itulah mereka saling berjanji untuk mendamaikan wilayah timur tengah lebih dulu. Mengikat janji dengan duel pedang sekali lagi. Saling bertarung dan mempertaruhkan semua yang mereka punya.
Hingga saat itu. Diam-diam Gupta menahan luka yang membuatnya setengah mati, tubuhnya kian membusuk namun masih sanggup tuk berdiri. Yongchun pada saat itu tidak tahu.
Ingatan-ingatan itu lenyap dan berganti ke ingatan yang lain. Anak panah melesat dari arah belakang, dan menembus jantung Gupta yang sedang melindungi anak lelaki dari kobaran api.
“KAU LAH YANG MEMBUNUHKU!” Suara ini bukan lagi dari ingatan milik Yongchun. Melainkan suara dari ilusi yang diperdengarkan secara langsung.
“Hei, pendekar pedang!” panggil Niao dengan suara keras, seraya ia kembali menepuk-nepuk pundaknya.
Yongchun hanya diam mematung tak berdaya. Melihat sekaligus mendengar sosok Gupta yang sedikit berbeda dari ingatannya.
Gupta berjalan ke arahnya dan mengatakan kalimat yang sama. Bahwa Yongchun lah yang telah membunuhnya.
“Apa aku pernah melakukan hal itu pada sahabatku sendiri?” Bertanya-tanya, apakah ia melakukan hal itu. Mulai meragu dengan omongan yang seringkali diperbincangkan oleh mereka.
Gupta mengorbankan nyawa hanya demi dirinya seorang. Jadi bukan berarti ia yang telah membunuhnya.
Lalu apa yang sekarang di hadapan Yongchun ini? Benar-benar berbanding terbalik. Seolah-olah Gupta di atas sana tidak terima dengan takdirnya.
“Katakan Niao, apa aku pernah melakukannya?” Yongchun bertanya seraya menundukkan kepala dalam-dalam.
Memijat kening lalu kembali berkata, “Apa itu benar? Kalau begitu ...kenapa aku masih hidup?”
__ADS_1
“Jangan terpengaruh, hei! Nak! Sudah kubilang ini ilusi. Entah itu dirimu atau orang yang kau kenal. Sudah kubilang, meski ingatan itu nyata dan pernah kau alami, namun juga terselip suatu ilusi yang akan menyesatkanmu.”
Niao mungkin berkata begitu di hadapan Yongchun. Namun dalam batin, “Ilusi ini akan mempererat hubunganmu dengan alam neraka. Jadi kau bisa tinggal di sini.” Dengan seringai.