Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
122. Hawa Membunuh


__ADS_3

Menatap dengan menyipitkan kedua mata. God Ear yang juga melakukan hal sama, lantas mengerutkan kening seolah-olah ia mencurigai Relia.


“Perasaan Relia tidak enak. Hawa di sekitar orang ini berubah,” batin Relia.


Perasaan yang tidak mengenakan membuat hawa di sekitar mereka berubah drastis. Tak seorang pun menyadari kecuali mereka berdua. Saling bertukar tatap tajam, seolah akan bergerak menerkam mangsa dengan cepat. Dingin.


“Aku adalah istri God Eye, Asyura Ayah. Kenapa bertanya lagi bahkan setelah kau mengetahuinya lebih awal?” Relia menyinggung.


“Aku hanya memastikannya saja. Karena aku merasakan firasat aneh semenjak kau datang kemari, menghadap kami semua dengan berani. Bahkan memberitahukan identitas itu secara langsung. Harusnya kau ragu apakah harus dikatakan atau tidak.”


Yang God Ear katakan ada benarnya namun Relia memiliki alasannya sendiri. Sebab, percuma kalau terus bersembunyi sementara Relia pun cukup khawatir dengan Yongchun.


“Tapi ...tunggu sebentar. Kenapa menyebut nama orang asing? Setahuku dia bernama Yongchun, ya! Dia menyebut namanya itu,” ungkap God Ear seraya menekan dagu dengan ibu jarinya.


Ia tidak menatap Relia melainkan hanya menatap ke bawah saja. Setelah beberapa saat ia kembali menatap wajah Relia, sontak ia dibuat terkejut karena ekspresi Relia yang berubah.


“Ternyata suamiku menyebut nama Yongchun. Relia ceroboh, tak seharusnya menyebutnya sembarangan,” batin Relia.


Relia kemudian membalikkan badan. Kemudian berkata, “Maaf, ternyata aku salah orang.”


“Tunggu!” God Ear menepuk pundak Relia.


“Tidak biasanya orang akan salah sebut begitu. Lantas mengapa kau berpikir bahwa suamimu adalah God Eye? Alasan apa yang kau miliki dengan berbohong seperti itu?”


Relia telah menduga bahwa God Ear akan memperpanjang urusan ini. Relia kembali berhadapan dengannya, tetap menatap tajam ke God Ear seorang diri.


“Aku tidak berbohong. Hanya saja salah menduganya,” ucap Relia.


“Jika benar begitu. Tapi aku merasa bahwa kau memiliki alasan sehingga menjawab semua pertanyaan dengan singkat. Tidak seperti wanita biasa pada umumnya.”


“Katakan saja. Jangan bertele-tele. Karena aku tidak mengerti dengan yang kau maksud,” tegas Relia seraya memalingkan wajah.


“Titisan Dewa Hitam. Tidak, mana mungkin ...kau pasti adalah Dewa Hitam.” God Ear mengatakannya dengan lirih.


Sontak Relia terkejut, ia menyingkirkan genggaman tangan God Ear dari pundaknya. Lalu menatap heran sembari menjauh sedikit.

__ADS_1


“Jika aku sebagai dirimu. Walau suamimu benar adalah God Eye, pastinya kau akan menghindar kami setelah mendengar larangan dari God Hand. Beruntung, aku mengetahui tepat sebelum menemuimu sekarang.”


“Tidak bisa dikatakan begitu,” sangkal Relia.


Relia mengepalkan tangan lalu menatap tajam God Ear. Dengan tatapan yang bersiap akan membunuh orang yang berada di hadapannya saat ini.


“Apa yang kau lakukan?”


“Bukan aku tapi kau lah yang aku curigai. Hei, sosok yang menghantui. God Ear, kau telah dirasuki olehnya!”


Sraaaa!


Api hitam serta asap mengepul keluar dari kedua mata serta mulutnya. Ia menyunggingkan senyum lebar sampai terlihat akan robek dari ujung ke ujung. Mendadak Relia merasakan ngeri di sekujur tubuh, Relia tahu betul bahwa sosok yang di hadapannya sudah berbeda dengan yang biasanya.


“Khe ...khe ...akulah yang disebut sebagai Dewa Hitam di dunia ini. Tidak aku sangka, pria tanpa nama ini mudah sekali digunakan.”


Sosok yang merasuki God Ear terkikik geli. Beberapa kali ia berkedip dan membuat api hitam semakin keluar dengan deras. Relia lantas melompat mundur, menjaga jarak dan seketika berwaspada dari yang seharusnya.


“Dewa Hitam, apa yang kau sebenarnya inginkan?” tanya Relia dengan kuda-kuda yang bersiap.


“Kesadaran?”


“Ya. Dan, apa kau tahu aku sebetulnya sedang mengincar siapa sekarang?” ejeknya menyeringai lantas pergi begitu saja.


Untuk beberapa waktu Relia terdiam mematung tanpa mengerti apa maksudnya saat itu. Ia kemudian berjalan beberapa langkah seraya memikirkan perkataan God Ear yang telah dirasuki.


“Larangan yang terucap. God Hand menyuruhku untuk membungkam soal itu tapi tidak kulakukan karena tahu ada yang berbeda dengan pria yang dijuluki God Ear,” gumam Relia.


Beberapa langkah ia berpijak pada tanah. Dengan kening mengerut, tanda bahwa ia sangat kesusahan dalam masalah kali ini. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengerti suatu hal.


“Yang dia katakan tentang larangan. Larangan pada keturunan. Ah! Anakku!”


Bats!


Relia berlari dengan kecepatan tinggi tuk kembali ke penginapan Kuraki. Ia berlari sangat cepat sampai beberapa orang hanya menganggapnya bagai angin lalu. Sekelebat jubah hitam menutupi wajah Relia, membuat semua penduduk sekitar memperhatikannya secara tak sadar.

__ADS_1


Larangan itu berhubungan dengan keturunan yang akan menggantikan posisi kedewaan. Jika Dewa Hitam langsung tahu siapa yang memiliki keturunan, maka sudah pasti Dewa Hitam akan mengincar keturunan mereka.


Yakni satu-satunya keturunan God Eye, Yongchun (Asyura Ayah).


Drak!


Sampai pada penginapan Kuraki, dan membuka pintu ruangan di mana Nia dan anaknya berada. Relia menghela napas panjang, ketika ia mendapati mereka dalam keadaan tenang.


“Nia!”


Relia mencengkram pundak Nia. Dengan rasa khawatir ia bertanya, “Apa ada seseorang yang datang kemari?” Napasnya juga berat, ia tampak kelelahan.


“Kak Relia, ada apa? Di sini kami baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semua aman terkendali. Kakak ...dari mana saja?” Kini Nia kembali bertanya, ketika mengetahui bahwa Relia mencemaskan sesuatu yang berkaitan dengannya dan anaknya itu.


“Syukurlah Nia tidak apa-apa. Begitu juga dengan anak ini,” ucap Relia sembari mengelus ujung kepala anaknya.


“Kalau begitu, aku akan ke kamar belakang sebentar.”


Nia berpamitan sebentar. Ketika itu, hawa dingin menyeruak keluar. Padahal sesaat ia merasakan hawa yang begitu tenang tapi entah mengapa jadi berubah drastis.


“Firasat Relia semakin tidak enak. Tidak merasakan nyaman dan rasanya seperti ingin pergi.”


Gelisah, takut, membuat Relia merasa berat di hati. Ia kemudian beranjak dari ruangannya. Melangkah keluar sembari merasakan angin sepoi-sepoi.


“Kak Relia?” Nia memanggil.


“Iya, Nia. Butuh sesuatu?”


Syut!


Sebilah pedang muncul tepat di leher Relia ketika menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Relia dan Nia ketika senjata itu diacungkan tiba-tiba. Dalam sekelebat seolah tampak kasat mata sebelumnya.


“Sepertinya kau meremehkan diriku, ya?”


Seringai lebar, kedua mata berbentuk sabit ke bawah. Hitam, asap serta api berkorbar di antara celah angin. Hawa yang membuat mereka bergidik merinding, tak kuasa berbicara bahkan bergerak sedikitpun mustahil.

__ADS_1


God Ear yang tengah dalam kendali setengah kesadaran Dewa Hitam. Kebangkitan tahap menengah, hampir menuju puncak kekuatan.


__ADS_2