
Pemilik Tubuh Dewa yang berkumpul dalam satu tempat akan terjadi sesuatu yang akan menghancurkan era pendekar. Yang di mana mungkin hukum dunia akan berubah seiring waktu tanpa disadari oleh diri mereka sendiri.
Pengulangan kehidupan. Itu adalah istilah katanya.
Tanda dari itu adalah kebangkitannya dewa dalam tubuh seseorang, salah satu dari Pemilik Tubuh Dewa.
Namun, jika tidak melakukan hal itu maka mungkin yang akan terjadi adalah kehancuran negeri atau bahkan seluruh permukaan bumi.
“Mau bagaimanapun satu-satunya jalan agar kita tetap ada, sudah pasti adalah menemukan dua orang lain tersisa, benar?”
Semuanya mengangguk lesu. Merasa dua jawaban itu tidak bisa dibandingkan. Nyatanya hidup adalah prioritas.
“Kalau begitu apakah saat ini kau tahu keberadaan mereka berdua? Ataukah ...”
“Hentikan pertanyaanmu itu. Bikin pusing saja,” keluh Romusha seraya mengorek telinganya.
“Jangan kasar, Romusha. Kita semua adalah sesama Pemilik Tubuh Dewa,” sahut Telinga Dewa.
“Oh, ya. Sebelum kau menjawab mereka itu ada di mana ataupun bagaimana keadaannya. Aku ingin bertanya satu hal lain, apakah akan terjadi sesuatu jika salah satu dari kita mati?”
Ungkapan Yongchun mengarah apakah kebangkitan dewa bisa tak selamanya akan terjadi. Ia memikirkan kemungkinan besar ada suatu jalan membuat mereka tetap hidup dan tanpa pengulangan hidup.
“Itu mustahil. Misalkan saja Romusha mati, maka suatu waktu Tangan Dewa akan kembali lahir entah dari berbagai belahan pulau pun.”
“Hah, begitu ya. Sayang sekali. Padahal kalau tidak ada yang namanya kelahiran antar kita, mungkin kita bisa menunda atau bahkan menghentikan apa pun yang akan terjadi ke depannya,” ujar Yongchun mendesah lelah.
Splashh,
Yongchun bangkit dari pemandian. Ia menyelesaikan berendamnya secepat mungkin.
“Hei, kau belum mengetahui di mana keberadaannya 'kan? Kalau kau mau mencarinya, maka cari saja di dekat sini. Aku sedikit merasakannya walau samar-samar.”
“Baiklah kalau begitu,” ucap Yongchun.
Dalam benaknya ia tidak ada niatan untuk mencari keberadaan Pemilik Tubuh Dewa yang lainnya. Melainkan ia memiliki niatan, bagaimana agar tidak ada pengorbanan yang harus dipaksakan seperti yang telah diceritakan.
Yongchun pergi menuju ke luar namun Kuraki menghentikan langkahnya. Tampak ia hendak membicarakan sesuatu.
“Tuan Mata Dewa! Maaf saya menghalangi jalan Tuan. Tapi ada satu hal yang ingin sampaikan serta memberikan ini,” kata Kuraki.
__ADS_1
Ia kemudian memberikan mata buatan yang sama lagi. Yongchun terkejut karena Kuraki selalu berusaha menolongnya. Bahkan terlalu bersikukuh hanya untuk membuatkan mata buatan seperti itu.
“Memangnya mudah membuat seperti ini? Harusnya kau tidak perlu membuat ini, Kuraki.” Yongchun jadi merasa tidak enak.
“Tidak apa Tuan. Karena saya Kuraki, memang ingin membantu yang berkebutuhan. Meski tidak terlalu membantu, apalagi mengembalikan ...”
“Penglihatanku jauh lebih baik berkat Mata Dewa. Namun dengan adanya ini, aku tidak perlu repot-repot menjelaskan apa aku buta atau semacamnya,” ujar Yongchun sembari menerima benda tersebut.
Kuraki merasa tersanjung dengan perkataan manis Yongchun. Lantas, Yongchun segera pergi dari rumah itu.
Tap, tap!
“Memang, rasanya tidak begitu nyaman ketika memakai ini,” batin Yongchun yang sebelumnya merasa senang karena pemberian ini namun tidak setelahnya.
Keluar dari rumah sekaligus penginapan milik Kuraki. Udara yang masih sama tercium bagai bunga bermekaran. Namun ini musimnya musim hujan. Jalanan yang tergenang air sedikit membuatnya tidak nyaman.
Ceplash! Tapi terasa menyenangkan jika diinjak-injak.
“Laut kecil,” tutur Yongchun yang kegirangan bermain genangan air.
Banyak orang berlalu-lalang meski saat ini jalanan basah. Mereka tak henti-hentinya melakukan sesuatu, bahkan sesekali ia melihat ada pendekar yang berlatih menggunakan pedangnya.
Situasi yang cukup tenang pun terkadang pasti akan ada kerusuhan. Hal itu datang tak lama setelah Yongchun pergi ke tempat di mana banyak orang berkumpul mengitari sesuatu di tengah.
“Apa yang sedang mereka lakukan?”
Bruk!
“Aduh!”
Seseorang menabrak pinggul Yongchun lalu disusul suara rengekan karena merasa sakit. Yongchun menoleh ke belakang lantas mendapati seorang anak kecil yang tersungkur.
“Hei, kamu tidak apa-apa?” tanya Yongchun seraya mengulurkan tangan untuk membantunya.
Anak itu menerima uluran tangannya lalu menjawab, “Terima kasih. Wah ...”, ia tertegun karena suatu hal.
“Kenapa memandangku begitu?” tanya Yongchun merasa aneh. Sesekali ia meraba wajahnya untuk memastikan tidak apa-apa.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Kalau begitu aku permisi, Tuan.”
__ADS_1
Anak kecil itu menggelengkan kepala lantas pergi begitu saja. Sedangkan Yongchun ditinggal dengan tanda tanya di kepala. Heran dengan tatapan berbinar sebelumnya.
“Ya sudahlah. Aku juga tidak mau berurusan dengan anak kecil lagi,” gumam Yongchun.
Buak! Duak!
Terdengar hantaman secara berulang. Berkali-kali mendengarnya dan ia kemudian terkejut saat melihat ke area tengah yang dikelilingi banyak orang ini.
“Mereka berkelahi?” pikir Yongchun.
Pak! Seseorang pria menepuk pundak Yongchun dengan sok akrab.
“Hei, Tuan! Apa kau baru pertama kalinya melihat ini? Ini adalah pertarungan di kala para samurai sedang memiliki banyak waktu,” tuturnya dengan semangat sembari tertawa.
“Oh, iya. Betul. Aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya. Jadi ini seperti adu kekuatan begitu?”
“Ya! Lebih tepatnya begitu. Inilah kesenangan para samurai meski harus mengeluarkan banyak darah dan keringat itu sudah biasa!“
“Begitu rupanya. Orang-orang di sini cukup aneh,” gumam Yongchun seraya melirik ke segala arah. Bola matanya tetap bergerak lurus lantaran hanya mata buatan, namun penahan kekuatannya jauh lebih dari yang sebelumnya.
“Apakah orang itu ada di sini?” gumam Yongchun sekali lagi. Mencari keberadaan seseorang di antara kerumunan.
Baik laki-laki, perempuan entah yang masih muda atau tua. Mereka semua bercampur di antara kerumunan. Mereka bersorak-sorak dengan girang ketika salah satu pegulat di sana melancarkan serangan membabi buta.
Darah yang terciprat, tetes keringat yang mengalir di wajah, tubuh hingga kaki. Semua itu menjadikan mereka semakin bersemangat. Walau tanpa pedang pun, mereka sungguh kuat.
Teknik mereka berpadu pada ketangkasan dan kekuatan. Yongchun merasa senang sesaat.
“Lihat? Cukup seru, bukan?” ujar pria itu kembali mengajaknya berbicara.
“Ya, kau benar. Tapi apakah itu tidak masalah?” tanya Yongchun seraya berdeham.
“Tidak akan ada masalah Tuan. Selama musuh tidak datang malam ini ataupun besok, kami akan tetap sehat bugar. Lihat saja besoknya, pasti mereka sedang menggotong batang pohon yang tumbang.”
Cara bicara yang unik pun menjadi khas-nya orang-orang di pulau ini. Mereka yang terlampau semangat, mendadak Yongchun jadi punya keinginan tuk membuat mereka bertekuk lutut di kemudian hari.
“Haha!”
Tak berselang lama Yongchun memperhatikan pertarungan tersebut. Tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang melirik tajam ke arahnya. Sontak Yongchun menoleh ke sekitar.
__ADS_1