
“Membunuh?”
Yongchun kembali bangkit tanpa luka sedikitpun. Yongchun bergelagat aneh dan seketika Sigar dan Romusha bergerak mundur ke belakang. Sementara Arashiyama yang dalam setengah kesadarannya itu berusaha memikirkan jalan keluarnya.
“Nama asli, Asyura Ayah? Betapa indahnya namun aku harus melakukan sesuatu secepatnya agar jiwa manusia itu tak lagi berpadu dengan jiwa dewa hitam.”
Arashiyama mengulurkan tangan, setelah beberapa saat tangannya jatuh ke tanah dengan lemas. Ia kemudian berdiri dengan tubuh yang membujur kaku itu, otot-ototnya terluka begitu pun dengan beberapa tulang tangan dan kakinya.
Semua luka itu membuat Arashiyama terluka parah, namun tetap ia berusaha mempertahankan kesadarannya seraya berjalan menghampiri Yongchun.
Sebab Arashiyama sebagai God Ear mendengar isi hati Yongchun yang terdalam. Mengatakan, "Tolong aku."
Tidak biasanya Yongchun meminta tolong seperti ini, sebab dirinya selalu sendiri. Apa pun masalahnya ia selalu saja berusaha untuk membereskannya sendirian.
“Tunggu!” Romusha menghadang Arashiyama yang berjalan menghampiri Yonghchun. Sementara Yongchun terus melayangkan serangannya pada Sigar dari kejauhan.
“Kau jangan sampai mendekatinya. Karena jika tidak—!”
Tap!
Arashiyama menutup kedua telinga pria berbadan besar yang berada di hadapannya itu. Menutupnya rapat, dan kemudian mengalir sesuatu dari jari jemarinya.
Perlahan-lahan goresan hitam memenuhi kedua telinga Romusha. Goresan akhirnya memenuhi leher Romusha dalam beberapa detik saja.
“Apa yang kau lakukan?” Romusha bertanya-tanya.
"Bunuhlah aku, lalu tolong aku. Titik lemah tidak ada padaku melainkan God Mouth." Itulah perkataan yang langsung masuk ke dalam kepala Romusha.
“Aku tidak bisa bertarung untuk saat ini. Karena itu gantikanlah peranku, God Hand, Romusha,” pinta Arashiyama.
Romusha terkejut entah itu karena kalimat Yongchun yang mengalir masuk ke dalam kepalanya ataupun karena Arashiyama mengetahui nama asli Romusha.
“Terserah saja.”
Tap! Tap!
Romusha lantas bergegas mengejar jejak God Mouth, Bon. Ia mencarinya di sekitar perhutanan, terakhir kali mereka melihat Bon berlari ke arah sana.
__ADS_1
“Apa yang dia lakukan? Kenapa malah pergi dan bukannya tidak membantuku!” amuk Sigar seraya berlari menghindar ke belakang dari segala serangan Yongchun dengan pedang api hitamnya.
Serangan demi serangan bak pelontar api mendarat tepat ke tubuh Sigar. Yongchun benar-benar tidak dalam kondisi kesadaran utuhnya. Lantas, Dewa Hitam lah yang menggerakkan tubuh tanpa sekalipun berbicara bahkan ekspresi wajahnya terlihat sangat datar. Hal ini sungguh tidak biasa.
“Dasar!”
Sigar melompat mundur secepatnya, dan begitu Yongchun kembali mendekat dalam sekejap, Sigar melompat ke samping seraya mengarahkan tubuh pedang ke depan dengan mata pedang yang siap menyerang.b
“Dia sudah di luar nalar.”
Yongchun melirik Sigar, sesaat keningnya berkerut. Sebuah tanduk muncul di bagian samping kanan tengkorak kepalanya, rambut yang tergerai itu kian memanjang dan menghitam legam selegamnya.
Crashh!
Di saat bersamaan, keduanya melayangkan tebasan pedang dari ujung hingga ke pangkal pedang. Tanduk di satu sisi lain, sebelah kirinya pun muncul. Reflek, mengikuti gerakan insting, Sigar menebas kedua tanduk itu dalam jarak dekat.
Dak!
Yang kemudian Sigar dibalas serangan dengan menggunakan lutut lengan. Gerakan singkat yang bahkan seharusnya tidak mempan justru membuat Sigar terpelanting jauh.
Sraaaaa!
Angin bertiup ke arah barat, siang menyeruak panas dengan matahari yang kian meninggi hingga ke atas kepala. Lirikan Yongchun terpaku pada Arashiyama, ia kemudian berjalan menghampiri wanita yang diambang kematian itu.
“Suaranya tidak terdengar lagi. Kenapa?”
Arashiyama tidak dapat mendengar isi hati Yongchun, entah kenapa menjadi seperti ini. Padahal suara di sekeliling begitu jelas begitupun dengan makian Sigar yang hendak mendatangi Yongchun lagi.
Syut!
Yongchun mengarahkan mata pedang ke sudut tertentu, sudut yang lurus namun gerakannya terhenti saat mata pedang berdekatan dengan leher Arashiyama yang kini terbaring lemas.
“Uagh!”
Di detik akhir, ia melepas pedang yang kemudian menghilang sekelebat dalam kobaran api hitam. Yongchun menutup mulut dengan tangan, ia jatuh ke tanah dalam posisi bertekuk lutut seolah tak berdaya.
Napas diburu oleh waktu, tubuh yang gemetaran itu terlihat seakan ia menggigil kedinginan akibat tercebur dalam laut yang dingin. Sesekali ia terbatuk mengeluarkan darah segar yang tak terhitung berapa liter sampai membasahi pakaiannya sendiri.
__ADS_1
“God Eye?” Arashiyama terpaku, tatapannya terkunci pada dua tanduk yang lenyap lalu kulit wajah Yongchun terkelupas seolah-olah tubuh Yongchun bukanlah tubuh yang sebenarnya.
“Ah, kembali.” Yongchun akhirnya mengucapkan sepatah kata dengan helaan napas terberatnya. Kulit wajahnya pun kembali normal, utuh.
***
Di tempat lain, berdekatan dengan kuil tempat di mana Shira singgah di sana. Kuil yang belum sempat diperbaiki, tepat di bawah anak tangga terakhir dan terbawah, di sanalah mereka berada.
Romusha menghentikan gerakan Bon dengan kekuatan penuh hingga daging Bon terkoyak-koyak mengerikan.
“Aneh, dia tidak melawan atau apa pun. Tanduknya juga muncul satu. Apa yang sebenarnya Dewa Hitam rencanakan?”
Srrkk!
Kobaran api hitam di lengan kanannya menyusut padam dan di saat yang bersamaan pula angin berdesir melewatinya. Romusha menatap tajam Bon yang kini tak sadarkan diri atau mungkin mati?
“Hm ...pria yang aneh.” Begitu Romusha memeriksanya, denyut nadi pria yang setengah mati masih dapat ia rasakan dengan jelas.
Pendarahan pada daging yang terkoyak pun terhenti setelah Romusha menatapnya selama beberapa waktu.
“Jika saja aku bisa membunuhnya. Tapi God Eye bilang, pria ini dibutuhkan untuk membunuh Dewa Hitam. Apa pun alasannya, aku harus percaya dengan orang bertubuh Dewa Hitam itu.”
Semua ini belum sepenuhnya berakhir. Hari-hari santai mereka dengan hanya melawan sesama pemilik tubuh dewa, kini beralih fokus pada Dewa Hitam yang hendak dilenyapkan seutuhnya.
Persetan dengan sejarah atau kutukan. Era akan berakhir pun tidak membuat mereka itu jadi masalah. Karena mau bagaimanapun, alasan Para Pemilik Tubuh Dewa itu sama semua. Yakni; melenyapkan Dewa Hitam sampai ke akar-akarnya.
“Ya sudahlah. Ini akan berakhir jika si dewa lenyap di muka bumi,” ucap Romusha.
Romusha bergegas kembali ke penginapan Kuraki sementara Yongchun pun membawa Arashiyama. Mereka kembali hampir di waktu yang bersamaan.
Menyentuh daun pintu, Yongchun disambut dingin oleh sebilah pedang dari seorang pria berambut pendek nyaris menutupi kedua matanya. Ia terbatuk dengan lirih lantaran sekujur tubuhnya bergetar menahan rasa sakit dari serangan sebelumnya.
“Kau sudah kembali ya? Kenapa tidak secepatnya?”
Ialah Sigar. Sigar menatapnya dengan tajam, lirikan yang tidak main-main serta sebilah pedang yang berusaha untuk tetap tegap mengarahkannya pun sama.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” Sekali lagi Sigar bertanya kepadanya. Tatapannya semakin menukik tajam.
__ADS_1
“Kesadaran ...kesadaran Dewa Hitam terbagi menjadi dua.”