
Berlalu maka biarlah berlalu. Orang yang sudah mati takkan pernah hidup kembali. Hal itu jelas di depan mata, takkan ada kesempatan sekalipun harus menggunakan kekuatan dewa itu. Pilu, pedih rasanya ketika mengingat bagaimana ia mati mengenaskan. Istri pertama, Relia.
Pertarungan usai secara mandiri Yongchun melakukannya. Tak ada yang membantu kecuali penjaga neraka saat ini, Niao.
Fajar telah menyingsing, Yongchun menenggelamkan tubuh Bon ke dalam lautan lepas. Ia menundukkan kepala selama beberapa waktu.
“Semuanya akan kembali ke asalnya. Tanah, laut atau udara. Semoga kau tenang di sana. Yah, aku tak yakin soal itu juga sih. Tapi tenanglah, akan aku doakan.”
Tidak ada lagi yang tersisa kecuali perasaan yang begitu pedih. Ia telah kehilangan sahabat terbaiknya saat peperangan saudara lalu istri pertamanya saat bertarung dengan Dewa Hitam lalu teman seperguruan sekaligus musuh abadi, Khaleed.
Senyum itu tidak mudah dilakukan seperti dahulu kala. Ia telah merenggut nyawa lalu berpikir apakah pantas tersenyum dan membanggakan diri?
“Tentu saja tidak.”
Yongchun kemudian bersandar ke sebatang pohon. Darahnya terus mengalir hingga akhirnya ia tertidur cukup pulas.
***
Seseorang mengetuk pintu penginapan. Kuraki bergegas membukanya dan berharap itu adalah para pemilik tubuh dewa. Tapi sayangnya bukan, ia adalah Nia bersama dengan seorang bayi.
“Maaf, siapa?”
“Maafkan kelancanganku datang kemari terutama saat pagi hari yang sibuk ini. Bisakah kita bicara sebentar? Ini tentang suamiku.”
Nia datang untuk mendengar keseluruhan cerita yang Kuraki tahu. Nia pun terdiam sembari memejamkan mata selama beberapa waktu, lalu kemudian pergi untuk mencari keberadaan Yongchun.
“Tunggu, Nona Nia.”
“Apa?”
Langkah pergi Nia dihentikan olehnya. Nia pun menoleh ke belakang untuk menanyakan apa yang ia inginkan.
“Tuan Mata Dewa mengatakan sesuatu pada saya sebelum pergi. Beliau pergi untuk menuntaskan semuanya, Dewa Hitam. Lalu bertemu temannya, Bon.”
Nia membelalakkan mata. Ia sangat terkejut karena baru mengetahui hal tersebut. Ia pun bergegas mencarinya sebelum semuanya terlambat, itulah yang Nia pikirkan.
__ADS_1
“Pantas saja kemarin hawanya sedikit berubah. Tidak, atau mungkin itu karena dewa hitam? Tidak mungkin kalau melawan Bon harus mengeluarkan kekuatan yang lebih,” gumam Nia dengan langkah tergesa-gesanya.
Tidak begitu lama dan susah untuk mencarinya, Nia menemukannya di sebatang pohon. Yongchun tengah bersandar di sana, Nia bergegas dan melihat kondisinya.
Ia pikir terlampau buruk karena darahnya mengalir cukup deras jatuh ke tanah dan pakaiannya, akan tetapi setiap Nia membuka helai pakaiannya, tak ada luka yang begitu serius. Pendarahan juga terhenti tanpa ada sesuatu yang berfungsi sebagai obat.
“Aneh, aku tak melihat di mana lukanya yang membuat darah membanjiri tubuhnya. Dia sembuh. Apakah karena Dewa Hitam?”
“Tidak. Dewa Hitam lenyap di tanganku dan Bon. Dia sudah tidak ada. Jangan khawatir.” Tiba-tiba saja Yongchun berbicara, membuat Nia kaget.
“Kau sudah bangun.”
“Nia? Apa itu kau?” tanya Yongchun seraya mengulurkan tangan, ia berniat untuk menyentuh wajahnya.
“Iya, ini aku, Nia. Dan yang aku bawa adalah anakmu,” ucap Nia sambil meraih tangan Yongchun dan membuatnya menyentuh wajah Nia.
“Aku sudah kembali buta. Seperti sedia kala,” ucap Yongchun.
“Begitu.” Nia tak tahu harus berkata apa namun dirinya sudah sangat bersyukur atas keselamatan Yongchun hari ini. Sungguh ia ta tahu harus berkata apa selain rasa syukur yang begitu dalam.
Hari cepat berlalu. Seluruh tubuh yang gemetaran itu mendapatkan dampak setimpal atas semua yang telah ia lakukan.
Romusha, Sigar, Khaleed, dan God Soul yang tidak diketahui identitasnya telah terbunuh oleh pedang Yongchun. Suatu ekstensi tidaklah mengendalikan tubuhnya melainkan Yongchun sendiri yang bergerak untuk membunuh mereka lantaran jika tidak dilakukan bergegas maka evolusi Dewa Hitam akan semakin meningkat dan kemudian berkaitan dengan sejarah yang di mana kekuatan Dewa Hitam terlampau hebat bak dewa yang sebenarnya.
Dewa Hitam lahir karena sisa-sisa kejahatan manusia. Iri, dengki, pengkhianatan dan segalanya tercampur dan menjadikannya sebagai sosok dewa yang ditakuti. Diangkat ke langit untuk dihukum bukan untuk diagung-agungkan.
Dewa Hitam yang berbuat seolah ia maha kuasa. Padahal sebenarnya hanya sisaan kejahatan manusia. Penjaga neraka, Niao yang memberitahukannya langsung meski dirinya tidak menunjukkan wujud asli. Karena wujud aslinya sudah memenuhi langit itu sendiri.
Sesaat Yongchun menengadah, merasakan resonansi di antara langit. Ia merasa bahwa tubuhnya menyatu erat dengan langit, entah mengapa seperti itu tapi tampaknya Niao mengetahuinya meski ia bungkam sekarang.
“Huh, lelah rasanya.”
Yongchun menyeka keringat di wajahnya. Ia menghela napas begitu panjang, mengeluh pun tiada guna, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke sudut pulau di mana seharusnya kapal berlabuh.
“Ingin istirahat sebentar?” Nia bertanya.
__ADS_1
“Tidak, tidak apa. Mari kita lanjutkan.”
“Oh aku baru mengingatnya, pasti kamu belum makan seharian. Tunggu sebentar lagi kita juga sampai ke sudut pulau dan di sana ada rumah Amiya yang sebelumnya kamu kunjungi. Di sana kita akan meminta makanan sedikit saja.”
“Jangan terlalu merepotkan orang itu. Aku sudah sangat bersyukur kamu mendapatkan bantuan darinya. Jadi kita harus bergegas pergi, aku masih punya banyak keping di saku—”
Dan sepertinya ada masalah. Tinggal beberapa meter lagi mereka sampai ke sudut pulau tetapi Yongchun kehilangan sesuatu sekarang, ia merogoh ke semua sela pada pakaiannya yang compang-camping itu.
“Hilang semua?” tebak Nia. Ia justru tertawa mengetahui Yongchun kehilangan semua uangnya.
“Kenapa malah tertawa? Ini bukanlah candaan kau tahu,” gerutu Yongchun.
Sesaat langkah mereka terhenti karena harta Yongchun hilang semua. Mungkin berjatuhan atau dicuri dan sebagainya. Lalu kemudian mereka memutuskan untuk berjalan sampai ke sudut pulau lebih dulu.
Sesampainya mereka di sudut pulau. Laut kebiruan yang matang dengan pesisir kecil terlihat jelas di depan mata, sekaligus mendapati seorang pria berjubah hitam. Begitu pria itu membuka tudungnya, nampaklah wajah tua berkeriput dengan uban di seluruh rambutnya.
“Crow, kau datang lagi.”
Crow datang kembali, ia menundukkan kepala dan menyambut Yongchun dan Nia dengan sapaan.
“Aku datang. Maafkan ajudan yang tidak berguna ini,” ucap Crow.
“Kenapa minta maaf sementara kau sudah menyiapkan kepulangan kami. Omong-omong kedatanganmu pas sekali, mari kita bergegas pergi.”
“Suamiku, kau tidak akan pergi ke penginapan untuk berpamitan?”
“Sudah terlambat untuk itu.” Yongchun mengulurkan tangan lalu menarik Nia ke dalam kapal.
“Jika diingat lagi, aku baru pertama kalinya mendengarmu memanggilku, "suamiku ", begitu?” sahut Yongchun, ia bertanya-tanya apakah yang ia dengar itu betulan atau tidak.
Namun Nia melengos begitu saja. Ia kemudian duduk di dalam sembari menenangkan bayinya dengan lembut.
“Tuan, kita berangkat sekarang.”
“Ya.”
__ADS_1