
Pria yang membawa kotak kecil berwarna hitam, adalah musuh Yongchun sejak kecil. Sudah ia pastikan bahwa pria itu benar-benar adalah dirinya. Dan sekarang, Li Bai pun pura-pura tidak melihat. Berbalik badan dan pergi.
“Kau mau ke mana?”
Pria itu, Bon berbicara padanya. Seketika Li Bai jadi gugup sendiri. Karena tak ingin dicurigai, ia pun harus mengendalikan ekspresinya.
“Ya?” Kemudian Li Bai menoleh padanya. “Maaf, sepertinya kau sedang tidak ingin diganggu. Makanya aku pergi,” ucap Li Bai dengan senyum paksa.
Jelas raut wajah Li Bai dipaksakan, Bon tahu itu. Ia pun terkekeh.
“Heh, yang benar saja. Kau pasti pedagang yang mampir ke sini? Kenapa? Kau takut?” ejek Bon mendekat padanya.
“Tidak.”
Saat ini Li Bai sedang beradu domba dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi ia takut jika pria ini akan menyerang dan di satu sisi ia berpikir bahwa pria ini cukup bodoh karena mengira dirinya adalah seorang pedagang.
Tapi Li Bai merasa lega sesaat.
“Beruntung dia tak mengira aku adalah orang yang ada di wilayah musuh. Tetapi, pria ini tidak membuatku terancam.”
Memang benar, saat ini Li Bai tidak merasa terancam. Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh Bon ini terhadapnya? Sedangkan ia juga cukup kuat, lalu untuk apa takut?
Terjadilah perseteruan kembali dalam akal Li Bai. Mengira bahwa pria ini dapat mengalahkannya? Mengapa Yongchun menyuruhnya untuk segera pergi ketika bertemu dengan pria ini? Apakah Yongchun itu penakut?
Begitu pertanyaan-pertanyaan itu ada di dalam benak Li Bai, ia lantas terkekeh-kekeh. Bon pun bingung dengan perubahan ekspresi Li Bai yang jelas terlihat saat ini.
“Hei, apa kau sakit?” tanya Bon.
“Apa maksudmu aku ini gila?” Li Bai tersindir.
“Hm, tidak. Kalau kau ingin tahu tentang kota ini, maka aku akan mengajakmu ke tempat yang ramai dikunjungi. Bagaimana, Tuan?” ajak Bon seraya tersenyum. Menyambutnya sebagai tamu.
“Baiklah. Terserah kau saja. Aku hanya ingin tahu, apakah ada jalan lain menuju ke tempat ini? Kalau ada, maka tunjukkan itu lebih dulu.”
Li Bai dan Bon pun berjalan berdampingan. Melihat ke sekeliling, seraya ia menutup setengah wajah dengan kipas kebanggaannya.
__ADS_1
Lama-kelamaan ia mulai menyadari, bahwa wanita di sini tidak akan mengejarnya seperti saat ia berada di timur laut. Karena tahu, dan merasa aman, Li Bai menutup kipasnya lalu bergerak dengan lebih leluasa.
Seolah ada sosok pengawal di samping Li Bai saat ini.
“Hei, dari tadi aku ingin menanyakan hal ini. Kau ini pasti orang yang dibawa oleh Asyura, ya?”
Sontak terkejut, Li Bai menoleh ke arah Bon. Menatap tajam dengan mulut terngaga lebar. Tak menyangka akan ketahuan seperti ini, padahal sama sekali Li Bai tak pernah menyebutkan nama itu.
“Apa maksudmu?” tanya Li Bai.
“Tak perlu berpura-pura. Mana ada orang yang sedang bermain kipas itu betulan pedagang. Yang aku tahu, pasti ini ulah dia. Asyura itu, pasti membawa musuh ke wilayahnya sendiri. Ck, itu bodoh!”
Bon berdecak kesal, terutama saat menyebut nama Asyura sudah membuat lidahnya hampir tergigit sesaat. Lalu Li Bai hanya terdiam dengan wajah pucat pasi.
“Hah? Hanya karena kipas? Apakah di sini tidak ada orang yang menggunakannya?” Dalam batin, Li Bai bingung.
Bon sekali lagi terkekeh-kekeh dibuatnya.
Desiran angin membuat pasir yang menghalangi jalan tersapu bersih. Tatkala awan putih bergumul-gumul di atas sana, Li Bai yang sedang berjalan bersama dengan Bon ini pun seketika membeku sesaat.
Bawah matanya berkedut, kaget akan apa yang barusan Li Bai katakan.
“Apa? Jadi kau bukan ...tidak, mana mungkin. Aku yakin kau itu musuh. Sebaiknya kau tidak mengalihkan pembicaraan dengan berkata bahwa kau tidak mengenal dirinya,” ancam Bon dan melingkarkan tangannya ke pundak Li Bai.
Memperlihatkan kotak kecil itu di telapak tangannya, Li Bai sesaat melirik ke kotak itu lalu menatap tajam ke arah Bon.
“Sebaiknya kau belajar untuk bersikap sopan nak,” ucap Li Bai dan mendorong tangan Bon.
Li Bai berjalan ke depan dan menghindari yang kemungkinan Bon akan lakukan. Dan juga menghindari pertarungan sia-sia. Karena tujuannya kemari sudah selesai, yang ia perlu tunggu hanyalah membuat kuda itu dapat beristirahat lebih lama.
“Atas dasar apa kau menuduhku berbuat hal buruk? Aku hanya akan singgah sebentar saja,” tutur Li Bai.
“Ah, begitu? Kalau begitu biar aku tunjukkan jalan mana saja yang bisa dilewati untuk ke tempat ini. Maksudku jalan rahasia,” ucap Bon.
Terdengar bahwa Bon tak lagi mencurigai Li Bai yang mengenal Yongchun. Dan semua maksud Bon akan jadi terdengar tak masuk akal bagi orang asing.
__ADS_1
“Oh, aku cukup pandai mengelak. Bahkan ucapannya dengan balasanku terdengar jadi tidak nyambung. Maka masing-masing dari kita akan berpikir kalau arah pembicaraannya tak sama,” batin Li Bai menahan senyum atas keberhasilannya menyembunyikan hal itu.
Sampai di laut merah lagi. Tak menyangka Bon akan membawanya kemari, padahal sebelum ini Li Bai sudah ke tempat ini.
“Jalan satu-satunya hanya laut?” tanya Li Bai.
“Di antara dua bagian yang terpisah karena luat merah, di ujung sana terdapat pulau kecil. Dulunya pulau itu cukup besar tapi sekarang sudah hancur,” kata Bon menjelaskannya.
“Kau berasal dari wilayah sana, bukan? Kau pasti pertama kalinya kemari,” imbuh Bon.
***
Di sisi lain, dalam perguruan tinggi. Diola terbangun lebih cepat, begitu terbangun ia memanggil seseorang.
“Di mana dua tamu itu?!” tanya Diola dengan suara keras.
Dengan gugup, pria yang merupakan pengikutnya itu berkata, “Eh, anu ...mereka pergi.”
“Pergi? Kenapa kalian bisa membiarkan mereka pergi?!”
“Ah, tapi! Tuan Crow ada bersama mereka,” kata seorang pria lain lagi yang tak memiliki sehelai rambut pun.
“Justru karena itu! Crow juga sama saja tidak tahu!” teriak Diola. Ia bangkit dan hendak pergi. “Karena Bon, anak itu sekarang sedang berkeliaran.”
Rupanya Diola mencemaskan jika terjadi sesuatu pada dua tamu itu. Sebab Bon memang berkeliaran saat ini, dan bertemu dengan salah satu tamu tersebut. Yang tidak lain adalah Li Bai.
“Lagipula, Tuan, mereka berdua terlihat lebih kuat dari kami. Jadi kami pikir mereka akan baik-baik saja, terutama ada Tuan Crow di sana.”
“Tidak bisa! Aku benar-benar cemas. Kalau terjadi sesuatu pada mereka atau bahkan salah satunya pasti akan memicu sebuah perang lagi,” kata Diola.
Kukuh terhadap keputusan yang telah ia buat. Segera ia beranjak dari sana dan pergi mencari keberadaan dua tamu itu dan Bing He.
Saat ini, Li Bai masih bersama dengan Bon di dekat laut merah.
Dan seperti yang Diola katakan, sesuatu hal buruk akan terjadi begitu mereka atau salah satunya bertemu dengan Bon.
__ADS_1
Li Bai terjatuh ke dalam laut merah. Cipratan air pun mengenai Bon yang tengah duduk di sebelahnya. Berwarna merah bak darah mengalir di wajah. Keberadaan Li Bai tak lagi terlihat, dan gelembung yang ada di laut tuk menandakan keberadaannya pun lenyap seketika.