Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
120. Keberadaan God Mouth yang Samar-Samar


__ADS_3

Terhitung banyak hari, tanggal, dan waktu yang telah mereka lewati. Entah ini kali ke berapa mereka tidak berhasil menemukan Yongchun. Setiap hari mereka terus mencarinya namun selalu berujung nihil di akhir hari.


Sementara itu, God Ear memiliki perasaan aneh semenjak bertemu dengan Relia. Khususnya ketika melihat wajah anaknya, memang tidak ada yang spesial namun rasanya seperti ada sesuatu, yang ada di dalam tubuh anak itu.


“Apakah itu karena keturunan God Eye?” gumam God Ear seraya menggenggam erat kepalan tangannya.


God Ear pula merasa curiga. Firasat yang ia rasakan sangat buruk terhadap anak itu secara langsung. Tapi jauh di lubuk hatinya terdalam, ia merasakan hal ini sebab sebelumnya ia bertarung dengan Dewa Hitam. Itulah yang ia yakini, meskipun perasaan aneh itu tak kunjung menghilang.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Romusha.


“Jangan tanyakan soal itu di saat aku sedang membuka mataku lebar-lebar, God Hand.” God Ear menghela napas pendek.


“Aku heran saja. Sepertinya, kau sangat terpikirkan soal anak wanita itu, 'kan?” sindir God Hand.


Beberapa saat God Ear sama sekali tidak menggubrisnya. Ia hanya melirik Romusha seraya menggigit bibir bawahnya dengan perasaan resah.


“Aku tahu itu adalah larangan. Tapi—”


“Tidak! Bukan itu maksudku.” God Ear menyahut, memotong kalimat Romusha.


“Apa? Kalau begitu apa maksudmu? Kau menyembunyikan sesuatu lagi pada kami?”


***


Di saat sisi yang sama. Relia dan Nia berada di penginapan Kuraki. Relia sedang menyusui anaknya sembari bersenandung irama serta nyanyian para burung yang hinggap di dahan pohon pun terdengar begitu merdu.


“Kak Relia!”


Namun tidak dengan Nia. Nia masih kalut setelah Relia mengatakan siapa diri mereka sebenarnya pada God Ear. Tentu saja Nia sangat tercengang, ia terus memikirkan bagaimana jika God Ear membunuh mereka.


“Ada apa, Nia?”


“Kenapa?! Kenapa kata kakak?! Kakak berpura-pura tidak ingat apa yang kakak katakan kemarin! Itu sama saja dengan cari mati, kak!” protes, amuk Nia dengan perangainya kasar.


“Jangan begitu, Nia. Relia tahu apa yang Relia katakan. Tapi kalau hanya diam saja, kita tidak akan merasa tenang. Terutama, mengubah posisi kedewaan bukan hal buruk,” ucap Relia dengan tenang.

__ADS_1


“Mengubahnya? Jangan bercanda kak! Itu bukan hal yang bisa ditanggung oleh ponakanku!” teriak Nia seraya menunjuk ke arahnya.


“Dia nanti akan tumbuh dengan pesat. Karena dia adalah anak dari Asyura Ayah, lihat saja.”


“Kakak bisa bilang begitu! Tapi bagaimana kalau kak Asyura benar-benar mati!”


Mendengar hal itu membuat Relia tersentak. Relia kemudian menaruh anaknya lalu memeluk Nia sampai jatuh terduduk. Perlakuan Relia pada Nia justru membuat Nia kebingungan. Ia pun berhenti mengoceh, amarah yang selalu tersulut seperti ada api di ujung sumbu itu sekarang telah padam.


Relia memeluk dan menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut. Nia lantas membalas pelukannya disertai isak tangis yang terdengar lirih-lirih.


Pada akhirnya Nia hanyalah istri yang mengkhawatirkan suaminya. Hanya saja ia selalu menyembunyikan itu dengan muka kesal, amarah dan emosi negatif lainnya. Namun emosi negatif itu seketika melebur dalam pelukan hangat mereka yang akur.


“Relia tidak tahu apa yang terjadi padanya tapi Relia percaya bahwa Asyura tidak akan semudah itu untuk mati. Kepercayaan, kekuatan, serta sikap yang terkadang menjengkelkan, itu semua masih melekat dalam diri kita. Membuat kita teringat tentangnya dengan baik.”


Karena Relia tahu bahwa Yongchun (Asyura) akan kembali hidup-hidup. Itulah yang ia yakini meski sudah hampir satu bulan keberadaan Yongchun tak dapat ditemukan.


***


“Maaf menganggu kalian berdua. Ada hal yang ingin aku bicarakan, apa tak masalah sekarang di sini?”


“Aku datang kemari karena ingin ada yang aku bicarakan. Soal larangan,” ucapnya dengan wajah serius. Matanya yang sipit seperti sedang memejamkan mata.


“Larangan?”


“Iya. Sebelumnya kau pasti mendengar hal itu dari Romusha, pria dengan julukan God Hand itu. Aku tahu. Dan larangan itu tidak sepenuhnya benar. Singkatnya, keturunanmu bersama God Eye akan menjadi dewa.”


Pikiran Dewa berterus terang apa adanya. Tak pernah sekalipun ia berbasa-basi. Bahkan setelah mengatakan itu, wajahnya sangat datar seolah tidak peduli dengan hal tersebut. Sedangkan Relia, ia terdiam sembari mengulang-ngulang perkataan Pikiran Dewa dalam benaknya. Berusaha untuk memahami.


“Kalau anakku menjadi dewa. Memangnya apa yang terjadi dengan Dewa Hitam itu?” Relia pun bertanya.


“Dewa Hitam memiliki siasat buruk terhadap dunia kita di sini. Dan satu-satunya cara adalah menggantikan posisi dewa itu dengan keturunan dari salah satu dari Pemilik Tubuh Dewa. Apa sekarang kau mengerti?”


“Aku cukup mengerti. Tapi kenapa pria itu berbohong?” tanya Relia dengan tegas.


“Kalau maksudmu adalah God Ear. Dia memang begitu, ada alasan tertentu mengapa ia berbohong dan itu karena resikonya terlalu tinggi.”

__ADS_1


Benar apa yang dikatakan oleh Pikiran Dewa. God Ear memang berbohong karena alasan yang cukup jelas. Tapi kalau Dewa Hitam saja sudah begitu, maka sudah tidak perlu lagi untuk menutup-nutupinya.


“Tetapi, aku memintamu untuk tidak mengatakan ini pada yang lainnya.”


“Hah?! Kenapa harus begitu? Biar saja mereka tahu! Lagipula kalian juga sebetulnya sudah pemikiran bukan?” sahut Nia menegas.


“Aku tahu kau akan berkata begitu. Baiklah, namaku adalah Sigar. Nama adalah hal penting, dan ini kuberitahu pada kalian semata-mata hanya agar kalian percaya denganku.”


“Hanya dengan nama?”


“Nama bagi para kami adalah hal penting. Kalau nama kami disebut sembarang maka Dewa Hitam akan mudah mengendalikan tubuh kami. Sebagaimana nama tertanam dalam ruh,” jelas Sigar.


“Lalu bagaimana dengan pria yang disebut-sebut God Soul itu?”


“Dia adalah jiwa dewa. Bukankah hal wajar, dia yang pertama kali dikendalikan secara utuh?”


Seketika Nia pun bungkam. Tak lagi berbicara sepatah kata. Lantaran ia masih memikirkan bagaimana ini bisa terjadi? Dan kenapa anak yang baru lahir itu lah yang harus menanggungnya? Pikirannya juga sama dengan pikiran Relia saat ini.


“Lalu God Mouth ...aku ingin bertanya pada kalian, apa kalian—”


Drak!


“Ternyata kau ada di sini?!” pekik Romusha seraya berpengangan pada daun pintu.


Romusha tiba-tiba datang dan membuka pintu ruangan tiba-tiba. Napasnya terengah-engah, peluh bercucuran deras hingga jatuh menetes.


“Apa yang terjadi God Hand? Kau sangat tidak sopan!” pekik Sigar.


“Ah, kau! Aku, aku barusan bertemu dengan God Mouth. Tapi dia menghilang lagi. Ah, sayang sekali!”


Plak!


Romusha menampar wajahnya sendiri, ia bertekuk lutut saking lelahnya barusan berlari. Sangat menyesal karena membiarkan God Mouth melarikan diri darinya begitu mudah.


“Hei, hei! Apa maksudmu?!” Sigar menatap Romusha dengan tajam. Lantaran, semua perkataan yang keluar dari mulut Romusha sama sekali tidak jelas.

__ADS_1


“God Mouth, seperti yang dikatakan oleh God Ear bahwa dia sama sekali tidak mau berurusan. Mungkin alasan kedatangannya kemari karena seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa dia?!”


__ADS_2