Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
041. Awal Pertemuan Li dan Wang Dengan Mereka


__ADS_3

Setelah akhirnya berhasil kabur dari genggaman pria pedagang itu. Mereka pun beristirahat di dalam sana.


“Perutku sangat lapar.”


Baru saja ia bilang begitu, perut si gadis kurus itu berbunyi keras. Karena mendengarnya membuat ia merasa kelaparan juga.


Gadis dengan rambut hitam panjang pun menggerakkan kedua kakinya tuk melangkah keluar. Sembari berhati-hati terhadap seseorang yang mungkin saja akan lewat, ia bergegas menuju ke suatu tempat.


Sebuah pasar kecil, di sana banyak sekali makanan sehingga ia tak perlu mencari ke mana saja. Meski membutuhkan waktu cukup lama karena jaraknya jauh.


“Nak? Kamu kelaparan?” Seorang nenek berbicara kepadanya.


Melihat gadis kecil di belakangnya dengan menatap makanan itu, Nenek pun memberinya sepotong roti. Rotinya cukup besar, karena sudah mendapatkannya ia pun bergegas pergi.


“Terima kasih. Terima kasih ...” ucapnya dua kali sambil membungkuk.


Tetapi, setelah ia lari menuju ke rumah itu lagi, seorang pria mengejarnya.


“Kau! Kemari kau!”


Terdengar dari suasana yang sedikit familiar, mungkin itu salah satu pria yang menjadikannya sebagai budak. Beberapa orang mulai berkumpul di sekitar pria itu dan mengejar.


Siapa itu?


Perasannya mulai gelisah, tak tahu harus bagaimana ia tetap saja berlari memaksakan diri. Bahkan luka yang ia derita di punggung dan pundaknya pun rasanya semakin parah saja, darah tak henti-hentinya mengalir.


***


Di satu sisi, terdapat sebuah rumah yang terbilang cukup besar di masa ini. Walau hanya satu kotak namun tetap saja mempunyai rumah itu membuat semua orang pasti nyaman di dalamnya.


Salah seorang pria tua tengah duduk di halaman, sembari menatap pedang yang sedang ia bersihkan dengan sehelai kain. Pria tua itu tersenyum tipis seraya menyenandungkan sebuah irama.


Salah seorang lelaki yang lebih muda dan anak kecil datang menghampirinya.


“Anda terlihat senang, Tetua.”


Pemuda itu bernama Li Bai. Kelak, ia menjadi salah satu petinggi setelah pria tua yang ada di hadapannya ini menjadi seorang penguasa dan mendirikan sebuah kekaisaran.


“Ah, kalian. Aku hanya sedang menggosok pedangku saja. Sudah lama aku tak mampir ke halaman rumahku sendiri, tapi yang terjadi justru semakin parah saja.”

__ADS_1


Pria itu menghentikan tindakannya. Menaruh pedang di samping dan mulai berbicara lagi setelah menyuruh mereka berdua tuk duduk di dekatnya.


“Apa yang harus aku lakukan lagi? Kudengar di sini ada bandit berkeliaran.” Anak kecil itu berbicara dengan serius.


Anak yang berusia sekitar 7 tahun bernama Wang Xian. Dirinya mampu mengangkat senjata di usia sebelia itu, benar-benar bakat yang luar biasa. Tenaga dalamnya juga sudah banyak dilatih oleh dua orang itu.


“Kau itu masih kecil, jangan banyak lagak!” ketus pria itu. Ialah Ming Fu.


“Bagaimana keadaan di balik laut ujung sana?” tanya Li Bai.


“Sayang sekali. Di sana juga sama kacaunya, aku berharap putraku nanti bisa mengurusnya dengan baik. Jika bisa ...menyatukan negri,” katanya dengan berharap lebih.


Saat itu, di wilayah timur tengah terjadi perseteruan karena kedatangan orang barat. Lalu, Ming Fu adalah orang yang disebut Tetua semenjak kedatangannya dan hidup beberapa tahun di sana.


“Harapan Tetua sangat besar, jika memungkinkan itu terjadi aku akan bersedia melakukan apa saja. Tetapi, apa yang akan kau lakukan terhadap wilayah ini?” tanya Li Bai.


“Tentu saja jadi seorang kaisar!” seru Wang Xian.


Pria tua itu pun tertawa keras, mendengarnya dan setuju apa yang Wang Xian katakan itu. Ia kemudian berbaring.


Lalu berkata, “Kalian sedang nganggur, 'kan? Ada beberapa bandit yang mengincar beberapa wanita dan gadis kecil untuk dijadikan budak, dijual atau sejenisnya. Aku harap kalian mengincar kepala mereka langsung agar tak lagi ada yang begini.”


“Kau tak lihat? Aku sedang berbaring di sini.”


Ming Fu mengatakan hal itu sebab dirinya sudah sangat lelah dan karena faktor usia juga terlalu menghabiskan banyak waktu di wilayah timur tengah. Sebisa mungkin ia menghemat energinya.


“Maaf jika tidak sopan. Dengan kepribadian dan kesehatan yang semakin menurun, mungkin tubuh Tetua hanya bisa bertahan selama 3 tahun ke depan,” ungkap Li Bai.


Selain pendekar pedang, Li Bai juga ahli di bidang pengobatan. Mampu mengukur setiap jengkal nyawa manusia, meski itu hanya perkiraannya saja.


Walau sudah berusaha untuk mengembangkan obatnya sendiri, takdir juga takkan mau mengerti.


Namun Ming Fu yang sudah menjadi kaisar itu mampu bertahan selama 4 tahun ke depan mulai dari sekarang.


Hari ini, musim panas. Li Bai dan Wang Xian pun mengerjakan tugas mereka tuk menumpas para bandit berkeliaran. Incaran para bandit adalah wanita yang tak punya rumah, miskin, dan gadis kecil yang sudah tak punya orang tua.


“Kak Li, di sana ada banyak pria mengejar seseorang.”


“Hm, jarang sekali mereka bertindak gegabah seperti ini. Tetapi Xian, aku ...entah kenapa masih agak takut,” gumam Li Bai.

__ADS_1


Wang Xian melirik ke arahnya dengan tajam sembari berucap, “Kak Li, di sini tidak ada wanita yang akan mengejarmu. Wanita kaya itu juga pastinya sedang sibuk merias diri dan sok bersikap jadi ratu penguasa.”


“Ya, aku tahu.”


“Kalau begitu biarkan aku mengalahkan mereka sendirian. Dan kupikir mereka yang tersisa untuk jadi pesuruh dari distrik itu.”


Li Bai memang lemah pada kaum perempuan terutama pada wanita yang secara agresif mendekatinya lebih dulu. Ada sedikit trauma, meski dirinya kerap kali menyelamatkan para wanita yang hendak diperjualbelikan di Distrik Hiburan.


Wang Xian bukan tipe orang yang berpikir panjang, begitu melihat musuh di depan ia menerjangnya. Menebas mereka semua dari belakang dan tak menyisakan satu pun bandit.


Bruk!


Dentuman keras dari tendangan Wang Xian membuat tanahnya menjadi rusak. Gadis yang sebelumnya di kejar oleh para bandit pun masih berlari dan tak sekalipun ia menoleh ke belakang.


“Gadis itu jadi incaran, ya? Apa dia berhasil kabur dari distrik itu?”


Li Bai mengejar gadis tersebut, tanpa sadar langkah kaki Wang Xian mengikutinya. Mereka pun pergi membuntuti gadis rambut hitam itu, melihatnya memberikan sebuah makanan yang dibagi menjadi 3 pada yang lain.


“Aku dapat satu. Aku membaginya jadi kita bisa makan semua, tidak masalah bukan?” Gadis itu bertanya dengan kondisi tubuhnya yang semakin parah.


“Kak Li, ada berapa anak di sana?” tanya Wang Xian.


“Jangan asal mendekati mereka. Sama sepertiku yang takut dengan wanita, dia dan teman-temannya pun pasti takut dengan pria,” tutur Li Bai.


“Kak Li, aku pikir gadis itu sedikit lebih tua dariku. Dia memang pendek sih, tapi kurasa dia benar-benar lebih tua dariku,” pikir Wang Xian.


“Jadi maksudmu, kalau kau yang mendekati mereka maka mereka takkan takut?”


“Kupikir juga begitu ...”


***


“Hei, namamu siapa?”


“Aku Xie Xie. Banyak orang memanggilku begitu,” ucap gadis dengan rambut hitam.


Gadis kurus itu tampak sehat dan lebih segar setelah memakan rotinya. Ia kemudian mengucapkan terima kasih lalu memperkenalkan dirinya sebagai Lin Lin.


Lalu, dua lelaki itu pun masuk ke daerah pelosok tersebut. Menjumpai mereka dengan sedikit berhati-hati.

__ADS_1


Inilah kali pertama Li Bai dan Wang Xian bertemu dengan mereka.


__ADS_2