Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
043. Perbedaan Pendapat


__ADS_3

Musim dingin akan berakhir sebentar lagi. Hari ini rupanya Yongchun bertemu banyak orang. Mulai dari Yang Jian, Xie Xie, Lin Lin lalu Li Bai.


Awalnya ia hanya berniat mencari seseorang yang mengetahui keberadaan Yin, namun akan tetapi tak pernah berjalan lancar. Yang Jian sudah sekarat saat ditemukan di pegunungan, kebetulan sekali saat itu ia ada di atas karena mencari Pemimpin Yin yang pada akhirnya tidak ketemu.


Setelah membawa Yang Jian ke tempat aman, ia lagi-lagi bertemu dengan Pemimpin Xie yang tengah tenggelam pada saat itu. Padahal baru saja ia kembali dari daerah sana, dan hendak bertemu dengan Xie dalam situasi yang aman. Tapi sepertinya ini benar-benar menjadi hari yang buruk.


Yongchun tidak mengerti, apakah ini kebetulan atau seseorang telah mencoba membunuh mereka berdua.


Lalu sekarang, di daerah pasar yang sepi. Sekarang sudah tutup karena takut badai musim salju akan menerjang kembali. Yongchun bertemu dengan Li Bai, yang tampaknya sedang senggang kemari.


“Apa yang kau lakukan di sini, Pemimpin Li?” tanya Yongchun.


“Kenapa kau tanya padaku sedangkan kau sendiri juga ada di sini?”


“Maaf. Entah kenapa hari ini tidak beruntung bagiku. Tadinya aku ingin bertemu Pemimpin Yin, tapi ke mana dia? Seharian ini aku mencarinya tapi tidak bertemu,” kata Yongchun, ia menggaruk kepalanya kebingungan.


“Pemimpin Yin memang suka begitu. Waktu berkunjung ke Istana saja dia tak datang,” sahut Li Bai.


“Ya, aku sudah menduganya.”


“Ngomong-ngomong apakah kau butuh sesuatu pada Pemimpin Yin?” tanya Li Bai.


“Hm, ya. Aku hanya ingin bertanya, soal mata yang aku punya ini. Karena sepertinya dia tahu hal lebih,” pikir Yongchun.


“Percuma saja. Dia itu bisu, dan takkan mau bicara padamu yang punya kekuatan seperti itu. Lalu, hanya itu saja? Apa yang sebenarnya kau lakukan dengan datang kemari? Tidak mungkin 'kan kalau kau berpikir Pemimpin Yin ada di sini.”


“Haha. Itu benar.” Yongchun tertawa lalu ia mendekat padanya. “Hari ini, aku merasakan auramu dari kejauhan. Rasa gelisah ...apa yang sedang kau pikirkan saat ini?”


Pria yang tahu segalanya hanya dengan melihat emosi di lubuk hati seseorang.


Di balik kipas kertasnya, Li Bai menyeringai.

__ADS_1


“Aku barusan dikejar wanita. Yah, pokoknya banyak sekali mereka. Aku tak tahu harus apa saat berhadapan dengan mereka, jadinya aku kabur saja,” jawab Li Bai.


“Rupanya begitu. Ya, aku tak heran sih. Orang setampan dirimu disukai oleh banyak wanita termasuk Pemimpin Xie,” ucap Yongchun tersenyum tipis.


Klak!


Yongchun berjalan melewatinya seraya ia sedikit menarik pedangnya, Li Bai terfokus apa yang sedang dihadapi oleh Yongchun saat ini.


“Kau tadi bicara apa barusan?”


“Pemimpin Li. Selain itu aku yakin yang kau khawatirkan adalah ini,” ucap Yongchun tak menjawab pertanyaannya barusan.


Menunjuk ke arah depan, dimana letak sosok iblis berada. Atau lebih tepatnya pengguna seni iblis yang kesepian, tampak orang itu hanya duduk meringkuk.


“Memangnya apa yang harus kulakukan? Dia tidak terlihat akan berbuat macam-macam.”


“Karena itu kau berhenti di sana? Pengguna Seni Iblis tak dapat diselamatkan, roh-nya juga takkan pergi ke mana-mana selain bergentayangan saja. Jadi kurasa, dia sedang menahan sakit.”


“Tetapi dia tampak masih hidup. Bukankah harusnya ...”


“Kau bisa mengobatinya?” tanya Yongchun memotong perkataan Li Bai.


“Tidak. Tentu tidak, karena itulah aku berpikir mungkin ada cara lain selain mengobatinya.”


“Dengan cara apa? Kau ingin mengurungnya? Dia akan merasakan rasa sakit yang tak tertahankan lalu mengamuk. Itu Seni Iblis yang seringkali kalian bicarakan, bukan?”


Yongchun menebas kepalanya dengan sekali tebas, lambat namun tajam. Terdengar Yongchun tak melakukan apa-apa, namun begitu ia kembali menyarungkan pedangnya, kepala itu bergeser dan terpisah dari tubuhnya yang kemudian jatuh ke tanah.


“Tak perlu berbuat hal yang mustahil kalau dengan membunuhnya saja sudah membuat ia terbebas dari kekangan,” tutur Yongchun.


“Tapi bisa saja, 'kan? Aku hanya tak ingin banyak orang merasa tersiksa. Lagipula kau juga begitu ...datang kemari demi pendudukmu di sana.”

__ADS_1


“Kau berbicara begitu seolah bisa melakukan apa saja. Apa yang barusan kau katakan itu tak semudah yang kau bayangkan, Pemimpin Li. Semua tindakan beresiko, tidak ada waktu untuk memikirkan kembali tentang apa yang akan kita lakukan setiap kali,” sahut Yongchun.


“Apa? Maksudmu kalau dia sudah tak ada harapan maka kau pasti akan membunuhnya tanpa pikir panjang? Karena itulah kau akan menggulingkan kekaisaran sebab Kaisar Ming tak sesuai harapanmu?” tanya Li Bai dengan wajah marah ia menutup kipas kertasnya.


“Kau tak berusaha melakukan sesuatu lebih dulu?” imbuh Li Bai.


Yongchun mendesah lelah. “Cara kau berpikir sama seperti Pemimpin Yang. Kurang lebih juga mirip dengan sahabatku yang bodoh itu!” tegas Yongchun.


“Kalau cara pikirmu saja begitu, bagaimana mungkin semua pendudukmu bisa menahannya?!” pekik Li Bai.


“Kau tahu apa ...setiap kali aku mengusahakan sesuatu pasti hasilnya jauh lebih buruk dari situasi yang sebelumnya!” jerit Yongchun.


Bagaimana mungkin? Yongchun juga pernah berpikir untuk mengusahakan sesuatu. Seperti pohon yang tumbuh di tanah tandus, meski pernah tumbuh subur secara ajaib pun tak lama lagi pasti akan layu. Semua yang ia lakukan jadi sia-sia.


Karena itulah, ia sekarang berpikir secara logis. Jika tubuh itu mampu dan siap tuk bertahan lebih lama maka ia juga akan berusaha, tapi jika tidak mampu maka akan terjadi sebaliknya. Apalagi kalau, seseorang menjadi monster tapi berusaha untuk menyelamatkannya tanpa melukai sedikit pun, pasti akan terdengar sangat bodoh.


Lucu kalau disebut sebagai rencana penyelamatan atau apa lah itu.


Jika tak mungkin diselamatkan, maka akhirilah penderitaannya. Itulah prinsip Yongchun semenjak peperangan saudara berakhir dan dirinya menjadi seorang penguasa timur tengah.


Tapi orang-orang di sini sangat bodoh. Termasuk Yang Jian bahkan Li Bai, mereka akan berusaha menyelamatkan seseorang yang jelas tak mungkin diselamatkan.


Li Bai yang ingin menyelamatkan orang yang sebelumnya sudah menggunakan seni iblis. Lalu Yang Jian, ingin menyelamatkan Wang Xian sebagaimana mereka adalah sahabat karib. Keduanya jelas tak mungkin diselamatkan. Karena mereka telah menyerahkan jiwanya pada iblis.


“Lalu kau menyerah begitu saja?!”


“Percuma saja kita melanjutkan percakapan ini, Pemimpin Li. Kalau kau mau, datanglah ke wilayahku maka kau akan tahu apa maksudku,” tutur Yongchun berbalik badan dan hendak pergi.


“Hei! Apa sih maksudmu?”


“Aku berkata begitu juga bukan berarti aku tak pernah mempertimbangkannya sama sekali. Aku tahu seberapa berharganya nyawa setiap manusia, namun aku tahu kapan mereka bisa bertahan hingga akhirnya mati.”

__ADS_1


Sebaris kalimat terakhir Yongchun membuat Li Bai tak bisa menyahutnya kembali. Tertegun akan hal tersebut, ia pun memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Yongchun dengan Mata Dewa yang Terkutuk itu.


__ADS_2