Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
108. Bertemunya Romusha dengan Relia dan Nia


__ADS_3

Sergapan dari Romusha tidak sepenuhnya berhasil dihentikan oleh Relia. Relia berhenti mengayunkan pedang lantas ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Romusha kepadanya.


Nia merasa ini sangat tidak masuk akal. Serangan yang hanya bermodalkan tangan besar itu mampu menghancurkan pedang dalam sekejap.


Dan sekarang, Relia dan Romusha duduk bersama di ruang tamu, rumah Amiya. Situasi yang cukup canggung.


“Aku ingin bertanya, apakah benar kalian berdua itu adalah istri Mata Dewa? Ah, atau maksudku Yongchun.”


“Tidak perlu kamu ketahui tentang hal itu. Sekarang jawablah, ada maksud apa kamu datang kemari. Terlihat dari raut wajah, kamu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu hal lebih,” sahut Relia.


“Ya. Kau ada benarnya.”


“Lalu, kamu juga tahu keberadaan Yongchun?”


“Ya, itu benar.” Romusha menganggukkan kepala.


Setelah beberapa saat, Romusha menenggak minumannya lalu menatap ke arah luar selama beberapa detik. Mungkin karena terlalu canggung, ia sampai tidak tahu harus mulai dari mana.


“Hm, baiklah karena sepertinya kau enggan memberitahukan siapa kalian sebenarnya. Tapi apa kau tahu kalau keturunan dari Para Pemilik Tubuh Dewa itu termasuk sebuah larangan?” ujar Romusha.


“Tidak. Aku sama sekali tidak tahu.” Relia menjawabnya dengan wajah datar.


“Kalau begitu, sejauh apa yang kau tahu tentang Yongchun?”


Sama sekali tidak ada jawaban dari Relia. Relia terdiam dan hanya menatap sinis pada Romusha. Situasi yang dirasakan dalam ruangan ini cukup canggung, serta sedikit panas rasanya.


“Baiklah kalau begitu.” Romusha menghela napas.


Kemudian ia menatap Relia dengan tatapan serius sambil berkata, “Para Pemilik Tubuh Dewa. Tangan, telinga, mata, mulut, pikiran serta jiwa. Mereka yang memiliki ini biasanya memiliki sebuah dosa yang mewakili dari setiap bagian tubuh dewa itu.”


“Dewa itu Dewa Hitam?”


“Yang kau katakan itu benar. Wujudnya hampir dikatakan lebih mirip dengan Iblis. Tapi itu menurutku, tidak dengan yang lainnya.”

__ADS_1


“Lalu, apa kalian sudah berkumpul? Kudengar jika kalian berkumpul di gerhana bulan maka dewa itu akan muncul,” ucap Relia.


“Gerhana bulan? Tidak, aku tidak tahu tentang hal itu. Karena jika sesuai apa yang aku temukan, asalkan kami semua berkumpul satu tempat maka dewa akan muncul,” tutur Romusha.


“Baiklah. Kalau begitu, bagaimana dengan maksud keturunan seseorang itu adalah sebuah larangan? Apakah itu semacam hal tabu, hal yang tidak diperbolehkan?” sahut Relia kembali.


“Iya, itu hal tabu. Tapi aku tidak menemukan sisi cerita ini ketika aku masuk ke sebuah goa yang dikatakan tempat itu pernah dijadikan tempat tinggal dewa hitam.”


“Dipikir-pikir itu tidak masuk akal,” kata Relia sembari mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.


“Kau benar. Aku pun merasa begitu. Yang menemukan ini adalah God Ear, telinga Dewa. Dia yang mengatakanya pada kami bahwa dirinya menemukan sebuah larangan, yang mengatakan bahwa kami dilarang mempunyai keturunan.”


Ternyata Romusha memiliki pendapat yang sama. Dan Relia yang mendengarnya pun langsung mengeluarkan amarah. Ia sama sekali tidak percaya dengan omong kosong Romusha.


“Dilarang mempunyai keturunan? Dewa macam apa dia?” gumam Relia sembari menundukkan kepalanya. Ia sangat geram namun dirinya tetap berusaha untuk tetap tenang selagi Romusha ada di depannya saat ini.


“Hei! Itu tidak masuk akal!” amuk Nia. Sungut kemarahannya juga muncul, dan ia menatap benci ke arah Romusha seorang.


“Loh, kenapa kalian protes terhadapku? Memang benar aku tidak melihat adanya tulisan atau gambaran tentang larangan. Melainkan kudengar dari God Ear sendiri. Tapi kalau misalkan itu benar, maka entah apa yang akan terjadi.”


“Nia, tenanglah.”


“Tapi, kak!” Ucapan Nia terhenti ketika ia melihat Relia mengepalkan kedua tangan dengan kuat di bawah meja. Nia jadi mengerti bahwa amarah takkan sampai pada apa-apa.


“Aku tahu kalian kesal. Karena pastinya salah satu dari kalian sudah memiliki anak. Dan anak itu juga adalah anak Mata Dewa, Yongchun. Apa aku benar?”


Sekali lagi Relia tersentak karena perkataannya. Relia bungkam dengan wajah terkejut menatap Romusha.


“Beraninya, kau!” Nia terus menggeram marah melihat tindakan lancang Romusha kepada Relia.


“Baiklah kalau memang tidak ingin mengatakan sesuatu tentang kalian. Tapi aku sudah tahu hanya dengan melihat reaksi kalian saja,” kata Romusha seraya mengangkat bahu.


“Apa lagi yang kau tahu?” tanya Relia sekali lagi.

__ADS_1


“Tidak. Hanya saja, aku berpikir bahwa apa yang dikatakan God Ear itu mungkin saja adalah kebohongan,” pikir Romusha sembari mengetuk meja di depannya.


Itulah yang Relia pikirkan juga. Bisa saja kalau God Ear menambahkan atau bahkan mengubah arti dari kalimat atau gambarnya.


“Tapi kenapa kamu mengatakan itu pada kami? Sedangkan kami sama sekali tidak ada urusan denganmu. Bahkan bisa dibilang kalau kami adalah musuhmu?” celetuk Relia sembari memejamkan mata selama beberapa waktu.


“Aku anggap kau mengiyakan bahwa diri kalian itu adalah istri Mata Dewa. Lalu alasanku mengatakan hal ini, tidak lain adalah mencegah kebangkitan dewa hitam.”


“Mencegah? Bukankah akan terjadi suatu hal buruk jika kamu melakukan hal itu. Tapi dengan alasan apa kamu dengan itu, jika boleh tahu.”


“Jujur saja, aku tidak begitu menyukai Dewa Hitam atau sejenisnya. Mungkin di sini banyak sekali yang namanya dewa, seperti dewa perang, dewa pembalasan atau lainnya. Namun aku sama sekali tidak begitu memperdulikan keberadaan mereka.”


Romusha secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya atheis. Tidak memercayai suatu keberadaan dewa atau agama sejenisnya. Pada zaman perang, pulau Nihonkoku sudah banyak nama "Dewa".


“Begini saja. Aku meminta padamu untuk mencegah Dewa Hitam bangkit dengan cara melenyapkan salah seorang dari kami. Tentunya selain diriku. Lalu aku akan mempertemukan dirimu dengan Mata Dewa.”


“Kamu berniat ajukan banding dengan hal yang tak mungkin aku lakukan. Mana mungkin aku mau,” ketus Relia.


“Kalau begitu, cegah God Mouth datang kemari.”


“Aku sama sekali tidak mau menuruti keinginanmu,” ucap Relia dengan tegas.


“Lagipula, bencana akan datang jika Dewa Hitam tidak dibangkitkan bukan?” sahut Relia kembali seraya menatap Romusha dengan tajam.


“Ya, kalau dari sejarah itu. Tapi masalahnya aku sama sekali tidak percaya akan hal itu.”


“Bertemu dengan suamiku mungkin akan memperburuk keadaan. Belum lagi jika aku bertemu dengan God Ear nanti, bisa-bisa kacau.” Relia memijat keningnya.


“Aku akan membantumu, nona. Jangan khawatir. Asalkan kau melakukan apa yang aku katakan tadi,” kata Romusha.


“Akan aku pertimbangkan.”


Semua yang terjadi tiba-tiba. Kebahagiaan yang telah lama ditunggu berubah menjadi kekecewaan, hampa dan penuh nasib buruk kelak akan datang ke depannya.

__ADS_1


Entah ini keputusan benar atau tidak. Tapi sepertinya Relia mau tak mau harus bertemu dengan Yongchun. Dan dengan syarat menjauhkan God Mouth dari Para Pemilik Tubuh Dewa agar Dewa Hitam tidak kembali bangkit.


“Dari nama, "Hitam", saja sudah mengartikan seberapa buruk dewa itu. Lalu kenapa juga harus dibangkitkan?” Nia berguman lirih.


__ADS_2