Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
095. Pertemuan Para Pemilik Tubuh Dewa


__ADS_3

...Pertemuan Para Pemilik Tubuh Dewa...


Di salah satu ruangan yang sangat luas. Terdapat dua orang yang sedang duduk menunggu kehadiran mereka berdua. Segera Telinga Dewa menyuruh Yongchun untuk duduk.


Selain Telinga Dewa, Pikiran Dewa mulai memperkenalkan diri. Tanpa menyebut nama dan hanya tersenyum ramah pada Yongchun, tamu yang mereka tunggu dan sambut.


Memiliki perwakan tubuh yang lebih kecil. Ia terlihat biasa saja jika dilihat dari luar namun tidak setelah melihat jiwanya yang menghitam sama seperti Yongchun.


“Sepertinya tamu kita kali ini memiliki aura yang sedikit unik, apakah ada salah satu dari kalian yang setuju?” pikirnya.


“Hahaha! Ternyata tidak hanya aku, kau juga?” tukas Telinga Dewa.


“Hei, aku belum memperkenalkan diri!” teriak salah seorang yang hampir terlupakan.


Gebrak!


Ia kemudian menggebrak meja dengan kuat. Membuat situasi hening dan candaan pun terhenti dalam sekejap. Ialah seorang pria yang memiliki sebutan ..


“God Hand! Tangan Dewa!!!”


Tangannya membara, api berwarna kehitaman yang sangat hitam pekat itu dipamerkan dengan sengaja. Tentunya otot yang kekar pun juga, mereka semua lantas terpaku pada Tangan Dewa.


“Romusha!” teriak Tangan Dewa menyebut namanya sendiri.


Salah satu dari mereka justru hanya Tangan Dewa sendiri yang menyebut namanya. Dia berteriak menyebut namanya itu sembari mengangkat dua lengan seolah mengangkat beban besi.


“Wah, wah, kau bahkan menyebut nama di depan tamu kita. Seperti biasa, orang yang sangat bersemangat dalam suatu hal. Apa benar kau dulu berniat membunuh dirimu sendiri? Hm?” Telinga Dewa menyindir.


Pria ini berbahasa Rusia. Yongchun sama sekali tak mengerti apa yang ia katakan. Jadi hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sesekali ia juga melirik ke Romusha, jiwa yang dimiliki pria ini sangat bersih seolah tak pernah membunuh. Padahal tangannya yang dikutuk, bisa-bisanya tidak pernah membunuh.


“Aku sangat heran kepadanya. Dan semua orang di sini juga aneh. Ada beberapa omongan mereka yang tak kumengerti. Sebagian pula hampir sama dengan omongan orang di wilayah timur laut,” batin Yongchun.


“Hei, memangnya salah memperkenalkan diri sendiri dengan menyebut nama?!” amuk Romusha.


Dalam benaknya Yongchun berpikir bahwa si Tangan Dewa Romusha ini sangat lucu. Tanpa sadar ia tertawa lirih dengan menyembunyikan ekspresi di balik tangannya yang menutupi mulut.


“Perkenalkan aku Mata Dewa, Yongchun adalah namaku.” Kemudian memperkenalkan dirinya dengan santai.

__ADS_1


“Wah!?”


Semua terkejut begitu Yongchun memperkenalkan diri dengan menyebut nama. Tak ada rasa takut, pria yang cukup mengkhawatirkan itulah sebutan mereka kepadanya.


“Cara bicaramu sungguh unik. Kau berasal dari mana?” tanya Romusha.


“Timur laut.” Yongchun berbohong.


“Begitu rupanya.”


Plok! Plok!


Pikiran Dewa bertepuk tangan, membuat mereka semua tertuju padanya. Saat itu senyumnya tak lagi tersungging, ia berwajah serius dan tampak ia akan mengatakan sesuatu.


“Nah, bisakah kita memulai acara utama kita kali ini? Karena yang tersisa hanya kita. Tapi kita belum tentu Pemilik Tubuh Dewa yang dimaksud. Karena itu ceritakanlah apa yang terjadi pada kalian semua.”


Suasana mencekam. Aura kepekatan yang sungguh luar biasa. Seperti gravitasi menekan mereka ke bawah dengan kuat, tatkala waktu demi waktu terasa seperti dihentikan.


Satu persatu dari mereka hanya menatap culas. Seakan mereka bukan kawan melainkan lawan. Itulah yang Yongchun rasakan.


“Jika bisa, aku akan membunuh kalian semua kalau ternyata kalian tidak sesuai yang diceritakan,” tutur Telinga Dewa.


“Silahkan saja kalau kau mampu. Kau pikir aku juga tak sungkan melakukan hal itu padamu,” sahut Pikiran Dewa.


“Tidak baik bicara seolah kita akan membunuh.”


“Huh, dasar.”


Salah satu dari mereka, Telinga Dewa. Pria berambut putih dengan satu mata yang tertutup kini mulai membuka mulut untuk mengatakan suatu hal.


Ini tentang dirinya. Yang mengapa ia mengaku sebagai Telinga Dewa. Kehidupannya yang lampau hanya karena banyak orang melakukan hal tabu, karena pria itu dulu kerap kali mendengarnya maka kedua telinganya dipotong.


“Kalian tidak akan percaya karena sekarang aku masih memiliki kedua telinga, bukan?”


“Tentu saja. Lebih baik tunjukkan saja apa yang bisa kau perbuat dengan telinga itu,” kata si Pikiran Dewa dengan dinginnya.


Telinga Dewa itu kini melirik ke arah Yongchun yang sedang menyangga dagu dengan tangannya seraya begumam.

__ADS_1


“Mata Dewa bicara, "Aku sama sekali tidak peduli dengan hal ini. Namun kenapa aku harus ada di sini?", begitu katanya di dalam hati.” Pria itu lantas menunjuk Yongchun.


Yongchun seketika tersentak saat mendengar pria itu mengutarakan isi hatinya dengan cara bicara yang sama (bahasa).


“Katakan apa aku benar?” tanya si Telinga Dewa.


Yongchun menganggukkan kepala dan berkata, “Ya. Kekuatanmu bisa mendengar apa isi hati banyak orang. Tapi kupikir tidak hanya itu?” celetuk Yongchun berniat menggali apa pun.


“Haha, kau benar. Tapi sayangnya, jika aku tunjukkan nanti kau bisa mati. Setidaknya maklumilah aku,” tuturnya dengan tertawa kecil.


“Aku Romusha, sepertinya tidak perlu menjelaskannya karena Pikiran Dewa telah mengatakannya tadi. Benar?” ujar Romusha sembari menoleh ke arah Yongchun.


“Apa maksudmu?”


“Ya. Berniat bunuh diri, dan tangan keji inilah hukumannya. Aku sama sekali tidak berniat membunuh banyak orang karena mantan pangeran ini hendak bunuh diri karena mereka,” jelas Romusha.


“Itu terdengar mengerikan bagiku,” sahut Yongchun merasa iba.


Suasananya tiba-tiba menjadi suram. Berbeda dengan Romusha yang terlihat biasa saja. Mungkin kendali emosinya lebih stabil dari yang Yongchun duga. Sesaat ia merasa takjub dengannya ataupun mereka berdua.


“Sepertinya kau juga harus mengatakan sesuatu, Pikiran Dewa?”


“Tentu saja. Aku yang selalu mengabaikan para rakyat, dikecam hanya karena melakukan perdagangan yang tidak biasa, akhirnya membuatku jadi memiliki pikiran dewa.”


“Aku tak percaya ada Pikiran Dewa. Apa yang sebenarnya yang bisa kau lakukan?” tanya Romusha dengan penasaran.


“Tentu saja aku bisa mengendalikan pikiran kalian. Memerintahkan kalian selayaknya boneka,” ucap si Pikiran Dewa seraya menatap tajam dan mengulurkan tangan kanannya.


Sorot mata yang tajam. Sekilas terlihat cahaya hitam di sudut matanya, Yongchun memperhatikan itu dan mengerti bahwa sekarang Pikiran Dewa hendak menggunakan kekuatannya.


“Berhentilah! Berperang di saat aku sendiri tidak tahu apa maksud kedatanganku kemari dengan tidak jelas begini!” teriak Yongchun menatap kesal padanya.


“Hm, ya kau benar,” katanya sembari menurun tangan lantas tertawa.


Kemudian tak hanya Pikiran Dewa bahkan Telinga serta Tangan Dewa pun memperhatikan Yongchun dengan waspada. Satu-satunya tamu yang baru saja diundang ini. Mereka amat penasaran, siapa dan apa yang bisa dilakukan oleh Mata Dewa.


“Nah, giliranmu. Yongchun, Mata Dewa.”

__ADS_1


__ADS_2