Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
038. Wilayah Tanpa Penguasa (Kisah 20 Tahun Lalu)


__ADS_3

Hari itu, musim dingin masih berlanjut. Rumah para penduduk sebagian hancur. Membutuhkan banyak kerja keras dari beberapa orang lain dan orang istana untuk kembali membangunnya.


Setelah mendengar cerita tentang Yang Jian bersama Wang Xian dan adik perempuan yang ia cintai, entah mengapa Yongchun merasa bersalah. Padahal itu cerita yang cukup buruk untuk didengar oleh orang asing, tapi tak disangka Yang Jian malah menceritakannya.


Seolah berharap Yongchun akan mengerti dari segala tindakan Wang Xian selama ini terhadapnya.


Yongchun mengangguk dan tersenyum, ia berjalan menuju ke kediaman Xie Xie. Tetapi ia tak merasakan auranya di mana pun. Setelah beberapa saat ia berkeliling dekat dengan kediaman, Lin Lin menegur Yongchun.


“Ada apa kau kemari? Kalau buah persik itu, istrimu sudah membayarnya. Yah, tapi itu uangmu juga.”


“Di mana Pemimpin Xie?” tanya Yongchun.


“Aku tidak tahu. Tapi mungkin sekarang dia ingin sendirian, jadi lebih baik jangan datangi dia ataupun ke kediaman ini kecuali Nona Xie Xie memanggilmu,” ujar Lin Lin menegaskan.


Yongchun menoleh ke arah laut. Aroma laut dan gunung bercampur segar, di sela-sela itu ia merasakan aura Pemimpin Xie samar-samar.


Emosi yang terpancar di tengah laut, berupa kesakitan. Menyadari ada suatu yang aneh, Yongchun berlari ke arah laut. Melepaskan baju atasannya dan kedua pedang itu di tanah, lalu bergegas melompat ke laut.


“Dia gila, ya?!” Lin Lin terkejut, ia pun bergegas menghampirinya.


Yongchun berenang lebih dalam dan menuju ke arah Pemimpin Xie yang kini tengah tenggelam. Tanaman lebat mengikat salah satu kakinya, karena itulah ia tak bisa bergerak hingga akhirnya kehabisan napas.


Buru-buru ia melepaskan tanaman itu dari kaki Xie, lalu menggendong tubuhnya dan kembali berenang menuju ke tepian. Terdengar jeritan Lin Lin yang mengamuk di sana.


“Apa kau bodoh?! Tidak seharusnya kau masuk ke dalam air laut saat musim dingin!” amuknya.


“Hah ...sudah, ah. Jangan berisik, ini Nona-mu! Bantu dia keluarkan air yang masuk ke dalam paru-parunya!” tukas Yongchun, membaringkan tubuh Xie.


“Nona Xie Xie! Kenapa dia?”


Lin Lin terkejut, ternyata Yongchun membantu Pemimpin Xie yang kemungkinan terjadi suatu hal buruk saat itu. Namun juga dirinya masih tidak mengerti, apa alasan Pemimpin Xie sampai berenang ke tengah laut di musim dingin seperti ini.


Lin Lin pun segera membuatnya sadar dengan menekan bagian dadanya, perlahan air laut itu keluar dari mulut. Setelah beberapa saat, Pemimpin Xie akhirnya sadar.

__ADS_1


“Uhuk! Huk ...hoek, aku rasanya seperti menelan sesuatu.”


Pemimpin Xie terbatuk-batuk dan mengeluarkan air laut yang tersisa di dalam tubuhnya. Seketika ia merasa menggigil, Lin Lin membantunya untuk berdiri dan menuntunnya kembali menuju kediaman.


“Dasar, untung saja,” ucap Yongchun. Menghela napas lega.


“Hei, kenapa kau masih hidup? Harusnya kau mati kedinginan, tahu.” Lin Lin menegas.


“Bukankah Nona-mu itu sama saja,” balas Yongchun sembari mengikuti langkah Lin Lin.


“Kata Nona Xie Xie, kau ini monster.”


“Apa? Dasar tidak sopan,” kata Yongchun dengan jengkel.


Para wanita yang ada di Sekte Kabut Malam berbondong-bondong keluar dan menolong Pemimpin Xie. Dan sebagian ada yang membantu Yongchun, itu pun karena perintah Lin Lin yang tidak tegaan.


Yongchun dipersilahkan masuk olehnya. Perapian membuat tubuhnya menjadi hangat kembali. Ditemani dengan secangkir herbal, ia merasa sangat lega. Meski saat ini, sebenarnya Yongchun tidak sedang kedinginan atau terluka karena air laut yang dingin.


“Tetapi mengingat tenaga dalam Pemimpin Xie, harusnya dia baik-baik saja. Kalau tak salah kekuatannya itu sama seperti nama sekte di kediaman ini. Kabut malam, yang dapat menekan sesuatu atau melindunginya sekalipun,” gumam Yongchun lirih.


“Sebelumnya maaf. Aku pernah mencuri buah, tapi kalau tak salah dengar, istriku sudah membayarnya?” tanya Yongchun memastikan.


“Hah, kau ini kalau ditanya malah bertanya lagi. Ya, istrimu sudah bayar,” ketus Lin Lin.


“Rupanya begitu.”


“Lalu, apa yang barusan kau gumamkan tadi?” tanya Lin Lin penasaran.


“Aku hanya menggumamkan sesuatu tentang Pemimpin Xie, karena kupikir dia adalah wanita yang kuat, jadi tidak semudah itu tumbang,” ujar Yongchun sedikit memuji.


“Nona Xie Xie adalah panutan bagi kami. Sekte Kabut Malam dan kediaman ini pun kami membuatnya bersama. Di dekat perbatasan antara timur laut dan tengah. Kau benar, Nona Xie itu wanita yang kuat.”


Lin Lin perlahan melirihkan suaranya, terdengar lembut tak seperti dirinya yang biasa. Jarang sekali Lin Lin seperti ini, tapi mendengarnya cukup membuat Yongchun senang.

__ADS_1


Lin Lin duduk di sebelah Yongchun dan ia menceritakan apa yang pernah terjadi di wilayah timur laut.


Tapi sebelum itu, Lin Lin melirik Yongchun dengan tajam.


“Kenapa kau menatapku?”


“Aku hanya kaget, saat tahu kau ternyata bisa bersikap manis.” Yongchun mengatakannya sambil tersenyum.


“Terserah! Tapi ingatlah ini, bahwa Nona Xie tak seperti yang kau bayangkan. Aku harap kau mengerti dan mempertimbangkan semua keputusanmu ke depannya,” tutur Lin Lin.


“Apa maksudmu? Kalau tentang Pemimpin Xie yang gahar, aku pun tahu kalau dia seperti itu juga pasti ada maksudnya.”


“Ya. Seperti yang kau katakan. Tapi tak seperti yang kau bayangkan. Nona Xie itu orang yang lembut hanya saja ...benci pada kaum pria.”


Menjeda kalimat terakhirnya, Lin Lin menatap sendu ke arah perapian. Tersirat sebuah makna, mengatakan bahwa mereka memiliki masa lalu yang kelam.


***


Tak banyak orang yang tahu hal ini. Hanya beberapa orang saja yang menyadari tentang situasi dulu terjadi. Situasi buruk tanpa adanya seorang pemimpin di wilayah timur laut ini.


Suatu tempat yang sering disebut sebagai Distrik Hiburan. Bukan semacam hiburan permainan biasa atau hal lainnya yang normal. Tetapi, di tempat itu terdapat banyak wanita, puluhan atau ratusan wanita dijadikan sebagai wanita penghibur.


Mereka diperlakukan tidak adil. Ada yang cantik, maka seseorang itu akan mendapatkan majikan yang kaya. Ada juga yang buruk rupa, maka seseorang itu akan dibayar murah.


Perlakuan para penikmat surga duniawi pada wanita penghibur tergantung dari sikap mereka sendiri. Namun terkadang ada sebagian pria yang memang memperlakukannya dengan sadis.


Sebagai wanita penghibur sudah seharusnya mereka melayani dan memuaskan pelanggan atau majikannya. Dan terkadang setelah itu, mereka dipukuli di bagian mana pun selain wajah.


Apalagi jika wanita itu tak mau melakukan apa yang dipinta oleh mereka. Maka orang yang bertanggung jawab, yang pernah menolong mereka dalam kondisi sekarat tuk dimanfaatkan seperti sekarang, pasti akan menghukumnya.


Dipecut dan lain hal sejenisnya.


Kadang kala ada pria gila yang membeli mereka hanya untuk disiksa.

__ADS_1


“Berikan aku gadis kecil yang cantik. Usahakan rambutnya yang panjang!”


Itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Wilayah timur laut tanpa kekaisaran.


__ADS_2