
“Keluar kau dari tubuh God Ear!”
Sesaat bola mata Dewa Hitam menghilang namun, kobaran api hitam kembali keluar dari kedua pundak tubuh God Ear. Terakhir kali ia menyeringai tipis.
Rencananya Relia hendak mengeluarkan sosok Dewa Hitam dari tubuh God Ear. Akan tetapi itu tidaklah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Kini ia cukup mengerti ketika melihat kobaran api hitam keluar dari sisi kedua pundak Dewa Hitam yang juga menyeringai tipis.
Relia reflek melompat mundur dan bersiap dengan posisi menyerang. Ia menatap tajam serius, mengantisipasi serangan yang akan datang.
Namun akan tetapi, bukanlah serangan secara langsung melainkan kedua telinga Relia seperti ditutupi oleh sesuatu hal. Ia merasa hangat sekaligus dingin. Lalu bergidik merinding begitu hawa mencekam dari Dewa Hitam dapat ia rasakan dan membuat jantung Relia berpacu lebih cepat tak biasa.
“Apa? Kenapa?” Relia bertanya-tanya sembari memegang salah satu telinganya.
Lantas Dewa Hitam kembali menyerang dengan satuan pedang bayangan.
Syut!
Relia menebas pedang yang telah berubah menjadi asap. Terkejut, sekali lagi ia dibuat bergidik. Sempat ia ingin berlutut lantaran aura Dewa Hitam begitu mengintimidasi, tapi ia sekarang tetap berusaha untuk berdiri seraya menggenggam pedang dengan mata mengarah musuh di hadapannya.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?”
“Kau akan tahu sendiri,” jawab Dewa Hitam melebarkan kedua sudut bibirnya, seraya mengangkat tangan kanan dengan merapatkan jari jemarinya.
TRANGG!
Dewa Hitam mengayunkan tangan itu lagi dari atas ke bawah, memunculkan sebuah bilah tajam yang terbentuk dari api hitam, dan Relia berhasil bertahan meski pedang biasa terkikis lebih cepat saat itu juga.
“Kau benar-benar keras kepala sekali, ya. Pendekar wanita,” ucap Dewa Hitam menatapnya dengan heran.
Ia lantas menyunggingkan senyum, sembari melakukan hal yang serupa untuk yang kedua kalinya. Segera Relia melompat mundur, dirasa ada kesempatan, Relia memanfaatkan hal itu untuk pergi bersama Nia dan bayinya.
“Sekarang mencoba untuk melarikan diri rupanya,” gumam Dewa Hitam tanpa raut wajah yang jelas. Sesaat tanduk hitam muncul dalam sekelebat api berkobar.
Relia membawa Nia dengan bayinya bersama untuk melarikan diri dari Dewa Hitam. Berlari ke arah kerumunan, dan kemudian mereka menemukan tempat persembunyian. Meski tidak bisa dikatakan sebagai tempat persembunyian, lantaran sebuah gubuk itu jelas nampak dan berdekatan dengan laut bahkan gubuk itu tampak akan terseret oleh ombak nyasar dan jatuh ke laut.
__ADS_1
“Nia, ayo bergegas.”
Beberapa langkah menuju ke arah gubuk itu, Dewa Hitam muncul bak dewa turun dari langit. Tepat berada di belakang mereka persis, Relia mendorong tubuh Nia yang kemudian tidak sengaja tersandung.
Kaget, Relia menarik tangan Nia lagi. Nyaris mereka terjatuh ke lautan luas.
Swaaaaaaa!
Angin semilir bergemerisik di antara banyaknya pepohonan tumbuh di sekitar. Ketika itu Dewa Hitam melayangkan senjata berupa pedang besar berwarna kehitaman pekat.
Dewa Hitam menebas sisi punggung Relia, langkah Relia pun tersandung dan tak sengaja mendorong Nia di belakangnya.
Tap!
“Nia!”
“Kak, jangan!” teriak Nia mengulurkan bayi pada Relia.
“Nia?” Relia reflek mengambil bayi itu dari Nia. Sehingga Nia pun terjatuh ke lautan menggantikan posisi Relia.
Relia bergegas melompat mundur ke belakang saat Dewa Hitam kembali mengayunkan senjata besarnya. Membuat hempasan angin hingga rerumputan sekitar pun terpotong-potong.
“Apa kau mendengarku, Pendekar?”
Dalam pandangan Relia, Dewa Hitam terlihat berbicara sesuatu. Namun Relia sama sekali tidak tahu apa yang ia bicarakan, sehingga hanya terlihat membuka-tutup mulutnya.
“Aku tidak mendengarnya,” batin Relia.
Relia memegang telinganya, sesaat ia merasakan hawa itu lagi. Dalam kondisi bingung, ia pun tetap melarikan diri sembari sebentar-sebentar melirik ke arah laut.
“Nia, Relia tahu bahwa Nia pandai berenang.”
Drap! Drap!
__ADS_1
Relia bergegas pergi, Dewa Hitam segera menyusul lebih cepat. Langkah yang cepat, dan kemudian pedang besar itu kembali diayunkan dengan semburat-semburat petir muncul di bagian tubuh pedang.
ZRAAAK!
Hantaman pedang besar membelah gubuk menjadi dua. Relia bersyukur, tidak berada pada tempat itu. Dengan napas berat, ia kembali melanjutkan pelariannya hidup-hidup. Seraya menggendong bayinya sampai tidak sadar bahwa aura hitam, kekuatan God Ear tak hanya menetap pada kedua telinga Relia saja.
Perlahan-lahan kekuatannya menjalar ke sisi leher. Urat leher pun berubah warna, serta bagian bola matanya juga. Tak sekalipun Relia merasakan sakit, sebab pelariannya jauh lebih penting.
Zrak! Zrak!
Beberapa kali pedang besar itu diayunkan, membentuk sabit terlempar tertuju pada Relia dengan cepat. Disusul oleh beberapa pedang bayangan dari atas dan bawah, muncul mata pedang. Reflek Relia menghindar ke samping.
Sedikit dari mata pedang menusuk bagian lengan kirinya. Sakit itu menjalar, sehingga ia merasakan rasa sakit pada kedua telinga Relia.
“Ugh!” Relia mengerang kesakitan, namun langkahnya terus bergerak. Ia memegang erat bayinya hingga menangis terus-menerus.
“Bayi itu juga adalah targetku. Dia pandai melarikan diri sama seperti God Eye juga,” gumam Dewa Hitam berhenti berlari.
Sekilas mengira bahwa Dewa Hitam menyerah. Akan tetapi, ia justru kembali berevolusi sebagaimana tanduk yang sekelebat muncul kini telah muncul seutuhnya.
Satu tanduk hitam memanjang ke atas dari dahi. Rambut putih God Ear berubah menjadi hitam legam. Penutup mata itu terlepas dan menunjukkan bola mata hitam legam milik Dewa Hitam. Seluruh proporsi tubuh itu kian berubah, kian meningkatkan kekuatan yang dapat ia gunakan sepenuhnya.
Banyak orang bersembunyi sehingga jalan pun sepi. Meski Relia tak lagi terlihat di mata Dewa Hitam, akan tetapi ia pun turut merasakan keberadaannya saat ini juga.
BRAK!
Dewa Hitam menendang salah satu rumah penduduk yang dapat dikatakan tak layak dihuni, di saat itu Relia keluar dari persembunyian. Begitu keluar, Dewa Hitam mengacungkan senjata ke lehernya lagi.
Relia seketika berhenti melangkah, lantas berkata, “Kau tidak membunuhku?” Apa yang dipikirkan oleh Relia itu benar adanya, sebab Dewa Hitam dapat membunuhnya kapan saja. Atau bahkan beberapa jam lalu pun pasti Relia akan mati cepat atau lambat.
Namun nyatanya, Dewa Hitam seperti memberi peringatan berkali-kali. Enggan membunuh, seakan ia mengasihani.
“Jangan kau pikir aku memberi ampunan, sedikit rasa kasihan saja tidak akan aku berikan pada manusia rendahan seperti kalian. Benar, 'kan Pendekar?” bisik Dewa Hitam.
__ADS_1
Sekali ia berkata dengan nada mengancam, aura pekat kehitaman muncul bak asap racun pada telinga Relia sekarang.
“Sekarang kau sudah tuli, dan tidak akan bisa mendengar apa pun lagi.” Dewa Hitam kembali berbisik, dan membuat bulu kuduk Relia bergidik. Ia menggigil kedinginan, ibarat kutub es mencair dalam tubuhnya.