Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
082. Dewa ataukah Iblis?


__ADS_3

Diakhiri dengan tebasan pedang Wang Xian pada Yongchun yang tersenyum sinis. Darah mengalir lebih deras ketika tubuh Yongchun ambruk tanpa perlawanan.


Hanya salah satu pedang yang ia genggam dan kini terlepas. Ia berbaring dengan santai, seakan bersiap-siap tidur. Aura itu semakin menipis, hawa keberadaannya terasa samar-samar. Gelora api membakar seluruh organ tubuhnya, karena itulah mengapa ia kini tak dapat mengangkat senjata lagi.


Napas Wang Xian terasa berat. Ia kemudian jatuh dengan tubuh gemeteran, baru sadar kalau ternyata kekuatannya telah meledak keluar. Melihat ke sekeliling terdapat banyaknya korban di sekitar mereka.


Terkejut akan hal tersebut, semua orang yang tersisa memandangnya dengan tatapan curiga. Wang Xian pun terdiam sesaat lalu menghela napas panjang seraya menatap genangan darah yang ada di bawah kedua kakinya.


Sekilas, pandangannya beralih pada Yongchun. Melihat senyum yang masih tersungging seolah mengejek kemudian bergumam sesuatu.


“Katakan kalimat, "Pahlawan-mu", Pemimpin Wang.”


“Dasar monster. Kau sengaja menorehkan luka yang tidak di titik vitalku agar kekuatanmu merasuk dalam tubuhku. Menggerayangi dan membuatku kesakitan, bukan?”


“Orang sepertimu lah yang pantas menduduki takhta tapi sebelumnya kau harus menderita akibat kehilangan sebagian penduduk yang kau sayangi. He ...” ucapnya meringis.


“Tidak asik kalau kau mati begitu saja,” imbuh Yongchun lantas menahan tawa sampai tubuhnya gemetar.


Tidaklah patut untuk dicontoh tindakan sembrono Yongchun satu ini. Berbagi penderitaan yang sama, namun maksud dari dua kata ini tidak hanya sebatas membuat sebagian dari penduduk diluluh lantahkan melainkan ada maksud yang lain tersembunyi.


Tapi belum saatnya untuk itu.


“AKU KETUA KULTUS 7 SURGAWI, WANG XIAN! SETELAH KEMATIAN KAISAR MING, AKU MEMBALAS SOSOK YANG MEMBUNUH BELIAU! DAN HARI INI, AKULAH YANG MENJADI PEMIMPIN KALIAN!”


Teriakan menggelegar bagai petir menyambar tepat di posisi Wang Xian berada. Sosok yang dipuja, sosok yang diangungkan. Dielu-elukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kini telah lahir berkat penguasa wilayah timur tengah.


Kehadiran Wang Xian sebagai pendekar yang telah memusnahkan musuh adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka. Tatapan curiga pun berubah menjadi terang—menaruh kepercayaan dan kesetiaan mereka padanya.


SEUMUR HIDUP!


Nia dan Relia hanya terdiam. Pikiran mereka masih terbelenggu karena keadaan Yongchun yang nampak sekarat, hendak pergi ke arahnya namun tertahan oleh Lin Lin yang berada di depan mereka.

__ADS_1


“Mata Dewa takkan mampu dihabisi sekalipun oleh pendekar bertenaga dalam yang kuat seperti Pemimpin Wang.” Lin Lin menjelaskan seraya melintangkan lengan, menghadang jalan mereka berdua.


***


Rencana licik yang tak seutuhnya dibicarakan oleh yang terlibat. Termasuk dengan rekannya sekalipun, semenjak kedatangannya yang tiba-tiba dengan terjatuh dari langit ke dasar laut biru. Tentu semua orang akan terpaku dengan keberadaan Yongchun yang amat pekat.


Ditambah lagi, Yongchun saat itu baru saja melalui jalan neraka terpanjang dan tercepat. Masa waktu yang ia gunakan di neraka cukup sangat lama namun begitu ke dunia, masa waktu itu hanya terlewat selama sepekan atau mungkin tidak sampai.


Lalu, Bon. Rupanya Yongchun memanfaatkan musuh sekaligus temannya ini untuk melakukan sesuatu. Karena terluka, Bon kemungkinan besar takkan bisa mengejar Yongchun yang mendadak pergi lagi.


Tapi apa yang terjadi, jika keesokan harinya ia mengejar Yongchun?


Telah ia memikirkan beberapa waktu setelah ia sampai ke wilayah timur laut. Dan sekarang, malam inilah Bon baru tiba ke daerah yang sama. Datang dengan kapal tuk mencari keberadaan Yongchun.


Memanfaatkan dendam Bon padanya dengan membiarkan Pemimpin Yin Ao Ran untuk datang menggantikan peran Yongchun.


Ingat, salah seorang pendekar yang datang dengan tubuh berlumur darah? Ialah Yongchun tengah menyamar, membuat Yin pergi ke tempat di mana Bon baru saja menginjakkan kaki ke timur laut.


Membuat Bon dan Yin saling berhadapan sama lain.


Pria dengan wajah tertutup topeng. Rambut putih yang panjang lurus itu tampak sangat terang dan lembut, ia rasa.


Bon menatapnya dengan tatapan tak peduli. Ia mengacuhkan pria itu lantas pergi melewatinya.


“Hei, kau! Kau ini pasti bawahan penguasa wilayah timur tengah, Asyura! Untuk apa kau kemari?”


Begitu nama terlarang bagi Bon tersebut dan didengar langsung di kedua telinganya. Ia terhenti lalu menoleh dan menatap Yin dengan raut wajah kesal.


“Ah, kau pasti tahu keberadaan Asyura, ya? Bisa beritahu aku?” tanya Bon dengan suara sedikit meninggi keras seraya mengeluarkan dua kotak kecil berwarna hitam dari saku celananya.


“Maksud—”

__ADS_1


Blar!! Satu ledakan kecil membuat langkah Yin tergelincir. Nyaris tubuhnya tercerai-berai, ia mampu bereaksi lebih cepat dari dugaan.


Tangannya sedikit terbakar, tampak ia mulai mewaspadai musuh di depannya.


“Orang ini baru menyahutku setelah nama asli Yongchun disinggung? Apa mereka bukan sesama rekan?”


Yin kini hanya bisa menduga-duga akan keberadaan Bon. Pria dengan sorban di kepala itu benar-benar terlihat marah setelah nama asli Yongchun disebut dan didengar olehnya.


Mereka saling bertukar tatap satu sama lain. Mewaspadai gerak-gerik serta memikirkan simulasi pertarungan dalam benak.


Ibarat terpendam harta dan nyawa, salah sedikit saat melangkah akan membuat mereka terdesak.


“Aku bertanya padamu,” ucap Bon dari kejauhan tanpa mendekat. “Apa kau tahu di mana Asyura? Aku ingin menebas punggungnya sama seperti dia melakukannya padaku beberapa hari lalu!” sambungnya dengan suara tegas.


“Kalau aku tidak tahu?” sahut Yin.


“Kau pasti tahu. Sebab tak mungkin kalau kau tidak tahu tapi malah menyebut namanya di depanku. Sudah begitu mengira aku ini bawahannya? Jangan melucu, baik dirimu ataupun kau, kalian sama-sama musuhku. Jadi jangan harap kau dapat ampunan dariku,” tukas Bon dengan dahi berkerut.


“Kau hanya jiwa yang lemah. Bisa apa? Melawanku yang sudah berlatih ilmu tenaga dalam. Kau bisa mati,” sahut Yin dengan sombong.


“Hm, benarkah? Coba tunjukkan,” ucap Bon seolah meremehkan seraya ia mengangkat tangan kanan.


Yin jadi terjebak dan mau tidak mau ia harus menuntaskan hama asing tersebut. Karena jika tidak dibereskan maka akan berakibat buruk ke depannya.


“Jangan sampai warna hi—”


Belum selesai Bon berceloteh tentang hal yang ia benci kepadanya. Kini, Yin justru menunjukkan langsung kekuatan tenaga dalamnya. Berwarna hitam pekat membentuk pedang bayangan.


Membuat kedua mata Bon terbelalak. Kaget sekaligus kesal karena warna hitam lah yang yang ia benci. Benci sebab Asyura (Yongchun) pernah mengeluarkannya sekali.


Drap! Melesat cepat menuju arahnya, segera beberapa pedang bayangan tersebut menyerbu tanpa ampun. Namun, dalam pandangan lurus, Bon sangat gesit menghindarinya.

__ADS_1


Menarik sekaligus mengayunkan pedangnya langsung menuju leher Yin Ao Ran. Tepat sebelum menggoresnya ia berkata sesuatu.


“Haruskah aku berhadapan dengan orang yang sejenis dengannya? Ini sungguh membuatku kesal,” ketus Bon seraya menggertakkan gigi.


__ADS_2