
God Hand, Romusha tercengang akan keberadaan God Ear yang telah berada di penginapan Kuraki. Dua orang di belakang Romusha adalah Relia dan Nia pun hanya terdiam tanpa kata.
“God Hand, siapa yang di belakangmu?” tanya God Ear seraya menghampiri God Hand.
“Itu ...” God Hand tidak dapat memberitahunya bahwa Relia dan Nia adalah istri Yongchun. Bisa gawat kalau God Ear tahu bahwa anak yang digendong Relia adalah keturunan Yongchun.
“God Ear, sebelum itu. Apa yang terjadi padamu? Tidak, lebih tepatnya apa yang terjadi saat melawan Dewa Hitam?” God Ear mengalihkan topik pembicaraan.
Ia kemudian menghampiri God Ear yang masih setengah jalan di antara mereka. Langkah God Ear yang masih tertatih-tatih itu pun dibantu oleh Romusha agar God Ear dapat duduk saja.
“Bagaimana dengannya?” tanya Romusha.
“Kalau yang kau maksud adalah God Eye, maka aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena itulah aku hendak keluar untuk mencarinya,” ujar God Ear.
“Begitu rupanya.”
“Hei, God Hand. Kau, sejak dulu merasakan bahwa keberadaan Dewa Hitam itu rasanya tidak masuk akal bukan? Lantas, katakanlah apa yang kau pikirkan saat ini? Terutama soal kebangkitannya.”
“God Ear.”
Sulit untuk mengatakan pendapatnya di saat-saat seperti ini. Semua hal perlu dipertimbangkan oleh Romusha yang kerap kali menggunakan otot daripada akalnya.
“Hei, aku sedang mengajakmu berbicara tapi kau sama sekali tidak nenyahutku?” sindir God Ear.
“Baiklah. Aku akan jujur saja padamu. Aku sebenarnya tidak mau membangkitkan Dewa Hitam. Kau juga tahu aku ini bukan orang yang akan menyembah hal-hal seperti itu.”
“Lalu apa alasanmu hanya itu?” tanya God Ear.
“Iya. Kira-kira begitu. Memangnya kenapa? Kau pasti akan marah padaku, ya? Tapi God Ear sepertinya aku gagal. God Mouth sudah pasti ada di pulau ini sehingga mengakibatkan Dewa Hitam mengalami kebangkitan.”
Pikiran Dewa berkata seraya melipat kedua lengan ke depan. “Itu masih tahap awal. Artinya Dewa Hitam belum bangkit dengan seluruh kekuatannya.”
“Yang kau katakan benar. Dewa Hitam belum sepenuhnya bangkit namun apa kalian tahu bahwa Dewa Hitam sudah melebihi batas kekuatan. Sulit dilawan bahkan oleh manusia berkekuatan yang berada di puncak,” ucap God Ear seraya memandang kedua telapak tangannya yang gemetar. Ia masih ingat betul seberapa ngeri ketika ia berhadapan dengan Dewa Hitam.
__ADS_1
“Tunggu, maksudmu adalah ...kau, God Ear, memiliki pikiran yang sama denganku?” sahut God Hand Romusha.
“Iya. Aku sudah melihatnya sendiri. Bahwa Dewa Hitam tak layak dibangkitkan. Apalagi mengingat tujuannya yang tak berubah, persetan dengan sejarah, tujuan Dewa Hitam itu tetaplah sama. Menghancurkan muka bumi ini!”
“Apa?!” teriak Romusha. Ia sangat tidak percaya dengan apa yang barusan God Ear katakan kepadanya. Lantas itu terlalu mustahil, sebab ia juga telah melihat sejarah itu sendiri namun semua itu hanyalah sebatas tulisan?
“Aku tahu kau akan terkejut. Semula aku berpikir, tidak apa membuatnya terbangkit asalkan semua orang tetap hidup dengan damainya. Namun apa kau tahu bahwa ternyata Dewa Hitam sama sekali tidak berniat membiarkan kita? Aku berkata jujur!”
God Ear bangkit dari duduknya.
Relia dan Nia saling bertukar tatap, ketika itu mereka berdua membalikkan badan dan dengan sengaja tidak melihat mereka. Tampaknya dua wanita ini cukup mengerti, bahwa situasi itu tak lagi sama.
“Ah, lalu ...lalu Yongchun? Di mana God Eye saat ini? Apa dia berada di dekat goa itu?” tanya Romusha dengan berwajah serius.
“Iya dia mungkin berada di sana. Makanya ayo cepat pergi!”
Drap! Drap!
Mereka semua bergerak dengan mempercepat langkah mereka masing-masing. Lantaran keberadaan Yongchun saat ini menjadi prioritas utama sebab pria itulah yang terakhir kali melawan Dewa Hitam.
“Jika God Eye tidak ditemukan, maka ini akan menjadi semakin berbahaya. Karena takutnya, Dewa Hitam itu akan melakukan sesuatu padanya.”
“Maksudmu?”
“Karena kebangkitannya yang masih belum sempurna, maka mungkin Dewa Hitam akan mencoba untuk merasuk ke tubuh God Eye sama seperti God Soul saat itu.”
“Apa? God Soul juga?”
“Ya. Dia dirasuki dan karena itulah aku dan God Eye terluka. Dan sekarang, kedatangan God Mouth merusak segalanya. Membuat Dewa s*lan itu bangkit dan akhirnya membuat kekacauan hingga goa itu hancur menjadi kawah.”
God Ear saja masih merasa merinding setelah menceritakan kejadian yang lalu. Di mana yang pertama kali adalah saat God Soul merasa kesakitan lalu munculah Dewa Hitam itu dari tubuh God Soul.
Dan sekarang, God Ear berpikir bahwa Yongchun juga akan mengalami hal yang serupa. Karena itulah ia bergegas menuju ke tempat terakhir mereka berada.
__ADS_1
“Tidak ada siapa pun. Dan goa ini menjadi lapangan, tidak, padang pasir, ya?” gumam Pikiran Dewa.
Berhari-hari, mereka terus melakukan pencarian ke sana kemari. Dari ujung ke ujung bahkan ke arah bukit pun tiada hasil. Semua usaha yang mereka kerahkan jadi tidak berguna, lantaran pencarian mereka terhadap Yongchun selalu nihil hasilnya.
“Ini akan jadi bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Kalau dunia betulan hancur, semua orang akan musnah karenanya,” gerutu God Ear seraya duduk meringkuk dengan tubuh gemetaran.
“Jangan pesimis seperti itu, karena aku yakin bahwa dia tidak akan mudah hancur.” Relia berbicara. Seketika Nia dan lainnya terkejut.
Tidak biasanya Relia akan berbicara seperti itu bahkan setelah berhari-hari mencari keberadaan sang suami. Tekad dan rasa kepercayaannya justru semakin meningkat.
“Tunggu, aku penasaran. Siapa sebenarnya kalian?” tanya God Ear. Lantas bangkit dan menatap ke arah mereka dengan penuh curiga.
God Hand, Romusha menengahi mereka sembari menenangkan situasi yang tiba-tiba menegang seperti ini.
“Tunggu, God Ear! Dua wanita ini adalah temanku. Ah, maksudku adalah—”
“Siapa? Katakan sejujurnya!”
“Namaku Relia, istri dari God Eye yang sedang kalian cari hingga sekarang,” ungkap Relia tanpa ragu seraya membuka tudung jubahnya.
Seketika semuanya tercengang. Terutama God Ear dan Pikiran Dewa yang sebelumnya telah membicarakan hal larangan yang pernah diputarbalikkan oleh God Ear. Tentang di mana keturunan dari Pemilik Tubuh Dewa akan menggantikan posisi kedewaaan itu sendiri.
“Itu artinya anakmu yang sekarang dititipkan ke penginapan adalah anak dari God Eye?”
Setelah itu, God Ear tak lagi berbicara apa-apa. Selama berminggu-minggu, mereka secara bergantian mencari Yongchun dan God Mouth, yang sekarang berkeliaran di pulau Nihonkoku. Tapi tidak kunjung menemukan sebuah hasil.
“Hanya ada laut membentang luas. Itulah yang tersisa, tapi tidak mungkin kita akan berenang ke laut lepas bukan?” ujar Romusha.
“Ya. Kupikir begitu. Suamiku tidak mungkin menjatuhkan diri ke laut kecuali ada suatu hal yang membuatnya harus melakukan hal itu,” ucap Nia.
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Romusha.
“Tidak ada hal khusus. Karena aku tahu benar bagaimana tindak-tanduknya selama ini. Tetapi, aku sendiri mungkin tidak akan menyangka kalau dia benar-benar menjatuhkan diri di laut.”
__ADS_1
Nia membalikkan badan. Sesaat sebelum pergi ia mengutarakan sesuatu, “Atau mungkin mati?” imbuhnya berwajah datar.