Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
106. Mencari Keberadaan Yongchun


__ADS_3

Hari ke-2, Nia dan Relia berada di pulau Nihonkoku.


Mentari pagi yang cerah dengan langit kebiruan. Nia keluar dari rumah Amiya untuk melanjutkan pencarian Yongchun.


Sudah beberapa wilayah ia lewati dan memakan beberapa jam, cukup lama sampai matanya tertuju pada suatu tempat. Di atas bukit terdapat sebuah kuil, dengan jalanan yang dipenuhi puluhan Tori.


Sampai di sana, ia mendapati seorang lelaki bertubuh besar yang tengah berdiam diri di depan kuil. Melihat posisi duduk dengan kaki terlipat, tampaknya ia tak bisa diganggu gugat saat ini.


“Pergilah. Tempat ini bukan tempat yang cocok buatmu,” ucapnya lantas membuka kedua mata.


“Maaf menganggu. Aku cukup tertarik dengan bangunan yang ada di belakangmu, makanya aku datang kemari.”


Shira, ia bukan pendeta melainkan hanya orang yang bernaung di sana. Tempatnya adalah kuil yang sudah jarang didatangi penduduk.


“Oh, begitu. Maaf ya, di sini aku tidak bisa menjamu. Tapi aku heran sekali, karena sudah yang ke-2 kalinya kuil lusuh ini didatangi orang yang bukan penduduk asli di tempat ini.”


Shira mengubah posisi duduknya dengan santai lalu ia menggeser sedikit posisinya, kemudian mempersilahkan Nia untuk duduk di sebelah.


“Tidak.” Nia mengangkat telapak tangannya. “Aku harus menjaga jarak di antara pria karena diriku sudah bersuami. Kalau begitu aku permisi. Sebelumnya terima kasih.” Lalu menundukkan kepala dan pergi.


Tepat setelah Nia menuruni satu anak tangga. Ia kembali memanggil pria itu untuk menanyakan sesuatu yang hampir ia lupakan sebelumnya.


“Ah, maaf. Apa kamu pernah bertemu dengan seorang pria buta?”


Shira terdiam dan kembali mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat ia mengingatnya, Shira menatap Nia dengan tatapan penuh curiga.


“Kau, siapanya Mata Dewa?”


Shira adalah murid Romusha. Dirinya memiliki sedikit kekuatan dari Tangan Dewa namun itu tidak sepenuhnya. Jelas, ia sudah mengetahui rahasia dan sejarah Dewa Hitam yang berkaitan dengan Para Pemilik Tubuh Dewa.


Termasuk, sebaris kalimat yang menyatakan bahwa keturunan mereka akan menggantikan posisi kedewaan Dewa Hitam itu sendiri. God Ear menyebutnya sebagai larangan.


“Kenapa dia menatapku begitu? Aku 'kan hanya bertanya,” batin Nia dengan kesal.


“Kau tidak menjawabku? Jawablah selagi aku bisa bicara baik-baik.”


“Maafkan aku. Yang kamu maksud Mata Dewa, apakah itu ada hubungannya dengan pria buta yang kumaksud?”


“Ya. Itu benar. Hanya dia satu-satunya orang asing yang buta. Dia datang 10 bulan yang lalu. Apakah itu benar orang yang kau cari? Karena namanya Yongchun. Kalau tidak salah ingat, sih.”


“Ya, benar. Dia Yongchun. Pria buta, menjengkelkan dan tidak sopan. Sok baik, sombong, dan sok bijak. Jujur, aku benci dia,” olok Nia terhadap suami sendiri. Namun itu juga adalah kebenaran baginya.


“Tak sesuai dugaan, kau amat membencinya. Jadi untuk apa kau mencarinya?” tanya Shira.

__ADS_1


“Tentu saja untuk menagih hutang,” jawabnya sembari membalikkan badan kembali.


Melihat pria yang mencurigakan, tentu saja Nia takkan menjawabnya dengan jujur. Ia memilih untuk menyembunyikannya dengan kebohongan agar ia tak terlibat suatu hal yang masih belum jelas situasinya.


Apalagi, keberadaan Yongchun saja sudah menjadi pusat perhatian bagi Shira. Sebisa mungkin Nia harus berhati-hati.


“Kupikir siapa.”


***


Nia turun dari bukit. Saat menemukan seseorang yang berada di sekitar, ia langsung menghampirinya.


“Permisi, apa kakek pernah melihat seorang pria buta?”


“Pria buta? Aku ini hanya pemilik kedai dan mataku masih bisa melihat, dasar!” Sepertinya orang ini salah paham dengan maksud Nia. Ia tiba-tiba marah tak jelas.


“Bukan begitu maksudku. Tapi, aku sedang mencari seorang pria buta,” ucap Nia menjelaskannya kembali seraya memegang kedua mata sebagai isyarat petunjuk.


Pria tua itu menganggukan kepala selama beberapa kali lalu berkata, “Oh, begitu. Ya, ya, aku tahu siapa dia. Dia itu orang yang kurang ajar! Jangan pernah mencari dia!”


“Eh? Memangnya apa yang dia lakukan pada kakek?” tanya Nia dengan wajah gelisah.


“Apa lagi?! Dia mencekokiku dengan air hujan dari sarung pedangnya. Orang itu benar-benar kurang ajar!”


“Ya, hujan! Air yang berjatuhan dari langit. Apa kau baru tahu musim itu? Makanya belajar!”


“Haha, baiklah, kek. Um, lalu di manakah dia berada? Pria buta itu.”


“Aku tidak tahu lagi dia di mana. Meski bertahun-tahun aku takkan melupakan tindakan kurang ajarnya itu!”


Semakin lama jawabannya semakin menjauh dari pertanyaan. Padahal Nia berharap lebih pada seseorang yang benar-benar mengingatnya.


Tapi Nia takkan menyerah sampai sini.


“Terakhir kali kakek melihatnya di mana?” Nia kembali bertanya dengan suara lembut seraya tersenyum tipis.


“Terakhir kali, ya? Hm ...mungkin itu kemarin. Setiap hari dia lewat sini. Kadang-kadang dia menatap lautan lalu kembali bersama seorang wanita.”


“Apa!?” Sontak terkejut, Nia tak habis pikir kenapa selalu ada wanita di sampingnya saat ia pergi.


“Dia bersama wanita!?” teriak Nia sekali lagi.


“Iya!” Kemudian pria tua itu ikut berteriak.

__ADS_1


Drap! Drap!


Ia berjalan cepat sembari mengertakkan gigi dengan kesal. Ia terus menggerutu lantaran masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


“Dia main perempuan lagi? Apa dia tidak bosan? Hampir saja dia membuat wanita hamil di laut timur, dan sekarang siapa lagi? Benar-benar pria kurang ajar!”


Dak!


Tak sengaja ia menendang sebuah batu berukuran kecil. Sampai menggelinding jatuh ke laut. Nia menatapnya, lantas beralih pandang pada laut yang membentang luas.


Sejuk rasanya ketika Nia berdiam diri di tempat itu. Di dekat lautan memang membuatnya tenang walau hanya sejenak saja.


Duk! Duk! Duk!


Dan lagi-lagi Nia melampiaskan kekesalannya dengan menghentakkan kaki kanan dan kirinya secara bergantian ke tanah.


“Wah, kita bertemu lagi, ya? Nona?”


Datang lagi Romusha. Orang yang menjengkelkan bagi Nia. Dalam batin Nia yang kesal, agar tak salah ucap, ia pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun terhadapnya.


“Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan padamu!” pekik Romusha seraya mengulurkan tangan yang hendak menarik pundak Nia.


Tak!


Nia menepis tangan Romusha sebelum menyentuh dirinya. Lantas menatap dengan tajam seraya mengacungkan belati ke lehernya. Begitu dekat ujung belati itu nyaris menyentuh urat nadi, Romusha terdiam tak berkutik.


“Mau bicara apa kau?”


“Kudengar kamu sedang mencari seseorang. Siapakah dia? Apakah suamimu?” pikir Romusha.


Nia mengangkat sebelah alisnya dengan terkejut.


“Kalau benar kenapa? Kau berniat membantuku? Tapi tidak perlu. Aku sudah tahu dia ada di mana,” kata Nia dengan ketus seraya menarik belati darinya.


“Begitukah? Sayang sekali. Padahal aku berniat membantumu. Siapa tahu aku mengenalnya lebih dari orang lain? Dia pasti pendekar pedang juga. Aku cukup yakin saat tahu istrinya pandai menjaga diri.”


“Itu bukan urusanmu.”


Seperti biasa Nia selalu ketus terhadap semua pria. Tak terkecuali dengan suaminya sendiri. Nia akhirnya pergi meninggalkan Romusha dengan masih memikirkan tentang Yongchun yang sebenarnya dengan siapa saat ini.


Akan tetapi, selama perjalanannya tuk kembali mencari Yongchun, Nia diikuti oleh Romusha. Sepanjang waktu, sepanjang perjalanan. Tanpa henti.


“Jangan mengikutiku!” teriak Nia lantas berlari ke arah kerumunan.

__ADS_1


__ADS_2